
Dua bulan kemudian..
Setelah menyelesaikan masa kontraknya, kini Kara akan kembali ke tanah air. Sebelumnya, telah banyak para penggemar maupun rekan kerja yang datang menghampirinya, seminggu sebelum kepulangannya. Mereka seolah tak rela, Kara kembali ke tanah air. Tak terkecuali dengan Mi-Rea. Ia tidak ikut serta dengan Kara. Ia lebih memilih untuk melanjutkan karirnya di negara kelahirannya, karena permintaan orangtuanya. Mau tidak mau, ia harus berpisah dengan Kara, yang telah ia anggap sebagai adiknya.
Waktu sekarang..
Kara yang sudah bersiap menuju ke Bandara, langsung mengirimi pesan singkat kepada Jojo dan kakaknya secara bersamaan.
"Aku akan segera berangkat!"
Ia tersenyum lebar, membayangkan pertemuannya dengan sang kakak dan kekasihnya nanti. Entah bagaimana reaksi keduanya, yang jelas ia sangat menantikannya.
"Aku sudah tidak sabar lagi!" Gumamnya senang. Ia melangkahkan kakinya menuju ke mobil, yang telah ditunggu oleh anak buah Jojo sedari tadi.
Beberapa saat kemudian, mobil segera melaju menuju ke Bandara Incheon Korea. Jam keberangkatannya adalah pukul 10 pagi, setengah jam dari waktu sekarang.
Sementara itu..
"Di Tanah Air"
Kini, Jojo beserta kedua sahabatnya dan yang lainnya, sedang mengadakan rapat. Jadi, ponselnya sengaja mereka nonaktifkan. Seperti biasa, Jojo selalu bersikap datar dihadapan para bawahannya. Hingga membuat mereka merasa tegang dan canggung, tak berani bergeming.
"Baiklah! Untuk mempercepat pembangunan mal, ditengah-tengah ibukota.. kita memerlukan lebih banyak tenaga kerja. Hal ini akan ku serahkan kepada departemen ketenagakerjaan dan departemen keuangan. Kalian harus mendiskusikannya, agar semuanya berjalan sesuai rencana awal."Sahut Jojo dengan nada serius.
"Baik, pak!" Sahut mereka serempak.
"Emm.. untuk yang lainnya, kalian juga harus saling membantu satu sama lain. Dan juga, untuk bagian perancang dan arsitek terutama, jangan sampai lalai. Bagaimanapun, pembangunan ini harus selesai dalam tiga bulan kedepan, tanpa kekurangan suatu apapun. Dan bla..bla..bla!" Ia menjelaskan segalanya secara detail.
Rapat berlangsung hanya selama 3 jam, mengingat banyaknya jadwal kerja mereka akhir-akhir ini. Biasanya, mereka bisa menghabiskan waktu hingga setengah hari. Namun kali ini, rapat sengaja dipercepat. Ditambah lagi, Jojo akan menjemput sang kekasih dari Bandara. Ia tidak ingin terlambat sedetikpun.
"Baiklah! Rapat sampai disini dulu. Semuanya, boleh bubar!" Ucapnya mengakhiri.
"Baik, pak!"
Para karyawan lainnya segera keluar meninggalkan ruangan. Sementara Jojo dan kedua sahabatnya masih terduduk disana. Jojo dan David langsung membuka ponselnya secara bersamaan. Keduanya, tampak tersenyum bahagia, mendapat pesan dari orang yang sama. Zack yang melihatnya pun, merasa diabaikan. Ia langsung menepuk kedua punggung sahabatnya itu.
"Heh! Apa kalian sedang mengabaikan ku?" Kesalnya seraya memonyongkan bibirnya kedepan.
"Ahh?" Jojo dan David tersadar dengan ucapannya.
"Emm..! Hari ini aku ada urusan penting. Jadi, urusan kantor ku serahkan pada kalian berdua." Sahut Jojo, masih sibuk dengan ponselnya. Ia tampak sedang membalas pesan Kara.
"Aku akan menjemput mu, sayang!"
"Aku juga ada urusan. Jadi, tidak bisa tetap stand by di kantor." Lanjut David. Ia juga tampak sibuk dengan ponselnya.
"Kakak menantikan mu, adikku. Aku akan menjemput mu, ok?"
Sementara Zack, ia sudah membulatkan matanya.
"What?" Teriaknya. Ia berkacak pinggang, seolah tak terima dirinya selalu menjadi pengganti, kala kedua sahabatnya itu memiliki urusan.
__ADS_1
"Ini? Kalian lagi pada becanda kan?" Tanyanya memastikan. Jojo dan David membalasnya dengan gelengan kepala secara serempak.
