My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 69: Kebenaran terungkap!


__ADS_3

Tuan William terkejut melihat kedatangan Tuan Alfred. Tubuhnya goyah tak lagi seimbang.


"Kamu.. kamu masih hidup?" Tanyanya tak percaya, seraya menggelengkan kepala. Kemudian ia menoleh kearah Nyonya Renata berdiri sambil menaikkan kedua alisnya, seolah meminta penjelasan dari wanita setengah baya itu. Namun wanita itu malah mengalihkan pandangannya, tidak peduli. Sebenarnya, ia juga sangat terkejut melihat kedatangan Tuan Alfred yang tampak baik-baik saja, tidak sesuai dengan harapannya. Tapi ia tetap berusaha untuk tetap tenang agar bisa mencari aman untuk dirinya sendiri.


Melihat tingkah aneh pasangan suami istri itu, malah membuat Tuan Alfred berdecih jijik sambil menaikkan satu sudut bibirnya.


"Cih! Dasar pasangan munafik!" Ucapnya. Kemudian ia menghampiri Tuan William dan langsung mencengkeram erat kerah bajunya. Sontak membuat Tuan William terkejut. Ia hendak berbicara, namun sudah didahului oleh pria dihadapannya.


"Dasar pengkhianat kamu, William! Kamu akan menjadi musuh bebuyutan ku mulai sekarang sampai selama-lamanya. Aku tidak akan pernah mentolerir mu lagi! Dasar b******n!" Teriaknya begitu keras, hingga memenuhi seisi ruangan. Hal itu malah membuat keberanian Nyonya Renata semakin menciut. Ia hendak beranjak dari sana, namun teriakan Tuan Alfred kembali mengejutkannya. Mau tidak mau ia harus menghentikan langkahnya.


"Jika kamu berani selangkah lagi, aku tidak akan segan-segan untuk memotong kaki indah mu itu!" Ia melotot tajam kearah Nyonya Renata. Sementara wanita itu, hanya bisa menelan salivanya tanpa bergeming. "Glek!


"Tidak! Mengapa aku harus takut? Lagipula.. aku memiliki banyak pengawal, jadi mereka tidak akan bisa melukai diriku! Ya, tidak perlu takut!" Gumamnya mencoba untuk tetap tenang.


Tuan Alfred kembali mengalihkan pandangannya, kearah pria di depannya. Ia lalu menepuk-nepuk wajah Tuan Willliam seraya menunjukkan senyum palsunya.


"Mengapa? Mengapa kamu melakukannya?" Bisiknya pelan ketelinga Tuan William. Namun, pria itu hanya terdiam tak berucap, membuat emosi Tuan Alfred semakin melunjak.


"Mengapa, huh?" Teriaknya lagi. Ia semakin mempererat cengkeramannya. Matanya memerah sudah berkaca-kaca. Lalu ia memejamkan matanya, mencoba untuk menstabilkan amarahnya. Namun, malah bayangan istri cantiknyalah yang terlintas dipikirannya.


"Aku merindukan mu, istriku!" Gumamnya dalam hati.


Berselang beberapa waktu, Tuan William membuka bicara.


"All.. aku tidak melakukannya. Percayalah padaku!" Ucapnya penuh hati-hati. Mendengar hal itu, membuat Tuan Alfred tersadar kembali. Ia semakin membulatkan matanya.


"Percaya kata mu? Hahaha..! Apa kamu pikir, aku masih Alfred yang dulu?" Ia tertawa sinis membalas perkataan Tuan William.


"Apa yang harus ku lakukan.." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, langsung dipotong oleh Tuan Alfred.


"Diam!" Lagi-lagi ia berteriak, membuat siapapun yang mendengarnya akan terkena mental.


"Itu.. itu tidak sepenuhnya salah ku, All! Percayalah! Uhuk..uhuk..uhuk!" Dadanya sesak, kala Tuan Alfred semakin mempererat cengkeramannya tak berperasaan.


Jojo yang melihatnya, langsung menghampiri ayahnya. Lalu membantu pria itu melepaskan cengkeramannya dari leher Tuan William.


"Aku tidak ingin ayah terluka!" Batinnya merasa khawatir.


Meski dirinya juga membenci Tuan William, namun ia juga tidak ingin ayahnya sampai kehilangan kendali untuk membunuh pria disampingnya.


"Ayah.. jangan biarkan tangan mu ternodai olehnya! Dia tidak pantas!" Sahutnya sambil menatap tajam kearah Tuan William.


"Apa? Apa maksud tatapannya barusan?"


Tuan William terkejut mendapat tatapan mematikan Jojo. Tak hanya dia yang terkejut. Tapi, Nyonya Renata juga demikian.


