
Setibanya di rumah, David langsung meminta sang adik untuk segera beristirahat. Kesabaran dan kasih sayangnya terhadap Kara, memang tiada taranya. Sama persis dengan kedua orangtuanya. Ia harus bisa menjadi seorang ayah serta ibu untuk sang adik.
Setelah Kara benar-benar tertidur, barulah David beranjak dari sampingnya. Ia menghampiri Jojo yang tengah duduk di sofa ruang keluarga.
"Fyuh! Terdengar suara helaan nafas beratnya. Ia lalu duduk disamping Jojo.
"Apa dia sudah tertidur?" Tanya Jojo memastikan. David hanya mengangguk kecil tanpa berucap. Keduanya terdiam cukup lama.
Berselang beberapa waktu, David kembali membuka bicara, memecahkan keheningan diantara keduanya.
"Itu.. sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan adikku?" Tanyanya, sedikit menaikkan alisnya.
Jojo yang tadinya melamun, langsung batuk karna terkejut mendapat pertanyaan tak biasa dari pria disampingnya. "Uhuk..uhuk..uhuk! Ia mulai merasa canggung lagi.
"Sekitar.. 1 tahun 4 bulan yang lalu." Ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Ia hanya berusaha menghilangkan kegugupannya.
"Emm? David menyerngitkan dahinya melihat tingkah Jojo barusan.
"Jojo yang seperti ini, benar-benar lucu. Tidak biasanya, ia bersikap seperti ini. Benar-benar mengejutkan!" Gumamnya merasa keheranan.
Ini memang kali pertama bagi David, melihat Jojo bersikap canggung dihadapannya. Secara, mengingat Jojo adalah seorang pria angkuh dan sombong, selalu ingin menang sendiri. Namun sekarang, ia benar-benar sudah mengubah kebiasaan buruknya itu.
"Itu.. saat kamu melakukan perjalanan bisnis ke Korea bukan?" Tanyanya memastikan.
"Emm, benar!" Jojo mengangguk mengiyakan perkataannya. David hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia lalu mengusap wajahnya perlahan.
"Apa kamu tahu? Dulu.. aku selalu khawatir, jika suatu saat adikku kembali jatuh hati dengan orang yang salah. Sama seperti Reyhan si pria b******k itu. Aku benar-benar takut!" David mengutarakan isi hatinya kepada Jojo.
"Tapi.." ia menggantung perkataannya dan kembali terdengar suara helaan nafas beratnya. "Fyuh! Ia lalu menoleh kearah Jojo seraya menggelengkan kepala.
"Tapi.. aku tidak pernah menyangka, kalau akhirnya Kara akan jatuh hati dengan sahabat ku sendiri." Lanjutnya seraya tersenyum tipis.
"Joo.." Sahutnya lagi. Jojo langsung menoleh menatapnya. Namun, ia masih enggan untuk berbicara.
"Seperti yang kamu ketahui, betapa aku sangat mencintai adikku. Aku tidak ingin dia sampai terluka sedikitpun. Jadi, jika kamu memang benar-benar mencintainya.. berjanjilah padaku. Kamu harus menjaganya. Jangan pernah mengecewakan perasaannya! Jangan sakiti dia! Kalau kamu sampai menyakitinya, maka akulah orang pertama yang akan menghadapi mu. Meskipun kamu sahabat ku! Karna Kara adalah orang terpenting dalam hidup ku! Aku akan bahagia selama dia bahagia!" Jelasnya penuh arti. Jojo sampai tersentuh dengan perkataannya.
"Aku tidak hanya berjanji. Tapi aku akan berusaha untuk memenuhinya. Aku akan selalu mencintainya, menjaga, melindunginya lebih dari diriku sendiri." Timpal Jojo seraya tersenyum tipis.
"Bagaimana mungkin, aku tega menyakitinya? Melihatnya terpuruk saja, sudah membuat hatiku sakit. Apalagi, mengecewakannya? Aku akan benar-benar seorang b******n jika aku melakukannya!" Batinnya.
"Emm! Baiklah! Ku pegang janji mu! Jangan pernah mengingkarinya, Jo! Sekarang, ini adalah permintaan seorang kakak, bukan seorang sahabat!" Sahut David seraya menepuk-nepuk pundaknya. Jojo hanya mengangguk pelan seraya tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara pekikan suara khas sahabatnya. Siapa lagi, kalau bukan Zack.
"Wahh! Ini kalian sedang apa?" Pekiknya. Ia lalu berjalan menghampiri Jojo dan David. Dan segera mendudukkan tubuhnya ditengah-tengah keduanya.
"Setelah mengabaikan ku seharian.. sekarang malah bersantai berduaan. Apa kalian sudah puas membuat ku kesal hampir gila?" Celotehnya, seraya merangkul pundak mereka. Bibirnya tampak manyun kedepan.
Sementara Jojo dan David malah saling bertukar pandang, sambil mengedikkan bahunya masing-masing. Mereka merasa lucu, dengan tingkah Zack yang mengomel seperti emak-emak. Seketika keduanya tertawa lepas.
