My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 32: Terimakasih Kelinci Kecil


__ADS_3

"Cit..cit..cit! Suara burung berkicau. Mentari pagi telah menampakkan keindahannya dan cahayanya yang indah menembus ke dalam kamar si gadis cantik. Deringan alarm membangunkan si empunya kamar.


"Kring..kring..kring" alarm berbunyi begitu nyaring. Lalu Kara segera mematikannya.


"Emmh.. udah pagi ternyata. Tumben tadi malam aku bisa tidur nyenyak!" ucapnya dengan suara khas bangun tidurnya. Dan ia kembali meregangkan otot-ototnya yang kaku.


Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Hai, Rea! Ada apa?" sahutnya girang.


"Halo, Ra! Hari ini.. jadwal shooting kita hanya ada di siang hari. Jam 12 aku jemput, ok?" sahutnya dari seberang.


"Ahh.. oh, gitu ya. Kalau tau gitu aku gak usah bangun pagi-pagi gini. Mending aku tidur lagi. Oh, ya kenapa baru sekarang di kabarin?" sahutnya lagi.


"Oh,itu.. asisten bos, tuan Zack barusan ngabarin aku kalau shooting hari ini di mulai jam 12 siang nanti. Aku juga gak tau kenapa tiba-tiba gitu. Yaudah, aku tutup dulu ya? Aku juga mau istirahat. Bye-bye sayang!" sahut Rea. Lalu mematikan ponselnya.


"Oke, bye!" ucapnya tersenyum bahagia.


"Akhirnya bisa istirahat panjang" gumamnya lalu merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Dan ponselnya kembali berdering.


"Apa Rea bercanda barusan? Baru juga mau tidur udah di telfon lagi" gumamnya pelan. Lalu ia mengambil ponselnya dan segera mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Halo, Rea! Apa barusan kamu bercanda? Kenapa.." suaranya terhenti ketika seorang pria menyahut dari seberang. Ia kembali melihat ponselnya, dan ternyata itu bukanlah panggilan dari Rea melainkan nomor tak dikenal.


"Ini siapa?" sahutnya malas.


"Ini, saya Zack. Saya ingin bertanya.. apa Jojo sedang bersama mu?" tanyanya tidak sabaran.


"Hah? Tuan Jojo? Mana mungkin. Itu tidak mungkin! Dia pasti sudah kembali kemarin" ucapnya penuh percaya diri.


"Oh, gitu. Yaudah.. maaf mengganggu!" sahutnya lalu segera memutus teleponnya.


"Ahh.. tidak apa-apa!" ucapnya lagi.


"Apa tuan Jojo tidak kembali? Dimana dia sekarang? Ahh.. kenapa juga aku harus peduli dengannya" gumamnya dalam hati.


"Ibu... jangan pergi!"


Mendengar suara tersebut langsung membuat Kara terkejut dan ketakutan. Segera ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ahh.. apa mak lampir tau tempat tinggal ku? Darimana dia tau? Tapi.. itu suara lelaki. Jika itu bukan suara mak lampir.. lalu itu siapa? Aku, aku.. hanya tinggal seorang diri di sini. Kenapa ada suara orang asing barusan?" ucapnya gemetar.


"Ibu.. ibu! Tolong ibu!" rintihh pria itu lagi.


"Tidak.. aku tidak pernah membunuh! Kenapa kamu menghantui ku? Aku tidak mengenal mu" teriaknya sedikit gemetar.


"Ibu... hiks! Ibu!" teriak pria itu lagi.


"Aihk.. kenapa aku takut? Sepertinya ini suara manusia, bukan suara setan!" Lalu Kara segera bangkit dari rebahannya dan berjalan mencari-cari dari mana suara itu berasal.


"Dari mana, sih? Siapa yang masuk.." ucapannya terhenti dan matanya terbelalak melihat kehadiran pria yang selalu membuatnya kesal berada di apartemennya..


"Kenapa dia ada di sini?" gumamnya.


Pria gagah bertubuh kekar itu sedang tidur di atas sofa di ruangan tamu sebelah kamarnya.


Pria yang terlihat tampan, namun ada perasaan iba saat melihat keadaannya yang sekarang tengah menangis.


Kara melangkah perlahan menghampirinya. Lalu ia duduk di pinggiran sofa dan mengelus wajah tampan Jojo dengan begitu lembut.

