
"Ahhh... Dimassss, Airiii!" Teriak Kara kegirangan. Teriakannya membuat Jojo terkaget. Jojo menghentikan kegiatannya di dapur dan segera menghampirinya. Ia mendapati Kara sedang berpelukan dengan dua orang yang tampak seumuran dengan gadisnya itu.
"Siapa mereka?" Batinnya, penuh rasa penasaran.
"Gue rindu banget sama lo, Ra! Kamu baik-baik..." Ucapan Dimas terhenti saat melihat pria asing itu tengah berdiri memperhatikan mereka. Dimas sedikit menyerngit, penuh tanda tanya.
"Siapa dia? Berani-beraninya dia tinggal dengan Kara-ku?" Gumamnya dalam hati.
Dimas menatap tajam ke arah Jojo. Mendapat tatapan tak senang dari Dimas, Jojo langsung memasang wajah dinginnya. Dimas sampai menelan salivanya, karna saking kagetnya mendapat perlakuan dingin dari Jojo.
"Ehh, Dim.. Lo kenapa?" Tanya Kara penasaran mendengar ucapan sahabatnya itu terhenti begitu saja. Begitupun dengan Airi, ia juga bingung dan sedikit menyerngit.
Belum sempat Dimas menjawab, Jojo langsung datang menghampiri Kara dan langsung merangkulnya.
"Mereka siapa, sayang?" Tanya Jojo penuh selidik.
"Sayang?" Teriak Airi dan Dimas bersamaan. Bagaimana tidak, Kara bahkan tidak memberitahu keduanya bahwa dia memiliki kekasih sekarang. Selama ini, mereka berpikir bahwa Kara tidak menjalin hubungan dengan siapapun alias jomblo. Tak disangka, dia menyembunyikannya dari kedua sahabatnya itu.
"Ehh.. ehh! Itu.." Sahut Kara gelagapan sambil menusuk-nusuk pipinya dengan jari telunjuknya.
"Habislah aku. Kedua serigala ini pasti sangat marah sekarang. Aku harus bagaimana?" Gumamnya dalam hati.
Ia menelan salivanya dengan kasar sambil tersenyum pahit.
"Humph! Jangan pasang wajah memelasmu itu!" Ketus Airi.
"Kamu berhutang penjelasan pada kami!" Sambung Dimas dengan mata disipitkan.
Tak terima kekasihnya diomeli oleh kedua pemuda yang baru datang itu, Jojo langsung membuka bicara, untuk menyelamatkan kekasihnya itu. Bagai pahlawan kesiangan, hahaha🤣.
"Kenapa kalian membentak calon istriku?" Ucapnya sedikit berteriak, sambil memicingkan matanya.
"Lagi? Calon istri?" Lagi-lagi Airi dan Dimas berteriak karna saking kagetnya.
"Iya, dia calon istriku!" Sahut Jojo bangga. Sementara Kara ia hanya terdiam, tak berani berbicara lagi. Ia menundukkan kepalanya sambil memijit-mijitt keningnya untuk menghindari tatapan mematikan kedua serigala itu.
"Jangan hanya diam saja, Ra! Sebaiknya kamu jelaskan sekarang juga, atau.. aku akan benar-benar memarahimu!" Teriak Dimas penuh dengan kekesalannya.
"Apa kami masih sahabat mu? Kenapa kamu tidak memberitahu kami tentang hal ini? Apa dia orang baik atau tidak, bagaimana kamu bisa tahu? Atau.. dia hanya memanfaatkan mu saja seperti Reyhan si b******n itu. Seharusnya, bla.. bla.. bla!" Celoteh Airi tanpa henti.
"Ehh, tidak.. tidak. Maksudku, sebaiknya.. kita masuk dulu. Kita bicarakan di dalam, ok?" Timpal Kara dengan wajah memelasnya.
__ADS_1
"Bukan berarti kami sudah memaafkan mu, ya?" Sahut Dimas lagi dengan tatapan mematikannya. "Glek! Lagi-lagi Kara menelan salivanya. Kemudian, mereka berjalan menuju ke ruang tamu.
"Di ruang tamu"
Kara duduk berdampingan dengan Jojo, sedangkan Airi duduk disamping Dimas.
Keduanya menunjukkan tatapan mematikannya kepada Kara. Sebenarnya, dia ingin sekali memberitahu keduanya selama ini. Tapi, ia tidak mau keduanya khawatir padanya. Jadi, dia memutuskan untuk tidak memberitahunya dulu. Beberapa saat kemudian, ia memutuskan untuk berbicara agar kedua sahabatnya itu tidak salah paham lagi dengannya.
"Itu.. dia memang kekasih ku! Dan, hubungan kami baru berjalan selama beberapa bulan. Dialah orang yang menyelamatkan ku dari anak buah Reyhan saat itu" Ucapnya penuh hati-hati.
"Apa? Menyelamatkan? Maksudmu.. " Ucapan Airi langsung dipotong oleh Kara.
"Benar!" Kara segera mengiyakannya, karna sudah tahu maksud dari Airi.
"Meskipun begitu, tapi.. tidak harus pacaran kan? Apalagi tinggal bersama? Dan lagi.. tampaknya dia bukan orang baik deh. Kenapa lo gak nanya dulu ke kita? Humph!" Gerutu Dimas.
Mendengar dirinya diledek, Jojo langsung menggeram, rahangnya mengeras dan tatapannya.. siapa yang akan tahan melihatnya begitu. Seketika, amarahnya mereda karna Kara memujinya dihadapan kedua pemuda itu.
