
Setibanya Kara di negara K, dia langsung di antar ke sebuah apartemen di pinggiran kota.
"Nona Kara... ini apartemen sederhana yang sudah dipesan oleh tuan untuk anda tinggali sekarang, dan ini kuncinya (menyerahkan kunci). Semoga anda betah tinggal disini" ucap Cindy.
"Iya.. Terimakasih!"
"Jangan terlalu sungkan nona!
" Oh ya non.. Ini Lian.. dia adalah bodyguard sekaligus supir anda sekarang. Dia akan menjaga nona kemanapun nona pergi selama nona berada disini!" Sahut Gery lagi.
"Wah.. tubuhnya kekar banget! Tatapannya serem banget lagi! Dia beneran manusia gak sih hihihi" batin Kara.
"Halo nona, saya Lian! Saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh!" ucap Lian.
Kara mengangguk tersenyum.
"Tolong jaga nona Kara baik-baik" lanjut Gery.
" Baik tuan!"
"Kalau begitu..Kami permisi dulu nona! Tolong jaga diri anda baik-baik!" sahut Cindy dan Gary bersamaan.
"Baiklah! Kalian hati-hatilah" sahutnya.
Sementara Lian langsung stay menjaga diluar, jika sewaktu-waktu nonanya pergi.
Setelah kepergian Cindy dan Gary, Kara langsung membersihkan dirinya.
"Tubuhku terasa lengket! Aku harus segera mandi nih..." batinnya.
Segala keperluan yang dibutuhkannya telah dipersiapkan oleh kedua suruhan kakaknya tadi, termasuk pakaian untuk dirinya.
"Wahh..." dia takjub dengan pakaian yang telah tersedia di gantungan lemari.
" Aku pikir masih perlu belanja beberapa pakaian untuk kupakai sehari-hari. Ternyata sudah disiapkan rupanya.." ucapnya pelan.
Dia segera memakai baju rumahan dengan celana pendek berwarna hitam, dan atasannya sebuah baju kaos warna hijau tua berukuran besar (ala-ala Korea gitu guys๐)
Tiba-tiba...
"Kruyuk.. Kruyuk..." perutnya keroncongan!
"Aduh.. perut ku pada demo lagi nih! Gak tau apa ini diluar negeri... Mau makan apa coba?" ucapnya pelan.
Sejak peristiwa kemarin, dia belum makan apa-apa. Ditambah lagi perjalanan panjang yang begitu melelahkan baginya. Membuat perutnya demo seperti perang dunia ke-3 heheh๐๐
Dia beranjak menuju ke dapur. Di sana, hanya ada mie instan tersedia namanya juga negara K yang dominan mengonsumsi olahan mie.
"Yaudah.. aku masak ini aja deh! Mungkin belanjanya besok aja kali ya?" ucapnya lagi.
Lalu, dia segera memasaknya!
"Tok..tok..tok! suara pintu diketuk.
"Siapa ya malam-malam gini? Tanpa pikir panjang dia segera membukanya..
Ceklek!
__ADS_1
"Pak Lian, ada apa pak?" tanyanya.
"Itu non.. apa non ingin makan sesuatu? Biar saya yang bantu nona untuk membelinya" tawar Lian.
"Oh! Makasih, tapi enggak usah pak! Soalnya Kara udah masak mie instan!" sahutnya tersenyum.
"Oh ya non.. Ini, ponsel yang tuan perintahkan untuk saya berikan pada non! Nomor ponsel tuan juga susah saya tambahkan" sahutnya lagi.
"Oh gitu. Makasih banyak pak! Maaf telah banyak merepotkan bapak!" ucapnya.
" Jangan sungkan, nona! Sudah menjadi tanggung jawab saya!" Sahutnya kembali.
Sebelumnya, David meminta Lian membelikan ponsel baru untuk adik kesayangannya itu. Dan juga meminta Lian menambahkan langsung nomor ponsel miliknya.