"Ini urusan penting! Lebih penting dari segala-galanya. Aku tidak bisa mengabaikannya!" Sahut Jojo penuh arti.
"Lalu, bagaimana dengan mu?" Timpal Zack menunjuk kearah David.
"Aku ingat. Kamu kan jomblo, sama seperti ku? Hal penting apa yang membuat mu sampai berpaling dari pekerjaan?" Lanjutnya seraya memicingkan matanya.
"Emm! Kamu tidak akan mengerti. Dia adalah belahan jiwaku, duniaku, orang terpenting dalam hidup ku!" Sahut David menjelaskan. Ia tersenyum, membayangkan wajah cantik nan menggemaskan sang adik.
"Sudah lama tidak bertemu. Adikku pasti semakin cantik!" Gumamnya dalam hati.
Mendengar hal itu, Jojo sedikit menyerngit.
"Orang terpenting? Emm.. sudahlah! Mungkin saja dia dekat dengan seorang wanita akhir-akhir ini?" Gumamnya tak terlalu mempermasalahkan.
"Baiklah! Aku pergi dulu!" Ucapnya lagi dan segera berlalu pergi meninggalkan ruangan.
"Aku juga. Baik-baiklah disini. Mengerti?" Lanjut David seraya menepuk-nepuk pundak Zack. Ia melangkahkan kakinya meninggalkan Zack sendirian. Sementara Zack, ia hanya terdiam frustasi disana.
"Dasar tidak berperasaan. Aku diabaikan karna seorang wanita?" Ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya.
"Heh, wanita! Kamu memang hebat. Bisa membuat kedua pria psikopat ini berpaling dariku, sahabat tertampannya ini." Gerutunya tanpa henti. Kini, ia sudah membulatkan matanya.
"Hahaha! Kalian tunggu saja. Aku akan membalas kalian berdua kelak, setelah aku punya kekasih!" Lanjutnya lagi. Ia hendak beranjak pergi, namun lagi-lagi langkahnya terhenti.
"Hah? Kekasih? Memangnya siapa yang mau jadi wanitaku?" Kesalnya seraya berjalan keluar dengan wajah muramnya.
Sementara itu, Jojo yang baru saja keluar dari gedung pencakar langit itu, kini tampak sedang berlari kecil menuju ke parkiran dimana mobilnya berada. Kemudian, ia segera melajukan mobilnya menuju ke rumah. Ia berniat membersikan diri dulu, agar terlihat fresh saat menjemput kekasihnya nanti.
"Di rumah"
Setibanya di rumah, benar saja. Si pria tampan langsung bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia terdengar sedang bersiul dan bernyanyi kegirangan. Wajahnya berseri-seri, seperti seseorang yang sedang memenangkan lotre.
Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan hanya mengenakan handuk kecil melilit di pinggangnya, menunjukkan otot-otot kekarnya. Sesekali, ia mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Hal itu semakin menunjukkan aura ketampanannya. Ia berjalan kearah lemari pakaiannya. Dan kini, ia tampak sedang memilih-milih pakaian yang cocok untuk ia kenakan.
Lama ia berada disana, pilihannya tertuju pada sepasang pakaian cassual, dengan celana hitam, dipadukan dengan kaos oblong berwarna putih dan jacket berwarna hitam. Ia langsung memakainya disertai sepatu ketsnya berwarna hitam. Dan benar saja. Pakaian yang ia pilih terlihat sangat serasi ditubuh proporsionalnya. Ia kembali berjalan kearah cermin dan langsung menyisir rambutnya serapi mungkin. Tak lupa, ia juga menyemprotkan parfum andalannya disekujur tubuhnya.
"Emm? Selesai!" Ucapnya merasa puas, seraya merapikan kembali pakaiannya. Selain tampan, ia juga termasuk sebagai salah satu pria yang pandai menyesuaikan stylenya, kapanpun dan di manapun. Jadi, tidak perlu seorang desainer untuk mengatur setiap pakaian yang akan ia kenakan, meski saat menghadiri pertemuan penting sekalipun.
Setelah selesai, ia kembali kedalam mobilnya. Kini, mobil telah melaju menyusuri jalanan ibukota. Karna jalan sedikit macet, hingga ia memutuskan untuk pergi lebih awal. Lebih baik aku yang menunggu, pikirnya.
Ditengah-tengah perjalanan, ia memberhentikan mobilnya tepat di depan sebuah toko bunga. Ia membeli sebuket bunga mawar merah, kesukaan gadisnya.
