
"Di ruangan VIP"
Kedua sepasang kekasih itu kembali masuk kedalam ruangan VIP, dimana Zack dan David masih menunggu mereka. Jojo mendorong pintunya perlahan, dan mempersilakan gadisnya untuk masuk duluan. Wajahnya tampak muram, kala mengingat kejadian tadi. Zack yang menyadari sikapnya pun, seketika menaikkan sudut alisnya kearah David, seolah bertanya sesuatu. Namun David hanya mengedikkan bahunya. Ia juga tidak tahu, hal apa yang membuat Jojo tampak tidak senang lagi kali ini.
"Apa mereka baru saja bertengkar? Tapi, sebelumnya semua baik-baik saja kan?" Batinnya penuh tanda tanya.
Kara kembali duduk disebelah kakaknya. Begitupun dengan Jojo. Namun ekspresi wajahnya belum juga berubah.
"Uhuk..uhuk! David berbatuk berusaha mencairkan suasana disana. Ia lalu menatap wajah Jojo.
"Ada apa denganmu?" Tanyanya penuh hati-hati. Tapi, Jojo masih saja terdiam seraya memijit-mijitt keningnya.
"Kalian.. tidak sedang bertengkar kan?" Sambung Zack bertanya. Sontak Kara terkaget mendengarnya.
"Hah? Bagaimana mungkin? Kalian salah paham! Kami tidak bertengkar, kok." Ucapnya seraya mengibas-ngibaskan tangannya. "Emm? David mengerutkan alisnya mendengar ucapannya barusan.
"Itu, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Reyhan. Dan.." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, David langsung menggebrak meja penuh amarah. "Brakkk!
"Apaaa?" Teriaknya sudah membulatkan matanya. Kini, ia sudah bangkit dari duduknya.
"Ka.. kakak tenang dulu!" Sahut Kara sedikit khawatir. Ia khawatir kakaknya bertindak gegabah, dan akan melukai dirinya sendiri.
"Lalu, apa kamu baik-baik saja? Apa yang dia katakan? Apa dia berani menyentuh mu?" David menyuguhkan berbagai pertanyaan padanya. Sorot matanya, dan ekspresi wajahnya, tampak jelas bahwa ia sedang mengkhawatirkan sang adik.
"Kara baik-baik aja kok, kak! Untung saja, Jojo datang tepat waktu." Sahutnya sambil tersenyum tipis. Mendengar hal itu, sedikit melegakan hati kakaknya. Ia lalu memeluk erat adiknya dengan penuh kehangatan.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, sayang!" Ucap David merasa lega. Kemudian, pandangannya kembali beralih menatap Jojo.
"Pantas saja, tadi dia sengaja keluar. Aku pikir dia sedang berpikiran mesum. Ternyata malah berbanding terbalik" Gumamnya dalam hati.
Memang benar! Jojo sengaja keluar saat Kara ke kamar kecil. Entah mengapa, perasaannya tidak tenang. Hingga ia memutuskan untuk mengikuti sang kekasih. Dan menunggunya sampai selesai. Sembari menunggu Kara, ia juga melihat kehadiran Reyhan disana, seperti menerima panggilan telepon dari seseorang. Tapi ia tidak mau cari ribut. Ia hanya ingin menunggu sang kekasih, tidak ingin terlalu mendominasi.
Beberapa saat kemudian, saat Kara hendak keluar ia melihat Reyhan dengan sengaja menabraknya. Hal itu membuatnya sedikit emosi. Tapi ia menahannya, kala menyaksikan gadisnya yang memaki Reyhan dengan penuh rasa jijik. Tapi, si pria pembuat masalah itu tetap saja tidak kapok. Ia malah berani menyentuh tangan Kara. Saat tangannya hendak menggapai wajah Kara, barulah Jojo bertindak. Ia meluapkan amarahnya yang terpendam sejak tadi.
Waktu sekarang..
Jojo kian mengusap wajahnya perlahan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Sang adik serta kedua sahabatnya langsung menoleh kearahnya. Mereka penasaran, siapa yang menelponnya dihari libur seperti ini. Namun, berbanding terbalik dengan Jojo. Ia malah mengabaikan si penelpon setelah menatap layar ponselnya sekilas. Kara yang melihatnya pun, langsung memicingkan matanya. Ia sedikit mencurigai Jojo. Meski ia tahu, kalau prianya itu tidak akan mengkhianati dirinya.
