
Setelah usai makan malam, David langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Sementara Rio bergegas untuk pulang ke rumahnya, sedangkan Kara seperti biasanya sibuk dengan buku belajarnya diruang belajarnya. Karena dia banyak ketinggalan pelajaran selama 1 Minggu terakhir. Dan juga dalam sebulan ke depan, dia harus menghadapi ujian kelulusan.
"Terpaksa begadang deh malam ini" ucapnya pelan.
Sementara David yang sudah sedari tadi disana membawa segelas susu hangat, segera menghampirinya.
"Adik kakak rajin banget ya. Nih, minum dulu baru lanjut" ucapnya. Sembari memberikan segelas susu hangat tadi dan langsung duduk disamping adiknya.
Kara pun menerima pemberian kakak kesayangannya itu dan langsung meminumnya.
"Gluk..gluk..gluk...! Ahhh.. habis! Makasih ya kak. Kakak emang yang terbaik deh. Dan paling perhatian" ucapnya dengan senyum mengembangnya.
"Iya, iya. Kamu yang semangat ya belajarnya! Jangan begadang terus. Ntar sakit lagi. Awas aja kalau sakit, kakak botak nih pala" ucapnya bawel sambil terkekeh.
"Iyaaa kakak bawel! Kakak tenang aja. Malam ini doang kok. Lain kali gak lagi deh" ucapnya dengan mengacungkan jari telunjuknya dan jari tengah, menunjukkan huruf V yang berarti dia sedang berjanji. Dan dengan mata dikedip-kedipkan menampakkan wajah imutnya.
"Kamu ini ya. Emang paling bisa membuat kakak kalah gak bisa berkata-kata lagi! Yaudah kakak juga masih ada kerjaan. Kalau ada apa-apa tinggal datang ke ruang kerja kakak aja, ok?" pintanya sembari mencium kening adiknya.
"Heheh 😂 Iya kak. Semangat kerjanya biar dapat duit banyak" ucapnya senang.
David pun ikut terkekeh mendengar dukungan adiknya. Mereka tertawa bahagia bersama.
David pergi meninggalkan ruangan belajar adiknya, menuju ruangan kerja miliknya.
Mereka sama-sama disibukkan dengan kegiatan masing-masing.
Tengah malam
Dia menghampiri kamar adiknya untuk memastikan adiknya sudah tidur. Dan benar saja adiknya sudah tertidur. Tetapi tertidur di ruangan belajar miliknya. Tertidur di atas meja dengan tangannya menopang kedua wajahnya di atas meja.
David yang melihat pun langsung menggendong adiknya ke tempat tidur.
"Fyuhh.. Kebiasaan deh! Tidur sembarangan" ucapnya pelan.
Lalu dia mengelus-elus rambut sang adik kesayangannya sembari menciumnya.
"Kamu harus semangat ya dek.. Kakak bakalan selalu jagain kamu dan berusaha memenuhi semua kebutuhan mu agar kamu bahagia. Kakak akan ngelakuin segala hal agar kamu bisa bahagia. Kakak berharap suatu hari kamu juga bertemu dengan seseorang yang begitu mencintai mu dan takut kehilanganmu, layaknya seperti cinta yang mama papa curahkan ke kita. Agar kami bisa sama-sama melindungimu adikku. Kakak sayang sama kamu adikku" ucapnya sembari tersenyum.
Dia lalu mematikan lampu dan berlalu pergi ke kamarnya.
Di pagi hari
__ADS_1
Suara burung berkicau, menyambut kedatangan sang fajar menyinari bumi. Hempasan udara dingin di pagi hari terasa menyisik. Deringan alarm membangunkan si empunya kamar. Kara membuka matanya perlahan sembari mematikan alarm yang berbunyi, lalu dia segera bangun dan meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Hoam! Nyenyak banget tidurnya. Pasti aku ketiduran di ruangan belajar deh kmaren. Dan digendong kak David ke kasur" ucapnya pelan dengan suara khas bangun tidur nya.
Tentu saja dia tahu, karna itu menjadi kebiasaannya.
Dia pun langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah beberapa saat, seperti biasanya dia mengenakan pakaian sekolahnya dengan rapi. Dan menggendong tas ranselnya.
Di meja makan
David telah lama berada disana, menunggu kehadiran Kara adiknya.
"Kakak udah disini ternyata.." sahut Kara.