"Hahahah.." Hal itu semakin mengesalkan hati Zack.
"Cih! Masih berani menertawakan ku?" Gerutunya. Ia tidak terima, setelah ditinggalkan oleh kedua sahabat disampingnya, sekarang malah dengan entengnya menertawakan dirinya.
"Bukannya ngebujuk, malah ketawa lagi!" Batinnya.
"Ahh! Tidak! Kami tidak sengaja!" Elak David, tak mau memperpanjangnya lagi.
__ADS_1
"Benar! Seperti janjiku saat itu, kamu bisa mengambil cuti selama sebulan kedepan beserta dengan bonus mu." Lanjut Jojo, berusaha meluluhkan hati sahabatnya yang satu ini.
"Heheh! Bagus kalau begitu." Sahut Zack senang. Tiba-tiba, ia menyerngitkan dahinya. Ia teringat akan sesuatu hal.
"Tapi, sepertinya.. hal itu terpaksa ditunda dulu kali ini. Aku khawatir kalian akan membutuhkan ku!" Lanjutnya lagi.
"Hah? Apa yang terjadi dengan mu? Aku ingat, kamu tak pernah lupa untuk mengingatkan ku tentang bonus dan cuti panjang mu. Tapi, mengapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?" Sahut Jojo merasa heran. Memang benar, selama ini Zack selalu ngotot minta cutinya dipercepat. Namun, kali ini entah apa yang membuatnya begitu ragu, hingga bermaksud menundanya dulu.
"Ahh? Aku tahu! Apa kamu berpikir, untuk melakukan loyalitas sepanjang tahun ini?" Sambung David sambil tertawa mengejek.
"Aish! Zack langsung menjitak kecil kepala David.
"Seharusnya, kalian berterimakasih pada ku. Bukannya malah mengejek ku seperti ini. Karna, ada hal yang lebih penting dari itu!" Ucapnya dengan nada serius. Ia mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tas kerjanya.
"Apa itu?" Tanya Jojo dan David secara bersamaan. Jojo langsung mengambil berkas tersebut dari tangan Zack.
"Mungkin berkas yang butuh tanda tangan dariku, pikirnya.
"Ini? Jojo terkaget membaca berkas-berkas ditangannya. Matanya membulat sempurna. Spontan, ia langsung meremas berkas-berkas tersebut hingga lusuh. David yang melihatnya, semakin penasaran.
"Apa sih, Jo?" Tanyanya penuh selidik. Karna saking penasarannya, ia langsung merebutnya dari Jojo. Mengapa dia begitu marah, pikirnya. Ia berusaha merapikan berkas-berkas lusuh itu, agar bisa terbaca lagi.
"Oh! Ternyata si j****g!" Ucapnya santai. Melihat nama Zaskia sekilas saja, sudah membuatnya jijik. Jadi, ia memutuskan untuk tidak lanjut membacanya lagi. Ia tidak tahu, kalau Zaskia pernah mengancam adik kesayangannya. Jika dia tahu, siapa yang bisa menebak, apa yang akan David lakukan selanjutnya?
"Brakkk! Tiba-tiba, terdengar suara keras gebrakan meja dihadapannya. Jojo memukulnya, hingga tangannya berdarah.
"S**t! Umpatnya. Wajahnya tampak memerah, dipenuhi dengan amarah. Hal itu, kembali mengejutkan David. Sementara Zack, ia sudah terbiasa menyaksikan kemarahan Jojo sebelumnya. Jadi, sikapnya biasa-biasa saja. Tidak seperti David.
"Jo, tangan mu?" Sahut David. Namun tidak dipedulikannya sama sekali. Ia malah berdiri dari duduknya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dasar j****g! Beraninya? Beraninya seorang wanita j****g bermain-main dengan ku? Huh! Jadi, pelajaran waktu itu belum cukupkah? Baiklah! Kali ini, aku benar-benar tidak akan mengampuninya!" Teriaknya penuh amarah. Ia membuka jaketnya dengan kasar dan menghempaskannya begitu saja.
"Tenang dulu, Jo! Untuk apa kamu emosi seperti ini?" Bujuk David sudah berjalan menghampirinya.
"Bagaimana mungkin? Bagaimana caranya aku bisa tenang? Wanita s****n itu bahkan berencana membunuh Kara. Apa kamu bisa tenang?" Teriaknya lagi.
"Hah? David langsung membulatkan matanya mendengar perkataannya.
"Apa? Apa maksud mu?" Tanyanya tak percaya.
"Bukankah kamu sudah membacanya? Bahkan wanita s****n itu pernah mengancam Kara sebelumnya
Dan sekarang, merencanakan pembunuhan untuknya! Kesabaran ku benar-benar sudah habis!" Ucapnya masih dengan nada tinggi. Spontan David mengepalkan tangannya. Ia merapatkan giginya, tak terima.
"Kurang ajar! Aku pasti akan menghabisinya!" Teriaknya penuh amarah.
"Bukan hanya itu. Wanita gila itu juga bekerjasama dengan dengan si b******n Reyhan!" Lanjut Jojo lagi.