"Mengapa tidak diangkat?" Ucapnya seraya menatap lekat wajah tampan prianya. Ia menautkan kedua tangannya menahan dagunya diatas meja.
"Emm? Jojo menaikkan kedua alisnya keatas.
"Bukan orang penting!" Ucapnya santai.
"Benarkah?" Sahut ketiganya secara bersamaan. Kini, bukan hanya Kara saja yang mencurigainya. Tapi juga kedua sahabatnya. Ketiganya langsung memberinya tatapan aura membunuh. Seperti diawal, Jojo tetap bersikap biasa saja. Karna memang dirinya tidak bersalah sama sekali. Tanpa menunggu persetujuan darinya, Kara langsung mengambil benda pipih tersebut dari atas meja. Ia sedikit menyerngit, karna tidak ada nama sama sekali. Jojo memang tidak akan pernah menyimpan nomor ponsel orang lain, jika bukan orang penting. Dan bisa ditebak, hanya nomor ponsel Kara seoranglah, satu-satunya wanita yang tersimpan di dalam kontaknya.
"Siapa ini?" Batin Kara.
Namun ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Tanpa menunggu lagi, ia langsung mengusap layar ponselnya keatas. Baru saja, ia ingin berucap, namun si penelpon sudah mendahului dirinya.
"Jojo?" Sahut seorang wanita dari seberang telpon. Mendengar hal itu, Kara langsung menoleh kesamping, menatap prianya itu. Keningnya tampak sedikit mengerut. Jojo hanya membalas dengan senyuman manisnya.
"Halo, halo! Apa kamu mendengar ku?" Sahut wanita itu lagi, yang menyadarkan mereka dari pikiran masing-masing.
"Ahh? Kaget Kara. Ia memijit-mijitt keningnya seraya membuang nafasnya perlahan.
"Siapa wanita ini? Apa dia wanita pengganggu itu lagi?" Batinnya penasaran.
Sementara Jojo, ia langsung mengambil kembali ponselnya dari tangan Kara dan mematikannya secara sepihak. Ia tidak ingin Kara menyalapahami dirinya karna wanita itu.
"Dasar orang sinting!" Kesalnya. Ia lalu meraih tangan Kara dengan lembut.
"Jangan pedulikan dia, sayang! Dia pasti orang gila yang ingin menghancurkan hubungan kita!" Sahut Jojo berusaha meyakinkannya.
"Benarkah?" Sahut Kara sedikit lega. Bagaimanapun, ia lebih mempercayai perkataan Jojo dibandingkan dengan ucapan wanita yang menelponnya tadi.
"Benar!" Sahut Jojo seraya tersenyum tipis. Namun David malah sedikit ragu dengan ucapannya.
"Mengapa kami harus mempercayai mu?" Ketus David tak ingin adiknya dikhianati. Jojo langsung menoleh kearahnya. "Emm? Keningnya tampak mengerut.
"Bagaimana mungkin, sahabat ku sendiri mencurigai ku?" Batinnya.
"Apa kamu.." belum sempat Jojo menyelesaikan kalimatnya, Kara langsung menutup bibirnya dengan jarinya.
"Kak.. aku mempercayainya!" Sahut Kara penuh yakin. David hanya bisa pasrah. Tidak ingin berdebat dengan sang adik. Sedangkan Zack, ia malah melongo mendengarnya.
__ADS_1
"Benar-benar pasangan yang tak terpisahkan" Ucapnya memuji. Jojo dan Kara hanya tersenyum sambil menatap satu sama lain.
Baru beberapa detik kemudian, ponsel Jojo kembali berdering. Ternyata, lagi-lagi dari orang yang sama. Keempatnya saling bertukar pandang. Bersamaan dengan itu, fyuh! Terdengar suara helaan nafas David.
"Angkatlah! Siapa tau kita bisa mendapatkan informasi penting melalui wanita itu!" Ucapnya santai.
Mau tidak mau, Jojo terpaksa mengangkatnya.
"Halo!"! Sahutnya datar.
"Ahh? Jojo? Mengapa kamu mematikan ponselnya tadi? Apa kamu mengabaikan ku?" Sahut wanita itu dengan nada manja.
"Cih! Kara yang mendengarnya malah berdecih jijik. Ia tidak menyangka, ternyata begitu banyak wanita pelakor dimana-mana. Terlebih disekitarnya. Dan kini, tengah berusaha menggoda sang kekasih.
