My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 83: Putri kecilmu!


__ADS_3

"Di rumah keluarga Adinata"


Samsul yang kini tengah duduk santai di sofa ruang tamu, tiba-tiba mendapat telpon dari seseorang. Ia lalu mengangkatnya sesegera mungkin.


"Ya, halo" Sahutnya sopan. Tiba-tiba tubuhnya gemetar, mendengar perkataan orang diseberang telpon.


"Be, belum Tuan! Saya akan segera melakukannya!" Lanjutnya sudah tampak ketakutan. Entah siapa orang diseberang telpon, hingga mampu membuatnya takut dan risau seperti sekarang ini.


Setelah ia menutup ponselnya, ia langsung melempar benda pipih tersebut ke sembarang arah.


"Aahhhhh!" Teriaknya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sial!" Pekiknya lagi.


Sementara Reyhan yang baru saja menginjakkan kakinya dirumah, merasa terkejut . Lantas kedatangan nya disambut dengan teriakan sang ayah.


"Apa yang terjadi?" Gumamannya dalam hati.


Kemudian ia menghampiri sang ayah. Dan bertanya untuk memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Kenapa ayah marah pagi-pagi gini?" Tanyanya sudah mendudukkan tubuhnya diatas sofa. Samsul menoleh kearahnya sekilas disertai helaan nafas beratnya. "Fyuh!


"Darimana kamu?" Tanyanya balik, yang membuyarkan lamunan putranya. "Hah? Kaget Reyhan.


"Aku dari kantor!" Ucapnya berbohong. Sebenarnya, ia baru saja kembali dari rumah Zaskia. Tapi, ia tidak ingin memberitahu sang ayah tentang rencananya yang ingin membawa Kara kesisinya lagi.


Samsul kembali menoleh kearahnya.


"Sebaiknya begitu. Jika kamu berani berbohong.. aku tidak akan segan-segan untuk menarik semua fasilitas yang sedang kamu gunakan sekarang!" Ucapnya dengan nada mengancam. "Glek! Reyhan menelan salivanya mendengar ancamannya.


"Aku mengerti!" Ucapnya, berusaha untuk tetap tenang. Sementara Samsul, ia hanya terdiam tanpa menyahut. Kemudian ia bangkit dari duduknya, hendak beranjak pergi. Tapi sebelum itu, ia berhenti sejenak.


"Jangan lupa dengan perjanjian kita sebelumnya. Segera singkirkan kedua b*****h itu!" Tegasnya lagi. Lagi-lagi Reyhan menelan salivanya.


"Tapi ayah, sekarang ini.. aku tidak bisa!" Ucapnya menolak. Samsul langsung menatapnya dengan tajam.


"Aku tidak butuh alasanmu!" Pekiknya dengan wajah muramnya. Ia kembali melangkahkan kakinya. Namun lagi-lagi terhenti mendengar teriakan Reyhan.


"Kapan.. kalian bisa mengerti perasaan ku?" Teriaknya sudah kehilangan kesabaran. Samsul langsung berbalik dan menghampirinya. "Tap..tap..tap!


"Apa katamu? Katakan sekali lagi!" Geramnya sudah mengepalkan tangannya.


"Kalian tidak pernah peduli dengan perasaan ku. Kalian hanya peduli dengan uang dan.." Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Samsul langsung meninju wajahnya. "Bugh! Hingga membuat tubuh Reyhan terhuyung tak seimbang.


"Dasar anak tidak tau diri" Pekiknya. Reyhan mengusap wajahnya yang sudah membiru. Kemudian ia tertawa paksa. "Hahahah..! Ia tidak percaya, kalau ayahnya sendiri tega memukulnya.


Bukannya merasa bersalah dengan tindakan gegabah nya barusan, Samsul malah bersikap seolah tak peduli.


"Jangan sampai aku kehilangan kesabaran!" Sahutnya lagi dan berlalu pergi meninggalkan Reyhan.

__ADS_1


Sedangkan Reyhan, ia langsung terduduk begitu saja diatas sofa. Ia mengusap wajahnya dengan kasar disertai helaan nafas panjangnya.


"Ahhhhh...!" Teriaknya sambil mengacak-acak rambutnya.


"Bagaimana mungkin aku membunuh Kara, sementara ia baru saja kembali? Lagipula.. aku sudah jatuh cinta padanya!" Teriaknya hingga memenuhi seisi ruangan. Kemudian ia kembali mengusap rambutnya, sambil menggelengkan kepalanya.


"Jojo juga pasti akan melindunginya. Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Teriaknya lagi. Tiba-tiba ia tersenyum licik, kala mengingat rencana awalnya.


