
Setibanya Airi di Tanah Air, ia langsung mengajak kedua sahabatnya, Kara dan juga Dimas untuk reunian. Namun, karna Kara sudah dekat dengan Leona, ia juga mengajaknya untuk ikut serta.
"Di Neon Caffe"
Seperti biasa, mereka bertemu di Neon Caffe, tempat mereka nongkrong dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA.
"Kara... disini!" Ucap Airi sedikit berteriak sembari melambaikan tangannya. Kara yang baru saja tiba disana, langsung menoleh kearah keduanya. Ia menggandeng tangan Leona menghampiri mereka.
"Hi, baby! Rindu banget tau?" Ucap Airi manja. Mereka cipika-cipiki, untuk melepas rindu yang sekian lama tertahankan. Tak luput Dimas juga tak mau kalah manjanya.
"Ya ampun sayangku. Gue rindu banget sama lo!" Ia memeluk Kara penuh kehangatan.
"Aku juga rindu sama kalian berdua!" Balas Kara jujur. Kemudian, pandangan Dimas dan Airi teralihkan menatap gadis disamping Kara.
"Ini... siapa?" Tanya mereka bersamaan. "Ahhh! Kara menepuk jidatnya pelan. Hampir saja lupa, karna terbuai dengan kedua sahabatnya itu.
"Dia Leona, teman baru aku. Karna kalian adalah sahabat ku, jadi aku mengenalkannya pada kalian berdua!" Sahut Kara menunjuk Leona. Ia lalu menoleh Leona.
"Leona.. mereka ini sahabatku!" Lanjutnya sembari tersenyum tipis. Mereka pun kembali saling bersalaman.
"Panggil aja Airi!" Ucap Airi sopan. Kemudian dilanjut Dimas.
"Gue Dimas, sahabat kandung Kara!" Kekehnya. Leona pun membalas uluran tangan mereka.
"Aku Leona. Nice to meet you!" Ucapnya santai. Lalu mereka duduk dan memesan makanan dan minuman masing-masing. Mereka berbincang-bincang santai sambil tertawa bahagia. Leona menatap kagum mereka. Meski lama tidak berjumpa, namun masih tetap akrab. Berbeda dengan dirinya yang selalu sendiri, hanya dilengkapi dengan kemewahan semata.
"Oh ya Leona.. kamu bukan asli orang sini ya?" Tanya Airi disela-sela lamunannya. "Hah? Leona langsung mengalihkan pandangannya.
"Iya. Selama ini aku tinggal di Korea. Tapi, ayahku asli orang Indonesia kok. Makanya aku pasif berbahasa Indonesia" Jawabnya jujur. Airi manggut-manggut mendengarnya. Tapi, Dimas langsung menyambung pertanyaannya.
"Kenapa lo tinggal di Korea?"
"Karna.. kakek ku! Sebenarnya, kakek asli keturunan Inggris. Tapi, ia lebih senang tinggal di Korea. Alasannya karna nenekku juga sih. Nenekku berasal dari sana." Ucapnya sambil tersenyum. Ketiganya membulatkan mulutnya secara bersamaan.
"Terus.. kamu tinggal dengan siapa disini?" Kepo Dimas lagi.
"Ahh...! Jadi, sebenarnya aku sama kakak ku hanya berlibur saja kesini. Kami juga berencana untuk tinggal lebih lama disini. Disini lebih nyaman dan tenang!" Jujurnya. Mendengar hal itu, Kara sedikit menyerngit.
"Kakak? Leona tidak pernah bercerita tentang kakaknya." Batinnya.
Kemudian, ia menatap Leona lalu menghela nafasnya.
"Bagaimana aku bisa lupa? Saat itu kan.. Jojo sempat berkelahi dengannya?" Gumamnya dalam hati.
Ia kembali teringat dengan kejadian waktu itu.
"Apa ini hanya perasaan ku aja kali ya? Aku berpikir.. kalau aku mengenalnya." Gumamnya pelan. Ia sempat berpikir mungkin bukan hanya masalah Leona saja, sehingga Jojo memukul Zeremy saat itu. Ia kembali teringat dengan ucapan Jojo waktu itu. Mengapa dia bertanya, apakah Kara menyukai laki-laki itu? Saat itu, ia tidak mengerti maksud perkataannya. Tapi sekarang.. mungkinkah ada sesuatu yang tidak ia ketahui?
