
Beberapa bulan kemudian...
Setelah melewati waktu yang begitu lama, kedekatan Kara dan Leona kini semakin akrab. Perlahan, Leona bisa menerima kalau pria yang dia cintai, sudah memiliki wanita pilihannya. Ia sadar, bahwa tidak selamanya keinginan kita bisa tercapai. Meski, kamu tergolong makhluk sempurna. Semua sudah diatur oleh Sang Pencipta, sesuai porsi masing-masing. Ia hanya berharap agar Jojo selalu bahagia dengan Kara, wanita pilihannya. Begitupun dengannya, semoga kelak ia dipertemukan dengan orang yang tepat.
Hari ini, keduanya memutuskan untuk berbelanja ke Mall. Mengingat Jojo sudah berangsur-angsur pulih, dan sudah mulai sibuk bekerja, sehingga Kara merasa lebih leluasa untuk menghabiskan waktunya. Sebelum pergi, Kara sengaja mengenakan masker. Untuk menghindari para penggemar fanatiknya serta para paparazi bayaran seperti biasanya.
"Kita kesana yuk?" Ajak Leona. Ternyata, ia sedari tadi sibuk memperhatikan berbagai merek tas branded keluaran terbaru. Tidak bisa dipungkiri, Leona adalah seorang pecinta fashion. Jadi sudah biasa baginya menghabiskan begitu banyak uang dalam sekejap mata.
"Ayuk!" Sahut Kara mengiyakan. Keduanya langsung beranjak ke toko yang berhasil menarik perhatiannya. Kalau berbicara tentang berbelanja, keduanya memang sama-sama lebih suka berbelanja langsung ke toko daripada harus memesan via online shop. Karna hal itu bisa menghilangkan rasa jenuh dan lelah mereka, dengan hanya berkeliling saja.
Kini, keduanya sibuk memilih berbagai jenis barang bagus, yang akan mereka beli. Dari toko A ke toko B. Begitulah seterusnya. Hingga tangan keduanya dipenuhi dengan tas belanjaan yang hampir tidak muat lagi di genggaman tangannya.
"Ehh! Itu.. perhiasannya bagus-bagus banget. Kita lihat yuk?" Ucap Leona tak sedikitpun merasa puas dengan semua belanjaannya.
"Andoe! Ini aja udah ribet gimana cara bawainnya? Udah melampaui kapasitas! Kamu mau belanja apa lagi, coba?" Gerutu Kara sambil menghela nafasnya. Ia menggelengkan kepala, tidak mengerti dengan pola pikir Leona yang tidak ada rasa puas sedikitpun.
"Ayok Ra! Aku mau milih perhiasan disana. Bagus tau?" Rengeknya sambil menyibikkan bibirnya kedepan. Kara hanya bisa mendengus sembari berjalan mengikutinya.
"Yang ini harganya berapa?" Tunjuk Leona ke sebuah kalung yang begitu mewah. Wajahnya tampak sangat berseri-seri. Entah mengapa, rasanya senang sekali, setelah berbelanja dengan Kara. Seperti menghabiskan waktu dengan saudara perempuan sendiri. Biasanya, ia hanya didampingi oleh pelayan saja, yang membuatnya sangat mendominasi. Tapi sekarang berbeda. Ia merasa jauh lebih santai.
"Yang ini harganya 50 juta, non! Ini masih keluaran terbaru! Kualitasnya juga di jamin bagus! Pasti nona suka!" Ucap seorang karyawan wanita sopan. Leona hanya manggut-manggut saja. Sementara Kara, ia tidak lagi menghiraukan perbincangan keduanya. Karna sudah kelelahan, ia lebih memilih untuk duduk sebentar. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba pandangan Leona beralih ke samping.
"Kalau yang ini?" Tanyanya lagi. Sepertinya, ia lebih tertarik dengan kalung berlian yang baru ia lihat. Para karyawan saling memandang. Pasalnya, mereka hanya mengenakan pakaian biasa saja. Tidak mungkin mampu membeli barang semewah ini. Itulah yang mereka pikirkan. Tapi, tamu adalah raja. Siapapun akan mereka layani, tidak ingin bernasib seperti teman lamanya, yang berakhir dipecat karna mengabaikan pelanggan.
"Kalau ini.. harganya 500 juta, non!" Sahut mereka ragu-ragu. Kara mendengarnya sekilas. Tapi, ia tetap abai. Karna menurutnya, Leona mungkin hanya bertanya-tanya saja. Ia tidak tertarik dengan koleksi perhiasan ataupun barang-barang mewah. Yang terpenting adalah makan, meski tubuhnya tetap kurus. Bahkan, perhiasan mewah pembelian Jojo saja, ia tidak tertarik untuk mengetahui harganya yang konon bisa mencapai Miliaran juta rupiah.