"Ap? Apa? Ayah? Kalian.. saling, saling mengenal?" Ucapnya terbata-bata. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, seraya menggeleng tak percaya.


"Bagaimana mungkin mereka bisa saling mengenal? Tidak! Aku tidak akan mempercayainya!" Ia bergumam sendiri. Pikirannya berkecamuk dipenuhi rasa khawatir.


Sementara Jojo, ia malah tertawa bahagia melihat dia yang khawatir saat ini. Ini adalah keinginan Jojo selama bertahun-tahun lamanya, untuk bisa menyaksikan rasa kegelisahan serta kehancurannya.


"Kamu tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi bukan? Apa aku menghancurkan rencanamu.. Nyonya Renata yang terhormat?" Ucapnya dengan nada sinis. Ia lalu menghampiri wanita itu.


"Ahh.. bukan Nyonya yang terhormat ternyata. Tapi.. seorang wanita iblis, lebih tepatnya mak lampir! Benarkan?" Jojo kembali tertawa menyeringai melihatnya. Hal itu semakin memancing amarah wanita setengah baya itu. Ia merapatkan giginya, tidak terima dengan perkataan Jojo barusan.


"Dasar s****n! Tidak tahu diri kamu! Kamu sama saja dengan.." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Tuan Alfred langsung membentaknya.


"Tutup mulut mu! Jika kamu masih berani meneriakinya.. akan ku robek mulut busuk mu itu! Dasar wanita gila!" Tuan Alfred menunjukkan aura membunuhnya.


"Kamu.. kamu!" Nyonya Renata tak mampu berkata-kata lagi. Ia memundurkan langkahnya, saking takutnya. Tubuhnya gemetar tak seimbang. Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertama baginya diperlakukan buruk oleh seseorang.


"Sial! Mengapa aku merasakan ada aura membunuh dari pria ini?" Gerutunya dalam hati.


Disela-sela perdebatan mereka, Tuan William kembali membuka bicara.


"Aku tau kamu tidak akan sudi memaafkan ku. Tapi, untuk menebus semua kesalahan ku dulu, setidaknya ijinkan aku untuk menjelaskannya, All. Aku akan memberitahumu tentang kebenarannya!" Ia tampak tulus, tanpa ada kebohongan. Jauh dilubuk hatinya, ia sangat menyesal telah melakukannya.


"Apa lagi yang ingin kamu jelaskan? Bukankah semuanya sudah jelas?" Sarkas Tuan Alfred dengan nada tinggi. Ia tidak mau tau. Meski Tuan William menunjukkan wajah memelasnya. Yang ia ingin lakukan saat ini adalah, untuk membalaskan dendam mendiang istrinya.


"Aku memang pantas dibenci!"


Tuan William hanya pasrah, meski dirinya tidak lagi dipercayai oleh siapapun di dunia ini.


"Saat itu, aku mendapat telepon dari Renata. Ia mengatakan kalau kamu meninggal dalam perjalanan menuju ke negara A. Sementara Lena, ia dikejar-kejar oleh para saingan bisnis mu. Aku mempercayainya begitu saja!" Tanpa terasa air matanya lolos terjatuh dari pelupuk matanya.


Flasback Off

__ADS_1


Nyonya Magdalena dan Nyonya Renata adalah saudara sepupu. Sejak kecil, Nyonya Magdalena memang lebih disayangi dan diperhatikan oleh seluruh anggota keluarganya. Bahkan kakeknya, kepala keluarga Sean. Kasih sayangnya terhadap cucu kesayangannya itu, memang tidak asing lagi terdengar didunia luar. Seorang gadis cilik rupawan, pintar di segala bidang, siapa yang akan tahan untuk tidak menyukainya?


Namun, kelebihannya kerap membuat banyak orang iri hingga membencinya. Tak terkecuali Renata, saudara sepupunya yang ia anggap sebagai kakaknya. Renata selalu berusaha untuk mengalahkannya, namun tetap saja, Magdalena selalu lebih unggul darinya.


Waktu demi waktu, tahun demi tahun, mereka lalui bersama. Meski banyak kepalsuan diantara keduanya. Hingga mereka beranjak dewasa, selama itu pula lah kebencian Renata semakin besar terhadapnya.


Suatu hari, Renata mengetahui bahwa Magdalena disukai oleh dua orang pria yang bersahabat. Siapa lagi kalau bukan Tuan Alfred dan Tuan William. Hal itu membuatnya semakin ingin menyingkirkan Magdalena. Ia tidak rela jika Magdalena disukai oleh para putra konglomerat. Terlebih William, cinta pertamanya. Bahkan, setelah ia menikah pun, Tuan Willliam tetap menyukai dirinya. Dan bahkan membenci setiap wanita yang mau mendekatinya.