Melihatnya hanya melamun sembari mengaduk-aduk jus mangga didepannya, membuat Airi berinisiatif untuk bertanya.
__ADS_1
"Hei!" Ia melambaikan tangannya kewajah Kara.
"Kenapa melamun? Apa kamu ada masalah? Sini cerita sama kita!" Ucapnya antusias. Tapi Kara malah menggelengkan kepalanya.
"Nggak kok!" Ucapnya merasa canggung. Ia tertawa kaku kearah ketiganya. Sebaiknya aku ke toilet dulu kali ya, pikirnya. Ia lalu bangkit dari duduknya.
"Aku ke toilet dulu, ya?" Pamitnya dan dibalas anggukan oleh ketiganya. Kemudian ia beranjak dari sana.
"Di toilet"
Kara berdiri di depan cermin. Ia menatap wajahnya sebentar lalu menepuknya pelan. "Plak..plak..plak!
"Apaan sih Kara? Kamu mikirin apa sih?" Gumamnya pelan. Ia membasuh mukanya untuk menyegarkannya kembali. Kemudian ia memoles sedikit pelembabnya.
"Ok, jangan terlalu banyak berpikir. Nanti kamu stres! Kamu tidak boleh membuat orang-orang sekitar mu khawatir padamu." Ucapnya menyemangati dirinya. Kemudian ia memasang senyum mengembangnya.
"Fighting, ok?" Ucapnya lagi. Lalu beranjak keluar. Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ia mendengar seseorang menyebut nama kedua orangtuanya. Hal itu membuatnya terhenti. Ia menoleh kearah pria yang tampak seumuran dengan Jojo.
"Apa? Paman Rayn dan bibi Sophia sudah tersingkirkan. Lalu, aku harus menyingkirkan anaknya juga?"
Kara menutup mulutnya. Kaget? Shock? Tentu saja. Ia kembali teringat dengan kejadian saat itu. Saat itu, ia harus merelakan kepergian kedua orangtuanya pada kecelakaan yang tragis itu.
"Mengapa? Mengapa kamu begitu jahat? Apa yang harus ku lakukan? Apa? Membunuh keduanya?" Teriak pria itu lagi. Kara menggelengkan kepalanya. Air matanya sudah berderai begitu deras. Tubuhnya melemah. Bagaimana bisa, pria ini seenaknya mengatakan untuk membunuhnya dan juga kakaknya? Belum cukupkah ia membuat mereka menderita selama ini? Ia penasaran dengan pria itu.
"Baik! Aku akan melakukannya!" Ucap pria itu. Tiba-tiba.. "prang! Ponsel serta tas digenggaman Kara terjatuh begitu saja. Laki-laki itupun menoleh ke belakang. Matanya membulat sempurna, melihat Kara terjatuh dilantai. "Bruk!
"Kamu?" Ucapnya khawatir. Ia berpikir kalau Kara sedang sakit, sehingga ia berniat untuk membantunya. Tapi belum sempat ia menyentuh Kara, tangannya langsung ditepis jijik olehnya.
"Apa yang kamu katakan? Aku.. aku tidak mengerti!" Jujur Zeremy. Ia hendak membantu Kara berdiri dari lantai, namun lagi-lagi tangannya segera ditepis.
"Jangan sentuh aku, b*****h! Kamu.. kamu seorang penjahat. Kamu pembunuh! Aku membencimu, hiks! Mengapa kamu tega, huh?" Teriaknya masih terisak. Tangannya terkepal gemetar. Tubuhnya seolah kehilangan kekuatan untuk berdiri. Mengingat ayah dan ibunya, membuat hatinya sakit bagai teriris-iris.
"Ma.. Pa.. apa yang harus Kara lakukan?" Gumamnya pelan. Disela-sela isakan tangisnya, Leona datang menghampiri mereka. Ia tampak heran melihat kakaknya berada disana. Terlebih Kara yang terduduk dilantai sudah menangis tersedu-sedu.
