My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 73: Restu dan Tangis


__ADS_3

Kedua pria itu membulatkan matanya tak percaya.


"Bagaimana mungkin.. Jojo kekasih adikku?" Batin David.


Begitupun dengan Jojo. Ia terdiam seolah mulutnya terbungkam.


"Ternyata.. Kara adalah Rara? Teman masa kecil ku?" Gumamnya dalam hati.


Lama mereka saling terdiam, kini Kara kembali melanjutkan ucapannya, karna masih bingung melihat tingkah aneh kedua pria dihadapannya.


"Kakak.. sayang, kalian kenapa sih?" Tanyanya seraya melambai-lambaikan tangannya.


"Hah? Jojo dan David terkejut dan kembali saling bertatapan.


"Uhuk! Itu.. kamu, kamu becanda kan dek?" Tanya David seraya tertawa kecil. Untuk memastikannya, lebih baik bertanya saja, pikirnya.


"Bercanda? Ya, enggaklah kak! Kakak tenang aja, Jojo itu pria baik-baik. Dia berbeda dengan Reyhan pria b******k itu." Ucapnya antusias.


"Emm? David menyerngit mendengar perkataannya.


"Apa Kara benar-benar sudah jatuh hati dengan Jojo, pria psikopat ini? Bagaimana mungkin, aku merelakan adik kesayangan ku ini kepadanya?" Gerutunya dalam hati.


Ia menatap tajam kearah Jojo, seperti menyimpan dendam tersembunyi. Jojo yang menyadari tatapan mematikannya, hanya bisa tersenyum kaku.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Jika kelinci kecil adalah Rara.. itu artinya, David adalah kakak ipar ku?" Umpatnya dalam hati.


"Aish! Kara memukul jidatnya pelan.


"Jika kalian masih diam gak mau bicara, maka aku akan pulang sendiri!" Ucapnya dengan nada mengancam.


"Bagaimana mungkin mereka terdiam, mengabaikan ku? Harusnya mereka senang dengan kepulangan ku. Tapi ini? Diam seperti Mr.Limbad saja!" Kesalnya dalam hati.


Ia hendak melangkah, namun tangannya langsung ditahan oleh keduanya. Satu disisi kanan, dan satunya disisi kiri.


"Emm.. itu, kamu, maksud kakak.. uhuk!" David terdengar terbata-bata. Kara kembali menaikkan kedua sudut alisnya, agar sang kakak melanjutkan ucapannya.


"Maksud kakak, kamu pulang dengan siapa?" Lanjut David to the point. Namun, tatapannya masih tertuju menatap manik Jojo.


"Emm? Kalau bisa pulang bersama, kenapa harus memilih?" Sahut Kara merasa senang.


"Tapi.. b******n ini. Maksud kakak, pria ini adalah Jojo!" Kesal David semakin mempererat genggaman tangannya.


"Memangnya kenapa kalau dia adalah Jojo? Kan dia pacar ku, kak! Jadi.." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, David langsung melanjutkan ucapannya.


"Jadi, kamu belum mengenalnya?" Sambung David, sudah memejamkan matanya.


"Maksud kakak apa?" Kara kembali bertanya tak mengerti.


"Dia adalah Jojo. Anaknya Tante Lena. Pria b******k yang berani menolak mu saat masih kecil." Jelasnya.


"Ap, apa? Jojo adalah..?" Kara menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menoleh kearah Jojo. Jojo yang merasa bersalah pun langsung memeluknya.


"Jika aku tahu, bahwa dialah pemilik hatiku yang sebenarnya.. maka aku tidak akan pernah menolaknya di masa kecil. Aku ingin kembali ke masa dulu, agar aku tidak bersikap dingin, dan menerimanya dari awal. Sekarang, aku tidak ingin kehilangannya! Bagaimana jika dia marah dan meninggalkan ku karna hal itu? Aku benar-benar takut! Takut kehilangannya!" Batinnya merasa bersalah.


Tidak pernah terpikirkan olehnya, kalau dirinya, si pria dingin dan psikopat, akan jatuh hati dengan seorang gadis, yang tak lain adalah teman masa kecilnya.


"Maaf, sayang! Maaf, karna aku tidak bisa mengenali mu!" Lirihnya. Wajahnya tampak diselimuti dengan penuh rasa bersalah.