"Aku tidak rela Magdalena! Bertahun-tahun aku telah menahannya. Kali ini, aku tidak akan tinggal diam!"


Ia berteriak membabi buta, seolah kehilangan akal. Setelah berpikir begitu lama, ia memutuskan untuk menghancurkan hidup sepupunya itu. Renata menempatkan seorang pelayan wanita disisi Nyonya Magdalena. Wanita itu, selalu memberitahukan setiap gerak-gerik Nyonya Magdalena maupun Tuan Alfred.


Hingga saat itu, saat semua berita kepalsuan diumumkan. Setelah kepergian Tuan Alfred menuju ke negara A, seorang wanita yang dikawal oleh banyak lelaki bertubuh besar, langsung menelpon Tuan William. Siapa lagi kalau bukan Renata. Ternyata, ia telah berada disekitar rumah Tuan Alfred sejak pagi-pagi tadi.


"Halo!" Sapanya ramah.


"Ya, ada apa?" Sahut Tuan William datar. Ia sudah tahu bahwa yang menelponnya adalah Renata.


"Aku ingin memberitahumu suatu hal yang penting!" Ucapnya masih dengan wajah berseri-seri.


"Aku tidak peduli!"


"Benarkah? Ahh.. padahal ini menyangkut tentang keselamatan Magdalena!" Ucapnya berbohong.


"Apa? Apa yang terjadi?" Teriak Tuan William merasa khawatir. Renata yang mendengarnya pun merasa cemburu tak terima.


"Bahkan wanita itu sudah menikah? Tapi mengapa? Mengapa kamu masih mempedulikannya William?"


Ia menangis dalam hati. Namun, rencana kali ini tidak boleh gagal, pikirnya.


Renata berencana berbohong kepada William. Dengan begitu, kematian Magdalena.. tidak akan ada hubungannya lagi denganku, pikirnya.


"Halo!" Ucapan Tuan William kembali menyadarkannnya.


"Alfred, sahabatmu.. mengalami kecelakaan. Dan, dan ia telah meninggal!" Ia berpura-pura mengeluarkan suara tangisan.


"Apa?" Sontak Tuan William kembali berteriak.


"Ya. Sekarang.. Magdalena, dikejar-kejar oleh para saingan bisnisnya. Kamu harus menyelamatkannya! Hiks..!"


"Dimana?" Tanya Tuan William to the point.


"Dia sedang menuju ke rumah sakit!" Sahutnya. Tanpa membalas perkataannya lagi, Tuan William langsung memutuskan teleponnya secara sepihak. "Tut..tut..tut!


Meski ia terlihat diabaikan, namun ia tidak peduli. Wajahnya berseri-seri, penuh dengan kebahagiaan.


"Rencana ku berjalan sempurna!" Ucapnya senang. Lalu ia menoleh kearah para bawahannya itu.


"Kalian.. singkirkan mereka semua! Jangan ada yang tersisa satupun. Dan ingat, jangan tinggalkan jejak. Kalian harus bisa melepas tanggung jawab dari semua ini." Ucapnya tegas. Lalu, ia berlalu pergi dari sana, mengikuti Tuan William dan Magdalena.


Setelahkepergian Nyonya Renata, para anak buahnya langsung melakukan perintahnya. Mereka membunuh semua anak buah serta pelayan keluarga Tuan Alfred, tidak ada yang tersisa satupun. Mereka juga memanipulasi kejadian itu, seolah Tuan William lah yang telah melakukannya.


"Beres! Kita akan mendapat imbalan besar dari bos!" Sahut mereka senang.


Sementara Nyonya Magdalena, masih setia mengikuti mobil yang dikendarai oleh Nyonya Magdalena dan Tuan William. Berselang beberapa waktu, terjadilah kecelakaan. "Brakk!" Mobil yang dikendarai oleh Nyonya Magdalena menabrak sebatang pohon dipinggir jalan.


"Hahaha..!Matilah kamu, Magdalena!" Nyonya Renata yang melihatnya, langsung tertawa kegirangan. Ia berpikir bahwa Nyonya Magdalena telah berhasil ia singkirkan. Sehingga, ia akan menjadi satu-satunya wanita yang berada disisi Tuan William.


