My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 92: Fakta


__ADS_3

Setelah kembali dari Neon Caffe, Kara dan juga David mengajak sang kakek untuk pulang ke rumah. Tak luput juga dengan Zack, Jojo, Dimas, dan Airi pun ikut serta kesana. Sementara Leona dan Zeremy, mereka memutuskan untuk melihat sang ibu. Kini, mereka semua telah duduk di sofa ruang keluarga. Tuan Gavin menatap keseisi ruangan. Sepertinya, rumah ini baru saja dibangun, pikirnya. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah masih ada barang peninggalan mendiang putrinya. Tapi, sepertinya memang tidak ada.


"Kapan.. kakek datang kesini?" Tanya David penuh rasa penasaran. Tuan Gavin pun menoleh padanya.


"Kakek mengikuti jejak Arabella. Jika tidak, mungkin.. kakek tidak akan pernah menemukan kalian! Karna.. semua keluarga Mourinho tahunya, kalau kalian juga sudah tiada." Ucapnya lirih. David hanya manggut-manggut saja.


"Maafkan kakek!" Ucapnya merasa bersalah. Kara kembali memeluknya dengan erat.


"Kara tidak pernah menyangka, akan bertemu dengan kakek lagi." Ucapnya pelan. Tuan Gavin mengusap lembut rambutnya, layaknya putrinya sendiri.


"Kakek juga senang sekali!" Ucapnya senang. Lalu ia memegang kedua tangan mungil Kara.


"Apa kamu tahu? Saat kamu masih kecil dulu, kamu sering menyentuh wajah kakek dengan tangan kecilmu ini. Sekarang, kamu sudah tumbuh dewasa. Semuanya sudah berubah ternyata. Tapi.. kakek tetap mencintai kalian berdua!" Lanjutnya lagi, berusaha menghilangkan kesedihan Kara. Ia tahu, kalau cucu perempuannya ini mewarisi sifat ibunya. Baik hati, tapi juga cengeng. Keduanya benar-benar mirip.


"Benarkah?" Sahut Kara membulatkan mulutnya. Tuan Gavin mengangguk padanya. Kemudian, ia menoleh menatap Jojo dan yang lainnya.


"Apa mereka teman mu?" Tanya Tuan Gavin penasaran. Kara lalu melepaskan pelukannya.


"Mereka sahabat ku kek, Dimas dan Airi!" Ucapnya mengenalkan. Keduanya membungkuk serempak.


"Halo, kek! Kami sahabat Kara. Aku Airi, dan ini namanya Dimas!" Ucap Airi sopan. Tuan Gavin membalasnya dengan senyum tulusnya. Tatapannya kembali menoleh Zack dan Jojo.


"Saya Zack, sahabat David kek!" Ucap Zack sembari tersenyum.


"Lalu.. ?" Tuan Gavin menunjuk Jojo karna penasaran. Ia memang terdiam sejak tadi. Entah apa yang dia pikirkan, siapa yang tahu? "Uhukk! Ia berbatuk kecil lalu menghampiri Tuan Gavin.


"Halo kakek! Sa.. saya Jojo, calon suami Kara." Ucapnya sedikit gugup. Kemudian, ia menjabat tangan Tuan Gavin. Tangannya sedikit kaku, begitupun dengan senyum di wajahnya. Ingin rasanya Kara menertawai dirinya sekarang, tapi ia berusaha menahannya.


"Benarkah?" Tanya Tuan Gavin memastikan.


"Iya kek! Kami akan menikah dalam waktu dekat." Sambung Kara antusias. Ia kasihan melihat Jojo yang tampak sangat gugup. Zack dan David pun menyadari hal itu. Keduanya tertawa dalam hati.


"Hahahah..! Ternyata, pria sombong ini.. bisa gugup juga ternyata?" Batin keduanya.


"Tunggu dulu!" Ucap Tuan Gavin, saat Jojo hendak beranjak pergi dari dekatnya. "Hah? Semuanya melongo melihatnya. Begitupun dengan Jojo. Rasa gugupnya bertambah menjadi 3x lipat dari sebelumnya.


