My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 55: Ibuku adalah Magdalena!


__ADS_3

Hari ini, Jojo kembali bekerja. Ia akan bertemu dengan client penting dari Prancis. Jadi, harus berangkat lebih awal untuk memastikan segala sesuatunya. Kini, mobil yang mereka kendarai telah menyusuri jalanan ibukota yang tampak sudah ramai.


Tak menunggu waktu lama, mobil tiba di kantor. Jojo segera melangkahkan kakinya masuk kedalam dan ia langsung disambut hangat oleh para karyawannya.


"Selamat pagi, Tuan!" Sahut para karyawan ramah. Ia hanya menganggukkan kepalanya. Sementara para karyawan wanita, semakin terpesona dengan sikapnya yang cool.


"Tuan Jojo memang pantas menjadi seorang pangeran! Selain tampan, cool.. ia juga tajir melintir."


"Damagenya tidak akan bisa dikalahkan oleh pria manapun!"


"Jadi simpanannya pun, aku rela!"


"Wanita yang menikahinya nanti, akan menjadi wanita paling beruntung di dunia!"


"Kita tidak tahu apakah tuan Jojo akan menikah nantinya, karna beliau tidak pernah dekat dengan wanita manapun"


"Ohw, sayang sekali!"


Mereka hanya bisa menggigit jari, melihat ketampanan bosnya itu. Sementara Jojo, ia tidak mempedulikan omongan mereka semua. Meski penampilan para wanita itu sangat menarik, tapi mereka tidak akan bisa menggantikan posisi Kara dihatinya.


"Di ruangan kantor Jojo"


"Tok.. tok..tok! Suara pintu diketuk dari luar ruangan. Tanpa menunggu waktu lama, Jojo langsung menyahutnya.


"Ya, masuk!" Ucapnya singkat. Zack segera masuk dengan membawa materi rapat hari ini.


"Ada apa?" Sahut Jojo masih sibuk dengan laptopnya.


"Tuan Alfred telah tiba. Apa kita langsung memulai rapatnya sekarang?" Timpal Zack memastikan.


Mendengar perkataannya barusan, Jojo langsung menghentikan kegiatannya. Ia segera menutup laptopnya.


"Hemmm, lebih cepat lebih baik. Tapi, apa semua materinya sudah komplit?" Sahutnya sambil mengetuk-ngetuk jemari-jemarinya keatas meja.


"Semua sudah beres. Hanya menunggu kehadiran mu saja."


"Baiklah. Ayo pergi"

__ADS_1


Keduanya langsung beranjak pergi menuju ke ruang rapat. Sesekali mereka berbincang, membahas tentang perencanaan pembangunan hotel di negara K.


"Di ruang rapat"


Tuan Alfred yang didampingi oleh asistennya, beserta David telah duduk di sana. Sesekali mereka berbincang santai sambil menunggu kedatangan Jojo. "Ceklek! Suara pintu dibuka. Ternyata, orang yang ditunggu-tunggu sedari tadi sudah tiba. Jojo langsung berjalan menghampiri Tuan Alfred.


"Selamat datang, Tuan Alfred! Maaf membuat anda menunggu lama!" Sahut Jojo sopan, sambil mengulurkan tangannya.


"Tidak apa-apa. Saya juga baru tiba, Tuan Jojo!" Sahutnya tersenyum lebar. Lalu membalas uluran tangan Jojo.


"Mengapa aku merasa sangat familiar dengan anak ini? Apa aku terlalu banyak berpikir? Aku terlalu merindukan anakku, Chris!" Gumamnya dalam hati.


Tiba-tiba perasaannya gundah. Ia teringat kembali dengan masa lalunya.


"Silahkan duduk, Tuan Alfred! Panggil saja nama saya. Tidak perlu sungkan!" Sahut Jojo lagi dan dibalas anggukan olehnya.


Rapat berlangsung selama 3 jam. Setelah rapat selesai, Jojo mengajaknya untuk sekedar makan siang bersama. Mereka pergi ke restoran mewah di seberang kantor. Selama mereka makan, pria paruh baya itu tak henti-hentinya menatap lekat wajah eksotis Jojo.


"Saya sangat beruntung bisa bekerjasama dengan pebisnis muda bertalenta seperti mu!" Ucapnya membuka bicara disela-sela makannya. Ia meletakkan sendoknya perlahan lalu membuang nafasnya kasar.


"Emm, saya juga sangat beruntung bisa bertemu dengan anda, Tuan! Banyak diluar sana, perusahaan-perusahaan besar yang berharap bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan anda. Tapi, anda lebih memilih kami, yang terbilang masih muda. Belum memiliki banyak pengalaman!" Sahut Jojo penuh arti.


"Hah? Benarkah? Tuan terlalu menyanjungku. Bagaimanapun, saya masih kalah jauh dari anda!" Timpal Jojo merendah diri, membuat kedua sahabatnya itu merasa keheranan. Mereka saling bertukar pandang dan mengedikkan bahunya masing-masing.


"Ada apa dengannya? Biasanya, dia bersikap begitu sombong, tapi hari ini.. Jojo tampak berbeda!" Batin keduanya.


