My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 81: KARMA


__ADS_3

"Di ruang istirahat"


Rani langsung meminta Bagus untuk mengangkat tubuh mungil Kara keatas ranjang tempat tidur. Matanya berbinar-binar, bisa melihat Kara dari dekat.


"Haruskah aku memulainya sekarang?" Ucapnya tak sabaran. Tubuhnya seolah tak bisa ia kontrol, melihat Kara yang kini berbaring didekatnya.


"Tunggu dulu!" Sahut Rani, sambil memasang kamera. Bagus pun langsung menghampirinya.


"Dasar tidak berguna!" Kesalnya, menyalahkan Rani yang lamban. Mendengar hal itu, Rani tidak terima. Ia kembali meneriaki Bagus.


"Apa kamu menyalahkan ku?" Teriaknya begitu keras. Keberanian Bagus malah menciut mendengar teriakannya.


"Tidak, tidak!" Ucapnya seraya menggosok-gosok kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak ingin Rani malah makin memperpanjang masalahnya.


Sementara itu, Kara mulai membuka matanya. Ia menatap keseisi ruangan. Namun, kepalanya masih terasa pusing. Dan tubuhnya memanas seperti terbakar api.


"Apa yang terjadi?" Gumamnya pelan. Ia menyerngit mendapati Rani yang tak jauh dari pandangannya. Keduanya bertatapan cukup lama. Beberapa waktu kemudian, Rani datang menghampirinya dan langsung mencengkeram dagunya dengan begitu keras.


"Hari ini.. kamu akan berakhir!" Bisiknya ketelinga Kara. Ia menunjukkan senyum meremehkannya. "Heh!


"Apa.. apa yang kamu inginkan?" Tanya Kara pelan. Tubuhnya sangat lemah, hingga membuatnya sulit untuk bergerak leluasa.


"Apa yang ku inginkan? Hahaha..! Lihat pria disana!" Rani mengarahkan kepala Kara menoleh ke Bagus.


"Dia akan memuaskan nafsu mu hari ini. Aku yakin, kalian pasti akan bersenang-senang. Hahahahhh.." Lanjutnya sambil terkekeh bahagia. Kara langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Itu tidak mungkin!" Teriak Kara sudah khawatir. Lagi-lagi Rani mencengkeram dagunya. "Cih! Ia berdecih kewajah Kara.


"Tidak perlu berpura-pura polos di hadapan ku. Lagipula.. aku yakin, kamu sudah terbiasa tidur dengan para pria gigolo. Benarkan?" Pekiknya. Kara hanya menggeleng, berusaha menahan rasa sakit dari cengkeraman tangan Rani di dagunya.


"Ini semua karna kesalahan mu Kara! Kamu berani berebut pria yang sama dengan ku. Aku bisa terima, kalau kamu selalu lebih baik dariku. Tapi tidak dengan Jojo. Dia hanya boleh menjadi milikku!" Ucapnya penuh amarah. Kara yang merasa lucu dengan perkataannya, langsung menepuk pelan wajah Rani.


"Emm! Jangan bertindak bodoh Rani! Untuk apa kamu menanam kebencian dihatimu? Semua keinginan mu hari ini, tidak akan pernah bisa kau dapatkan" Sahutnya sambil terkekeh kecil. "Plakkk! Sebuah tamparan langsung mendarat diwajah cantiknya. Rani dengan beraninya menamparnya, karna tidak terima dirinya diremehkan oleh Kara. Tangannya terkepal, dan matanya melotot hampir keluar.


"Jika kamu berani mengoceh lagi, aku akan.." Belum selesai ia berbicara, Kara langsung mendahuluinya.


"Akan apa? Menampar ku lagi? Hahahah...! Rani.. Rani! Seberapa besar kebencian mu padaku.. aku sama sekali tidak peduli. Aku hanya ingin memberitahu mu satu hal, bahwa kamu hanya bisa menjadi saksi atas kebahagiaan ku. Ini adalah karma untukmu! Karna kamu T-A-M-A-K!" Bisik Kara ketelinganya. Hal itu membuatnya semakin gila.


"Kamu benar-benar keras kepala! Dasar wanita j****g!" Teriaknya membabi buta. Ia hendak menampar wajah Kara lagi, namun ditahan oleh Bagus.


"Jika dia sampai lebam, aku tidak bisa lagi menikmati wajah cantiknya!" Sahut Bagas penuh nafsu. Mendengar hal itu, Rani segera melepaskan tangannya dan beranjak dari sana.


"Ayo, mulai!" Ucapnya sambil mengarahkan kamera kearah keduanya. Ia tersenyum penuh kemenangan.


"Meskipun kamu berani menghinaku, tapi aku tidak akan memperhitungkannya kali ini. Karna kamu sudah tamat! Enyahlah wanita s****n!" Batinnya senang.