Setengah jam kemudian, Leona kembali menghampiri Kara.
"Ini untukmu!" Ucapnya sembari menyodorkan sebuah bingkisan ke hadapannya. "Hah? Kara mendongakkan kepalanya.
"Untuk ku?" Tanyanya tak mengerti. Leona hanya mengangguk, mengiyakan perkataannya. Kara belum membukanya. Karna tangannya sudah ditarik oleh Leona lebih dulu.
"Kita cari makan, yuk?" Ia menarik lengan Kara. Sontak Kara langsung menghentikan langkahnya.
"Kita makan dirumah aja, ya? Capek jalan!" Ucapnya menggerutu. Ia hanya beralasan saja. Ia takut, mungkin Leona akan mengajaknya berbelanja kembali setelah mereka selesai makan.
"Yaudah deh!" Pasrah Leona. Ia juga sudah merasa sedikit lelah. Lalu keduanya beranjak menuju ke parkiran. Sesekali mereka berbincang, sambil tertawa lepas.
"Tap..tap..tap! Suara langkah kaki keduanya.
"Kamu tau nggak? Aku lebih suka tinggal di Indonesia daripada di Negara ku." Ucap Leona jujur. "Emm? Kara menaikkan kedua sudut alisnya.
"Alasannya?" Tanyanya penasaran.
"Karna disini, aku merasa lebih leluasa dan santai. Aku bisa menghabiskan waktu ku sesuka hati. Terlebih, mendapatkan teman sebaik kamu adalah suatu keberuntungan bagiku. Berbeda dengan di Negara ku. Semua orang mengenalku, karna keberadaan keluarga ku. Aku jadi sering dijauhi, karna perbedaan derajat keuangan. Keluarga ku juga.. selalu mengekang ku. Mereka tidak pernah memberi ku ruang sedikitpun" Curhat Leona dengan mata berkaca-kaca. Ia kembali teringat dengan ibunya yang selalu memperlakukan dirinya bagaikan boneka hidup. Apapun yang dia katakan, tidak boleh ada yang membantahnya. Hingga membuatnya menjadi bertemperamen sombong dan egois. Kara lalu menatapnya sekilas.
"Itu artinya.. kamu adalah wanita yang kuat." Ucapnya sambil tersenyum tipis. Leona mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan jalan pemikiran Kara.
"Meski hidup terkekang, hari-hari tanpa warna.. tapi kamu tetap bisa menjadi Leona. Leona, si gadis cantik dan baik hati." Ucap Kara lagi.
__ADS_1
"Hahah..! Aku hampir saja mengumpat mu, karna mengatakan omong kosong begini." Kekeh Leona sambil tersenyum kaku.
"Kamu adalah kamu. Tidak perlu hidup menjadi orang lain. Selama ini, mungkin hidupmu selalu dipaksa untuk menjadi sempurna. Tapi sekarang.. aku senang melihatmu. Akhirnya, kamu bisa menemukan jati dirimu. Jika kamu adalah orang jahat, mungkin kamu sudah berniat menghabisiku, seperti para penggemar wanita Jojo sebelumnya." Jujur Kara kembali tersenyum. Leona pun membalas senyumannya.
"Ini juga berkat kamu. Mungkin.. aku akan menjadi wanita jahat dan pendendam selamanya, kalau saja aku terlambat bertemu dengan mu." Sahut Leona memuji.
"Aku senang, dipertemukan dengan wanita sebaik kamu!" Lanjutnya lagi. Keduanya saling melempar senyum mengembangnya satu sama lain. Disela-sela langkah keduanya, tiba-tiba terdengar suara orang sedang berkelahi. "Bugh..bugh..bugh! Mereka langsung membulatkan matanya dan berlari kecil keasal datangnya suara.
"What?" Kaget Kara, melihat orang yang ternyata sedang berkelahi adalah prianya. Tanpa sengaja, barang bawaannya terjatuh ke tanah.
"Jojo! Hentikan! Apa yang kamu lakukan?" Teriaknya dari kejauhan. Namun, Jojo tak mengindahkan perkataannya. "Bugh..bugh..bugh! Suara pukulan masih terdengar jelas. Kedua pria itu saling memukul, tanpa ada yang mau mengalah. Wajah keduanya juga sudah mulai terluka akibat pertengkaran ganas mereka.
"Kak..! Hentikan!" Teriak Leona. Ia juga menjatuhkan barang belanjaannya. Kara menolehnya sebentar. Lalu kembali menoleh kepada kedua pria yang tiada henti saling membalas pukulan masing-masing.
Tanpa menunggu lagi, Kara langsung berlari kearah Jojo. Ia memeluk tubuh kekarnya dari belakang.
