My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 53: Aku baik-baik saja


__ADS_3

"Di Negara K"


Selama beberapa waktu kedepannya, Kara akan ditemani oleh kedua sahabatnya. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama untuk menonton, refreshing, dan memasak. Ketiganya tampak sangat menikmatinya.


"Sore hari"


Seperti biasa, Kara dan juga Airi akan selalu melakukan olahraga yoga di sore hari. Sedangkan Dimas, ia pergi keluar berlari di lingkungan sekitar apartemen tersebut.


Satu jam lamanya, kini kedua gadis cantik itu telah selesai dan segera duduk di sofa ruang tamu. Lalu, Kara mengambil dua botol air mineral dingin dari dalam kulkas. Dan memberinya kepada Airi.


"Nih, beb.. minum dulu!" Sahut Kara, sembari tersenyum tipis. Airi langsung meneguknya karna tenggorokannya sudah serasa kering sedari tadi.


Keduanya berbincang santai, sesekali mereka tertawa kecil mengingat masa-masa SMA mereka dulu. Tidak pernah terbayangkan oleh Kara, kalau persahabatannya dengan Airi dan Dimas bisa langgeng sampai sekarang. Suka, duka mereka lalui bersama. Saling mendukung satu sama lain.


Tiba-tiba saja Kara tersenyum lebar. Tanpa terasa air mata bahagia menetes dari pelupuk matanya, mengingat kebaikan kedua sahabatnya itu.


"Semoga saja persahabatan kita ini tetap berlanjut hingga kita menua nanti!" Gumamnya dalam hati.


Ia menyeka air matanya, agar tidak terlihat oleh Airi yang tengah sibuk dengan gamenya.


Disela-sela lamunannya.. Ceklek! Suara pintu terbuka. Dimas telah kembali. Ia segera menghampiri kedua putri kecilnya itu.


"Hai, pada ngapain sih?" Sahutnya lalu mendudukkan tubuhnya diantara Kara dan Airi. Ia melentangkan kedua tangannya di punggung belakang sofa.


"Kita lagi santai!" Sahut Airi singkat.


"Ehh, lo udah pulang ya?" Lanjutnya lagi tanpa menoleh ke arah Dimas.


"Iya dong Ri. Iya kali lo ngomong sama hantu!" Kesal Dimas.


"Santai dong! Gak usah ngegas gitu. Itu mulut micinmu.. ntar keselek planet, baru tau rasa. Dasar bawel!" Celoteh Airi tak mau kalah.


"Airong pedes, nafas bau jigong!" Ledek Dimas.


Kara yang tak ingin melihat perdebatan keduanya, kini berpikir keras untuk mencari solusi, agar mereka berhenti beradu mulut. Tiba-tiba.. ia menjentikkan jarinya.


"Aha, aku punya ide,!" Gumamnya pelan.


"Udah dong guys. Jangan berantem mulu. Daripada kalian ngabisin waktu buat hal yang gak penting kayak gini.. mending kita masak. Gimana?" Timpal Kara kegirangan. Dan dibalas anggukan oleh mereka berdua. Memasak memang adalah hobi Kara dan Airi, sedangkan Dimas, hobi makan. Ketiganya segera bergegas menuju ke dapur.


Mereka terlihat begitu akur saat memasak. Bahkan, Dimas yang biasanya selalu cerewet, dia terlihat berbeda sekarang. Ia sangat antusias, membantu kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


"Di Tanah Air"


"Di vila pinggiran kota milik Jojo"


Pria gagah yang masih terbaring itu, baru saja tersadar. Ia menatap ke setiap sudut ruangan. Dan matanya terhenti melihat keberadaan kedua sahabatnya itu. Mereka tertidur di atas sofa yang tak jauh dari tempat tidur nya. Ia merasa iba dan bersalah, karna selalu merepotkan keduanya.


"Inilah alasan ku, menyembunyikan penyakit ku dari kalian berdua! Kalian selalu mengkhawatirkan ku. Aku tidak ingin merepotkan siapapun, bahkan Kara! Karna aku lebih mencintai kalian daripada diriku sendiri. Cinta, kepercayaan, kehangatan, dan ketulusan yang telah kalian berikan selama ini.. sudah cukup untukku! Biarkan aku menahannya sendiri. Ini tidak akan terasa sakit, jika kalian terus berada di sisiku. Bahkan jika aku pergi pun, aku akan merasa tenang!" Gumamnya dalam hati.


Beberapa saat kemudian, kedua pria itu terbangun. Mereka terlihat letih dan lelah. Dan lingkaran hitam matanya tampak begitu jelas. Karna mereka baru bisa tertidur setelah pukul 6 pagi tadi. Kini jam telah menunjukkan pukul 7. Artinya, mereka hanya bisa tertidur dalam waktu sejam. Keduanya melihat jam tangannya masing-masing dan kembali menoleh ke arah Jojo. Mata mereka terbelalak melihat Jojo sudah siuman. Seketika mereka melompat dan langsung menghampiri Jojo.