"Ada apa, kek?" Ucapnya ragu.


"Nama mu adalah.. Jojo?" Tanya Tuan Gavin sedikit menyerngit. Jojo mengangguk mengiyakannya.


"Emm! Kamu terlihat mirip dengan salah satu partner bisnis ku." Ucapnya kembali teringat dengan wajah orang itu.


"Benarkah? Aku penasaran dengan orang itu!" Sahut Jojo dengan nada serius.


"Iya! Nada bicaramu juga sama. Namanya, Alfred Rodriguez." Ucap Tuan Gavin menjelaskan. Kemudian, ia menepuk jidatnya pelan.


"Ahh.. bagaimana mungkin aku menyamakan mu dengan orang yang tidak kamu kenal?" Lanjutnya lagi sambil tertawa kaku. Tapi, Jojo langsung membenarkan pekataannya.


"Benar! Dia memanglah ayah ku!" Ucapnya jujur. "Hah? Tuan Gavin membulatkan matanya tidak percaya.


"Bukankah putranya menghilang?" Kagetnya. Setahunya, Tuan Alfred belum menemukan putra dan istrinya. Pada kenyataannya, Tuan Alfred memang belum mempublikasikannya. Menunggu waktu yang tepat. Melihat Jojo terdiam, David pun langsung menjawab.


"Mereka belum lama ini sudah bertemu, kek. Ceritanya panjang!" Sambungnya. Tuan Gavin pun mengangguk.


Ternyata pria yang ingin menikahi cucu perempuannya adalah putra dari teman bisnisnya sendiri.

__ADS_1


"Dia pria yang hebat! Aku harap kamu juga begitu!" Sahut Tuan Gavin sembari menepuk pundaknya. Jojo hanya memasang senyumnya. Lalu, Tuan Gavin bangkit dari duduknya.


"Kakek akan pergi menyelesaikan masalah Arabella!" Lanjutnya menatap Kara dan juga David. Mendengar hal itu, Kara langsung menahan tangannya.


"Kara.. Kara mau ikut, kek!" Rengeknya. "Fyuh! Tuan Gavin menghela nafasnya.


"Kakek khawatir padamu. Bagaimana, kalau kamu tinggal disini saja? Kakek janji, akan segera menyelesaikannya sampai tuntas!" Balasnya berusaha membujuk. Tapi Kara langsung menggeleng kepala.


"Tapi, aku ingin ikut kek. Kara mohon!" Pintanya memohon. Tuan Gavin pun menganggukkan kepala. Kalau sudah begini, ia tidak tega melihat wajah menyedihkan gadis itu.


"Kami juga ikut!" Sahut Zack dan Jojo bersamaan. Sementara Dimas dan Airi, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Lalu, mereka langsung bergegas untuk pergi.


"Di Gedung terbengkalai pinggiran Kota"


"Drap..drap..drap! Suara langkah kaki Leona dan Zeremy. Mereka berjalan memasuki sebuah ruangan gelap, dimana sang ibu dikurung. Arabella dijaga ketat oleh banyak anak buah Tuan Gavin. Jadi, ia tidak bisa ditemui sembarang. Tapi karna Leona dan Zeremy adalah anaknya, jadi mereka membiarkannya saja.


"Mom..!" Sahut Zeremy melangkah menghampirinya. Arabella pun menolehnya.


"Kamu.. kamu disini sayang?" Sahutnya senang. Leona juga ikut menghampirinya. Meski dirinya selalu diabaikan oleh sang ibu, tapi ia tetap menghargainya. Bagaimanapun, dia tetaplah ibuku, pikirnya. Arabella hanya menolehnya sebentar, tanpa mempedulikannya. Sementara Zeremy, langsung ia peluk dengan erat, membuat Leona merasa terabaikan. Tanpa ia sadari, air matanya terjatuh begitu saja.