"Aku bilang berhenti! Hentikan Jojo!" Teriaknya sudah memejamkan matanya. Ia takut melihat wajah pria dihadapannya yang tampak sangat marah. Jojo pun berhenti, menyadari pelukan erat Kara diperutnya.
"Sayang.. menjauhlah. Aku tidak ingin kamu terluka!" Ucapnya dengan nafas sudah ngos-ngosan. Tapi Kara malah menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu tidak berhenti.. maka jangan pernah temui aku lagi!" Ucapnya dengan nada mengancam. Jojo mendongak mendengarnya. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan memeluk Kara dengan erat. Tapi, tatapannya masih menatap tajam kearah Zeremy.
"Urusan kita belum selesai!" Geramnya sudah merapatkan giginya. Namun, Zeremy bahkan tertawa menyeringai padanya.
"Kita pulang, sekarang!" Pinta Kara memohon. Ia menarik lengan Jojo menuju kedalam mobil. "Brakk! Suara mobil tertutup. "Hosh..hosh..hosh! Suara nafas ngos-ngosan Jojo. Ia melonggarkan dasinya yang terasa melilit dilehernya. Sementara Kara, ia langsung meraih wajah prianya. Ia merasa khawatir serta marah, melihat tindakan gegabah Jojo barusan, yang bahkan sampai melukai dirinya.
"Lihatlah! Kamu sampai terluka begini! Bisakah kamu mencintai dirimu, sekali saja?" Celotehnya mengomel. Matanya pun sudah berkaca-kaca. Bukan hanya sekali saja, ia menyaksikan Jojo terluka. Namun sudah terlalu sering hingga membuat hatinya sakit bagai teriris-iris. Jojo membuang nafasnya pelan, lalu menatapnya.
"Diamlah! Aku akan mengobati lukamu. Nanti infeksi!" Ucapnya pasrah. Kemudian ia mengambil kotak P3K dari kursi belakang. Ia mulai membersihkan luka Jojo perlahan dan mengobatinya dengan penuh kelembutan. Melihat dirinya yang terlihat fokus, malah membuat senyuman manis Jojo terukir sempurna diwajah tampannya. Ia seolah tidak merasakan adanya luka diwajahnya. Malahan, ekspresinya tampak senang menyadari Kara selalu memperhatikannya.
"Mengapa dia tertawa?" Batin Kara tak mengerti.
Tapi, ia lebih memilih untuk mengabaikannya. Ia harus fokus mengobati lukanya dulu. Tiba-tiba.. "Cup! Jojo mengecup bibir ranumnya. "Hah? Kaget Kara.
"Dasar mesum!" Ejeknya sambil memonyongkan bibirnya kedepan. Jojo hanya tersenyum tanpa berucap.
Setelah selesai, Kara kembali menatap Jojo. Ia tidak sempat memperhatikan Zeremy tadinya. Karna terlalu mengkhawatirkan pria disampingnya.
"Mengapa kamu berkelahi dengan pria itu? Apa masalahnya? Lalu.. mengapa kamu datang kemari tanpa memberitahu ku?" Tanya Kara tanpa henti. Jojo terdiam sejenak. Sebelum mengatakan semua uneg-unegnya yang terselubung dihatinya.
"Aku khawatir padamu. Jadi, aku datang kemari!" Ucapnya jujur. "Heh! Kara menunjukkan senyum jahatnya.
"Khawatir? Kamu berkelahi begitu.. bagaimana bisa kamu berkata bahwa kamu datang karena ku? Aneh!" Kesalnya sembari memutar matanya malas. Secepat kilat Jojo memegang kedua pipinya.
"Aku serius. Tapi, mengenai pria itu.. aku ingin bertanya sesuatu padamu!" Ucapnya ragu-ragu.
"Apa?" Tanya Kara to the point. "Huh! Jojo lagi-lagi menghela nafasnya.
"Apa kamu menyukainya?" Ucapnya dengan wajah serius.
__ADS_1
"Apaaaaa?" Teriak Kara tidak terima. Ia berpikir kalau Jojo sedang bercanda. Tapi, ekspresinya sekarang tidaklah menunjukkan bahwa ia hanya bergurau saja.
"Mengapa kamu bertanya begitu?" Tanyanya untuk memastikan. Tapi, Jojo sudah melepaskan tangannya dari wajahnya.
"Lupakan saja!' Ucapnya sedikit kesal. Ia kembali teringat saat Zeremy menelponnya saat itu. "Aish! Setelah menghela nafasnya, Kara langsung menarik telinganya hingga membuatnya sedikit meringis.
"Apa otak mu bermasalah? Bagaimana mungkin.. kamu berkata begitu padaku? Huh! Mengesalkan!" Gerutunya. Ia lalu meraih wajah Jojo mendekat ke wajahnya.
