My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 60: Gelisah


__ADS_3

Satu Minggu kemudian...


Pagi ini, Jojo beserta ayahnya akan berangkat ke Prancis. Tak luput juga Zack dan David ikut menghantarkan mereka ke Bandara. Kini mobil telah melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan ibukota. Satu jam kemudian, mobil yang mereka kendarai tiba disana.


"Di Bandara Internasional Jakarta"


Keempat pria gagah itu segera turun dari mobil mewahnya didampingi oleh para pria berbaju hitam, yang tak lain adalah sekumpulan anak buah Jojo dan ayahnya.


"Aku akan segera kembali! Urusan perusahaan, aku percayakan kepada kalian berdua." Sahut Jojo memberi kepercayaan kepada kedua sahabatnya itu.


"Emm, baiklah! Jangan khawatir!" Sahut Zack tersenyum bahagia. Ia lega, akhirnya Jojo bisa melakukan operasinya dalam waktu dekat. Dan lagi, ia tidak keras kepala seperti biasanya.


"Benar! Kamu fokus pada kesembuhan mu saja, tidak perlu memikirkan tentang pekerjaan atau apapun. Kamu harus berjanji!" Timpal David tersenyum tipis seraya menepuk-nepuk pundaknya. Jojo tersenyum lebar mendengarnya. Lalu, ia memeluk kedua sahabatnya itu.


"Aku tidak akan mengecewakan kalian lagi!"


"Kamu harus menepatinya!" Sahut Zack dan David secara bersamaan dan dibalas anggukan oleh Jojo. Tuan Alfred tersenyum haru melihat keakraban ketiganya. Ternyata, Zack dan David benar-benar sahabat yang baik, tidak palsu seperti sahabatnya dulu.


Lama ketiganya berpelukan, kini mereka telah saling melepaskan diri. Tuan Alfred beserta dengan Jojo segera beranjak pergi dari sana. Sementara Zack dan David masih diam terpaku menatap kepergian keduanya hingga bayangannya menghilang dari pandangan mereka. Tiba-tiba David menyerngitkan dahinya, seolah memikirkan sesuatu.


"Apa hanya kebetulan aja kali ya? Aku berpikir, kalau Jojo dan Kara sering berada ditempat yang sama." Gumam David dalam hati.


" Ahh.. mungkin aku saja yang terlalu banyak berpikir! Lagipula.. tujuan mereka kan selalu saja berbeda? Tapi... apa mereka pernah bertemu?" Lanjutnya lagi bergumam dalam hati.


Pikirannya berkecamuk dipenuhi dengan rasa penasaran antara adiknya dan juga sahabatnya. Ketiganya seolah dipermainkan oleh waktu. Tidak saling mengetahui kebenaran yang ada.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Zack menyadarkan lamunannya. David segera menoleh kearah suara tersebut.


"Fyuh.. bukan apa-apa!" Ucapnya tidak ingin membahasnya lagi. Meski dirinya masih dipenuhi dengan rasa penasaran.


"Benarkah?" Tanya Zack memastikan.


"Ya! Jangan khawatir" Sahut David lagi seraya menepuk pelan pundaknya.


"Baiklah! Ayo kembali, masih banyak hal yang harus kita lakukan hari ini!" Timpal Zack sambil tersenyum tipis. Keduanya beserta para bawahannya segera melangkahkan kakinya menuju ke dalam mobil. Mereka akan kembali ke perusahaan. Dan dalam sebulan kedepan, mereka akan disibukkan oleh pekerjaan. Ditambah lagi, proses pencarian bukti tentang kecelakaan orangtua David beserta ibu Jojo.

__ADS_1


Sementara itu..


"Di Negara Prancis"


Kara sudah tiba, sejak tiga hari yang lalu. Pada hari kedua, ia sudah mulai melakukan pemotretan. Tepatnya di Jardin du Luxembourg. Taman yang terletak ditengah-tengah kota Paris dan merupakan destinasi wisata paling populer di berbagai kalangan masyarakat luas. Baik di Asia maupun Eropa. Kali ini, ia menjadi seorang duta parfum bermerek disana. Tidak diragukan lagi, namanya sudah melambung tinggi, hampir setengah dari belahan negara-negara di dunia sudah mengenalnya.


Waktu sekarang..


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Si gadis cantik baru saja selesai mandi. Seperti biasa, ia hanya mengenakan dress rumahannya. Lalu ia berjalan menuju ke meja riasnya dan segera mendudukkan tubuhnya di kursi. Ia memoles sedikit pelembab diwajah cantiknya. Tak lupa ia juga mengaplikasikan body lotion disekujur tubuhnya. Menjaga kulit tetap sehat dan lembab itu adalah kebiasaannya, serta keharusan untuknya menjadi seorang yang akan terus diperhatikan oleh orang banyak. Setelah selesai, ia mengeringkan rambutnya yang basah.


"Emm... selesai!" Ucapnya pelan sembari memegangi wajahnya. Tiba-tiba terdengar suara ponselnya berbunyi. Ia meraih benda pipih tersebut yang tak jauh dari jangkauannya.


"Emm? Nomor tak dikenal?" Tanyanya dalam hati.


Tanpa berpikir panjang, ia segera menjawabnya.


"Halo?" Sapanya ramah.


"Ya! Apa kamu yang bernama Kara?" Ketus si penelpon, yang membuat Kara sedikit risih. Tidak ada sopan santun, pikirnya.


