
Pada Hari Minggu
Pada sore hari setelah menyelesaikan kesibukan yang biasanya mereka lakukan pada weekend, seperti yang telah dijanjikan oleh David sebelumnya, mereka akan pergi ke Panti Asuhan Cinta Kasih. Tempat dimana mereka selalu berbagi dengan anak- anak yatim piatu yang tinggal disana. Tentu saja Kara sangat bahagia. Dia sudah menganggap para anak-anak panti sebagai adik-adiknya alias keluarganya. Semua telah selesainya di persiapkan, barang-barang yang perlu, telah di masukkan ke dalam mobil. David serta Kara duduk dibelakang setir/ kursi penumpang. Sedangkan bi Sumi duduk di sebelah Pak supir.
Mobil telah melaju dengan kecepatan sedang ke jalanan sepi dan menuju ke sebuah pedesaan yang asri. Sepanjang perjalanan, banyak pepohonan yang menjulang tinggi di tepian pinggir jalan. Tetapi kesannya indah dan udara disana sangat menyegarkan.
Mobil terus melaju. Kara hanya terdiam memandangi ke arah luar jendela mobil. Dan menikmati pemandangan yang dilihatnya. Sesekali ia mengambilnya gambar untuk jadi kenang-kenangan. Karna bulan depan, dia harus mengikuti ujian kelulusan.
Panti Asuhan Cinta Kasih
Mereka langsung keluar mobil, disambut oleh Ibu panti dan juga anak-anak panti tersebut.
Mereka tersenyum dan langsung berhambur memeluk Kara. Anak-anak panti sangat akrab dengannya.
"Yeay.. kak Kara datang. Kita kangen banget sama kakak" ucap Gina. Gadis mungil berusia 7 tahun.
" Bener banget kak" sahut Neo. Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun.
Dan masih banyak lagi sambutan hangat yang ia dapatkan dari anak-anak panti tersebut. Dia pun membalas pelukan hangat mereka satu persatu.
"Yaudah kalian main duluan ya? Nanti kakak susulin. Itu bi Sumi bakalan kasih mainan dan makanan ke kalian" ucapnya.
Mereka pun mengiyakan perkataan Kara.
Kara berjalan menuju ke arah Taman belakang. Di sana terdapat bunga-bunga yang bermekaran indah dan juga ada kursi untuk bersantai. Dia memandangi keindahan tersebut, tak terasa air matanya telah mengalir dengan derasnya. Dia teringat kembali dengan orang tuanya. Biasanya mereka akan pergi bersama kesana. Tetapi sekarang dan kedepannya tidak lagi. Dan tanaman indah itu juga ditanam oleh ibunya beserta para pelayan. Dan ayahnya menghias sebuah kursi duduk untuk bersantai disana.
Ibu panti datang menghampirinya. Dia melihat mata sembab Kara. Lalu dia memeluk Kara dengan hangat sembari menepuk-nepuk pundaknya, mencoba memberikan kehangatan layaknya orang tuanya.
"Kamu harus kuat ya, nak. Cobaan itu akan selalu datang tanpa diminta. Ibu percaya kamu akan jadi anak yang berhasil" ucapnya menyemangati.
Kara hanya menganggukkan kepala tanpa berucap. Dia pun menangis sejadi-jadinya. Ibu panti mengerti perasaannya, dia juga ikut menitikkan air matanya.
Lama mereka berpelukan, David telah datang menghampiri mereka.
"Ahem..." dia berdehem mencairkan suasana.
Keduanya pun melepas pelukannya.
"Maaf Bu Nisa, Kara... David ganggu ya?" ucapnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Enggak kok. Gak ganggu sama sekali. Yaudah ibu ke dalam dulu ya" sahutnya.
Kara serta David pun mengiyakan. David menghampiri adiknya yang duduk di kursi taman dan duduk disebelahnya.
"Kak... kira-kira mama papa seneng gak sih kalau kita datang kesini?" tanyanya.
"Ya senang dong, sayang. Mama papa akan bahagia melihat kedatangan kita kesini. Kakak janji kita bakalan sering-sering kesini" bujuknya.
"Iya kak" sahutnya.
Mereka menghabiskan waktu di taman tersebut sambil bercengkrama satu sama lain. Hingga tak terasa hari sudah mulai gelap. Bi Sumi pun menghampiri mereka.
"Tuan, nona apa kita akan pulang sekarang? tanyanya kepada tuannya.
" Eh, iya bi. Kita bakalan pulang sekarang. Yaudah kita pamit dulu yuk ke anak-anak dan juga ibu Nisa" sahutnya.
Mereka masuk ke dalam untuk pamit dengan si empunya panti.
__ADS_1
"Kita pamit dulu ya, Bu. Pokoknya kami bakal sering-sering berkunjung" ucap Kara.
"Iya, Bu. Udah malam juga. Besok harus bangun cepat untuk berangkat kerja. Kara juga harus sekolah, Bu" lanjut David.
"Yaudah kalian hati-hati ya. Anak-anak beri salam ke kak Kara dan kak David.." pintanya.
Anak-anak panti pun memberi salam secara bergiliran. Tak luput kara dan David memeluk mereka dan juga ibu Nisa.
Selepas itu, mereka kembali pulang ke rumah.
Di rumah keluarga Sebastian
Mereka langsung makan malam dengan lahap. Dan kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
Setelah itu, seperti biasa Kara langsung belajar di ruangan belajar. Karna sebentar lagi, ujian kelulusan akan dilaksanakan.
