My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 47: Kumohon, Jangan Menangis!


__ADS_3

Sore ini, Dimas dan juga Jojo pergi keluar untuk berolahraga. Karna Jojo memang tak lepas dari pola hidup sehat. Dia selalu meluangkan waktunya untuk berolahraga. Begitupula dengan Dimas. Meski tingkahnya seperti seorang perempuan, tapi tak menutup kemungkinan untuknya bisa melupakan pola hidup sehat. Ya, dia juga salah satu pecinta olahraga. Sedangkan, Kara dan Airi hanya bersantai di apartemen setelah selesai melakukan kegiatan yoga mereka sore ini.


"Diruang tamu"


Kara dan Airi yang baru saja selesai melakukan kegiatan yoga mereka, kini telah duduk di sofa ruang tamu.


"Ahhh, haus banget!" Sahut Airi, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Kara segera menghampirinya dan menyodorkan sebotol air mineral padanya.


"Nih, minum dulu. Biar gak haus!" Ucapnya sembari tersenyum tipis.


"Makasih beb!" Timpal Airi. Ia segera duduk dari posisi rebahannya dan langsung meminumnya. "Glek!


"Ahh, puas banget!" Sahutnya merasa tenggorokannya sudah kembali normal. Kara hanya tersenyum tipis melihatnya. Keduanya tengah asyik dengan ponselnya masing-masing.


Beberapa saat kemudian, Airi kembali melanjutkan ucapannya.


"Oh ya Ra, emm.. kapan lo balik ke Jakarta?" Tanyanya penasaran. Karna setahunya, Kara sudah hampir 2 tahun tinggal di sana. Meski Reyhan adalah ancaman besar untuknya kembali ke tanah air.


"Ehh, aku akan kembali setelah Kontrak ku selesai!" Ucapnya sambil tersenyum pahit.


"Benarkah? Aku senang dengernya. Tapi, gimana dengan Reyhan? Gimanapun juga, b******n itu pasti gak akan lepasin lo gitu aja." Ucapnya penuh hati-hati.


"Masalah itu, lo gak perlu khawatir lagi. Gue bukan Kara yang dulu. Cewek lemah, penakut dan gampang dibodohi gitu aja oleh orang-orang b******k seperti mereka. Kali ini, aku akan balas dendam. Aku akan membuat mereka hancur seperti serpihan kaca. Tidak seorangpun dari mereka bisa lepas dari perbuatan kotor mereka dulu." Sahutnya menggeram. Wajahnya memanas bagai api, tanpa disadari deraian air matanya jatuh dan sudah membasahi wajah cantiknya. Ia kembali teringat dengan masa lalunya. Bagaimana ia kehilangan orang tuanya, bahkan harus menerima pengkhianatan kekasih dan sahabat baiknya serta kehilangan harta bendanya, membuatnya tak kuasa menahan tangisnya.

__ADS_1


"Inilah alasan mengapa aku harus kuat! Meski sulit, tapi aku harus bisa. Demi sebuah keadilan, untukku, kakakku dan orang tua ku!" Gumamnya dalam hati.


Melihatnya menangis, Airi langsung menghampirinya dan memeluknya dengan hangat. Ia menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu, berusaha menenangkan nya.


"Lo tenang aja, Ra! Kita akan selalu mendukung mu, ok?" Ucapnya pelan. Dia juga ikut menangis. Ia juga merasa sedih, melihat Kara yang memikul beban selama ini.


"Klik! Tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang. Dan ternyata, orang itu adalah Jojo dan juga Dimas yang baru saja selesai lari sore di area komplek apartemen Kara.


"Huh, gerah banget lagi!" Gerutu Dimas. Jojo hanya memicingkan matanya sebelah melihat ke arah Dimas tanpa menyahutnya. Ia segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu. Karna biasanya Kara akan berada disana jika dia pergi keluar.


"Sayang, aku pulang..." Ucapannya terhenti. Matanya terbelalak melihat Kara tengah menangis dipelukan Airi. Ia segera menghampirinya dan duduk disampingnya.


"Kamu.. kamu kenapa, sayang? Ada apa?" Ucapnya khawatir. Tentu saja ia merasa khawatir dan menimbulkan banyak pertanyaan di benaknya.


Menyadari keberadaan Jojo, Airi segera melepas pelukannya dari Kara dan membiarkan Jojo menggantikannya untuk memeluk dan menenangkan sahabatnya itu.