"Sepertinya.. ini adalah satu-satunya jalan!" Ucapnya merasa senang. Ia lalu menghubungi Zaskia untuk menjalankan misinya.


Waktu bersamaan...


"Di vila"


Kara beserta ketiga pria bersahabat itu, baru saja tiba di vila pribadi Jojo. Jojo sengaja membawa mereka kesana, lantas untuk memperketat pengawasan Kara.


"Selamat sore, Tuan!" Sahut kepala pelayan sopan. Mereka hanya mengangguk seperti biasa.


"Emm..! Aku ingin mandi dulu. Badan ku gerah banget!" Bisik Kara ketelinga Jojo. Jojo pun mengangguk mengiyakan. Lalu Kara beranjak pergi meninggalkan ketiganya. Sementara mereka, langsung melangkah menuju ke ruang tengah untuk bersantai.


"Di ruang tengah"


"Aku tidak menyangka.. kalau Kara bisa bertindak seperti tadi. Aku benar-benar tidak bisa menebaknya!" Sahut Zack, membuka percakapan. David dan Jojo pun langsung menoleh kearahnya.


"Ckckck! Tentu saja kamu tidak bisa menebaknya. Aku adalah tunangannya! But you? Bukan siapa-siapa!" Ketus Jojo dengan nada meremehkannya.


"Dasar sombong!" Ledek Zack tak mau kalah. "Pfftt! David malah terkekeh melihat tingkah keduanya yang selalu berdebat bagai kucing dan tikus. Sebenarnya, ia juga tidak menyangka adiknya bisa berbuat nekat begitu.


Disela-sela gumamannya, ucapan Jojo kembali membuatnya tersadar.


"Aku ke kamar dulu! Kalian bersantailah!" Ucapnya pelan dan berlalu pergi. Kedua sahabatnya kemudian mengangguk mengiyakan perkataannya.


Sementara Rea yang baru saja selesai mandi, kini sudah duduk di depan meja rias. Semua perlengkapan make-up serta baju-bajunya telah dipersiapkan oleh Jojo sebelumnya. Ia kemudian memoles sedikit make-up diwajah cantiknya. Celana pendek berwarna navy dipadukan dengan kaos oblong putih, terlihat serasi di tubuh mungilnya. Berselang beberapa waktu, ia keluar menghampiri sang kakak dan yang lainnya.


"Sudah selesai?" Tanya David sambil tersenyum tipis. Hal itu membuat sesungging senyuman lebar terukir diwajah cantiknya. Ia lalu menoleh keseisi ruangan. Mencari keberadaan sang pujaan hati. Ia kembali tersadar dengan ucapan sang kakak.


"Dia ada di kamar!" Lanjut David sambil mengusap pucuk kepalanya. Kara lagi-lagi menyunggingkan senyum mengembangnya. Ia memeluk David sekilas dan beranjak menuju ke kamar Jojo.


"Di kamar Jojo"


Ternyata sedari tadi, si empunya kamar sedang sibuk memandang foto mendiang sang ibu. Tanpa ia sadari, setetes demi setetes air mata, lolos terjatuh hingga membasahi wajah tampannya. Kasih sayang ibunya, hanya bisa ia rasakan dalam beberapa tahun di masa kecilnya. Dipaksa menjadi dewasa diusia yang begitu muda, memang bukanlah hal yang mudah. Ingin mengadu, tapi tidak punya tempat untuknya berteduh.


"Ibu...!" Lirihnya. Ia menutup mulutnya, agar isakan tangisnya tidak keluar. Ia terbawa kedalam suasana hatinya. Hingga tak mendengar suara ketukan pintu dari luar. "Tok..tok..tok! Berkali-kali pintu diketuk, namun tidak dihiraukan olehnya.


"Jojo.. Jojo!" Sahutan Kara pun tak juga menyadarkan dirinya dari isakan tangisnya.


"Aku masuk ya?" Sahut Kara lagi, sembari menarik gagang pintu. "Ceklek! Kara menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari keberadaan Jojo. Mata hitam pekatnya membulat, melihat Jojo yang terisak diatas ranjang tempat tidur.


"Ada apa dengannya?" Batinnya.

__ADS_1


Kemudian ia menghampinya. Ia tertegun, melihat foto wanita cantik digenggaman Jojo.


"Tante Lena?" Gumamnya pelan. Ia duduk disamping Jojo dan meraih tangannya. Menyadari sentuhan tangan lembutnya, membuat Jojo tersadar. Ia menoleh kesamping. Dan secepat kilat, ia mengusap air matanya.


"Kamu disini?" Ucapnya pelan, disertai senyum paksanya. Kara hanya mengangguk kecil tanpa berucap. Ia tahu bagaimana perasaan Jojo saat ini.