"Lian... Tolong belikan ponsel baru untuk adikku! Dan jangan lupa untuk menambahkan nomorku ke daftar kontaknya.. sekarang!" ucapnya tegas.
Sesegera mungkin, Lian langsung pergi ke mall yang terletak di sebelah kiri apartemen yang ditinggali Kara. Dia membeli model terbaru. Dan segera memberikannya kepada nonanya, Kara.
Dengan tidak sabaran, Kara langsung mengambil ponsel yang diberikan oleh bodyguardnya itu. Segera dia menghubungi kakak tercintanya.
"Tut.. Tut.. Tut.."
Dalam sekali panggilan, seseorang langsung menjawab dari seberang.
"Halo, adikku! Kamu baik-baik aja kan? Kamu udah makan belum? Apa kamu nyaman tinggal disana?" David langsung melontarkan berbagai pertanyaan yang bahkan satupun belum terjawab.
David langsung mengangkat telepon dari adik kesayangannya itu. Karna dia juga sudah menyimpannya sebelumnya.
"Kara baik-baik aja kok, kak! Kakak gimana?" tanyanya balik. Dia khawatir jika terjadi sesuatu pada kakaknya selama dia tidak di sana.
Oh ya pertanyaan kakak belum kamu jawab! Apa adik kesayangan kakak sudah makan?" tanyanya.
"Ini kara lagi masak kak, bentar lagi juga mau makan!" jawabnya.
David merasa bersalah dengan kehidupan yang tengah dijalani adiknya. Seharusnya, dia hanya fokus kuliah saja... seharusnya dia tidak memasak sendiri.. seharusnya dia tetap di sampingku untuk ku jaga! Tapi.. aku malah menghancurkan segalanya. Ma.. pa.. maafin David! David janji akan mengembalikan segalanya seperti semula. Agar aku bisa bersama-sama dengan adik, agar aku bisa melindunginya" batinnya.
" Maafin kakak, ya dek!" ucapnya lirih. Matanya sudah berkaca-kaca. Dan tangannya terkepal dengan kuat.
Kara sontak kaget, dia juga tidak mau kakaknya terus merasa bersalah kepadanya.
"Kak.. ini bukan salah kakak! Ini ujian buat kita... agar kita lebih bersabar sedikit lagi! sahutnya.
"Adikku memang pandai menghibur! Tapi ini memang salah kakak" sahutnya penuh rasa bersalah.
"Huh..." kara menghela nafasnya.
" Sekali lagi kak David ngomong kayak gitu... Kara bakalan marah! Kara gak akan makan, biar Kara sakit-sakitan!" ucapnya dengan nada serius.
" Apa kamu mengancam kakak sekarang?"
"Ya. Ini perintah dari ayah dan ibu. Dan juga, permohonan adikmu! Apakah yang mulia bersedia melakukannya?" *tanyanya tegas.
"Hahaha*.. " David terbahak-bahak mendengar celotehan adiknya itu. Dia membayangkan wajah mungil adiknya ketika sedang ngambek.
"Baiklah, tuan putri!" ucapnya bahagia.
"Ya udah, kakak matiin dulu ya. Besok kakak hubungi lagi, kakak ada urusan mendadak! Adikku juga harus makan, ya. Jaga kesehatan! Kamu lebih penting dari segala-galanya buat kakak" ucapnya menasihati.
__ADS_1
Kara masih setia mendengarkan omelan kakak satu-satunya itu. Tanpa disadari matanya telah berkaca-kaca mendengar kalimat terakhir kakaknya, membuatnya terharu bahagia.
"Ok, kak! Kakak juga jaga kesehatan ya.... sahutnya.
"Baiklah, adikku tersayang! See you"
"Bye-bye kak"
Ponselnya telah terputus. Lalu dia melanjutkan kegiatannya. Membuatkan makan malam untuk dirinya sendiri.