"Begitu banyak pria di dunia ini? Apa wanita ini memang tidak punya aurat ********,. hingga bersikap j****g seperti ini? Ataukah... wajahnya memang lebih menyeramkan daripada kuntilanak? Jadi, tidak seorang pria manapun yang tertarik padanya?" Batinnya merasa aneh.
Jojo yang tadinya muram, langsung tersenyum lebar menyadari sikap cemburu Kara saat ini.
"Aku tidak akan tertarik pada wanita semacam ini!" Bisiknya ketelinga Kara. Ekspresi wajah Kara tiba-tiba berubah, dipenuhi dengan senyuman sumringahnya.
"Kamu memang tidak diperbolehkan untuk melirik wanita manapun. Atau, aku akan benar-benar mengeluarkan ginjalmu itu." Ucapnya dengan nada mengancam. Namun hatinya sudah berbunga-bunga.
"Halo, halo!" Sahutan wanita asing itu kembali menyadarkan keduanya.
"Apa yang kamu inginkan?" Sahut Jojo to the point. Wanita itu malah tertawa terbahak-bahak. "Hahahaa.."
"Apa kamu sedang bertanya? Tidakkah seharusnya kamu bertanggung jawab padaku?" Sahut wanita itu penuh kesenangan.
"Apa maksud mu?" Ketus Jojo lagi.
"Saat itu, kamu mengabaikan ku.. bahkan mengirim ku ke klub malam. Hanya karna wanita s****n itu. Sekarang, aku berniat memaafkan mu. Tapi, kamu harus menemui ku malam ini!" Ucapnya penuh harap.
Jojo kembali mengerutkan keningnya.
"Jadi.. wanita gila ini adalah Zaskia?" Batinnya.
Namun ia tidak peduli. Mau dia wanita terhormat sekalipun, bukanlah masalah baginya. Satu-satunya wanita yang berhak ku pedulikan di dunia ini hanyalah Kara seorang, pikirnya.
"Aku tidak peduli!" Sahutnya datar.
"Apa, apa maksud mu?" Teriak Zaskia tak terima.
"Hahaha..! Baiklah, jika itu maumu. Tapi.. mulai sekarang aku tidak bisa menjamin kapan wanita kesayangan mu itu akan lenyap." Ucapnya dengan nada mengancam.
"Kamu?" Jojo merapatkan giginya, sudah menggeram. Namun, lagi-lagi Kara berhasil meredakan amarahnya.
"Mengapa harus khawatir? Aku akan ikut bersama mu!" Ucapnya. Jojo hanya mengangguk mengiyakan perkataannya. Lalu, ia kembali beralih ke ponselnya.
"Baiklah! Kirimkan alamatnya!" Sahutnya dan segera mematikan ponselnya. Ia memegang erat ponselnya.
"Apa lagi, yang wanita s****n ini rencanakan? Jangan sampai Kara terluka!" Batinnya.
Ia lalu bangkit dari duduknya. Dan tampak sedang berpikir sejenak.
"Apa sebaiknya kamu tinggal dirumah saja? Aku khawatir, wanita gila itu menyakiti mu!" Bujuknya pada Kara. Namun Kara malah menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku akan ikut bersamamu! Lagipula.. aku bukan wanita lemah. Apa kamu tahu? Selama aku di negara K, aku juga belajar ilmu bela diri. Jadi, wanita itu tidak akan mudah menindas ku." Ucapnya berusaha menyakinkan Jojo. Disamping itu, ia tahu kalau kakaknya akan menyetujui keinginannya.
"Bolehkah?" Ucapnya lagi, seraya mengedip-edipkan kelopak matanya. Jojo hanya bisa mengiyakan, kala melihat sikap menggemaskannya. Ia tidak tahan melihat wajah memelasnya bagai kelinci imut seperti sekarang ini.
"Baiklah!"
Mereka langsung berangkat, menuju ke alamat yang dikirimkan oleh Zaskia barusan.
Setengah jam kemudian..
Kini, mereka telah tiba di depan sebuah rumah mewah, yang ditinggali oleh Zaskia. Mereka langsung berjalan masuk kedalam. Rumah tampak sepi dan gelap. Hanya ada beberapa lilin menyala disana. Serta aroma parfum khas wanita tercium sangat pekat, mengisi seisi ruangan.