"Aku pasti terlihat menyedihkan sekarang! Hahahah..!" Lanjut Jojo sambil tertawa paksa. Lagi-lagi ia mengusap air matanya yang tak berhenti terjatuh.


"Ahh..! Sungguh memalukan! Aku menangis lagi!" Ucapnya merasa malu. Kara menggelengkan kepala dan langsung memeluknya.


"Semua orang punya kesulitan sendiri!" Ucapnya berusaha menenangkan Jojo, sembari menepuk-nepuk punggungnya. Beberapa saat kemudian, ia melepas pelukannya. Dan memegang kedua wajah eksotis pria dihadapannya.


"Semua akan baik-baik saja, ok?" Ucapnya sembari mengusap air matanya. Jojo pun membalasnya dengan senyum paksanya. Kemudian ia meletakkan kepalanya di bahu Kara.


"Biarkan aku memelukmu seperti ini!" Lirihnya. Kara kembali menepuk-nepuk pundaknya. Sentuhan lembut tangannya, perlahan-lahan mampu menenangkan Jojo.


"Penderitaan yang dialaminya, lebih menyakitkan daripada kehidupan yang ku jalani selama ini!" Batin Kara.


Cukup lama keduanya berpelukan, kini mereka telah saling melepas.


"Emm..! Gimana kalau kita pergi mengunjungi makam Tante? Aku akan menemanimu!" Ucap Kara membuka percakapan. "Hah? Jojo mendongak mendengar tawarannya. Namun melihat senyum tulus Kara, iapun menyetujuinya.


"Emm, baiklah!" Ucapnya sudah tersenyum. Kemudian keduanya beranjak dari sana. Tapi sebelum pergi, mereka lebih dulu mengabari Zack dan juga David. Setelah itu, barulah mereka pergi menuju ke pemakaman.


Ditengah-tengah perjalanan, Jojo memberhentikan mobilnya di depan sebuah toko bunga, atas perintah Kara. Diwaktu lalu, Jojolah yang memberinya buket bunga untuk mendiang orangtuanya. Kali ini, ia tidak mau lepas tanggung jawab sebagai seorang tunangan. Setelah membeli sebuket bunga lili, barulah mobil kembali melaju.


"Di Pemakaman"


Beberapa saat kemudian, mobil tiba di kawasan pemakaman elit. Tempat ini memang selalu dijaga oleh para petugas setempat. Keduanya langsung turun dari mobil. "Brakk! Suara pintu tertutup. Kara meraih tangan Jojo dengan lembut. Mereka berjalan berdampingan, menghampiri sebuah nisan yang bertuliskan nama ibunya. Kemudian, Jojo berjongkok dan meletakkan bunga yang ia pegang disana.


"Ibu..! Aku datang!" Ucapnya lembut. Ia mengusap foto mendiang sang ibu.


"Aku merindukanmu, ibu!" Ucapnya lagi. Bibirnya mengerut, membentuk senyuman tipis. Ia kembali teringat dengan pesan ibunya dahulu. Kemudian, ia bangkit berdiri dan meraih tangan Kara yang tak jauh dari jangkauannya.


"Ini Kara ibu! Kara.. gadis mungil, yang dulu ibu jodohkan padaku. Aku benar-benar mencintainya!" Ucapnya sambil tersenyum tipis. Kara pun terikut menyunggingkan senyum mengembangnya.


"Emmm! Aku Kara Tante! Putri kecilmu! Aku juga merindukanmu!" Sahut Kara senang. Ia berusaha terlihat seperti Rara, gadis kecil mungil dahulu, agar Jojo bisa tersenyum. Dan benar saja, Jojo langsung terkekeh kecil melihat tingkahnya. "Pfftt!


"Apa Tante tahu? Sekarang.. kak Jojo benar-benar sudah menjadi pacarku! Bahkan, dia sudah melamarku Tante. Aku senang banget! Apa Tante juga senang, sama sepertiku?" Ucapnya masih bertingkah lucu. Kemudian ia merangkul lengan Jojo.


"Aku janji sama Tante. Aku akan menjaganya! Karna.. aku juga mencintainya!" Ucapnya menatap lekat manik jernih Jojo. Jojo pun membalasnya dengan senyum manisnya.


"Kami akan saling menjaga ibu! Jadi, jangan khawatir padaku. Beristirahatlah dengan tenang!" Lanjut Jojo seraya memeluk pinggang ramping Kara.


"Kami akan sering datang mengunjungi, Tante!" Sahut Kara lagi. Keduanya berpelukan, didepan makam sang ibu, seolah meminta restu kembali.


TBC


Halo para readers setiaku:)

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya say๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


I lovyu all๐Ÿ˜ฝ


__ADS_2