My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 75: Aku masih menyukaimu!


__ADS_3

Keesokan harinya..


Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Akhirnya, Kara terbangun dikarenakan perutnya yang sudah mulai keroncongan. Ia mengusap wajahnya perlahan seraya bangkit dari rebahannya.


"Emm.. lapar banget lagi!" Gumamannya pelan. Ia memegangi perut datarnya yang sudah terasa kosong. Karna memang, ia belum makan apa-apa sejak kemarin sore. Tanpa banyak berpikir lagi, ia segera bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Setengah jam kemudian, ia keluar dengan hanya mengenakan kimono membalut tubuh mungilnya. Ia lalu berjalan menuju ke lemari pakaiannya, untuk memilih baju yang akan ia pakai. Matanya tertuju pada dres polos selutut, berwarna hijau tua. Setelah selesai memakainya, ia kembali berjalan menuju ke meja riasnya. Seperti biasa, kala ia sedang dirumah, Kara hanya akan mentouch-up sedikit pelembab diwajah cantiknya. Dan rambutnya, ia ikat dengan asal.


"Emm? Ia menyerngitkan dahinya, menatap wajahnya di cermin.


"Sepertinya, aku lebih kurus dari sebelumnya!" Gumamnya pelan seraya memegangi setiap bagian wajahnya.


"Kruyuk.. kruyuk..kruyuk! Bunyi perutnya kembali menyadarkannya. "Ahh? Seketika ia memukul jidatnya.


"Dasar Kara bodoh!" Batinnya merasa bodoh. Karna ia hampir saja lupa, jika perutnya masih belum diisi.


Ia lalu beranjak keluar dari kamarnya. Saat hendak melewati ruang keluarga, ia mendongak, mendapati kakaknya beserta Jojo dan Zack tengah tidur sembarangan disofa ruangan itu.


"Mengapa mereka tertidur disini?" Ucapnya pelan. Ia menghampiri ketiganya.


"Hahaha.." Kara tertawa kecil melihat posisi ketiganya, yang tidur berhimpitan diatas satu sofa. Untung sofanya sedikit lebih besar dari ukuran biasanya. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Hei, bangun!" Sahutnya pelan seraya menggoyangkan tubuh Jojo. Ia juga memukul kecil wajah kakaknya. Namun, tak direspon sama sekali.


"Aha? Entah ide apa yang terlintas dipikirannya kali ini. Ia tampak sedang mengotak-atik ponselnya. Ternyata, ia berencana mengabadikan momen langka itu kedalam sebuah video melalui ponselnya.


"Bukan Kara namanya, kalau tidak bisa menjahili kakak sendiri!" Ucapnya merasa kesenangan.


Dan benar saja. Ia mengambil beberapa gambar lucu beserta video ketiga pria didepannya. "Cekrek..cekrek.. cekrek! Tak lupa. Kara sesekali menaruh jemari Jojo kedalam lobang hidung sang kakak. Begitulah seterusnya. Hingga ia merasa puas.


"Emm, perfect!" Ucapnya merasa senang. Ia melihat setiap foto hasil jepretannya barusan. Dan seketika, tawanya lepas hingga memenuhi seisi ruangan.


"Hahaha.." Ia menggeleng-gelengkan kepala, tak kuasa menahan tawanya.


"Seperti homo saja, hihi..." Ucapnya masih cekikikan. Jojo yang mendengar tawa lepasnya barusan, seketika membuka mata beratnya.


"Emm!" Ia mengigau seraya mengucek-ucek matanya, berusaha untuk sadar sepenuhnya. Keningnya sedikit mengerut.


"Siapa pagi-pagi begini yang tertawa seperti kuntilanak?" Batinnya.


Ia tidak tahu, bahwa dirinya sedang mengumpat kekasihnya sendiri. "Fyuh! Terdengar suara helaan nafas beratnya. Namun, Kara masih belum menyadarinya. Ia masih sibuk melihat foto-foto tadi sembari tertawa cekikikan.


"Hihihi.." Disela-sela tawanya, tiba-tiba ia merasakan sentuhan tangan seseorang mendarat dipundaknya.


"Ehh, siapa?" Kagetnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Jojo tengah menatapnya dengan tatapan mengantuk.


"Apa yang kamu tertawakan?" Tanya Jojo sudah melingkarkan tangannya di pinggang ramping Kara. Ia lalu meletakkan kepalanya di bahu gadisnya itu.