"Aku, aku tidak menyalahkan siapapun! Lagipula.. sudah begitu lama, kita tidak pernah bertemu." sahut Kara, seraya membalas pelukannya. Ia kembali teringat, dengan semua penjelasan Jojo ketika mereka berada di negara K. Semua cerita pahit, yang telah Jojo lalui sebelumnya telah diketahui olehnya. Mengingat hal itu, membuatnya merasa iba dan tidak tega.


"Pasti sangat sulit bagimu!" Batin Kara prihatin.


David yang menyaksikan pemandangan langka dihadapannya, malah menganga tak percaya. Bukan ini yang ia inginkan, melainkan ingin memberi Jojo sedikit pelajaran, karna berani menolak Kara, adik kesayangannya itu di masa lalu.


"Bagaimana mungkin? Apa adikku lebih mencintai pria gila ini, daripada aku, kakak kandungnya? Tidak! Aku tidak terima!" Ucapnya merasa frustasi.

__ADS_1


Ia lebih terkejut lagi, menyaksikan keromantisan keduanya. Jojo memberikan bunga serta kecupan tak biasa kepada sang adik.


"Dasar Jojo s****n! Beraninya melakukan hal itu dihadapan ku? Apa dia pura-pura amnesia, kalau aku adalah seorang jomblo? Aku tidak akan membiarkan mu dengan mudah!" Geramnya tak terima. Ia lalu menghampiri kedua pasangan yang sedang kasmaran itu. Lalu meraih tangan adiknya.


"Sayang, kita pulang yuk?" Ajaknya dengan wajah menggemaskannya. Tentu saja, Kara luluh hanya dengan melihat tingkah lucu sang kakak.


"Baiklah, kak!" Ucapnya tersenyum lebar. Mereka hendak pergi. Namun menyadari Jojo yang mengikuti langkah kaki mereka, tiba-tiba David berhenti.


"Apa yang kamu lakukan? Ini adalah pertemuan antara adik dan kakak. Lebih tepatnya, waktu bersama keluarga tercinta. Sebaiknya, kamu menghindar dulu!" Kesal David, tak ingin waktunya diganggu bersama dengan sang adik.


"Hah? Jojo malah tersenyum licik menatapnya.


"Apa senyam-senyum? Jangan berpikir untuk merebut adikku dengan mudah." Kesalnya lagi, sambil menaikkan satu sudut bibirnya. Tanpa menghiraukan perkataannya, Jojo malah dengan percaya dirinya meraih tangan Kara. Ia lalu menciumnya dengan lembut. Hal itu membuat David semakin naik darah.


"Bukankah ini pertemuan keluarga?" Tanya Jojo penuh semangat.


"Memang benar!" Ketus David, seraya menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Apa kamu pikir.. dengan memacari adikku, maka aku akan menyetujuimu menjadi adik ipar ku? Bermimpilah! Dasar pria psikopat!" Umpatnya dalam hati.


"Maka.. aku bukanlah orang lain. Sekarang, kita ini adalah keluarga." Sahut Jojo penuh percaya diri.


"Cih! Bermimpilah!" Ketus David lagi.


"Karna Kara adalah tunanganku! Benarkan sayang?" Lanjut Jojo seraya tersenyum lebar. Dan dibalas anggukan kepala oleh Kara


"Apaaa?" Teriak David sudah membulatkan matanya.


"Kalian.. bertunangan? Bahkan, tidak memberitahu ku?" Lanjutnya. Ia berkacak pinggang seraya tertawa sinis. Mendengar teriakannya, membuat Kara semakin merasa bersalah. Ia menusuk-nusuk pipinya yang mungil.


"Maaf, kak! Aku ingin memberitahu kakak, tapi.. aku pikir belum saatnya." Ucapnya pelan. Ia menundukkan kepalanya. David yang menyadari sikap bersalah adiknya, kemudian memalingkan wajahnya keatas. Lalu, memijit-mijitt keningnya. Ia tidak tega menyakiti perasaannya.


"Mengapa aku harus marah pada adikku? Lagipula.. ini pilihannya!" Gumamnya dalam hati.


Ia mengalihkan pandangannya kearah Jojo.


Secepat kilat, ekspresi muramnya berubah menjadi senyuman licik. Hal itu membuat Jojo sedikit menyerngit. Sementara Kara, ia masih diam terpaku, menundukkan kepala.