"Iya nih. Kamu lama banget sih dek!" Ucapnya bawel.
"Sorry!" Sahut Kara sambil tersenyum tipis.
Mereka makan dengan lahap. Setelah usai sarapan keduanya bergegas menuju mobil.
Mobil telah melaju menyusuri jalanan ibukota.
"Kak... Minggu sore kita pergi ke panti asuhan Cinta Kasih ya kak?" ucap kara mengalihkan pandangan ke arah kakaknya.
David yang tengah asyik memainkan ponselnya pun langsung menoleh ke arah adiknya.
"Iya. Nanti kakak suruh bi Sumi yang atur keperluan yang mau kita bawa" ucapnya menuruti permintaan adiknya.
Dia tidak mau membantah permintaan adiknya. Dia juga sudah merindukan suasana panti yang sering mereka kunjungi bersama kedua orang tuanya.
Disekolah
Setiba di sekolah, Kara langsung pamit kepada sang kakak. Yang sudah ditunggu oleh para sahabatnya di pintu gerbang.
"Lo dianterin sama kak David ya, Ra?" tanya Airi.
"Iya beb. Bakalan tiap hari kok. Jadi kamu tenang aja... kamu bisa kok ngeliat kakak tampan ku secara gratis apalagi tanpa ongkir" ledeknya terkekeh.
Dimas langsung tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
__ADS_1
"Ehh.. Airi bucin akut! Lo gak usah ke PD-an deh! Kak David mana mau sama serigala berwujud manusia kayak lo, hahaha" ucap Dimas terkekeh.
Airi langsung merapatkan giginya.
"YAAA... DIMAS makhluk aneh. Dasar lo s****n! Gue sleding pala lo ya... "teriaknya.
Sementara Kara hanya tertawa melihat tingkah laku kedua sahabatnya.
"Emang lo gak malu apa, diliatin adik ipar sendiri berantem mulu sama sahabat kandungnya" ledeknya lagi.
"Hahahaha" Kara tertawa terbahak-bahak.
Ketiganya berhenti saat melihat kedatangan Reyhan dan Rani secara bersamaan.
"Ehh.. Ada kalian! Kalian lagi pada ngapain tuh?" tanya Rani polos.
"Lagi main petak umpet" ucap Dimas tak senang.
Dimas memang selalu bermusuhan dengan Rani. Dimas tidak menyukainya. Karna menurutnya Rani bukanlah perempuan baik-baik. Alias bermuka dua.
Rani yang sadar dengan sindiran ketidaksukaan Dimas terhadapnya, langsung mengumpat didalam hati..
"Dasar b***i s****n. Awas aja lo, gue bakalan balas jika waktunya tiba nanti" batinnya.
Dia kembali tersenyum manis, berusaha menghilangkan amarahnya.
"Gue tau kok Dim, lo gak suka sama gue. Tapi jangan bawa-bawa masalah ini sampe ke sekolah dong" ucapnya.
"Ehhh... wanita rubah! Asal lo tau ya... mau lo operasi plastik sekalipun, mau lo jungkir balik sekalipun, Kara-ku tetap lebih cantik sejuta kali dibandingkan dengan wajah munafik mu itu" sahut Dimas.
Benar saja Dimas memang begitu membencinya. Bukan tanpa alasan, tetapi ada hal yang membuatnya jijik melihat Rani. Dia percaya, Tuhan akan segera membuka jalan agar kedok Rani dapat terungkap dengan jelas.
Bahkan kedua sahabatnya, Kara maupun Airi tidak mengerti mengapa Dimas begitu membencinya.
Rani mengepalkan tangannya. "Ingin rasanya menghabisi pria s****n ini. Biar gak ngebacot mulu" batinnya.
Reyhan pun langsung mengajak mereka semua masuk ke ruangan kelas.
"Kita masuk aja yuk! Ngapain ribut terus" bujuknya .
Mereka pun memasuki ruangan kelas. Tapi mata Dimas tak berhenti menatap tajam ke arah Rani. Yang membuat Kara juga Airi saling bertatapan mengharapkan penjelasan dari Dimas. Namun, enggan untuk bertanya di hadapan Rani juga teman-teman yang lain. Mereka menghiraukannya, mungkin masalah pribadi kali, pikirnya. Mereka tidak ingin kedua sahabatnya itu semakin menjadi-jadi ketika ditanya nantinya.
__ADS_1
TBC