Setelah selesai belajar, dia langsung tidur karena hari ini sungguh membuatnya lelah.
Sementara David selalu menghampiri adiknya tengah malam. Untuk memastikan adiknya tidur dengan lelap. Dia memutar gagang pintu, dan melihat adiknya telah tidur dengan lelap tanpa selimut. Kemudian dia menyelimuti tubuh adiknya sembari tersenyum.
"Adik kakak lucu bangat deh kalau lagi tidur gini" ucapnya terkekeh.
Dia langsung mengambil benda pipih dari sakunya dan segera memotret adiknya yang tertidur lelap dengan pose menggemaskan.
Cekrek... cekrek. Dia mengambil beberapa foto. Setelah puas, dia kembali ke kamarnya.
Di pagi hari
Fajar telah menyingsing dari ufuk Timur ke ufuk Barat, burung-burung berkicauan. Cahaya pagi menembus jendela si empunya kamar. Deringan ponsel membangunkannya.
"Bukan alarm ternyata.. siapa ya pagi-pagi gini nelpon?" ucapnya suara khas bangun tidur.
"Ya, halo?" Sahutnya pelan.
"Ra, ini gue Rani!"
"Rani...? Ohw. Ada apa Ran?"
"Ada yang mau gue omongin ke lo... Lo ada waktu kan siang nanti? Kita ngopi bareng yuk... nanti siang di Naraya Caffe. Tapi, kita berdua aja ya. Airi sama Dimas gak usah ikutan. Ok?" sahutnya.
"Kenapa berdua doang Ran? Kalau rame kan seru..." sahutnya.
Ehh.. iya. Ini masalah pribadi Ra. Udah ya gue tutup dulu! ucapnya.
Yaudah deh...... "Kara"
Sepulang sekolah
Ra... kita nongkrong yuk! Gue bosan tau dirumah terus, mana sendirian lagi..." kesal Dimas.
"Ehh... iya Ra. Gue juga bosan banget. Hari ini juga gadak kelas buat latihan beladiri kok" lanjutnya.
Ehm, anu.. itu... Sorry ya guys! Gue gak bisa hari ini! Soalnya gue ada urusan.
Maaf ya! Pokoknya besok gue janji gue bakalan traktir kalian, gimana? Mau ya sayang?" bujuknya.
"Emang lo ada urusan apa Ra yang lebih penting dari sahabat sendiri, hah? Gue ingat Reyhan ada urusan, kak David juga lagi kerja. Trus lu mau ketemu ama siapa Ra? Jangan bilang si kuntilanak" kesalnya lagi.
__ADS_1
"Iya Ra. Lo mau ketemu siapa sih?" lanjut Airi.
"Emm.. itu masalah pribadi ku beb. Maaf ya say" sahutnya.
"Belum juga wanita karir udah sibuk aja. Apalagi ntar lu jadi istri bakalan sibuk banget ya lo kek Selena Gomez?" Sahut Dimas merasa kesal.
Kara berlari menghindari amukan banteng berwujud manusia itu๐ sambil cekikikan.
Sementara kedua sahabatnya itu, memutuskan untuk pulang. Karna menurut mereka, gak akan seru kalau Kara gak ikutan.
Di Naraya Caffe
"Hi, Ra. Sini!" sahut Rani sahabatnya.
"Ohw. Iya gue datang!" Jawabnya.
"Gue udah pesan coffe latte kesukaan lo" sahut Rani lagi.
"Oh ya, makasih" timpal Kara singkat.
Ngomong-ngomong, ada hal penting apa? Tumben lo ada waktu" sembari menyeruput kopi latte miliknya.
"Ahh.. iya. Ini masalah tingkah Dimas kmaren loh beb. Lo, jangan.. masukin kehati ya?" ucapnya gugup.
"Iya gapapa. Gue gak bakalan ikut campur kok masalah kalian berdua. Itukan privasi mu" ucapnya sembari tersenyum.
"Kenapa.. keliatannya Rani gugup gitu ya? Ada masalah apa ya.. yang dia sembunyiin dari gue? Akh... udahlah itukan masalah pribadi mereka. Mungkin rahasia kali ya? batinnya.
"Oh ya, gimana lo sama Reyhan.. baik-baik aja kan?" tanyanya penuh selidik.
"Iya, gue baik-baik aja. Tapi dia sibuk akhir-akhir ini. Jadi kita gadak waktu buat jalan" ucapnya polos.
"Udah. Yang penting dia setia sama lo. Iya kan?" sahutnya lagi.
Kara hanya tersenyum tipis.
"Semoga kalian langgeng ya sampe tua." ucapnya lagi sembari berdiri.
Oh ya, gue denger ya.. dia bakalan ngelamar lo habis lulus!" lanjutnya lagi.
"Apaaaa???" Kara terkaget mendengarnya.
"Lo jangan becanda deh Ran... kita kan belum lulus, ucapnya lagi.
"Ehh, tapi bener kok dia bilang gitu!" Sahutnya lagi.
"Harusnya gue seneng, kenapa gue ngerasa biasa aja ya?" batin Kara.
"Yaudah gue duluan ya Ra. Gue ada urusan!" Sahut Rani dan berlalu pergi.
Kara hanya menganggukkan kepala.
Dia juga bergegas untuk kembali pulang.
Dia merasa heran dengan tingkah laku sahabatnya itu. Meskipun demikian, dia tetap menghiraukannya.
TBC
__ADS_1