__ADS_1


Dan Jojo langsung meraih tangannya dan menggenggamnya.


"Ibu.. jangan tinggalin Jojo! Jojo gak mau sendirian! Ibu.. ibu..?" teriaknya histeris. Bulir-bulir air matanya telah membasahi wajah tampannya.


Kara semakin tidak tega melihatnya dari jarak dekat. Dia mencoba melepaskan genggaman Jojo, namun Jojo semakin mempererat genggamannya dan masih terisak menyebut-nyebut nama ibunya.


Jojo masih mengingat kejadian, sewaktu ibunya kecelakaan. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ibunya dibawa oleh polisi dengan lumuran darah di sekujur tubuhnya. Tentu saja, hal itu membuatnya sangat shock hingga traumatis.


Kara memegang erat genggaman Jojo dan berusaha menenangkannya.


"Aku.. aku tidak akan meninggalkan mu. Aku akan selalu menjaga mu. Dan selalu berada di sisi mu. Jangan khawatir. Kamu tidak sendiri. Percayalah padaku, ok?" ucapnya lembut. Lalu mengusap lembut rambut hitam milik Jojo.


Dan ternyata benar, perlakuan lembut Kara mampu menenangkan jiwanya yang sudah lama terpuruk.


"Kehidupan masa lalu seperti apa yang telah kamu lalui.. hingga membuat mu seterpuruk ini? Membuat mu menangis histeris seperti ini? Itu pasti sangat menyakitkan!" ucapnya pelan.


"Ini nih bibir yang selalu nyosor menempel ke bibir orang lain sembarangan" Dia menyentuh bibir tipis Jojo dengan lembut.


"Kamu seperti ini membuat ku tidak tega.. tidak tega membiarkan mu sendirian untuk menjalani hidup ini! Perlahan.. aku menyadari, kalau hati ku secara perlahan-lahan telah diisi oleh mu! Apa kamu juga berpikir begitu? Ahh.. haha.. lupakanlah! Itu mustahil." gumamnya pelan.


Beberapa saat kemudian, Kara juga ikut tertidur dengan posisi duduk.


Sementara Jojo sudah terbangun.


Dia mengusap wajahnya perlahan. Belum menyadari kehadiran Kara di sana.


"Ahh.. aku bermimpi lagi. Dan aku menangis lagi?" gumamnya pelan.


"Aihk.. ini bukan rumah ku! Lalu aku di mana? Oh ya, baru ingat, kemarin aku tidak pulang karna terlalu lelah! Ini rumah si kelinci kecil, heh!" ucapnya terkekeh.


Flashback off


Karna Jojo merasa kecapean, jadi dia memutuskan untuk beristirahat di apartemen Kara sebentar. Namun, dia tidak menyadari.. dia malah tertidur hingga pagi di sana. Dan lupa menghubungi Zack karna ponselnya kehabisan daya.


Flashback on


Dia ingin bangkit dari rebahannya, namun dia berhenti saat menyadari tangan kanannya yang menggenggam erat tangan Kara.


"Apa dia yang sudah menenangkan ku barusan? Kenapa aku merasakan aman saat berada di sampingnya?" gumamnya pelan. Lalu mengangkat tubuh mungil Kara menuju ke tempat tidur. Dan Jojo merebahkannya di sana. Ia menutupi tubuh Kara dengan selimut tebalnya. Dan.. "Cup! Dia mencium pucuk kepalanya.


"Terimakasih, kelinci kecil" ucapnya tersenyum bahagia.


Kemudian, dia beranjak dari sana menuju ke dapur. Dia berencana membuat sarapan untuk mereka berdua. Setelah kepergiannya ibunya, dia sudah terbiasa hidup mandiri. Memasak sendiri, mencuci pakaian sendiri hingga mempersiapkan segala kebutuhannya. Tak heran jika dia mahir dalam urusan dapur.


Tak butuh waktu yang lama, dia sudah selesai dengan kesibukannya sedari tadi. Dua porsi nasi goreng telah tersaji dan siap untuk disantap.


Sementara di kamar, Kara baru saja terbangun karna aroma masakan yang begitu menggiurkan lidahnya. Dia sampai menelan salivanya.


"Wah.. Siapa yang memasak? Aromanya wangi sekali" gumamnya pelan. lalu beranjak dari sana menuju ke dapur.


Langkahnya terhenti melihat pemandangan langka itu. Seorang pria kaya juga tampan.. tengah sibuk menata meja makan.