"Apa aku.. bukan anak kandungnya?" Batinnya.


Ia mengusap air matanya perlahan. Zeremy yang menyadari hal itu, ia langsung melepas pelukan sang ibu dan menarik tangan Leona dengan lembut.


"Leona mengajak ku kesini!" Ucapnya kepada sang ibu. Tapi Arabella tidak mempedulikan hal itu. Ia malah memutar matanya malas melihat Leona.


"Mengapa kamu masih mempedulikannya?" Ucapnya kesal. "Hah? Kaget Zeremy.


"Bagaimanapun.. dia adalah adikku!" Tegas Zeremy. "Cih! Arabella berdecih mendengarnya.


"Orang yang tidak tahu berterimakasih.. tidak perlu dikasihani. Benar-benar merusak suasana hatiku." Kesalnya lagi. Leona semakin merasa sedih. Air matanya kembali mengalir. Entah mengapa, ia memang kerap diabaikan oleh sang ibu. Zeremy lah satu-satunya orang yang selalu mempedulikannya.


"Hentikan, Ze! Mengapa kamu begitu keras kepala?" Teriaknya begitu keras, hingga mengejutkan Leona. Zeremy tetap memeluk Leona dengan erat.


"Zeremy benar-benar bingung sama Mommy! Jelas-jelas.." Belum selesai Zeremy berbicara, langsung dipotong oleh Arabella.


"Dia bukan adikmu!" Sarkasnya keras. Zeremy dan Leona langsung membulatkan matanya. Air mata Leona yang semakin deras, membuat Zeremy semakin merasa khawatir. Ia menggelengkan kepalanya.


"Mom..! Meskipun mommy kesal dengan Leona.. tapi mommy tidak seharusnya mengatakan hal yang tidak-tidak seperti inikan?" Sambungnya berteriak. Arabella berjalan menghampirinya dan menyentuh wajahnya.


"Apa kamu tidak percaya? Ze.. apa yang mommy katakan ini benar sayang. Kamu satu-satunya anak mommy, yang lahir dari rahimku." Ucapnya serius. Zeremy langsung menghempaskan tangan ibunya dari wajahnya.


"Aku tidak percaya!" Bantahnya. Tapi, kemudian Arabella pun menjelaskannya. "Fyuh! Ia menghela nafasnya.


"Seperti yang kamu tahu.. keluarga besar Shii didominasi oleh anak laki-laki. Nenek mu sangat ingin memiliki cucu perempuan. Saat itu, bibi pertamamu dan kedua hanya memiliki putra saja. Jadi, nenekmu menaruh harap padaku. Ia berjanji, akan memberiku setengah dari saham perusahaan di China. Lalu akupun tergiur dan menyetujuinya. Meski aku tahu, kalau aku tidak akan bisa lagi memiliki keturunan. Karena, saat kamu lahir.. aku sudah mengangkat rahimku.


Saat itu, aku berpura-pura hamil dihadapan keluarga besar. Dan mengatakan, kalau anak itu berjenis kelamin perempuan. Nenekmu sangat senang mendengarnya. Kemudian, secara tak sengaja, aku bertemu dengan seorang wanita yang sedang mengandung. Tapi, dia tidak punya suami. Akupun memanfaatkannya. Setelah anaknya lahir, aku mengambilnya dan mengangkatnya menjadi putriku. Itulah Leona. Sejak hari itu, ibu tidak lagi diremehkan oleh bibi pertamamu dan kedua. Aku juga mendapatkan saham yang begitu beaar. Apa kamu tahu? Aku sangat senang kala mengingat itu!" Jelasnya sambil tersenyum puas. "Hiks..hiks..hiks! Leona menangis begitu keras.


"Me.. mengapa ka, kamu tega melakukannya? Se.. sekarang dimana, dimana ibuku?" Ucapnya gemetar. "Heh! Arabella tersenyum menyeringai padanya. Ia mendekati Leona dan memegang pundaknya.


