
"Di Negara K"
Hari ini, Dimas dan Airi akan segera tiba di Bandara Incheon Korea. Mereka sengaja tidak memberitahu Kara tentang kedatangan mereka kali ini. Keduanya ingin memberi sahabat baiknya itu kejutan istimewa.
"Di apartemen Kara"
Kedua insan pasangan muda itu masih tertidur dengan lelap. Jojo mendekap tubuh mungil gadisnya itu dengan erat. Rasa nyaman dan tenang membuatnya tak ingin melepas pelukannya. Hari ini mereka tidak akan bepergian seperti hari-hari sebelumnya. Keduanya ingin bermalas-malasan dan menghabiskan waktu di apartemen saja.
Tiba-tiba suara deringan ponsel membangunkan si empunya kamar. Ia menggeliat kesana-kemari untuk mencari keberadaan ponselnya dan segera mengangkatnya.
"Emm, halo!" Sahutnya dengan nada malas tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Halo, sayang! Kamu lagi apa? Cepat kirimkan alamat tempat tinggal mu! Segera, ya? Gak pake lama, ok?" Sahut Airi senang dari seberang telpon.
"Ehh, Airi? Memangnya ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba meminta alamat ku?" Tanyanya penasaran.
"Ehh, itu rahasia. Pokoknya kamu harus mengirimnya sekarang juga." Sahut Airi dengan nada tegas.
" Udah dulu ya beb. Aku masih ada urusan. Bye-bye!" Lanjutnya lagi dan segera mematikan panggilan teleponnya.
"Baiklah!" Sahut Kara singkat. Lalu kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas di sampingnya.
"Kenapa Airi tiba-tiba meminta alamat ku, ya? Apa dia sedang memata-matai ku? Huh, sudahlah. Lagipula bukan masalah besar." Gumamnya dalam hati.
Jojo ikut terbangun mendengar Kara sedang bertelepon. Perlahan ia membuka matanya.
"Emm? Telpon dari siapa?" Tanyanya dengan suara khas bangun tidurnya.
"Ehh.. kamu udah bangun?" Sahut Kara sedikit kaget mendengar ucapan Jojo barusan.
"Emm, iya!" Ucap Jojo pelan. Ia semakin mempererat pelukannya dan meletakkan wajahnya di leher jenjang Kara.
"Itu telpon dari sahabatku!" Sahut Kara pelan dan membalikkan badannya ke hadapan Jojo.
__ADS_1
Ia menatap lekat wajah tampannya lalu ia menyentuhnya dengan lembut.
"Apa kamu masih mengantuk?" Tanyanya sedikit menyerngit.
"Emm, tidak! Aku hanya merasa nyaman seperti ini!" Sahut Jojo sembari membuka matanya.
"Apa kamu tau? Dulu.. ibuku selalu memelukku ketika aku sedang tidur. Tapi, aku bukan putra yang baik untuknya. Terkadang.. aku kesal dengannya, karna selalu sibuk bekerja. Ayahku lah yang selalu berada dirumah, meski banyak pelayan yang menjagaku. Tapi, aku tidak pernah melihatnya pergi keluar kecuali mengunjungi temannya. Aku selalu berpikir bahwa dia adalah ayah paling hebat di dunia. Saat itu, aku belum mengerti tentang dunia orang dewasa. Dan faktanya, Ibuku lah yang menanggung semua biaya dan kebutuhan hidup kami. Suatu malam, aku pura-pura tertidur saat ibu datang ke kamar ku. Meski lelah, dia tetap melakukannya setiap malam. Dia menghampiri ku, mencium ku dan memelukku lalu tertidur di samping ku. Ternyata, dialah yang selalu memelukku saat aku tidur bukan ayahku. Dan ibuku adalah orang paling berjasa di dalam keluarga kami. Sejak saat itu, aku tidak berani lagi marah padanya. Aku menuruti semua nasihatnya. Tapi, takdir berkata lain. Ibuku mengalami kecelakaan, hingga ia meninggal dunia. Sampai sekarang, aku belum menemukan siapa pelakunya. Aku selalu berusaha mencarinya. Tapi, jalanku buntu seolah dunia menghentikan ku untuk terus menggali kebenarannya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku merasa sangat bersalah padanya." Ucapnya lirih. Meski sulit, tapi ia tetap memberitahu Kara tentang kehidupan masa lalunya.
"Hah?" Kara terkejut mendengar curhatan Jojo barusan.
"Ternyata, hidup mu tidak mudah selama ini." Gumamnya dalam hati.