Mendengar instruksi darinya, Bagas segera memulai aksinya. Ia menyentuh wajah Kara dan hendak menciumnya, namun Kara segera menghindar. "Plak! Ia menghempaskan tangan Bagus. Meski tubuhnya sudah melemah, tapi ia berusaha menghindar.


"Menyingkirlah dariku b*****h!" Teriaknya merasa jijik. Bagas yang mendapat perlawanan darinya, malah tertawa senang. "Hahahah..." Ia melepaskan bajunya dahulu.


"Benar-benar imut! Apa kamu tahu? Kamu yang seperti ini, semakin membangkitkan hasrat ku!" Ucapnya penuh nafsu. Ia kembali meraih tangan Kara.


"Kemarilah, sayang! Aku akan bersikap lembut! Kamu hanya perlu diam saja." Sahutnya lagi. Lagi-lagi Kara menghempaskan tangannya. Namun, tubuhnya sudah semakin melemah tak berdaya.


"Enyahlah dari hadapan ku! Pergi!" Teriaknya berusaha terlepas. "Hosh..hosh..hosh! Nafasnya terengah-engah. Bagus tidak berhenti sampai disitu. Melihat Kara yang sudah tak berdaya, membuatnya ingin segera melahapnya. Saat tangannya hendak menyentuh bagian sensitif Kara, tiba-tiba pintu terbuka. "Brakk! Bagus langsung berteriak, karna merasa terganggu.


"Siapa yang berani mengganggu ku, huh?" Pekiknya, sambil menoleh kearah pintu. Matanya membulat sempurna melihat kehadiran Jojo disana, yang sudah melototinya dengan tajam.


"A, apa?" Ucapnya terbata. Jojo langsung menghampiri


nya dan meninju wajahnya penuh amarah. "Bugh! Lalu mencengkeram kuat kerah bajunya.


"Cari mati?" Sarkasnya keras. Ia menghempaskan tubuh Bagus kelantai. Dan lagi-lagi ia menggebukinya dengan penuh amarah. "Bugh..bugh..bugh! Wajah Bagus kini sudah babak belur. Rani yang menyaksikan nya, meringkuk ketakutan sambil menutup mulutnya dengan tangannya.

__ADS_1


"Pria ini, Jojo.. seperti, seperti seorang iblis!" Ucapnya gemetar. Baru saja ia mengumpat Jojo, pria yang dikatainya langsung menoleh kearahnya. Tatapan mata tajamnya, benar-benar menakutkan, hingga membuat Rani tak berani bergeming. Jojo beranjak menghampirinya dan langsung mencengkeram dagunya dengan sekuat tenaga.


"Bukankah aku sudah pernah memperingatkan mu? Dasar wanita j****g! Enyahlah!" Teriaknya, sambil menghempas tubuh Rani. Dengan tidak tahu malunya, Rani memegang lengannya.


"Aku.. aku melakukannya, karna.. karna aku menyukai mu. Bukan, bukan! Ini rencana wanita s****n ini! Dia menjebak ku! Ya! Dia menjebak ku! Ucapnya berusaha meyakinkan Jojo, sambil menunjuk kerah Ratmi, yang berdiri tak jauh darinya. Ratmi langsung menggeleng, karna memang ini bukan bagian rencananya. Ia hanya diancam saja.


"Cih! Jojo berdecih disertai tawa jahatnya.


"Masih ingin berdalih?" Ucapnya datar. Rani lagi-lagi berbohong.


"Aku tidak berdalih! Apa yang ku katakan itu benar! Aku tidak berbohong!" Sahutnya lagi. Mendengar ocehan tak bermutunya, membuat kuping Jojo semakin risih. Ia mengibaskan tangannya, agar terlepas dari pelukan Rani di lengan.


"Singkirkan tangan kotormu itu dariku!" Teriaknya merasa jijik. Ia lalu menjentikkan jarinya, memanggil anak buahnya.


"Kami disini Tuan!" Sahut mereka bersamaan.


"Singkirkan kedua b*****h ini!" Sahutnya datar dan dibalas anggukan oleh mereka.


"Baik, Tuan!" Mereka langsung menarik Rani dan Bagus layaknya binatang tak berharga. Tapi sebelum itu, Jojo kembali mengangkat tangannya keatas. Hal itu membuat anak buahnya berhenti.


"Putuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan pria b******k ini. Dan beritahu media, kalau perusahaannya sudah bangkrut! Sisanya, kalian lapor polisi!" Tegasnya masih dengan wajah muramnya. Mendengar kata polisi, Rani langsung berteriak ketakutan. Aku tidak mau mendekam dalam penjara, pikirnya.