"Dia pasti senang!" Ucapnya penuh semangat. Ia meletakkan bunga tersebut disampingnya. Dan kembali melajukan mobilnya.
"Di Bandara Internasional Jakarta"
Setelah melalui perjalanan yang cukup lama, kini si pria tampan telah tiba di Bandara. Ia lalu duduk di kursi ruang tunggu. Banyak orang sekitar yang menatap kagum terhadapnya. Terlebih para kalangan wanita. Mereka seolah-olah melihat pangeran tampan, idaman mereka.
"Wah! Dua sangat tampan!"
__ADS_1
"Siapa dia?"
"Dan bunga ditangannya? Pasti untuk kekasihnya?"
"Ahh! Aku sangat iri pada wanita itu!"
Meski banyak perbincangan hangat dari orang sekitar, namun ia tidak terlalu mempedulikannya. Ia malah bersikap datar, seolah tidak mendengar apapun.
Berselang beberapa waktu, terdengar suara seorang petugas public information service, yang memberitahukan bahwa pesawat dari negara K telah tiba. Yang ternyata, Kara adalah salah satu penumpangnya. Mendengar hal itu, Jojo segera bangkit dari duduknya. Ia tersenyum tipis, seraya merapikan pakaiannya.
Dari kejauhan, ia bisa mengenali gadisnya, meski memakai kacamata hitam. Dan kini tengah berjalan menuju luar. Tak mau menunggu lebih lama lagi, Jojo juga ikut melangkahkan kakinya, hendak menghampiri Kara. Baru beberapa langkah ia beranjak, terdengar suara teriakan seorang pria memanggil nama gadisnya.
"Karaa? Sayang! Aku disini!" Teriaknya. Jojo langsung menoleh kearah suara tersebut. Matanya terbelalak, melihat kehadiran David disana.
"David?" Kagetnya. Ternyata, David telah berada disana, tak jauh dari tempat duduknya tadi. Namun, keduanya tidak saling menyadari satu sama lain.
Ia lebih terkaget lagi, melihat Kara dan juga David saling berpelukan dengan erat. Matanya membulat sempurna.
"Apa? Apa ini?" Ucapnya tak percaya. Ia kembali teringat dengan perkataan David sewaktu dikantor tadi.
"Belahan jiwaku, duniaku, orang terpenting dalam hidup ku!" Kata-kata inilah yang terngiang-ngiang di benaknya.
"Hah? Apa Kara berselingkuh?" Gumamnya pelan. Ia merasa seolah jantungnya terbang, pergi meninggalkan jiwanya. Matanya memerah dan sudah tampak berkaca-kaca. Ia menggenggam erat sebuket bunga ditangannya.
"Aku.." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Kara langsung menoleh kearahnya, yang membuatnya berhenti berucap. Dan sekarang, gadisnya itu tengah tersenyum lebar melihatnya, meski dengan mata sembabnya. Kara segera melepas pelukannya dari rangkulan kakaknya, dan berjalan menghampiri Jojo.
"Aku kembali!" Ucapnya senang, namun matanya sudah berkaca-kaca. Jojo yang menyadarinya malah semakin linglung. Ia tidak tau, apa yang harus ia lakukan sekarang, karna masih dipenuhi dengan tanda tanya dibenaknya. Tanpa menunggu persetujuan darinya, Kara langsung berhambur memeluknya.
"Apa kamu mengabaikan ku?" Tanyanya merasa kecewa. Hal itu kembali membuat Jojo tersadar.
"Ahh? Tidak!" Ucapnya asal. Sama halnya dengan David, ia juga terkaget dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Jojo?" Kagetnya. Mendengar namanya disebut, Jojo langsung menoleh kearahnya. Keduanya bertatapan, namun saling terdiam.
"Kalian.. saling mengenal?" Sahut Kara dengan wajah kebingungan. Ia menatap kedua pria dihadapannya, seolah meminta jawaban. Namun, keduanya malah terdiam tak bergeming.
"Kak, dia adalah kekasih ku!" Ucapnya menunjuk kearah Jojo.
"Dan.. sayang, ini adalah kakakku!" Lanjutnya seraya menunjuk kearah David.
"Apa?" Teriak keduanya secara bersamaan.
"Ternyata.. kami menunggu orang yang sama?" Batin keduanya.
Bagaimana akhirnya nanti? Apakah David merestui hubungan keduanya? Tetap stay guys..
TBC
Halo para readers setiaku:)
Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa kedua bab ini selalu diulang. Itu karna terjadi beberapa kendala. Jadi harus diperbaharui. Mohon tetap tinggalkan jejak say๐
__ADS_1
I lovyu all๐