"Kenapa aku merasa dia seperti suami idaman ku?" batinnya.


Kemudian pria itu, berjalan menghampirinya. Dan menyadarkannya dari tatapan kosongnya.


"Kenapa kamu bengong? Kamu pasti lapar, kan? Ayo, cicipi masakan ku, aku baru saja membuatkan sarapan sederhana untuk mu. Semoga kamu suka" ucapnya dengan senyum manisnya.


Hal itu membuat Kara merasa bingung dan canggung.


"Ada apa dengannya hari ini? Dia tersenyum bahagia? Biasanya dia hanya menunjukkan wajah datarnya, tapi hari ini dia sangatlah berbeda!" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Jojo menarik kursi untuknya layaknya seorang kekasih.


Lalu mereka makan dengan lahap.


"Bagaimana rasanya?" tanya Jojo penasaran.


"Emm.. ini, ini sangat lezat!" ucapnya memuji.


"Benarkah?" sahutnya lagi.


"Iya" sahutnya singkat.


"Baguslah kalau kamu suka!" ucapnya tersenyum.


"Emm.. itu, aku rasa kamu harus mengabari Zack agar dia tidak khawatir lagi. Tadi dia meneleponku untuk menanyakan keberadaan mu. Tapi, saat itu aku belum menyadari kalau kamu ternyata di sini. Jadi aku bilang padanya kalau kamu tidak di sini" ucapnya hati-hati.


"Aku mengerti!"


Jojo langsung menghubungi Zack. Karna sebelumnya dia sudah mengisi daya baterai ponselnya.


Dalam sekali panggilan, langsung dijawab oleh Zack dari seberang.


"Kamu dimana, huh? Dimana kamu bisa tinggal?" teriaknya. Jojo langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya karna amukan banteng berwujud manusia itu.


"Di apartemen Kara" sahutnya datar.


"Kenapa tidak mengabari ku? Apa kau masih manusia? Jadi dia bersekongkol dengan mu untuk menipu ku? Aku serta bawahan lainnya tidak istirahat semalaman hanya untuk mencari keberadaan mu! Dan kamu baru mengabariku di jam segini? Bagus Jojo. Kamu memang hebat!" ucapnya mengomel.


"Ckckck.. kamu begini jadi mirip dengan emak-emak yang lagi khawatirin anaknya tau.. hahaha.." ejeknya.


Zack berkacak pinggang.


"Iya, aku emang emak mu Jojo! Puas kamu?" kesalnya.


"Baiklah, mak! Nanti akan ku jelaskan secara rinci. Aku tutup telepon dulu. Dadah..!" ucapnya tersenyum. Lalu ia segera mematikan ponselnya menghindari amukan banteng tersebut.


Sementara Kara sudah terkekeh sedari tadi menyaksikan perdebatan keduanya.


"Apa itu lucu?" tanya Jojo. Dia berpura-pura tidak senang.


"Emm.. itu, itu.. aku tidak bermaksud!" ucapnya khawatir. Kara menautkan kedua alisnya.


"Hahaha.. " Jojo terkekeh.


"Kenapa kamu tertawa?" ketusnya.


"Kamu sangat lucu, Kara. Seperti kelinci kecil, hahah.. Aku hanya bercanda tadi." Sahutnya merasa senang.


Wajah Kara sudah bersemu merah. Lagi-lagi dia tersipu malu karna godaan Jojo.


"Hentikan!" Dia langsung berdiri dan menarik lengan Jojo menuju ke luar kamar.


"Aku ingin bersiap-siap pergi bekerja. Dan aku tidak nyaman tinggal dengan orang lain. Silahkan Tuan pergi. Terimakasih untuk sarapannya!" ucapnya sopan dan segera menutup pintu.


"Ehh.. tunggu dulu" sahut Jojo. Namun, Kara mengabaikannya.


Dia berdiri di balik pintu. Masih dengan merona merah di wajahnya.


"Apa yang ku pikirkan? Tenanglah Kara" batinnya sambil mengusap dadanya. Lalu beranjak ke dapur untuk merapikan dapurnya.


Sementara Jojo langsung beranjak pergi dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Cih! Apa aku salah? Kenapa dia mengusir ku? Dasar kelinci kecil. Untung kamu imut, kalau tidak... aku tidak tau aku bisa melakukan apa?" Gerutunya kesal.


TBC


__ADS_2