
Pagi harinya...
"Di ruang rawat"
Paparan sinar mentari pagi menusuk hingga ke celah-celah jendela kamar. Hal itu membangunkan si pria tampan dari tidurnya. Ia membuka dan mengucek matanya perlahan. "Emmhh! Terdengar suara nafas beratnya. Ia menatap ke seisi ruangan. Dan pandangannya berhenti, mendapati gadis cantiknya tengah tidur disampingnya. Sudut bibirnya tertarik sempurna hingga membentuk senyuman yang begitu manis. Lalu, ia mendudukkan tubuhnya yang perlahan.
"Hal yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah.. melihat mu berada disamping ku, saat aku kembali membuka mata" Gumamnya dalam hati.
Ia mengusap lembut pucuk rambut Kara. Dan sentuhan tangannya, mampu membangunkan si gadis cantik dari tidurnya. Lalu Kara membuka matanya perlahan.
"Emm? Ia membulatkan matanya, melihat Jojo sudah siuman. Dan pria itu menatapnya tanpa berkedip seraya menunjukkan senyum merekahnya.
"Ehh.. kamu sudah siuman? Apa ada yang sakit?" Tanyanya khawatir, dan dibalas gelengan kepala oleh Jojo.
"Apa kamu haus? Lapar tidak?" Lanjutnya bertanya. Namun Jojo, lagi-lagi hanya menggeleng. Ia malah tertawa melihat tingkah Kara saat ini. "Puffttt..!
"Ehh.. mengapa kamu tertawa?" Kara semakin bingung. Hal lucu apa yang membuatnya tertawa lepas begitu, pikirnya. Tiba-tiba ia melototkan matanya.
"Apa wajah ku bermasalah? Benar! Aku baru saja terbangun, dan belum sempat cuci muka. Pantas saja dia tertawa!" Gumamnya dalam hati.
"Aku akan mencuci wajahku!" Ucapnya merasa canggung seraya menutupi wajahnya. Sontak Jojo kembali tertawa. Kali ini, ia tertawa begitu keras, hingga menggelegar di seluruh ruangan.
"Puffttt, hahahaha..." Ia tertawa seraya memegangi perutnya. Kara semakin melotot menatapnya.
"Apa dia kesurupan?" Batinnya merasa aneh.
"Uhuk .uhuk..uhuk! Suara batuk Jojo membuyarkan lamunannya. Ia segera menepuk-nepuk punggung pria tersebut.
"Kamu baru siuman! Jangan terlalu banyak bergerak, ok?" Celotehnya sudah mengomel seperti ibu-ibu. Lalu ia meraih segelas air minum yang terletak diatas meja, samping tempat tidur Jojo.
"Minumlah!" Sahutnya lagi seraya mengarahkannya ke dalam mulut Jojo. Pria itu hanya menurut, tak berani membantah. "Glek..glek..glek! Ia menghabiskannya dalam sekali tegukan.
"Apa aku begitu jelek? Kenapa kamu menertawakan ku?" Kesal Kara lagi, sambil memicingkan matanya sebelah. Seketika ia memalingkan wajahnya kesamping dan memonyongkan bibirnya kedepan.
"Ehh.. bukan! Bukan itu maksudku!" Sahut Jojo tersenyum pahit, seraya menggeleng-gelengkan kepala. Jangan sampai dia marah, pikirnya.
"Kalau begitu?" Ia kembali menoleh kearah Jojo.
"Mengapa kamu menertawakan ku, Tuan Jojo?" Lanjutnya lagi seraya menegakkan dagu Jojo dengan jari telunjuknya.
"Maksudku.. kamu sangat lucu ketika sedang panik!" Sahutnya apa adanya.
__ADS_1
"Aku tidak percaya!" Ketus Kara. Ia menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Kamu tidak memercayai ku, sayang?"
"Tidak!"
"Apa kamu akan meninggalkan ku?"
"Benar! Aku akan pergi!" Sahut Kara berpura-pura kesal.
"Kamu tega, membiarkan ku? Sayang.. aku sedang sakit! Aku butuh seseorang untuk menjagaku!" Timpal Jojo dengan wajah memelasnya.
"Puffttt! Kara tertawa kecil melihat tingkahnya. Ia menutup mulutnya dengan tangannya, agar tidak terlihat oleh Jojo bahwa ia sedang berpura-pura marah.
"Memang pantas menjadi seorang bayi besar! Lihatlah tingkahnya! Bahkan ia lebih menggemaskan daripada diriku sewaktu kecil dulu!" Gumamnya dalam hati.
"Kamu kan.. bisa minta dijagain sama tunanganmu itu?" Lanjut Kara seolah tak punya hati nurani.
"Emm..? Haruskah aku menelponnya?" Sahut Jojo membalas tingkah jahilnya. Kara segera melototinya.
"Apa dia sungguh akan menelponnya? Tidak boleh! Aku harus mencegahnya" Batinnya merasa cemburu.
"Uhuk..uhuk! Ia berpura-pura batuk. Sepertinya, aku harus mengalah kali ini, pikirnya. Kara tampak linglung saat ini. Wajahnya sudah memerah bagai tomat. Hal itu membuat Jojo tersenyum penuh kemenangan.
Tiba-tiba Kara kembali berucap penuh perhatian.
"Andoe..andoe..., karna Tuan Jojo sedang sakit, maka aku akan tinggal lebih lama disini. Beristirahatlah! Aku akan menjagamu!" Ucapnya seraya tersenyum lebar.
"Apa perlu menghubungi tunangan ku lagi?" Jojo kembali menjahilinya. Kara segera membulatkan matanya.