Namun, keinginannya lagi-lagi tidak terkabul. Setelah tiba dirumah sakit, ia mendapati Nyonya Magdalena hanya lupa ingatan saja. Selebihnya tidak terjadi apapun. Yang lebih membuatnya frustasi adalah, Tuan William tetap berpihak pada Nyonya Magdalena, dan memutuskan untuk membawanya pulang ke tanah air. Dan untuk menghindari para saingan bisnis Tuan Alfred, Tuan William terpaksa menghapus jejak Nyonya Magdalena beserta putranya agar tidak terancam bahaya lagi.


"Mengapa? Mengapa aku yang selalu kalah? Ini tidak adil bagiku!" Nyonya Renata menangisi nasibnya. Nyonya Magdalena memang bagaikan burung Phoenix, selalu beruntung dan unggul. Tidak seperti dirinya yang selalu dipenuhi dengan rasa kebencian dan dengki, yang malah semakin menghancurkan hidupnya.


Flashback On


"Begitulah ceritanya!" Sahut Tuan William. Sementara Tuan Alfred beserta Jojo masih menggeleng tidak percaya.


"Apa kamu pikir aku akan mempercayai mu, huh?" Teriak Tuan Alfred sambil merapatkan giginya.


"Aku tidak berpikir untuk dipercayai olehmu lagi. Setidaknya, kamu sudah mendengar penjelasan ku. Itu sudah cukup bagiku!" Sahut Tuan William penuh arti. Tanpa disadari, air matanya kembali menetes.


"Sepertinya.. ia tidak berbohong?" Gumam Tuan Alfred dalam hati.


Meski banyak keraguan dalam hatinya, meski tidak ada lagi ruang dihatinya untuk memafkan Tuan William, namun bisa mengetahui tentang kebenarannya adalah hal yang paling tepat untuk saat ini.


"Lalu.. bagaimana kamu bisa menikahi wanita ini?" Tanyanya. Ia menunjuk jarinya kearah Nyonya Renata.


"Hah?" Nyonya Renata terkaget menyadari tatapan ketiganya.

__ADS_1


"Dia mengancam ku!"


"Apa maksud mu?" Tanya Tuan Alfred beserta Jojo secara serempak.


"Jika aku tidak menikahinya.. maka, ia akan menyingkirkan ibumu dan juga dirimu. Dia bahkan mengancam ku, untuk membunuh kalian berdua! Saat itu, aku tidak punya pilihan lain" Jelasnya.


"Tidak!" Wanita itu berniat menyangkalnya, namun Jojo sudah melototinya, membuatnya gemetar ketakutan.


"Lalu.. apa kamu tahu siapa pembunuh ibuku yang sebenarnya?" Tanya Jojo lagi. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Ya. Wanita inilah yang telah membunuh ibumu!" Ucapnya pelan. Air matanya kembali menetes.


"Jadi.. mengapa kamu menyembunyikannya selama ini? Bukankah kalian bersekongkol? Kamu bahkan selalu memperlakukan ku dengan buruk. Dan juga.. setelah kematian ibuku, bukankah kamu yang telah mengakuisisi seluruh aset-aset milik ibuku? Lalu mengapa? Mengapa kamu ingin melepas tanggung jawab sekarang?" Jojo kembali bertanya, meski bibirnya sudah gemetar.


Tuan William langsung terduduk dilantai. Ia menangis, seperti pria bodoh.


"Percayalah! Selama beberapa tahun ini, aku selalu berusaha untuk mengungkap kebenarannya. Namun jalan ku buntu. Renata telah menghapus jejaknya. Perusahaan ibumu juga, tidak diakuisisi atas namaku. Tapi, atas nama wanita jahat ini. Ya, dia benar-benar keji. Dan juga.. masalah aku yang selalu membentakmu, itu hanya karna aku terpaksa. Aku tidak ingin kamu menjadi pria lemah, dan dijadikan sebagai tameng oleh wanita ini. Karna aku telah berjanji pada ibumu, untuk tidak membiarkan mu mati sia-sia ditangannya!"


"Ap? Apa?" Tubuh Jojo terhuyung tak seimbang. Tuan Alfred yang menyadarinya, langsung membawa tubuhnya kedalam pelukan hangatnya.


"Tidak apa-apa! Semuanya baik-baik saja!" Sahutnya berusaha menenangkan Jojo. Sementara Jojo, ia sudah menangis merasa bersalah.


"Jangan-jangan.. pelindung bayangan yang dikatakan David saat itu adalah.. suruhannya?" Gumamnya.


David dan Zack memang pernah memberitahunya, jika dirinya dilindungi secara diam-diam oleh para pria asing, yang tak lain memang anak buah Tuan William.


Disela-sela pelukan hangat keduanya, Tuan William kembali berbicara.