"Karna kamu berani mendekati adikku.. maka jangan salahkan aku! Bagaimana, seorang pria angkuh dan sombong seperti mu bisa merendah nantinya?" Batinnya merasa kesenangan.


"Uhuk! Baiklah! Aku akan merestui hubungan kalian. Tapi.." David menggantung perkataannya. Sementara Jojo yang mendengar kata restu langsung menoleh kearah suara tersebut. Ia tersenyum puas, seolah dirinya telah menang.


"Aku tahu, David pasti luluh dengan kelinci kecil. Dan lagi.. dia pasti beruntung adiknya bisa berpacaran dengan seorang pria sekaya, setampan dan sebaik diriku. Aku adalah orang langka! Dimana lagi bisa mendapatkan bibit unggul seperti ku?" Gumamnya senang.


"Tapi.. kamu harus memanggil ku kakak ipar. Jadi, kedepannya, sopanlah terhadap kakak ipar mu ini." Sahut David dengan nada serius. Namun dalam hatinya, ia sudah tertawa kesenangan.


"Hahah..! Jojo, Jojo.. mari kita lihat. Sampai mana kamu bisa sombong?" Batinnya.


Mendengar perkataannya barusan, membuat senyuman mengembang Jojo perlahan-lahan mulai menghilang.


"Apa? Apa David sedang menguji kesabaran ku?" Geramnya tak terima.


"Bagaimana.. adik ipar?" Bisiknya ketelinga Jojo seraya tersenyum licik.


"Aku.. aku.." Jojo sudah merapatkan giginya. Ia lalu memejamkan matanya, berusaha meredam amarahnya.


"Baiklah! Demi kelinci kecil ku! Apapun akan kulakukan demi mempertahankan hubungan kami" Batinnya.


Ia kembali membuka matanya dan membuang nafasnya dengan pelan. "Fyuh!


"Baiklah, kakak ipar!' Ucapnya tersenyum lebar. Bukannya senang, David malah terdiam membeku tak percaya.


"Bagaimana mungkin, seorang iblis sepertinya bisa berubah dalam waktu singkat? Sejak kapan dia merubah tabiatnya ini?" Tanyanya dalam hati.


Jawabannya adalah sejak kehadiran Kara disisinya, perlahan Jojo bisa merubah sikapnya yang angkuh. Itu dimulai, ketika ia melihat kehidupan sederhana Kara selama di negara K. Meski ia sudah menjadi seorang artis papan atas, namun masih bisa mempertahankan sikap rendah hati, didikan orangtuanya.

__ADS_1


"Jadi, apa kalian sudah berbaikan?" Tanya Kara yang menyadarkan lamunannya.


"Emm! David tak bisa berkata-kata lagi.


"Apa ini ada hubungannya dengan adikku? Memang pantas menjadi kesayangan semua orang!" Batinnya penuh rasa syukur.


"Yaudah, kita pulang yuk?" Ajak Kara dan dibalas anggukan oleh kedua pria dihadapannya. Mereka langsung melangkahkan kakinya menuju ke mobil. Kali ini, Jojolah yang menyetir. Ia membiarkan kedua kakak beradik itu duduk dibelakang, menghabiskan waktu bersama.


"Apa kamu lapar? Kakak akan membawa mu ke restoran paling mewah disini." Sahut David antusias, namun dibalas gelengan kepala oleh sang adik.


"Lalu, kemana kita akan pergi?" Tanyanya merasa keheranan. Ia ingat betul, kalau adiknya adalah seorang pecinta kuliner. Tapi hari ini, ia malah menolaknya.


"Ka.. Kara ingin mengunjungi makam mama sama papa, kak!" Ucapnya pura-pura tersenyum. Ia menggenggam erat bajunya, untuk menghilangkan kesedihannya. David yang melihatnya pun langsung meraih tubuhnya dan membawanya ke dalam dekapannya.


"Kakak mengerti! Kita akan pergi kesana, ok?" Ucapnya lembut seraya mengusap rambut indah adiknya.


"Bagaimana aku bisa lupa?" Gumamnya merasa bersalah.


Tanpa bertanya lebih lagi, Jojo segera melajukan mobilnya menuju ke pemakaman, dimana Tuan Reyn dan Nyonya Sophia dimakamkan. Ditengah-tengah perjalanan, ia menyempatkan waktu untuk membeli dua buket bunga lili. Lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju ke pemakaman.