"Tenangkan dia dulu. Jangan banyak bertanya. Setelah dia merasa baikan, dia pasti akan menjelaskannya padamu!" Sahut Airi pelan. Jojo hanya menganggukkan kepalanya. Sementara Dimas yang baru saja sampai di ruang tamu, merasa kebingungan. Apa yang terjadi? Itulah yang ada dibenaknya saat ini. Belum sempat ia berbicara, Airi langsung menarik tangannya pergi keluar dari ruangan itu.


"Ehh, ehh.. apa-apaan ini Ri? Dasar Airi laknat! Ini gak adil banget buat gue, tau? Gue baru nyampe..." Celotehnya. Airi segera membungkam mulutnya dan menariknya seperti kucing liar.


"Diam lo Dimas! Kalau lo masih mau hidup, tutup mulut micinmu itu. Ini bukan waktunya bercanda. Ngerti gak lo?" Kesal Airi, membuat Dimas menelan salivanya.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Wajah Airi juga kelihatan sembab?" Batin Dimas.


Tapi, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Dia tidak mau semakin memperkeruh suasana, ia pun memilih untuk menuruti permintaan banteng yang sedang mengamuk itu. Karna ia tahu Airi bagaimana. Cewek tomboy, tidak takut apapun, apalagi terhadapnya.

__ADS_1


Sementara itu, Jojo masih berusaha untuk menenangkan dan memahami perasaan Kara saat ini. Ia menyadari getaran tubuh Kara. Kara tampak ketakutan dan terlihat sedang menggeram penuh amarah.


"Menangislah! Jika itu bisa membuatmu lebih baik. Keluarkan semua rasa gundah dihatimu, aku akan tetap disini, menemanimu dan mendengar isi hatimu!" Sahut Jojo pelan, sembari mengusap lembut rambut indahnya. Tak peduli apapun, saat ini, Kara hanya ingin menangis. Ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat tubuh Jojo. "Hiks..hiks..hiks!


Sebelumnya, David memberitahunya bahwa kecelakaan yang menimpa orang tua mereka bukanlah kecelakaan biasa. Melainkan, disengaja. Itulah yang membuat hatinya semakin hancur. Jadi, dia sudah bertekad.. ketika dia kembali, dia akan mencari dan mengungkap kebenarannya.


Ditengah-tengah tangisnya, ia berusaha untuk berbagi cerita kepada Jojo. Meski berat, tapi dia juga membutuhkan seseorang sekarang. Seseorang yang bisa menjadi sandarannya, sekaligus tempat curhatan hatinya.


"Hiks.. aku, aku ingin... aku ingin, hikss!" Ucapnya terbata-bata. Rasanya, mulutnya terbungkam sehingga tak mampu berbicara.


"Tidak apa-apa! Kamu bisa mengatakannya nanti, setelah kamu merasa baikan. Jangan memaksakan diri, aku akan menunggu mu!" Sahut Jojo pelan. Namun, Kara hanya menggeleng. Hal itu membuat Jojo merasa bingung, bingung harus berbuat apa saat ini. Hatinya hancur melihat Kara menangis dan tidak bawel seperti biasanya.


"Apa yang membuat mu menangis hingga seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan seperti ini. Dimana Kara-ku yang biasa selalu ceria?" Gumamnya dalam hati.


Lalu, ia mencium lama kening Kara dengan lembut.


"Aku, aku ingin.. ba, balas dendam!" Sahut Kara pelan. Jojo terbelalak mendengarnya. Bagaimana tidak? Ini adalah kali kedua Kara mengucapkan hal itu padanya. Tapi, Jojo sudah paham maksud dari perkataan Kara barusan. Pasti ada orang yang menyakitinya di masa lalu, hingga ia trauma seperti ini.


"Masa lalu seperti apa yang telah kamu lalui, hingga kamu seperti ini? Tidak, aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi. Siapapun orang yang telah menyakitimu, tidak akan kubiarkan hidup dengan damai. Akan ku balas mereka satu persatu. Tidak peduli siapapun mereka, aku akan memberimu keadilan!" Batinnya lagi.


Dia mengepalkan tangannya, wajahnya tampak dingin bagai es.


"Aku pasti membantumu! Mereka harus membayar harga karna sudah menyakitimu. Aku tidak akan mengampuni mereka yang berani menyakiti gadisku! Tidak akan!" Ucapnya tegas.


"Jadi, kumohon jangan menangis! Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini!" Lanjutnya lagi dengan nada lembut, sambil membelai lembut wajah sembab gadisnya itu. Lalu, ia mengecupi setiap inci wajah mungilnya. Tak terasa, air matanya juga ikut menetes. Ia kembali membawa tubuh mungil Kara kedalam dekapannya. Tubuhnya yang tampak melemah tak berdaya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2