"Apa kamu baik-baik saja? Ada yang sakit tidak? Apa kamu merasa sesak?" Tanya Zack tanpa henti. Dan hal itu malah membuat Jojo kebingungan.


"Ni anak, kok over protective gini, ya?" Batinnya.


"Kamu udah enakan belum? Jangan banyak bergerak dulu!" Sambung David lagi.


"Haha...! Kalian ini kenapa sih? Udah kek emak-emak aja. Sekarang, aku gak apa-apa kok. Kalian tenang aja. Pasti kalian kelamaan jomblo deh. Jadinya, aku kan.. yang jadi pelampiasan sekarang?" Sahut Jojo sambil tertawa kecil. Sementara Zack dan David hanya saling bertukar pandang saja.


"Bahkan sudah sakit begini pun, masih aja bisa bercanda." Gumam mereka berdua.


"Yaudah, kamu sarapan dulu ya? Biar aku minta pelayan antarkan kemari!" Sahut Zack dan David bersamaan.


Tak lama kemudian setelah kepergian kedua sahabatnya itu, tiba-tiba ponselnya berdering.


Ia segera mengambil benda pipih tersebut dari atas nakas samping tempat tidurnya. Lalu menekan tombol hijau. Ia tersenyum lebar. Ternyata yang menelponnya adalah pujaan hatinya.


"Halo, sayang!" Sahutnya senang.


"Ini kamu? Jojo?" Sahut Kara dari seberang telpon.


"Iya, ini aku. Siapa lagi kalau bukan bayi besar mu ini. Lagipula, kamu menelpon ke nomor ku. Apa kamu berharap ada orang lain yang menjawabnya?" Ucapnya sedikit kecewa.


"Ehh, bukan. Tentu saja bukan. Aku pikir, Zack yang akan menjawabnya. Karna katanya kamu sangat sibuk akhir-akhir ini!" Sahut Kara menjelaskan.


"Sibuk?" Tanyanya kebingungan.


"Benar, katanya kamu sibuk. Apa.. aku salah?" Lanjut Kara lagi.


"Jadi, mereka tidak memberitahunya tentang kejadian kemarin? Baguslah! Supaya kelinci kecil tidak salah paham dengan ku!" Gumamnya dalam hati sembari tersenyum tipis.


"Halo, halo.." Sahut Kara tanpa henti, karna Jojo terdiam sedari tadi. Dan sahutannya membuyarkan lamunan Jojo.

__ADS_1


"Ehh, iya!" Ucapnya asal


"Apa kamu baik-baik saja? Suaramu terdengar serak!" Lanjutnya lagi bertanya.


"Aku baik-baik saja!" Sahut Jojo pelan.


Kara terdiam cukup lama. Dan hal itu membuat Jojo sedikit kebingungan.


"Sayang..!" Ucapnya hati-hati. Ia takut, perkataannya barusan telah menyinggung atau menyakiti hati Kara.


"Sayang, kamu.." belum selesai ia berbicara, langsung dipotong oleh Kara.


"Apa yang terjadi padamu kemarin? Tidakkah kamu harus menjelaskannya sekarang?" Tanya Kara penuh selidik.


"Jadi, ini yang mengganjal dihatinya sedari tadi? Sepertinya, tidak ada gunanya lagi menyembunyikannya sekarang!" Batin Jojo.


"Kamu... tidak akan menjelaskannya?" Sahut Kara lagi.


"Emm, itu.. masalah kemarin, aku hampir dijebak oleh ibu tiriku lagi!" Ucapnya pelan.


"Maksudmu?"


"Dia menjebak ku. Kemarin, aku hampir saja tidur dengan seorang wanita!" Ucapnya penuh hati-hati.


"Apaaaaa?" Teriaknya begitu keras. Jojo segera menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Apa wanita itu menyentuh mu? Apa dia mencium mu?" Tanyanya tak senang.


"Kamu tenang aja, sayang. Hal itu tidak akan pernah terjadi. Aku bukanlah pria gampangan, haha!" Ucapnya khawatir, sembari tertawa pahit. Dia mengira kalau Kara akan marah padanya. Namun berbanding terbalik, Kara malah memberinya semangat baru.


"Huh, baiklah! Aku tahu kamu tidak akan melakukannya. Tapi, kedepannya.. kamu harus lebih berhati-hati! Jangan ceroboh seperti kemarin. Mengerti?" Sahutnya tegas.


"Baik, Tuan Putri! Hamba mengerti!" Ucapnya senang.


"Aihk... dasar penggombal! Baiklah, aku tutup dulu ya? Bye-bye!" Sahutnya, lalu mematikan ponselnya.


"Emm" Sahut Jojo singkat sambil tersenyum lebar. Ia kembali menatap ponselnya. Senyumannya perlahan menghilang. Ia mengepalkan tangannya.


"Aku akan membereskan kalian!" Batinnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2