"Benar, saya sendiri! Ini dengan siapa ya? Apa kita saling mengenal?" Sahutnya lagi masih dengan nada lembut.


"Apa tujuan anda menelpon saya?" Timpal Kara to the point. Ia tidak mau berbasa-basi lagi, apalagi dengan orang tak dikenal dan tidak tau sopan santun sama sekali. Dia akan menghargai orang yang menghargai dirinya. Tapi, jika dirinya tidak dihargai, maka ia bisa lebih menyeramkan dari seorang iblis.


"Hahaha... tujuanku ya? Emm? Aku ingin berbagi kabar bahagia denganmu! Apa kamu ingin mendengarnya?" Sahut si penelpon sambil tertawa bahagia.


"Heh, aku tidak peduli!" Ketus Kara tidak mau tau seraya tersenyum menyeringai.


"Benarkah? Kamu tidak ingin tahu tentang pujaan hatimu? Jojo?" Lanjutnya lagi. Kara terbelalak mendengar nama Jojo disebut.


"Siapa kamu?" Tanyanya penasaran.


"Aku adalah tunangannya! Dan kami akan segera menikah dalam waktu dekat. Jadi, tinggalkan dia! Jangan menjadi hama dalam hubungan kami! Dasar wanita s****n!" Wanita yang menelponnya berteriak begitu keras. Kara segera menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Tidak mungkin! Jojo tidak akan melakukannya! Tidak! Aku tidak boleh mempercayai wanita ini. Bisa saja, dia adalah seorang penggemar beratnya atau wanita suruhan ibu tiri Jojo. Ya, aku lebih mempercayai nya daripada wanita gila ini!" Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Lama ia berpikir, ia kembali berbicara dengan nada tenang, namun sedikit menusuk.


"Aku tidak peduli kamu siapa! Tolong jangan menggangguku! Aku sedang sibuk, tidak ada waktu untuk meladenimu!" Sahutnya datar. Ia segera memutuskan panggilan teleponnya, meski masih terdengar suara kecil wanita itu sedang memaki dirinya.


"Dasar wanita j****g!" Pekiknya dari seberang telpon. Namun, Kara lebih memilih untuk diam. Tidak ada gunanya juga berdebat dengan orang tak jelas sepertinya. Hanya akan membuang waktunya saja.


"Fyuh.. ada-ada saja! Beraninya dia memakiku? Padahal.. kita belum pernah bertemu sama sekali. Tapi, wanita ini sudah menganggap ku seperti wanita rendahan. Benar-benar tidak ada tata krama!" Gerutu Kara dengan suara pelan. Lalu, ia kembali mengotak-atik ponselnya. Ia berniat untuk menghubungi Jojo dan menanyakan kebenarannya saat ini juga.


Berkali-kali Kara mencoba menghubunginya, namun tak ada sahutan dari orang yang diharapkan. Hanya ada suara telepon operator dari seberang telpon.


"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan tinggalkan pesan dan.. bla..bla..bla!"


"Huh! Apa dia begitu sibuk? Apa yang dilakukannya sekarang? Apa perkataan wanita itu benar adanya?" Banyak pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Ia mengacak-acak rambutnya karna kesal. "Ahhh..! Tentu saja ia semakin penasaran dengan Jojo, karna memang Jojo belum menghubunginya sejak kemarin, yang membuat hatinya semakin gelisah. Ditambah lagi, Jojo tidak memberitahunya kalau dia akan melakukan pengobatan di Negara nan indah itu. Sehingga ia tidak dapat menerima panggilan teleponnya, karna sekarang pria itu masih berada di pesawat. Dan pada kenyataannya, keduanya saling memendam, enggan untuk saling memberitahu. Niatnya hanya agar, tidak membebani satu sama lain. Tapi malah berdampak negatif.


Kara kembali teringat sesuatu. Ia menepuk pelan jidatnya.


"Ahhh.. besok harus kembali bekerja. Tidak boleh sampai kesiangan." Ucapnya pelan. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya disana.


Ia membalut seluruh tubuhnya dengan selimut, mencoba untuk segera tertidur. Namun, perkataan wanita tadi masih menghantui dirinya. "Tunangan..tunangan.. tunangan, menikah.. menikah.. segera menikah!" Itulah yang ada di otaknya saat ini.


"Ahhhh..!" Teriaknya sudah membuka selimutnya.


"Jika wanita itu berbohong.. lalu, bagaimana dia bisa mengetahui nomor ponselku? Benar-benar menyebalkan! Awas saja kamu Jojo! Jika kamu berani mengkhianati ku.. aku akan memenggal mu dan menggantungkan tubuhmu di menara Eiffel!" Gerutunya tak berperasaan. Ia sudah merapatkan giginya.


Lama ia mengomel-ngomel sendiri, kini ia kembali menutupi bagian kepalanya dengan selimut halusnya.


"Sudahlah! Wanita itu tidak jauh lebih penting dari pekerjaan ku!" Ucapnya berusaha mengalihkan pikirannya. Namun tak juga bisa. Ia masih menggeliat kesana-kemari seperti cacing kepanasan. Hingga jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, barulah ia bisa tertidur.


TBC


Halo para readersku tersayang:)


Jangan lupa tinggalkan jejak ya say๐Ÿ’—


Like, coment and vote ya.. follow author juga๐Ÿ’‹

__ADS_1


Tetap semangat dan jaga kesehatannya say๐Ÿ˜๐Ÿ’—


I lovyu all๐Ÿ˜˜


__ADS_2