"Hah? Kara membulatkan matanya. Secepat mungkin, ia mematikan layar ponselnya.


"Apa dia melihatnya barusan?" Batinnya merasa khawatir.


"Emm? Jojo mengangkat kepalanya, menyadari sikap aneh gadisnya.


"Ahh? Hahaha.. tidak ada!" Sahut Kara sambil tertawa paksa, untuk menghilangkan kegugupannya.


"Benarkah?" Sahut Jojo sedikit memicingkan matanya.


"Tentu saja!" Sahut Kara berbohong. Kini, ia sudah membalikkan badannya. Ia mencubit gemas kedua pipi Jojo. Jojo hanya tersenyum tipis seraya mencium keningnya sekilas.


Ditengah-tengah keromantisan keduanya, tiba-tiba terdengar suara khas bangun tidur David.


"Kalian sedang apa?" Tanyanya masih dengan nada mengantuk. Ia mencoba meregangkan otot-ototnya yang kaku.


"Kakak?" Kara langsung menoleh kearahnya. Ia lalu melepaskan pelukannya dari rangkulan Jojo.


"Tidak apa-apa!" Lanjutnya lagi.


"Emm! David hanya menyahut singkat tak terlalu mempermasalahkannya. Namun, keningnya tampak sedikit mengerut.


"Jam berapa sekarang?" Ucapnya pelan seraya menatap jam dinding ruangan.

__ADS_1


"Masih jam 6 ternyata. Mengapa kamu cepat sekali bangunnya? Apa tidurmu tidak nyenyak?" Sahut David menyuguhkan berbagai pertanyaan kepada sang adik.


"Kara lapar, kak!" Sahut Kara singkat. Ia menghampiri kakaknya dan segera duduk disampingnya.


"Hah? Ya, ampun! Kakak hampir saja lupa!" Sahut David merasa bodoh. Ia memukul pelan jidatnya.


"Kakak kenapa?" Tanya Kara merasa aneh melihat tingkah sang kakak.


"Rumah ini kan, masih baru ditempati? Jadi, belum ada asisten rumah tangga sama sekali. Padahal, kamu udah lapar ya? Yaudah deh, kakak pasrah aja! Kamu bisa menghukum kakak sesukamu." Sahut David merasa bersalah.


"Apaan sih kak? Kara kan bisa masak? Jadi, gak harus dimasakin sama orang lain. Kakak mau makan apa? Biar adikmu saja yang masak. Kara yakin, kakak pasti suka." Sahutnya penuh percaya diri. David hanya tersenyum kaku mendengarnya.


"Iya, kakak tahu! Masalahnya.. bahan masak dirumah belum ada sayang. Kulkas masih kosong menomplong!" Sahut David seraya tertawa kecil.


"Ahh? Gitu ya?" Sahut Kara pelan. Terlihat jelas di wajah cantiknya, bahwa ia sedang kecewa. Padahal, perutnya sudah memburu minta diisi sesegera mungkin. Namun, ia harus menahannya.


"Tidak mungkin kan sekarang belanja lagi? Bisa-bisa keburu pingsan dong, aku.." Batinnya.


Melihat wajah menyedihkannya, membuat kakaknya tidak tega. Terlebih dengan Jojo. Jojo segera menghampiri keduanya. Ia duduk disamping Kara.


"Gimana kalau kita makan diluar aja? Aku ingat ada resto terdekat disekitar sini. Tempatnya juga bagus!" Sahut Jojo antusias.


"Benarkah?" Kara langsung mengangkat kepalanya.


"Baiklah! Aku ganti baju dulu!" Lanjutnya lagi. Ia segera masuk kembali kedalam kamarnya. David hanya menggeleng kepala, tidak percaya adiknya akan sesenang itu.


"Benar-benar menggemaskan!" Sahut keduanya secara bersamaan. Lalu mereka juga segera bersiap, membersihkan tubuhnya dahulu. Tapi sebelum itu, Jojo juga membangunkan Zack untuk ikut bersama mereka. Tidak mungkin kan, meninggalkannya seorang diri disana? Bisa-bisa si banteng akan marah selama 7 hari 7 malam.


Setengah jam kemudian...