Meskipun dirinya putri dari keluarga terpandang, tetapi dia juga pintar masak loh..! Karna semasa hidup nyonya Sophia yang tak lain adalah ibunya, selalu mengajarinya untuk memasak ketika senggang. Sehingga dia sudah terbiasa dengan peralatan dapur.. ya, walaupun menu hari ini hanya semangkok mie instan saja.
Sementara itu...
Di kediaman keluarga William
Tuan muda William keluar dari kamarnya, hendak pergi nongkrong bersama teman-temannya sekaligus membahas masalah bisnis.
Belum sempat dia melewati ruang keluarga. Tiba-tiba tuan William berdiri dan berkata..
"Mau kemana lagi kau anak s****n! Apa kau hanya bisa bersenang-senang? Apa kau tidak berniat membantu keluarga mu mengurus perusahaan? Apa kau pikir uang didapat secara cuma-cuma?" sarkas tuan William dengan nada tinggi.
"Apa maksudmu, tuan? Saya menggunakan uang saya sendiri untuk bersenang-senang, apa masalahmu? Apa anda keberatan? Saya tidak pernah meminta uang sepeser pun kepada anda! Jadi, jangan berbicara sembarangan seolah-olah saya menghabiskan uang dari hasil jeri payahmu!" ucapnya tegas.
"Dan lagi, siapa yang menahan saya untuk tetap disini? Saya tidak pernah berharap belas kasihan dari kalian!" ucapnya lagi menyindir ibu tirinya.
"Dasar anak s****n! beraninya dia menyindirku. Awas saja!" batin wanita setengah baya itu.
Dia menuntun suaminya untuk duduk kembali.
"Sayang... dia baru kembali! Biarkan dia bersenang-senang dulu! Jangan terlalu keras kepadanya, atau dia akan membencimu! ucapnya dengan nada menyedihkan.
" Sudahlah. Ini karna ibumu, jadi aku akan membiarkanmu pergi hari ini. Dan ingatlah, beberapa hari lagi ada perjamuan besar untukmu jadi kau harus bersiap jangan mengecewakan ku! Apa kamu mendengarnya?" sarkasnya keras.
"Yang pertama, dia bukan ibuku. Yang kedua, aku ingatkan kalian untuk tidak terlalu mencampuri urusanku dan masalah pribadi ku! Dan jangan sampai ada kata "pemaksaan" atau aku akan melakukan hal diluar kendali ku. Dan yang ketiga, biarkan acara itu hanya sekedar penyambutan, tidak ada hal lain!" ucapnya dengan nada menekankan.
Ucapannya tadi, membuat ibu tirinya ketakutan, tapi dia tidak peduli... ada tuan besar William yang mendukungku pikirnya.
Sedangkan tuan muda William telah mengetahui niat busuk wanita itu.
Sama seperti sebelumnya, memperkenalkan wanita-wanita pilihannya dari berbagai kalangan menengah keatas kepadanya. Bahkan memaksanya untuk menjalin pertunangan yang selalu ditentang olehnya.
Dan lebih parahnya lagi, ibu tirinya itu pernah membius tuan muda William untuk dijebak dan mengirim seorang wanita naik keatas ranjangnya. Untung saja, asisten kepercayaannya itu tidak bodoh. Meskipun mereka tidak selalu bersama, tetapi dia bisa memantau keberadaan tuannya dan apa yang dilakukannya melalui alat penyadap yang telah ditaruhnya di pakaian ataupun diponsel tuannya itu sebelumnya.
"Heh, ingin mencoba trik lama lagi? Maka tunggu saja aku mempermalukan mu nantinya. Jangan salahkan aku,.. salahkan dirimu yang begitu serakah" ucapnya menyeringai.
Dia melangkahkan kakinya berjalan keluar menuju mobil mewah kesayangannya yang telah ditunggu sang asisten dan mempersilakannya untuk masuk.
"Silahkan, tuan! Kemana tujuan kita, tuan?" tanya asistennya ragu.
"Carabian Resto" sahutnya singkat.
"Baik, tuan"
Mobil melaju menyusuri jalanan ibu kota.
TBC
__ADS_1