Kara langsung memeluk Jojo dengan hangat, sembari menepuk-nepuk pundaknya.
"Tidak apa-apa. Pasti ada jalan keluarnya. Kita akan melaluinya bersama, aku akan membantu mu, ok?" Ucap Kara berusaha menenangkannya.
Jojo kembali melanjutkan ucapannya.
"Setelah ibuku meninggal, dunia menuntut ku untuk menjadi dewasa di usiaku yang begitu muda. Ayahku mengakuisi semua aset-aset milik ibuku, kemudian ia kembali menikah. Menikah dengan seorang wanita iblis. Dia selalu menyiksaku. Dan faktanya.. ayahku lebih peduli dan percaya pada wanita itu dibandingkan dengan ku. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Pamanku lah satu-satunya orang yang membantu ku saat itu. Hidup mengerikan, tanpa keluarga.. ku lewati setiap tahunnya. Hingga aku tumbuh dewasa dan berhasil mewujudkan impianku. Itu semua, agar aku punya kekuasaan untuk menggali kebenaran tentang kecelakaan Ibuku. Tapi, aku tak kunjung menemukan tujuanku. Heh, aku benar-benar bodoh!" Ucapnya lagi dengan senyum pahitnya.
"Tolong jangan katakan itu. Hiks.. apa kamu tau? Kamu adalah pria terhebat di dunia. Tinggal sendiri di negeri orang di usia muda.. siapa yang bisa melakukannya? Hanya Jojo-ku seorang yang mampu melakukannya. Kelak, aku tidak akan membiarkan mu sendirian lagi." Sahut Kara lirih. Tangisnya pecah seketika. Kemudian Jojo segera menghapus bulir-bulir air mata Kara yang berjatuhan.
"Tolong, jangan menangis! Aku bisa menjalani kehidupan seperti itu. Bahkan, tiga kali lipat dari itu. Tapi, aku tidak akan sanggup melihat mu menangis. Jadi, jangan menangis lagi, ok?" Ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Bagaimana bisa...?" Ucapan Kara langsung dipotong oleh Jojo. "Sssttttt!" Jojo menutup bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Aku tidak apa-apa sekarang! Aku baik-baik saja." Ucapnya lagi.
Kara hanya menganggukkan kepalanya, lalu kembali memeluk Jojo. Jojo membalas pelukannya dengan hangat.
Lama keduanya berpelukan, Jojo kembali membuka pembicaraan.
"Apa kamu lapar?" Tanya Jojo berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
"Emm.. iya!" Sahut Kara pelan.
"Baiklah, kelinci kecil ku. Bayi besar mu akan memasak sarapan untuk mu!" Sahutnya pelan lalu melangkah pergi menuju ke dapur.
Sementara Kara, ia langsung bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Di dapur"
Jojo tengah sibuk membuatkan sarapan untuk mereka. Ia terlihat sangat ahli dalam hal memasak. Bukan hal baru lagi buatnya. Karna sejak tinggal di luar negeri, mau melakukan apapun.. dia sendiri yang melakukannya. Tanpa pelayan. Jadi, dia sudah terbiasa bergantung pada diri sendiri.
Ternyata, sedari tadi Kara tengah berdiri di sana sedang menatap Jojo dengan penuh rasa kagum. Ia merasa bersyukur memiliki kekasih yang serba bisa.
"Aku tidak salah pilih!" Gumamnya dalam hati.
Tanpa ia sadari, Jojo tengah berdiri di sampingnya.
"Apa yang kamu lihat, nona? Apa priamu begitu menakjubkan?" Ucapnya berbisik ke telinga Kara.
"Ehh, hahaha. Tentu saja!" Ucapnya apa adanya. Jojo langsung menciumnya seketika.
Dan dibalas dengan lembut oleh gadisnya itu.
Disela-sela adegan romantis mereka, tiba-tiba suara bel pintu berbunyi.
"Ehh" Keduanya saling melepaskan dan saling menatap. Kara menjadi merasa canggung.
"Tatapannya selalu membuatku terpesona!" Batin Kara.
Sementara Jojo, ia malah tampak kesal karna seseorang berani mengganggu adegan romantisnya.
"Siapa yang berani mengganggu hari baikku?" Sahutnya dengan nada kesal.
"Aku, aku akan membuka pintu dulu!" Sahut Kara dengan wajah semu merahnya. Lalu melangkahkan kakinya menuju ke pintu. Ia segera membukanya dan..
__ADS_1
"Ahhh.... Dimassss, Airiiii!" Teriaknya, membuat Jojo terkaget.
TBC