"All.. aku tidak pernah menyentuh Lena. Dia benar-benar wanita yang baik dan memang pantas untuk dicintai olehmu. Emm.. sebelum ia meninggal, ia tidak lagi amnesia. Ia sudah mengingatmu dan juga Jojo. Lalu, ia berpesan padaku.. bahwa kamu harus hidup bahagia bersama Jojo, karna Lena begitu mencintai kalian berdua. Meski saat itu, aku tahu suatu kemustahilan untuk memberitahumu, karna beritamu yang sudah tiada. Sekarang.. aku bahagia melihat mu berada disini. Dan juga.. aku sudah menyammpaikan pesannya. Aku berharap, semoga kalian bahagia!" Lirihnya. Ia lalu bangkit dari duduknya.


"Jika kamu tidak mempercayai perkataan ku.. aku tidak apa-apa!" Ucapnya lagi. Ia menoleh kesamping menatap Samuel. Ia tampak menganggukkan kepalanya. Lalu Samuel segera memberikan setumpukan berkas-berkas ditangannya beserta video berisi kejadian saat itu. Tuan Alfred segera meraihnya, dan melihatnya satu persatu. Tanpa terasa, ia kembali menitikkan air matanya.


"Aku pergi, All!" Sahut Tuan William dan berlalu pergi. Namun teriakan Tuan Alfred menghentikan langkahnya.


"Mengapa kamu melakukannya?" Tanyanya seraya menatap punggung belakang Tuan William.


"Karna kamu adalah, sahabatku!" Ucapnya tanpa menoleh. Sebenarnya ia juga sudah menangis, tapi ia lebih memilih untuk memendamnya.


"Tuan..!" Sahut Samuel penuh hati-hati.


"Emm! Kita pergi!" Timpalnya. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju keluar diikuti oleh Samuel. Meski teriakan keras Nyonya Renata terdengar begitu nyaring hingga kehalaman depan, tapi ia tetap tidak peduli.


"William! Aku mencintaimu! Jangan, tinggalkan aku suamiku! Aku mohon! Aku mencintaimu. Tolong maafkan aku!" Teriaknya begitu keras. Akhirnya ia mendapatkan balasan atas perbuatannya. Andai saat itu ia tidak melakukannya, mungkin saja hati Tuan William bisa terbuka untuknya. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Baik dulu maupun sekarang, tidak ada tempat baginya dihati Tuan William.


Sementara Tuan Alfred yang mendengar teriakannya, malah semakin emosi.


"Singkirkan wanita gila ini! Ingat! Jangan membunuhnya! Tapi.. dia harus merasakan, bahkan lebih buruk dari penderitaan Lena. Biarkan dia mati segan hidup tak mau! Mengerti?" Tegasnya dan dibalas anggukan oleh para anak angkatnya.


"Baik, ayah!" Sahut mereka serempak.


Sementara Nyonya Renata, ia sudah menangis frustasi.


"Tidak! Aku harus bertemu suamiku!" Teriaknya sambil meronta. Namun, cengkeraman erat Zoe dan yang lainnya tidak bisa ditandingi olehnya.


"Tidak ada masa-masa indah bagimu lagi, sekarang, bahkan hingga kamu mati!" Teriak Zoe penuh amarah. Ia marah. Seharusnya mereka memiliki ibu angkat sekarang, tapi karna wanita keji disampingnya, membuat mereka harus kehilangan kesempatan itu.


"Ayah!" Sahut Jojo, yang menyadarkan lamunan pria paruh baya itu.


"Ya, ada apa?" Tanyanya merasa khawatir.


"Aku.. aku benar-benar jahat. Aku telah.. bersalah padanya!" Ucapnya terbata-bata. Namun, Tuan Alfred tetap berusaha untuk menenangkannya. Ia tahu, jika saat ini Jojo sangat merasa bersalah terhadap Tuan William. Mungkin karna temperamen buruknya selama ini.


"Kita akan meminta maaf padanya!" Ucapnya seraya menepuk-nepuk punggung Jojo. Bukan hanya Jojo yang merasa bersalah. Tapi ia juga demikian.


"Aku berhutang banyak padamu, Mike!" Gumamnya dalam hati.


Ia sangat bersyukur, ternyata William telah menjaga putranya selama ini.


TBC


Halo para readers setiaku:) Maafkan author yang terlambat up. Dikarenakan author punya kesibukan mendadak, sehingga tidak bisa fokus mengetik😓


Meski begitu, jangan lupakan author ya say☺


Jangan lupa kasih jempol, koment and votenya say😊


Dan untuk kalian.. tetap jaga kesehatan:)

__ADS_1


Sekali lagi.. maaf ya say🙏


I lovyu all😘


__ADS_2