"Apa? Bagaimana mungkin wanita s****n itu bekerjasama dengan pria b******k itu? Bukankah dia hanya seorang wanita malam, yang digunakan oleh pria b*****t itu?" David kembali bertanya, seolah tak percaya.
Melihat kemarahan keduanya yang tiada henti, Zack langsung membuka bicara, berusaha menenangkan keduanya.
" Huh! Kalian harus tau, kalau seseorang sudah menjadi j****g maka akan tetap menjadi j****g! Jadi, kalian tidak perlu khawatir lagi. Aku sudah menyusun rencananya." Sahut Zack menghampiri keduanya.
"Rencana apa?" Tanya Jojo dan David bersamaan.
"Apa kalian masih ingat? Saat itu, Reyhanlah yang membawa pergi si kupu-kupu malam. Dengan tujuan, menjadikannya sebagai pemuas nafsunya. Namun berbeda dengan si wanita gila itu. Dia ingin memanfaatkan finansial Reyhan untuk menyingkirkan Kara. Intinya, kita harus pandai mengendalikan keduanya!" Zack menjelaskan secara detail.
__ADS_1
"Tapi.. bagaimana caranya?" Lirih David. Ia membayangkan bagaimana seandainya, kalaulah Zaskia benar-benar melukai adiknya. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Tentu saja menghabisi keduanya!" Sahut Jojo sudah merapatkan giginya.
"Huh! Apa kalian pikir semudah itu?" Tanya Zack seraya menghela nafasnya.
"Emm? Jojo kembali menyerngitkan dahinya.
"Aku sudah menyelidikinya. Ini tidak semudah yang kita bayangkan. Intinya, kita harus berhati-hati dan mengikuti rencana yang telah ku susun. Jangan sampai merugikan pihak kita!" Sahut Zack seraya menepuk-nepuk punggung keduanya. Ia lalu menatap wajah sendu David.
"Sepertinya, Reyhan juga terlibat dengan kematian Om dan Tante!" Ucapnya penuh hati-hati.
"Apaaa?" David langsung mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk. Tubuhnya terhuyung, seolah tak punya keseimbangan. Jojo secepat kilat langsung memapah tubuhnya dan membawanya menuju ke sofa.
"Apa ini benar?" Tanya Jojo penuh selidik.
"Benar, Jo. Tapi, semuanya terlalu rumit. Entah mengapa, aku selalu berpikir.. kalau keluarga Adinata.. dikendalikan oleh seseorang, yang tidak diketahui oleh orang lain. Begitupun dengan keluarga Zaskia. Seperti yang kita ketahui, bahwa keluarganya bukanlah orang sembarangan. Jika mereka bersatu, maka akan semakin mempersulit jalan kita." Jelas Zack sudah mendudukkan tubuhnya kembali disamping David.
"Aku tidak peduli! Aku hanya ingin membalaskan dendam orangtua ku, dan merebut semua hak milik kami. Tidak peduli, seberapa sakit dan sulitnya itu, aku akan membalas mereka dan berusaha melindungi adikku!" Sahut David, sudah menitikkan air mata.
"Kami mengerti perasaan mu. Kami akan selalu mendukung mu, ok?" Sahut Zack berusaha menenangkannya.
Sementara Jojo, ia tampak sedang menghubungi seseorang. Hanya dalam sekali deringan, langsung disahut oleh seseorang dari seberang.
"Halo, Tuan!"
"Emm! Perketat penjagaan disini selama 1x24 jam. Jangan sampai lalai, mengerti?" Tegasnya.
"Siap, Tuan!"
Jojo langsung mematikan ponselnya secara sepihak. Dan kembali menghubungi seseorang. Sama halnya dengan penerima telpon tadi, panggilan Jojo langsung diangkat oleh orang yang diharapkan.
"Ada apa?" Sahut seseorang dari seberang telpon.
"Apa kamu sudah membaca e-mail ku?" Tanya Jojo to the point.
"Ya, sudah!"
"Baiklah! Segeralah lakukan! Aku mempercayai mu, Bram!" Ucapnya sambil memejamkan matanya.
"Aku mengerti!"
"Emm!" Jojo kembali mengakhiri panggilan teleponnya secara sepihak. Ia lalu menghampiri kedua sahabatnya itu.
"Semua akan baik-baik saja! Percayalah padaku!" Ucapnya pelan, seraya menepuk pundak David. David hanya terdiam, tanpa menyahut. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahwa mulutnya berbeda dengan hatinya.
"*Pa..ma.., aku pasti akan mengungkap kebenarannya. Aku tidak akan melepaskan para pengkhianat itu lagi kali ini. Dan aku berjanji, untuk melindungi adik, bagaimanapun caranya." Gumamnya dalam hati.
TBC*
Halo para readers setiaku:)
Jangan lupa untuk selalu dukung author ya😍
Tinggalkan jempol, komentar dan votenya say, follow author juga🙃
Mohon maaf sebelumnya, untuk kesalahan yang terjadi! Mianeo🙏
__ADS_1
I lovyu all😘