"Ibumu sudah meninggal! Aku terpaksa membunuhnya saat itu, untuk membungkam mulutnya." Ucapnya tak berperasaan. Leona menggelengkan kepalanya.


"Dan juga.. ayahmu, mungkin saja adalah seorang pria gigolo. Hahahah..." Lanjut Arabella sembari tertawa kegirangan. Kemudian ia berbisik ketelinga Leona.


"Inilah akibat kamu.. tidak bisa diandalkan. Dasar tidak berguna!"

__ADS_1


Bukan hanya Leona saja yang menangis dan merasa terpuruk mengetahui hal itu. Tapi, Zeremy juga. Ia mengepalkan tangannya. Tanpa ia sadari, air matanya terjatuh begitu saja. "Hahah.." Ia tertawa disertai deraian air matanya.


"Inikah.. inikah ibuku yang sebenarnya?" Ucapnya tak percaya. Ibu yang selama ini seperti malaikat padanya, ternyata adalah seorang siluman iblis. Seorang pembunuh, yang tidak punya rasa bersalah sedikitpun. Ingin rasanya ia membalaskan rasa sakit hati Leona, tapi ia tidak punya keberanian. Bagaimana mungkin ia berani membunuh wanita yang sudah melahirkannya? Tidak sampai disitu saja, Arabella kembali memegang wajah Zeremy.


"Mommy tahu. Putra kesayangan mommy adalah orang yang paling menyayangi mommy. Jadi sayang.. mommy mohon, bantu mommy keluar dari sini ya? Mommy yakin, kakek Gavin tidak akan menyalahkan mu. Semua orang paling menyayangimu!" Ucapnya mencoba membujuk Zeremy. Secepat kilat Zeremy menghempaskan tangannya. "Hah? Arabella membulatkan matanya.


"Sayang.. bawa mommy pergi dari sini ya?" Lanjutnya lagi.


"Nggak!" Teriak Zeremy. Tangannya terkepal gemetar. Wajahnya sudah dibanjiri oleh air matanya.


"Kamu.. apa maksudmu sayang?" Tanya Arabella hendak menghampirinya. Tapi, Zeremy langsung melangkah mundur.


"Sebenarnya.. sudah berapa banyak orang yang sudah kamu singkirkan di masa lalu?" Geramnya. Ia tidak lagi mengatakan mommy padanya.


"Sayang.. Ze, mommy ngelakuin ini untuk kebahagiaan kamu sayang. Mommy sangat mencintaimu Percayalah!" Ucapnya bersikap lembut. Tapi gelengan kepala Zeremy membuatnya terkejut. Putra yang selama ini sangat mencintai dan mempercayainya, tiba-tiba berubah dalam sekejap mata.


"Kamu tidak pernah mencintai ku! Kamu hanya mencintai dirimu sendiri. Mencintai kebahagiaan mu sendiri. Kamu tidak tahu, sudah seberapa banyak hati orang-orang baik yang sudah kamu sakiti selama ini? Apa kamu tahu itu?" Teriak Zeremy. "Hahahah.." Ia lalu tertawa jahat.


"Sekarang aku baru sadar.. ternyata, sejak awal, aku dan Leona memang hanya sebuah pion untukmu. Batu loncatan mu, untuk menggapai kekuasaan yang bahkan tidak akan pernah bisa memuaskan mu sampai kapanpun itu." Ia terisak dengan sangat menyedihkan.