"Masalah itu, kalian tidak perlu khawatir. Karna kami saling mencintai. Dia orang yang baik. Jauh berbeda dari Reyhan. Dan lagi.. meskipun kami tinggal bersama, tapi percayalah kami tidak melakukan hal yang tidak senonoh" Ucapnya sambil tersenyum manis. Begitupun dengan Jojo, ia tersenyum bahagia mendengar perkataan Kara barusan. Ia langsung memeluk tubuh Kara dan mencium keningnya dengan penuh kelembutan.
"Cih! Apa kalian tidak tahu tempat? Jangan bermesraan di hadapan kami. Tidak tau malu!" Sahut Dimas merasa kesal. Keduanya tertawa kecil melihat tingkah kesal Dimas.
Sementara Airi hanya tersenyum tipis. Ia berharap, sahabatnya yang satu ini mendapatkan kebahagiaan dari pria dihadapannya itu.
"Ehh.. apa kalian tidak berpikir untuk saling berkenalan?" Sahut Kara dengan mata disipitkan. Mendengar perkataan Kara, Dimas langsung berinisiatif menjadi orang pertama yang memperkenalkan dirinya lebih dulu.
"Kenalin, gue Dimas. Sahabat kandung Kara." Ucapnya dengan nada sombong, membuat Airi sedikit mual.
"Cih! Sahabat kandung, sahabat kandung...! Dasar Dimas si empedu b**i, hahaha" Ledek Airi. Jojo dan Kara hanya terkekeh kecil mendengarnya. Sementara Dimas sudah komat-kamit seperti lubang anus ayam😅.
Airi tidak menghiraukannya. Dan sebaliknya, ia malah bersikap cuek.
"Kenalin, saya Airi. Sahabat baik Kara" Ucapnya sopan sembari tersenyum tipis.
"Panggil saja saya, Jojo!" Timpal Jojo singkat.
"Tapi, sepertinya.. anda bukan warga negara asli sini?" Tanya Airi penasaran.
"Benar, kita sama. Sama-sama keturunan Indonesia." Sahutnya datar.
"Kruyuk..kruyuk.. kruyuk! Perut Dimas berbunyi, membuat ketiganya saling bertatapan.
__ADS_1
"Itu, gue.. gue lapar, guys!" Ucapnya dengan nada memelasnya.
"Hahahaha! Dasar lo, Dim! Baru juga nyampe, udah lapar aja tuh perut" Ledek Airi lagi sambil mengeluarkan lidahnya.
Kara hanya menggelengkan kepalanya, melihat aksi keduanya yang selalu berdebat setiap kali bertemu.
"Dasar Tom and Jerry!" Ucap Kara meledek.
"Sudahlah, sebaiknya kita sarapan dulu. Atau nanti Dimas akan benar-benar mati kelaparan, hahaha!" Lanjutnya lagi sembari tertawa kecil.
Mereka melangkah menuju ke meja makan. Pagi ini, Jojo masak banyak. Jadi, cukuplah untuk sarapan mereka berempat. Mereka makan dengan lahap tanpa berbicara.
Setelah usai makan, mereka berbincang-bincang kecil sekaligus melepas rindu antar sahabat itu.
"Akhh, kenyang sekali! Masakannya juga enak. Rasanya aku ingin tinggal di sini sepanjang hari, agar bisa makan masakan enak seperti ini" Sahut Dimas, tanpa sadar sudah memuji Jojo yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Benarkah?" Sahut Kara senang. Ia senang karna Dimas memuji keahlian kekasihnya, menandakan bahwa dia tidak salah pilih kali ini.
"Iya. Masakan Kara-ku memang yang terbaik" Ucap Dimas dengan senyum mengembangnya.
"Hahaha..! Tapi sayangnya, itu bukan masakanku!" Sahut Kara, membuat senyum Dimas perlahan menghilang.
"Jadi?"
"Itu masakan ku!" Sahut Jojo dengan bangga.
"Apa? Uhuk.. siapa bilang masakan mu enak? Biasa aja. Tadi kalian pasti salah dengar!" Ucapnya membela diri. Ia menyesal telah memuji masakan Jojo barusan. Meskipun kenyataannya memang enak.
Jojo hanya terkekeh mendengarnya.
"Ahh, kalau begitu... nanti dan selanjutnya, selama kamu tinggal di sini.. kamu makan diluar saja. Tidak diijinkan makan di sini!" Ucapnya berpura-pura tegas, sebenarnya hatinya tertawa. Menurutnya, sikap Dimas yang begini.. pantas dijahili.
"Hahaha.. aku hanya bercanda!" Timpal Dimas sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi, kamu harus memanggilku kakak! Dan lagi, jangan bermusuhan dengan ku. Mengerti?" Sahut Jojo dengan nada sombong.
"Ba, baiklah.. ka, kakak!" Sahutnya terbata.
"Untung saja masakan mu enak. Kalau tidak, aku akan benar-benar memusuhimu. Dan menolak untuk memanggil mu kakak." Gumamnya dalam hati.
"Cih! Hanya disogok dengan makanan saja, langsung nurut gitu. Dasar Dimas rakus!" Sahut Airi meledek.
__ADS_1
Kara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ketiganya. Tanpa disadari, Jojo dan Dimas semakin akrab dan tidak lagi saling mewaspadai satu sama lain.
TBC