"Kara.. kamu kenapa?" Tanyanya penasaran. Namun Kara masih terisak sesegukan. Ia lalu menatap kakaknya.
"Kak.. apa yang terjadi?" Ucapnya. Belum sempat Zeremy menyahut, Kara langsung mendahuluinya.
"Apa.. apa katamu? Kakak? Dia.. pria b******k ini, adalah kakak mu?" Ucap Kara gemetar. Leona sedikit kesal karna Kara menghina kakaknya. Tapi, ia juga tidak tega membentak Kara yang terlihat menyedihkan sekarang.
"Apa.. apa maksud mu? Mengapa kamu berkata begitu?" Sambung Leona memastikan. Tapi, Kara hanya terdiam dalam isakan tangisnya. Leona lalu menoleh kakaknya.
"Kak.. apa maksudnya kak? Katakan padaku! Apa kakak menyakitinya, huh? Jawab aku kak!" Teriak Leona. Tapi Zeremy juga terdiam. Leona semakin penasaran dengan keduanya. Ia lebih terheran lagi, melihat mata kakaknya sudah berkaca-kaca. Ini adalah kali pertama, ia melihat wajah terpuruk kakaknya. Zeremy mengepalkan tangannya. Ingin rasanya ia berteriak meminta maaf dan memeluk Kara, tapi.. ia tidak punya hak. Jika saja, ia mengetahuinya lebih awal.. mungkin lebih baik mati daripada harus menyakitinya. Ia lalu memejamkan matanya.
"Ini adalah pertemuan terindah.. dan juga menyakitkan bagiku. Aku berharap.. jika ini hanya ilusiku semata!" Batinnya.
Tapi, teriakan Jojo membuyarkan lamunannya.
"B******k!" Teriaknya begitu keras. "Bugh! Ia mendaratkan sebuah pukulan diwajah Zeremy. Tatapan matanya, akan membuat siapa saja yang melihatnya merinding ketakutan.
__ADS_1
"Beraninya kamu menyakitinya? Huh? Apa kamu cari mati?" Teriaknya lagi. "Bugh..bugh..bugh! Lagi-lagi Jojo memukulnya. Zeremy tidak sedikitpun melakukan perlawanan. Ia pasrah dengan semua perlakuan Jojo padanya. Sementara Leona yang menyaksikan hal itu, ia sudah berteriak-teriak sembari menangis.
"Hentikan, kak Jojo. Aku mohon!" Pintanya. Tapi, Jojo tidak berhenti! Dengan berani, Leona langsung merentangkan tangannya dihadapan sang kakak. Agar Jojo berhenti. Ia juga pasrah jika ia harus terkena pukulannya. Ia lebih tidak ingin menyaksikan kakaknya sekarat. "Huh! Dengan geram, Jojo menghentikan tangannya.
"S**t!" Umpatnya. Kemudian, ia berbalik badan untuk menghampiri Kara. Ia menuntunnya berdiri.
"Jangan menangis lagi! Aku disini!" Ucapnya berusaha menenangkannya. Tapi, Kara masih terisak.
"Ma.. mama, papa di.. dibunuh olehnya!" Ucap Kara terbata. Tangannya menunjuk Zeremy dengan gemetar. Jojo kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya. Sementara semua orang yang melihatnya sudah membulatkan matanya. Zack, Airi, Dimas, apalagi David.. sangat terkejut dengan ucapannya.
"Apa? Apa.. apa katamu?" Ucapnya gemetar. Ia berjalan menghampiri Kara yang masih terisak. Ia membelai rambut panjangnya.
"Katakan pada kakak! Katakan.. kalau ini tidak benar! Benarkan sayang?" Lanjutnya masih gemetar. Melihat gelengan kepala sang adik, tangannya langsung terkepal kuat. Bukan hanya dia yang marah ataupun sakit hati. Jojo juga merasakan hal yang sama. Ia tidak tega melihat gadis kesayangannya itu menangis. Terlebih lagi, memang kenyataan kalau keluarga Sebastian adalah keluarga yang terkenal baik dan dermawan. Ia sangat mengenal Tuan Rayn dan Nyonya Sophia. Tapi kenapa? Kenapa hal ini harus menimpa keluarganya? Ia tidak terima.