"Di Pemakaman"


Menghabiskan waktu satu jam untuk tiba disana. Kini, mobil berhenti tepat di pintu masuk pemakaman. Tempat ini adalah, pemakaman khusus yang sengaja David pilih saat itu. Dan juga merupakan tanah keluarga Sebastian.


Ketiganya langsung keluar dari dalam mobil. Tak lupa, Jojo memberikan bunga yang ia beli tadi ketangan Kara.


"Kamu membutuhkan ini!" Ucapnya lembut. Kara hanya mengangguk pelan, tanpa menyahut.


Kini, matanya telah berkaca-kaca. Ia lalu berjongkok ditengah-tengah kedua makam orangtuanya dan meletakkan bunga tersebut.


"Ma.. pa.., Kara pulang!" Ucapnya pelan, dan tangisannya lolos pecah seketika. "Hiks..hiks..hiks!


"Kara sangat merindukan mama, papa! Hiks.. hiks.." Ia menyentuh foto mendiang ayah dan ibunya secara bergantian.


"Kara.. hiks! Umm.. sekarang, Kara udah jadi artis terkenal, seperti keinginan mama dulu. Apa mama bahagia?" Lirihnya masih terisak.


"Papa juga.. pasti, bahagia kan pa?" Lanjutnya lagi. Air matanya mengalir begitu deras membasahi pipinya. David yang tidak tega, langsung merangkulnya dengan erat. Air matanya juga ikut terjatuh.


"Kakak disini, sayang!" Ucapnya berusaha menenangkan Kara. Keduanya terlarut dalam isakan tangis masing-masing. Sementara Jojo, ia tampak mengepalkan tangannya. Meski, ia juga terbawa suasana sekarang ini.


"Siapapun.. siapapun orang yang berani menyakiti hati gadisku dan juga sahabatku.. akan kuhabisi semuanya. Termasuk dalang dibalik kematian om Reyn dan Tante Sophia. Semuanya harus mati!" Gumamnya dalam hati.


Lama kedua kakak beradik itu terduduk menangis disana, kini Jojo mulai melangkah menghampiri mereka.


"Jangan menangis lagi! Om dan Tante pasti bahagia, memiliki putra dan putri berbakti seperti kalian. Jika kalian terus berlarut dalam kesedihan, lalu siapa yang akan mewujudkan impian mereka?" Ucapnya berusaha menenangkan keduanya. Ia merangkul David serta Kara dengan penuh kehangatan.


"Makasih ya, Jo!" Lirih David seraya mengusap air matanya. Jojo memang selalu ada disisinya, baik susah maupun senang.


"Jangan bicara begitu! Kita ini sama. Apapun masalah mu, itu juga masalahku! Sekarang, kita ini adalah keluarga. Jadi, jangan sungkan." Lanjutnya lagi. Ia memapah tubuh kedua kakak beradik disampingnya untuk berdiri.


"Kita pulang sekarang ya? Kara juga baru tiba. Pasti sangat lelah!"


David hanya mengangguk pelan. Sementara Kara, ia masih terisak sesegukan. Jojo kembali meraih tangannya dengan lembut.


"Sayang.. berpamitlah! Kita akan sering-sering datang kemari.!" Bujuknya seraya mengusap butiran-butiran air mata gadisnya. David yang menyadari sikap penuh kelembutannya malah tersenyum haru.


"Jojo sangat tulus terhadap kami. Jadi, apa yang ku hiraukan lagi? Aku akan merestui hubungan mereka!" Batinnya.


"Ma.. pa.. Kara janji. Kara akan lebih sering-sering mengunjungi kalian." Ucapnya pelan seraya mengusap air matanya. Setelah itu, mereka kembali kedalam mobil. Jojo melajukan mobilnya menuju ke rumah pribadi David. Rumah yang David beli beberapa waktu lalu, dari hasil jeri payahnya selama ini.


TBC


Halo para readers setiaku:)


Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa kedua bab ini selalu diulang? Itu karna terjadi beberapa kendala. Jadi harus di perbaharui lagi. Tolong tetap tinggalkan jejak say...

__ADS_1


I lovyu all๐Ÿ˜˜


__ADS_2