Setelah semuanya bersiap, mereka langsung bergegas menuju ke mobil. Kara mengenakan baju kaos oblong hitam, dengan celana jeans warna biru dan sepatu kets putih. Sedangkan untuk ketiga pria, mereka memakai celana pendek berwarna navy, dipadukan dengan kaos oblong hitam.


"Brakk! Suara pintu mobil tertutup. Jojo dan Zack duduk didepan. Sedangkan, kakak beradik itu duduk di kursi belakang. Sebelum mengemudikan mobilnya, Zack sempat menoleh ke belakang.


"Apa se.." Ucapannya tergantung, melihat Kara tengah duduk disamping David. Sejak tadi, ia tidak menyadari kehadiran Kara disana. Ia berpikir, bahwa mereka akan menghabiskan waktu bersama dengan kedua sahabatnya. Namun kali ini, malah dibarengi dengan kehadiran Kara.


"Ehh, bukankah seharusnya kamu duduk dibelakang?" Tanyanya, sudah mengalihkan pandangannya kearah Jojo. Belum sempat Jojo menyahutnya, David langsung membuka bicara.


"Dia adikku!" Sahutnya to the point. Ia sudah mengerti maksud dari perkataannya barusan.


"Huh! Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" Sahut David tak mau kalah serius darinya.


"Jadi.. benar?" Tanya Zack memastikan. Ia kembali menoleh kebelakang.


"Ternyata.. kedua psikopat ini ditakdirkan untuk menjadi saudara ipar!" Batinnya


"Benar!" Sahut David singkat.


"Kapan kamu akan mengemudikan mobilnya? Adikku sudah kelaparan!" Celotehnya lagi memarahi Zack.


"Ahh? Baiklah!" Zack barulah tersadar setelah mendengar omelan David. Ia melajukan mobilnya menuju ke Rania Seafood Restaurant.


"Di Rania Seafood Restaurant"


Setelah mobil tiba, mereka langsung keluar dan bergegas masuk kedalam Restoran. Mereka disambut hangat oleh para pelayan disana.


"Selamat datang, Tuan.. Nona!"


Kali ini, mereka dituntun langsung oleh menejer restoran, memasuki salah satu ruangan VIP. Karna memang Jojo adalah salah satu tamu terpenting disana. Mereka tidak asing lagi dengan wajah Jojo.


Tanpa menunggu waktu lama, mereka langsung memesan berbagai hidangan mewah, sesuai dengan selera masing-masing. Setelah orderan tiba, barulah mereka makan dengan lahapnya. Hanya terdengar suara sendok selama mereka makan, tanpa ada yang berbicara. Tata krama makan mereka memang pantas diacungkan jempol.


Setelah usai makan, barulah mereka mulai berbicara ringan.


"Emm, jika Kara adalah adikmu.. berarti kalian berdua adalah ipar? Benar kan?" Sahut Zack menunjuk kearah kedua sahabatnya itu secara bersamaan.


"Memangnya kenapa?" Ketus Jojo, memicingkan matanya sebelah.


"Ahh.. tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja, hahahah.." Sahut Zack lagi dibarengi dengan tawanya.


"Jadi, berhentilah tertawa!" Kesal Jojo lagi.

__ADS_1


"Emm..! Akhirnya, dua pria psikopat ini terikat menjadi saudara ipar!" Ledek Zack tak mau berhenti.


Sementara Kara, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah ketiganya, yang selalu saja membuli satu sama lain.


"Ternyata.. mereka adalah sahabatan!" Gumamnya dalam hati.


"Kak, aku ke kamar kecil dulu ya?" Sahut Kara menghentikan pembicaraan ketiganya.


"Emm, baiklah!" Sahut David mengiyakan. Kara segera berlalu pergi menuju ke kamar kecil.


Sepuluh menit kemudian, ia keluar dari sana. Saat hendak beranjak, tanpa disengaja ia menabrak seseorang. "Bugh!


"Ahh? Maaf, maaf! Saya tidak sengaja!' Ucapnya sopan seraya mengambil ponselnya yang terjatuh.


"Apa kamu.." Ucapannya terhenti. Ia mendongak, melihat kehadiran Reyhan disana.


"Mengapa pria b******k ini ada disini?" Batinnya merasa jijik.


Namun, Reyhan malah menunjukkan senyum mengembangnya, seperti seseorang yang tidak melakukan kesalahan. Dia sudah kembali, pikirnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya penuh harap.


"Dia.. Kara kan? Sekarang.. dia semakin menawan saja. Andai dulu dia tidak pergi dari sisiku." Batinnya.