"Kamu berani?" Ketusnya sudah merapatkan giginya.
"Tentu saja tidak! Aku tidak berani, sayang!" Sahut Jojo dengan wajah memohon belas kasihan. Lagi-lagi ekspresi imutnya melunakkan hati Kara.
"Aihkk.. si manja ini!" Ucapnya pelan sambil menggeleng kepala. Ia lalu meraih 1 buah apel dari atas nakas samping tempat tidur. Kemudian mengupasnya dan menyuapi Jojo dengan penuh perasaan.
"Kamu harus banyak makan buah dan makanan berserat tinggi, agar cepat sembuh! Mengerti?" Ucapnya lembut dan dibalas anggukan oleh Jojo. Raut wajahnya tampak begitu bahagia, bahagia mendapati sikap tulus gadisnya itu. Keduanya memang benar-benar pasangan yang sangat serasi.
Berbanding terbalik dengan Tuan Alfred. Sebenarnya ia sudah sadar sedari tadi. Namun, ia enggan untuk membuka matanya, tidak ingin mengganggu pasangan kekasih yang sedang kasmaran itu.
"Di Tanah Air"
__ADS_1
Rani yang baru saja selesai shooting, segera kembali melajukan mobilnya menuju ke apartemennya. Selama beberapa tahun terakhir, ia memang menjadi model pakaian merek C di ibukota. Tentu, untuk mendapatkannya bukanlah hal yang mudah. Ia harus melewati malam yang panjang bersama dengan pria tua bertubuh gemuk, yang tak lain adalah pemilik perusahaan tersebut. Demi mencapai tujuannya, ia rela menjual tubuhnya. Alasan utamanya adalah.. karna memang, Reyhan sudah jarang mengiriminya uang. Bahkan, sangat jarang menghubungi dirinya. Perlakuan Reyhan berubah drastis. Jauh berbeda ketika mereka masih duduk di bangku SMA dulu.
Tak menunggu waktu lama, mobil yang ia kendarai tiba di sana. Ia segera turun dan melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. "Bip! Suara pintu terbuka. Ia berjalan ke arah kulkas dan mengambil sebotol air mineral, lalu meneguknya hingga habis.
Ia kembali berjalan menuju ke ruang tamu.
Kini ia telah duduk di sofa, sambil menyalakan rokoknya. "Huff! Ia membuang asap rokoknya lalu menghisapnya kembali. Begitulah seterusnya. Minuman beralkohol, rokok dan sebagainya.. menjadi pelengkap hidupnya setiap hari. Hidupnya seolah hancur, tanpa tujuan.
"Hahaha.." tiba-tiba ia tertawa. Ia kembali mengingat kejadian dimasa lalunya. Kara yang begitu baik hati, dikhianati olehnya.
"Emm..? Kamu begitu sempurna Kara! Aku sangat iri padamu! Itulah sebabnya, aku mengambil Reyhan dari sisimu. Tapi...." Ia mengepalkan tangannya. Lalu membuang nafasnya dengan kasar.
"Ternyata.. dia bukanlah pria baik-baik. Tapi adalah seorang b******n yang tidak bertanggung jawab." Lanjutnya lagi. Ia bangkit dari duduknya, lalu menatap keluar jendela.
"Dia bahkan membunuh anakku!" Lirihnya lagi. Tanpa terasa, air matanya lolos terjatuh dari pelupuk matanya.
Flashback off
Rani memang pernah mengandung, tepatnya satu tahun yang lalu. Ia dengan senang hati memberitahu Reyhan akan hal itu. Dia pasti senang, pikirnya. Namun, semuanya berbanding terbalik. Reyhan marah dan memintanya untuk segera menggugurkan bayi tersebut. Apapun alasannya, bayi itu tidak boleh lahir! Itulah satu-satunya alasan Reyhan. Ia tidak mau bertanggung jawab sama sekali. Ia berpikir, kalau semua hal yang mereka lakukan dengan Rani, bahkan ke hal yang lebih intim sekalipun.. hanya mainan saja baginya.
"Siapa suruh kamu tidak pakai pengaman? Dasar wanita p*****r! Benar-benar merepotkan!" Itulah kata-kata menyakitkan yang selalu terngiang dibenak Rani saat mengingat wajah menjijikkannya.
Karna Rani menolak dan lebih memilih untuk mempertahankan bayi itu, Reyhan semakin marah padanya. Tanpa rasa belas kasihan, ia mendorong tubuh Rani dari tangga. Hingga membuatnya kehilangan bayinya. Sejak saat itu, hubungan keduanya menjadi retak seperti bermusuhan. Rani berjanji akan membalaskan dendam untuk anaknya. Itulah mengapa ia bekerja sebagai model di merek C. Karna perusahaan itu adalah, salah satu perusahaan besar di ibukota. Meski masih kalah jauh dengan perusahaan Jojo saat ini.
Flashback on
Ia menyeka air matanya.
"Semuanya sudah terjadi! Tidak ada gunanya untuk menyesal sekarang! Jika sudah seperti ini.. maka biarlah begini! Aku pasrah!" Ucapnya seolah pasrah dengan keadaan.
"Maaf, Kara! Maafkan aku!" Gumamnya merasa bersalah.
Ia menangis tersedu-sedu. Entah ia benar-benar menyesal atau tidak... hanya dia yang tahu. Tapi saat ini, dia hanya ingin menangis. Meluapkan emosi serta rasa bersalahnya.
TBC
*Halo para readers setiaku💗
Jangan lupa tinggalkan jejak say..
Tetap semangat dan jaga kesehatan guys💋
__ADS_1
I lovyu all😘😘*