David berjalan menghampiri Zeremy.
"Jadi kamu? Kamu, huh? Kamu.. yang sudah membunuh orangtuaku? Dimana hati nuranimu b*****h" Teriaknya mencengkeram kerah baju Zeremy, tapi Leona tetap berusaha untuk membela kakaknya.
"Lepaskan! Aku mohon! Bukan kakak ku yang melakukannya. Aku percaya padanya, bukan kakak ku!" Lirihnya sudah menangis. David langsung menolehnya.
"Hahahah.." Tawa seringaiannya terdengar diseisi ruangan. Ia melepaskan cengkeramannya dari Zeremy.
"Apa kamu.. kamu mendekati adikku, agar bisa segera membunuhnya?" Teriaknya dan dibalas gelengan kepala olehnya.
"Bukan! Hiks.. aku, aku bukan orang seperti itu. Aku tulus terhadap Kara! Percayalah padaku!' Ucap Leona berusaha meyakinkannya. Tapi David langsung berdecih jijik padanya. Ia lalu mencengkeram dagunya.
"Apa katamu? Apa kamu bercanda? Mempercayaimu? Apa aku harus mempercayai wanita bermuka tebal sepertimu, huh?" Teriaknya menatap tajam Leona. Zeremy tidak terima adiknya diperlakukan dengan kasar. Kemudian ia menghampiri David.
"Jangan sakiti adikku! Ini urusan kita para pria. Jangan libatkan adikku!" Ucapnya memohon.
"Apa kamu sedang memohon padaku?" Kekeh David tanpa menoleh.
"Anggap saja begitu! Kamu bisa membunuh ku sekarang juga. Tapi, jangan pernah menyakiti adikku. Jika kamu berani.. meskipun aku sudah jadi mayat sekalipun.. aku akan tetap mencari mu!" Ucapnya serius. "Hahah..! David kembali tertawa menyeringai.
"Heh! Ternyata kamu masih bisa berpikir begitu rupanya. Lalu, bagaimana dengan orang tuaku? Bisakah kamu menghidupkan mereka kembali? Kamu begini, memohon agar aku tidak melukai adikmu. Lalu, bagaimana dengan kami, huh? Apa kamu pikir.. hanya kamu yang berhak dikasihani? Dengan seenaknya.. kamu merenggut nyawa orangtuaku. Lalu sekarang..?" Teriaknya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku harus memberitahu mu b*****h! Aku tidak peduli! Meskipun aku harus masuk penjara, aku tetap akan menghabisi semua anggota keluargamu. Apalagi.. adik kesayangan mu ini." Lanjutnya kembali tertawa menyeringai. Tiba-tiba, air matanya terjatuh begitu saja. "Tes! Ia mengusapnya perlahan. Dan tatapannya kembali terpaut kepada adiknya. Ia lalu menunjuk Kara.
"Sekarang.. aku tanya padamu! Bisakah.. bisakah kamu mengobati hati adikku? Dia.. dia satu-satunya keluarga ku, orang yang ku sayangi.. orang terpenting dalam hidupku. Melihatnya selalu menangis, itu sangat menyakiti hatiku. Bisakah kamu mengobati luka dihatinya?" Ucapnya lemah. Zeremy hanya terdiam tanpa ekspresi. Lagi-lagi David mencengkeram kerah bajunya.
"Jawab aku b*****h! Jawab aku!" Teriaknya membabi buta. Semua orang disana, ikut terisak melihatnya. Seorang kakak, yang berjuang untuk menjadi orangtua sekaligus penyemangat bagi adiknya dalam bertahun-tahun lamanya. Bukanlah hal yang mudah. Dan sekarang.. orang yang disayangi itu kembali terpuruk. Rasanya sangat sakit, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Disela-sela tangisnya, tiba-tiba seorang wanita datang dan menjawab pertanyaannya.
"Bermimpilah! Hal itu tidak akan pernah terjadi. Karna.. kalian harus mati!" Ucap wanita itu tak berperasaan. Semua orang menatapnya heran. Terlebih David. Sepertinya aku mengenalnya, pikirnya.
TBC
Halo para readers setiaku❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak say🐨🐨
__ADS_1
I lovyu all😘