"Apa kamu tahu?" Sahut Tuan Alfred lagi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Emmm?" Sahut Jojo tak mengerti. Dirinya pun merasa heran. Ini adalah kali pertama baginya, mendengar seorang client penting berbagi kisah dengannya.


"Meski kata orang saya sangat jenius dan hebat, tapi kenyataannya adalah mereka salah besar. Saya tidak pantas menerima pujian itu." Ucapnya lirih. Ia kembali mengusap wajahnya.


"Dua puluh tahun yang lalu, saya kehilangan istri dan putraku sekaligus, ketika saya melakukan perjalanan bisnis ke negara L. Sampai saat ini, saya belum menemukan jejak mereka. Entah mereka masih hidup atau tidak, belum ada petunjuk sama sekali! Tapi, saya tidak akan berhenti mencari mereka. Tidak peduli apapun yang akan saya lalui kedepannya, saya pasti bisa menemukan mereka." Lanjutnya lagi. Ia menceritakan masa lalunya kepada pemuda yang baru saja ia temui itu. Entah mengapa perasaannya begitu dekat dengan Jojo.


"Sepertinya, hidup anda jauh lebih menderita daripada saya. Penantian selama puluhan tahun tentu bukanlah waktu yang singkat. Anda adalah ayah yang hebat. Dan putramu pasti bangga, jika mengetahui hal ini" Timpal Jojo tersenyum tipis.


"Kamu sangat tulus, nak! Bolehkah saya meminta sesuatu darimu?" Ucapnya tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ahh, hahaha..! Selagi saya bisa, silahkan Tuan!" Sahut Jojo menampakkan senyum mengembangnya. Jauh dilubuk hatinya, ia merasa dekat dengan pria paruh baya itu. Tidak seperti ayahnya, yang selalu memperlakukannya seperti seorang musuh.


"Maukah kamu menjadi anak angkat ku?" Sahut Tuan Alfred to the point. Tentu saja hal itu membuat ketiga bersahabat itu merasa heran. "Hah? Sahut Jojo dan David bersamaan. Sementara Zack, ia tersedak mendengarnya. "Uhuk..uhuk..uhuk. Tak terkecuali dengan asisten pribadi pria paruh baya itu, tampak ada rasa khawatir diwajahnya. Tidak ingin tuannya asal berhubungan dengan orang lain, agar kejadian di masa lalunya tidak terulang kembali.


"Apa yang Tuan katakan barusan? Bagaimana ini?" Gumamnya merasa khawatir.


Ia hendak membuka bicara, namun dihentikan oleh tuannya itu.


"Apa kamu keberatan? Jika kamu tidak setuju, saya tidak akan memaksa!" Sahutnya pelan. Tiba-tiba wajah bahagianya berubah menjadi murung, membuat ketiganya tidak tega. Jojo menatap kearah kedua sahabatnya itu seolah meminta persetujuan mereka. Keduanya pun menganggukkan kepalanya, menyetujui keinginan pria paruh baya itu.


"Sepertinya, Tuan Alfred sangat tulus terhadap Jojo!" Gumam Zack dalam hati.


"Baiklah! Saya setuju menjadi anak angkat mu!" Sahut Jojo tersenyum tipis. Tuan Alfred segera mengangkat kepalanya. Ia menyunggingkan senyum mengembangnya di wajah keriputnya dan langsung memeluk Jojo dengan hangat.


"Terimakasih, nak!" Ucapnya bahagia. Begitu juga dengan Jojo, ia tampak bahagia. Seumur hidup, ini adalah kali pertama ia bisa merasakan sebuah pelukan layaknya dari seorang ayah sesungguhnya. Karna memang Tuan besar William tak pernah memberinya kehangatan seorang ayah bahkan selalu memperlakukannya dengan buruk.


Beberapa saat kemudian, Tuan Alfred melepas pelukannya.


"Siapa nama ayahmu? Bolehkah aku bertemu dengannya? Ayahmu pasti seseorang yang sangat hebat!" Sahutnya lembut.


"Hah? Ayah?" Timpal Jojo merasa sedih.


"Ayah? Hebat? Apa pria itu benar-benar ayahku?" Gumamnya dalam hati.


"Apa aku menyinggung perasaan mu? Maaf, saya tidak sengaja!" Ucapnya merasa bersalah.


"Namanya Mike Tyson William" Sahut Jojo singkat.


"Ap, ap.. apa? Apa katamu?" Teriak Tuan Alfred penuh amarah. Membuat mereka semua terkejut.


"Ada apa, Tuan?" Tanya mereka serempak.


"Ibumu.. ibumu adalah..?" Tanyanya lagi penasaran. Ia mengepalkan tangannya, tubuhnya terhuyung hampir jatuh kelantai. Namun, berhasil ditahan oleh asistennya.


"Ibu, ibu.. ibuku adalah Magdalena!" Sahut Jojo terbata. Ia merasa khawatir, melihat kondisi pria paruh baya itu saat ini.


"Lenaaaa?" Teriaknya lagi memastikan. Air matanya lolos terjatuh dari pelupuk matanya. Jojo hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2