"Aku tahu kamu sedang cemburu. Tapi sayang.. jangan sampai mengatakan omong kosong begini. Setiap perkataan itu adalah doa. Lagipula.. aku tidak mungkin mengkhianatimu. Apa kamu tidak cukup mengenal ku?" Ucapnya penuh arti. Jojo pun tersenyum lega setelah mendengar pengakuannya. Ia menahan tengkuk Kara dan kembali me*umat bibirnya.
"Aku tahu! Aku mencintaimu, sayang!" Ucapnya lembut. Kemudian, ia memeluk Kara dengan erat.
"Mengapa Zeremy tiba-tiba datang ke Indonesia? Apa dia sedang merencanakan sesuatu? Aku yakin, ini bukan hanya tentang Leona saja. Aku harus menyelidikinya!" Batinnya.
Ia merasa aneh dengan kehadiran Zeremy yang secara tiba-tiba. Ia tidak mungkin datang hanya untuk menggapai kebahagiaan Leona saja. Mengenai dia menyukai Kara, mungkin benar saja. Tapi, sepertinya.. hal yang terlihat sekarang tidaklah sesederhana itu. Hal inilah yang selalu terngiang-ngiang di benaknya. Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah kecurigaan Jojo benar?
Waktu bersamaan...
Setelah kepergian Jojo dan juga Kara, Leona juga langsung mengomeli kakaknya.
"Apa yang kakak lakukan? Apa kakak ingin mati?" Teriaknya dengan kekesalannya. Matanya berkaca-kaca, sama seperti Kara tadi. Ia khawatir terjadi apa-apa dengan Zeremy, satu-satunya orang yang selalu mempedulikannya.
"Apa yang harus kulakukan.. jika terjadi sesuatu dengan kakak? Berhentilah membuat ku khawatir! Hiks.. hiks..hiks!" Tangisnya pecah seketika. Zeremy pun menghampirinya dan membawanya kedalam dekapannya.
"Jangan menangis! Kakak baik-baik saja!" Ucapnya seraya mengusap-usap rambut sang adik.
"Aku sudah bilang, jangan pernah berkelahi lagi dengan siapapun. Hiks..! Tapi.. tapi, kakak sama sekali tidak mendengar ku. Apa kakak ingin meninggalkan ku? Hah? Katakan padaku, kak! Kamu tahu, ibu tidak mencintaiku! Dia hanya mencintai uang! Bagaimana, jika terjadi sesuatu padamu? Aku harus bagaimana?" Ucapnya menangis tersedu-sedu. Zeremy pun semakin mempererat pelukannya.
"Kakak tidak akan pergi!" Ucapnya dengan wajah memelasnya.
"Kakak hanya tidak rela.. pria b******k itu membuat adik kesayangan ku menangis. Aku tidak terima, Na!" Jujur Zeremy. Namun Leona segera menggelengkan kepalanya. Ia mengangkat kepalanya, menatap wajah tampan kakaknya.
"Kak Jojo tidak salah apa-apa kak! Aku saja yang terlalu berambisi selama ini." Ucapnya lirih.
"Lagipula.. sekarang dia benar-benar sudah memiliki gadis yang amat dicintainya. Dia cantik, dan juga baik hati. Kami juga sudah berteman sekarang. Kakak melihatnya kan? Kami berbelanja bersama! Jadi, tolong jangan memusuhi kak Jojo lagi, kak. Aku mohon! Aku akan semakin merasa bersalah, kalau kakak menyakitinya." Jelasnya lagi. Meski begitu, Zeremy tetap tidak rela dengan keputusan Jojo yang sangat menyakiti hati adiknya.
"Lalu.. bagaimana dengan mu?" Tanyanya merasa khawatir. Leona dengan sigap meraih tangannya. Ia tersenyum, seolah ia memang baik-baik saja.
"Kakak tidak perlu khawatir lagi. Seiring berjalannya waktu, Leona yakin. Suatu hari nanti, Leona akan di pertemukan oleh Yang Kuasa dengan pria yang benar-benar bisa mengerti dan menghargai ku, kak!" Ucapnya tulus. Zeremy sampai terheran melihat sikapnya saat ini. Adiknya yang keras kepala, sombong dan pemarah ini akhirnya sudah berubah menjadi wanita yang lebih baik. Bahkan pengertian. Sekarang, ia sudah bisa menelaah mana yang baik dan tidak untuk dirinya.
"Apapun keputusan mu.. kakak akan selalu mendukung mu, ok?" Sahut Zeremy setuju dan dibalas anggukan oleh sang adik. Kemudian, keduanya kembali saling berpelukan dengan hangat.
TBC
Halo para readers setiaku๐๐
Jangan lupa untuk tetap dukung author guys, agar ceritanya terus berlanjut ๐จ๐จ
Have fun for all of you๐
__ADS_1
I lovyu all๐