"Terimakasih.. terimakasih Nyonya Arabella. Terimakasih sudah melahirkan ku. Terimakasih sudah memanfaatkan ku selama ini. Terimakasih sudah menghancurkan hatiku. Terimakasih atas segalanya." Lanjut Zeremy dengan nada sedikit direndahkan. Pertemuan singkat antara dia dan ibunya memang terlalu membahagiakannya selama ini. Hingga ia tidak tahu, tujuan dari kepulangannya. Selama puluhan tahun, bahkan Arabella tak pernah menjenguknya. Zeremy dan Leona dibesarkan oleh Tuan Gavin. Itulah mengapa mereka sangat mencintai Tuan Gavin. Tapi, setelah kepulangan Arabella, mereka harus menuruti aturannya. Awalnya, Arabella memang berbohong kepada Zeremy, kalau selama ini, hidupnya telah dihancurkan oleh Tuan Rayn dan Nyonya Sophia. Hingga Zeremy bepikiran buruk tentang mereka. Saat itu, ia pun memutuskan untuk membantu sang ibu balas dendam. Ia ingin memberi pelajaran kepada kedua anak musuh ibunya. Ia tidak tahu, ternyata dalangnya adalah ibunya sendiri.


"Hiks..hiks..hiks! Suara tangisan Leona memenuhi seisi ruangan. Begitupun dengan Tuan Gavin dan yang lainnya, merasa kaget dan kasihan mengetahuinya.


"Kamu.. kamu wanita jahat! Aku membencimu!" Teriak Leona penuh amarah. Kara pun langsung menghampirinya. Ia memeluk Leona dengan erat.


"Ternyata.. orangtua kami sama-sama dianiaya oleh wanita jahat ini!" Batinnya.


Ia sempat berpikiran aneh bahkan ingin membenci Leona karna ibunya. Tapi ternyata, ibu kandungnya juga dibunuh oleh Arabella.


"Kamu tidak sendirian! Aku akan selalu berada di sampingmu!" Ucap Kara sambil menepuk-nepuk punggungnya. "Hiks..hiks..hiks! Leona membalas pelukannya dengan suara tangisan yang tiada berhenti.


Tuan Gavin pun menghampiri Arabella.


"Bahkan.. putramu sendiri sudah sangat membencimu. Begitupun dengan putri angkatmu. Selama ini, mereka sangat mencintai dan menghargaimu, meskipun kamu tidak pernah bertanggung jawab sebagai seorang ibu. Dan akhirnya, ketamakanmulah yang menghancurkan hidup mu. Ini adalah karma bagimu, Arabella!" Ucap Tuan Gavin. Ia lalu mengangkat tangannya keatas.


"Ya, Tuan!"


"Kirimkan dia ke Afrika! Jangan biarkan dia kembali seumur hidupnya." Tegas Tuan Gavin dan dibalas anggukan oleh mereka. Kemudian, ia menghampiri Zeremy dan Leona. Tanpa mempedulikan teriakan Arabella.


"Kalian tetaplah cucuku! Jangan biarkan rasa sakit ini selalu membayangi hidup kalian. Masih banyak orang yang menyayangi kalian. Termasuk Kakek, Kara dan yang lainnya." Ucapnya menasihati. Tapi Leona menggelengkan kepalanya.


"Tapi.. Leona, Leona bahkan ti.. tidak punya hubungan darah dengan kakek. Leona juga ti, tidak tahu keluarga Leona yang sebenarnya!" Ucapnya terbata-bata. "Sstt! Kara menutup bibirnya.


"Tapi.. kamu tetaplah temanku. Dan kakekku adalah kakekmu juga. Mengerti?" Ucapnya memegang kedua wajah Leona. Zeremy juga menghampirinya dan memeluknya.


"Meski kita bukan saudara kandung.. tapi kamu, tetaplah adikku. Berhentilah menangis!" Ucapnya tulus. Mereka saling berpelukan. Ternyata dari awal, Tuhan telah menetapkan Zeremy sebagai pelindungnya, orang pertama yang akan selalu mencintainya.


"Terimakasih, kak! Hiks..!" Ucapnya terharu. Tuan Gavin tersenyum melihatnya. Ternyata Zeremy sangat berbeda dengan sang ibu.


TBC


Halo para readers setiaku😍


Jangan lupa like, komen, dan votenya. Biar author makin semangat updatenya😘

__ADS_1


Dan juga.. tetap jaga kesehatan ya😚


I lovyu all😘😘


__ADS_2