"Bau apa ini? Apa yang sebenarnya wanita itu rencanakan?" Sahut Kara berbisik ketelinga Jojo. Jojo hanya menggeleng. Ia semakin mempererat pelukannya di pinggang ramping Kara. Tidak ingin berjauhan dari sisinya.
Baru saja mereka tiba di ruang tengah, tiba-tiba..
"Tak..tak..tak!" Terdengar suara langkah kaki seorang wanita menghampiri mereka.
"Kamu datang Jo.." Ucapan Zaskia terhenti. Ia terkejut dan langsung membulatkan matanya, melihat kenyataan. Ternyata, yang datang bukan hanya Jojo seorang. Tapi ia didampingi oleh kedua sahabatnya, terlebih sang kekasih.
__ADS_1
"Kamu?" Geramnya menatap Kara. Ia merasa frustasi. Padahal sudah menghabiskan begitu banyak uang untuk melakukan perawatan. Agar pertemuannya dengan Jojo kali ini berkesan sempurna. Namun, malah kembali sia-sia, dikarenakan kehadiran Kara disana.
"Untuk apa kamu berpakaian seperti ini?" Ketus Zack, menatap jijik kearahnya. Zaskia memang berpakaian seksi. Lebih seksi dari biasanya. Belahan dada, serta pahanya sangat terlihat jelas. Bukannya membuat orang tertarik, namun malah akan merasa jijik. Meski ketiga pria ini adalah pria normal, namun mereka tidak pernah terangsang dengan godaannya kala mengingat sikap menjijikkannya.
"Bukan urusanmu!" Ketusnya menatap tajam kearah Zack. Zack malah tertawa sinis kembali. "Hahaha..!
"Dimana letak saklar lampu rumah ini? Apa rumah sebesar ini bisa kehabisan token listrik?" Ledeknya terkekeh geli.
"Kamu?" Geramnya lagi. Tanpa mempedulikannya, seketika Zack mondar-mandir kesana-kemari mencari letak saklar lampunya.
"Ahh? Ini dia!" Ucapnya senang. Ia lalu menyalakan lampunya. Setelah selesai, ia kembali menghampiri mereka. Kini, bukan hanya Kara saja yang menatap tajam Zaskia. Namun Jojo juga demikian.
"Apa tujuanmu meminta ku datang kemari?" Tanyanya penuh selidik.
"Mengapa kamu membawa wanita rubah ini?" Tanya Zaskia balik, seraya menunjukkan jarinya kewajah Kara. Jojo malah terkekeh dibuatnya.
"Hahaha..! Apa kamu bercanda? Dia adalah calon istriku! Bagaimanapun.. dia tidak akan membiarkan ku digoda oleh wanita licik seperti mu!" Sahut Jojo kembali menunjuk wajah Zaskia.
"Apa? Kamu?" Ucapnya dengan bibir sedikit gemetar.
"Kamu terlalu meremehkan ku Jojo! Apa kamu pikir, perkataan ku sebelumnya adalah candaan?" Hardiknya keras. Ia mengepalkan tangannya.
"S**t! Wanita ini ternyata cantik juga. Tapi.. aku tidak boleh kalah! Lagipula.. aku tidak jauh lebih buruk darinya. Aku pasti bisa mendapatkan Jojo sepenuhnya!" Gumamnya dalam hati.
Tanpa sadar, ia telah memuji Kara. Meski berpakaian tertutup, namun aura kecantikannya memang sangat mengagumkan.
"Jika kamu berani mengganggunya, itu artinya.. kamu akan berurusan denganku!" Tegas Jojo dengan tatapan mematikannya.
"Glek! Zaskia menelan salivanya mendengar ancaman Jojo barusan. Namun, ia tidak mau kalah. Kini, ia melangkahkan kakinya menghampiri Kara. Ia menatap rendah Kara. Karna menurutnya, Kara hanya berpura-pura polos saja.
"Cih! Hanya seorang wanita rendahan. Aku tidak yakin kamu mendapatkan gelar keartisan mu sekarang ini secara adil. Atau mungkin.. kamu sudah tidur dengan berapa pria? Dasar j****g!" Ucapnya menghina Kara. Ia mengangkat tangannya, hendak menampar Kara, karna saking geramnya. Ketiga pria bersahabat itu pun langsung membulatkan matanya melihat adegan itu. Tapi, secepat kilat Kara menangkap tangannya. "Grep!