"Ya!" Sahut Kara singkat. Ia hendak pergi dari sana, namun tangannya langsung ditahan oleh Reyhan.


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan b******k!" Sahut Kara sedikit berteriak. Ia menghempaskan genggaman Reyhan penuh dengan rasa jijik.


"Mengapa terburu-buru?" Sahut Reyhan seraya mengedipkan matanya sebelah.


"Cih! Siapa kamu berani mengatur ku?" Geramnya, ingin rasanya mencabik-cabik wajah Reyhan saat ini juga.


"Hahaha..! Kamu sudah berubah, sayang! Sekarang, kamu lebih cantik, mulus, fresh. Aku yakin, semua pria akan tergila-gila padamu." Ucapnya penuh dengan tatapan mesum.


"Emm, aku ingin memberitahumu satu hal. Aku masih menyukaimu!" Ucapnya penuh percaya diri. Kara hanya terdiam, seolah tidak mempedulikannya. Tidak bisa dipungkiri, saat ini yang ada dalam hatinya hanyalah ingin balas dendam sesegera mungkin.


"Aku yakin! Kamu juga masih mencintai ku kan? Tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan ku didalam hatimu. Benarkan?" Lanjutnya lagi masih dengan nada sombongnya. Ia hendak menyentuh wajah Kara. Namun tangannya langsung dihentikan oleh Jojo. "Grep! Suara genggaman erat tangannya.


"Singkirkan tangan kotormu! Jangan sampai aku mematahkannya!" Tegasnya seraya menghempaskan tangan Reyhan sekuat mungkin. Hingga tubuhnya terjatuh kelantai.


"Kamu? Siapa kamu?" Teriak Reyhan. Ia menoleh kearah Jojo.


"Bukankah dia Jonathan? Sang pebisnis muda yang legendaris itu? Bagaimana dia bisa mengenal Kara?" Gumamnya dalam hati.


Ia menelan salivanya dengan kasar. Namun, bukan Reyhan namanya jika tidak bisa mendapatkan keinginanku. Tidak peduli sesulit apapun itu, pikirnya.


"Cih! Tuan Jojo, kamu harus tahu. Kalau wanita ini, hanyalah seorang wanita murahan. Dia pasti hanya memanfaatkan mu saja! Menjauhlah darinya! Dia tidak pantas untuk mu." Ucapnya masih belum kapok. Mendengar hinaannya terhadap Kara, membuat Jojo semakin naik pitam. Ia merapatkan giginya. Rahangnya juga sudah mengeras, tak terima gadisnya dikatai sebagai wanita murahan.


"Beraninya kamu mengatai calon istriku?" Geram Jojo sudah mencengkeram kuat kerah bajunya. Hingga membuatnya batuk. "Uhuk..uhuk..uhuk!


"Lepaskan.. ugh, lepaskan saya!" Ucapnya memohon.


"Jika kamu masih berani mengusik calon istriku, bahkan berani menyentuhnya? Aku tidak akan segan-segan menghabisimu!" Tegasnya. Ia kembali menghempaskan tubuh Reyhan begitu saja. Ia lalu bangkit berdiri menghampiri Kara dan meraih tangan mungilnya.


"Kamu.. baik-baik saja kan, sayang?" Ucapnya lembut. Kara pun menganggukkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja!" Ucapnya seraya tersenyum tipis. Ia tidak menyangka, Jojo akan datang tepat waktu.


"Baiklah! Kita pergi sekarang!" Sahut Jojo lagi. Ia merangkul pinggang Kara hendak pergi dari sana. Tapi sebelum pergi, ia kembali menegaskan Reyhan.


"Jangan biarkan aku melihatmu lagi" Tegasnya dengan tatapan mematikannya. Lagi-lagi, Reyhan hanya bisa menelan salivanya. "Glek!


"Apa maksud tatapannya barusan? Apa benar, mereka sepasang kekasih? Tidak mungkin! Kara hanya milikku seorang!" Batinnya, sudah mengepalkan tangannya.


TBC


Halo para readers setiaku:)


Tetap dukung author ya say😍


Jangan lupa kasih jempol, komentar dan votenya, biar author makin semangat heheh🥺

__ADS_1


Tetap semangat untuk kalian dan jaga kesehatan juga, ok?


I lovyu all😘


__ADS_2