"Apa kamu pikir kamu pantas?" Ucapnya datar. Ia lalu menghempaskan tangan Zaskia dengan penuh amarah. Zaskia yang tidak terima diperlakukan seperti itu, kembali menghampirinya. Ia ingin menjambak rambut Kara. Namun lagi-lagi Kara berhasil mengalahkannya. Kara mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.
"Cih! Ternyata kamu masih belum kapok?" Sahutnya tertawa menyeringai. Ia mengikat rambutnya yang tergerai lebih dulu. Lalu kembali menghampiri Zaskia.
"Aku sudah berbaik hati tadi. Tapi, kamu lagi-lagi memancingku. Benar-benar wanita rubah! Sepertinya.. aku harus memberimu sedikit pelajaran?" Sahut Kara dengan nada lembut. Kemudian, ia menahan dagu Zaskia dengan keras. Kini, tatapan lembutnya telah berubah menjadi tatapan sengit.
"Kamu menyebutku apa tadi?" Teriaknya. Hingga membuat Zaskia terkaget. Begitupun dengan ketiga pria dibelakangnya. Mereka terheran melihat sikap dan wajah suramnya saat ini.
"Adikku.. ternyata bisa bersikap seperti ini?" Batin David sudah menelan salivanya.
"Aku tidak pernah melihatnya seperti ini!" Batin Jojo. Ia juga menelan salivanya.
Sedangkan Zack, ia malah merasa takjub terhadapnya.
"Ternyata.. adik Kara bukan seorang wanita biasa!" Ucapnya memuji.
Sementara Zaskia, sudah benar-benar takut. Namun egonya masih menguasai dirinya. Bagaimana mungkin aku dikalahkan oleh seorang wanita rendahan sepertinya, pikirnya.
"Aku bilang.. kalau, kamu kamu adalah.. seorang wanita j****g!" Ucapnya terbata, seraya tertawa kaku. Kara yang tidak terima dikatai sebagai wanita rendahan langsung menamparnya dengan sengit. "Plakk! Sebuah tamparan mendarat di wajah Zaskia. Zaskia melongo, tidak bergeming.
"Tamparan ini.. untuk lidah tajammu yang berani menghinaku!" Tegas Kara sudah membulatkan matanya. Ia kembali mengangkat tangannya keatas. "Plakkk! Tamparan kedua mendarat di pipi bagian kiri Zaskia.
"Tamparan ini.. untuk sikap menjijikkan mu yang mencoba menggunakan trik buruk kepada priaku!" Tegasnya lagi.
"Plakk! Lagi-lagi Kara menamparnya dengan begitu sengit.
"Tamparan ini.. karna kamu berani mengancam ku!" Tegasnya lagi. Lalu kembali mengangkat dagu Zaskia.
"Jika sekali saja, kamu berniat jahat padaku ataupun orang-orang terdekat ku.. kita akan berurusan sebagai sesama wanita. Berani mengusikku, maka harus berani menerima konsekuensinya." Ucapnya dengan nada lembut. Ia kembali menghempaskan tubuh Zaskia dan beralih menatap ketiga pria dibelakangnya.
"Kak.. ayo kembali!" Ajaknya seraya tersenyum tipis. Namun tangannya sudah memerah dan sedikit gemetar, akibat dari tamparannya barusan. Jojo pun langsung meraih tangannya.
"Ayo kembali, sayang! Kita obati tanganmu!" Ucapnya lembut seraya meniup-niup tangan Kara. Kara hanya menganggukkan kepalanya. Mereka langsung keluar meninggalkan Zaskia, menuju ke mobil.
Sedangkan Zaskia yang tertinggal sendiri, dan masih menahan rasa sakit diwajahnya, kini tampak sangat marah. Matanya memerah hingga air matanya hampir terjatuh.
"Aku tidak akan melepaskanmu! Aku akan mengingat semua ini!" Teriaknya begitu keras. Ia lalu bangkit dari lantai seraya memegangi kedua wajahnya. "Ouch! Ia mengigau kesakitan.
"Wanita s****n! Berani menampar ku?" Umpatnya dalam hati.
TBC
Halo para readers setiaku:)
__ADS_1
Jangan lupa kasih jempol, komentar dan vote sebanyak-banyaknya ya say๐
~I lovyu all๐~