"Tidak! Aku tidak mau di penjara! Kalian lepaskan aku! Aku adalah calon istri bos mu! Bukan wanita s****n itu!" Pekiknya. Begitupun dengan Bagus. Ia juga ikut berteriak minta tolong.


"Tolong, tolong maafkan saya Tuan! Aku tidak bermaksud. Ini adalah rencana wanita gila ini. Aku tidak bermaksud!" Pintanya memohon, namun tidak dipedulikan oleh Jojo sama sekali.


Ditengah-tengah keributan keduanya, tiba-tiba suara rendah Kara kembali membuyarkan pikiran Jojo.


"Jojo.. kamu, kamu disana?" Ucapnya pelan. Jojo segera menghampirinya. Dan mendekapnya kedalam pelukan hangatnya.


"Aku disini, sayang!" Ucapnya lembut. Ia berkali-kali menciumi kening Kara.


"Apa mereka menyakiti mu?" Tanyanya khawatir. Namun, Kara hanya menggeleng. Keringatnya bercucuran disertai nafas yang memburu.


"Panas! Tubuhku sangat panas!" Sahut Kara sudah mencengkeram kerah baju Jojo. Jojo yang merasa ambigu, tidak tau harus berbuat apa.


"Apa mereka memberinya obat perangsang?" Batinnya.


Tanpa banyak berpikir lagi, Jojo langsung menoleh kearah Ratmi dan memintanya memanggil dokter khusus perusahaan FJ.


"Tolong panggilkan Dr. Sindi, secepatnya!" Pintanya dengan nada rendah. "Hah? Ratmi mendongak mendengar ucapannya. Namun ia tidak berani mempertanyakannya lagi.


"Baik, Tuan!" Sahutnya dan segera pergi berlalu dari sana.


Sembari menunggu kedatangan Dr.Sindi, Jojo hanya bisa mengusap keringat Kara. Saat menyentuh pipi kirinya, tiba-tiba ia menaikkan kedua alisnya melihat wajah Kara yang memerah.


"Apa wanita j****g itu berani menampar mu?" Batinnya.


Ia mengepalkan tangannya.


"Aku tidak akan melepas mu!" Umpatnya dalam hati.


Lagi-lagi ucapan Kara menyadarkan lamunannya.


"Panas.. sangat panas! Tolong aku.." Ucapnya sudah bergeser ke kanan dan kiri seperti cacing kepanasan.


"Tenanglah, sayang! Sebentar lagi, dokter akan kemari, ok?" Sahut Jojo berusaha menenangkan Kara. Namun Kara kembali meraih tangannya.


"Panas!" Ucapnya dengan wajah memelasnya. Jojo yang tidak tega melihatnya, kemudian menghela nafasnya.


"Sepertinya.. hanya bisa begini!" Batinnya.


Ia lalu mencium bibir ranum Kara dengan lembut. Saat keduanya hampir terhanyut dalam suasana, tiba-tiba pintu kembali terbuka. "Brakk!

__ADS_1


"Tuan, saya da..." Ucapan Sindi terpotong, kala melihat posisi keduanya. Mendengar hal itu, secepat kilat Jojo langsung bangkit dari ranjang. "Uhuk..uhuk! Ia berbatuk kecil mencairkan suasana canggung disana.


"Cepat periksa dia!" Pintanya dengan nada datar. Seperti biasa, ia selalu bersikap seolah tidak bersalah. Padahal sudah menodai mata polos Ratmi dan Dr.Sindi.


"Baik, baik Tuan!" Sahut Sindi merasa bersalah. Ia takut Jojo akan memperhitungkannya nanti.


Setengah jam kemudian..


Setelah selesai diperiksa dan diberi suntikan oleh Dr.Sindi, Kara mulai merasa tenang dan perlahan bisa memejamkan matanya.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Jojo masih terlihat khawatir.


"Nona Kara akan segera membaik, Tuan! Sekarang.. dia hanya perlu istirahat saja!" Sahut Sindi sambil tersenyum tipis. Ia bergumam dalam hati, melihat Jojo yang tampak sangat mengkhawatirkan Kara.


"Baru kali ini.. aku melihat Tuan Jojo mengkhawatirkan seorang gadis. Sepertinya, mereka adalah pasangan kekasih? Hemm.. wanita ini sangat beruntung!" Batinnya merasa cemburu.


"Baiklah! Kalian boleh pergi!" Sahut Jojo lagi, yang menyadarkan lamunannya. "Hah? Ia mendongak karna terkejut.


"Baik, baik Tuan!" Sahutnya dan Ratmi secara bersamaan. Keduanya langsung beranjak pergi dari sana.


Sementara Jojo, ia kembali menghampiri Kara. Ia mengelus kedua tangan mungilnya dengan lembut disertai senyum mengembangnya.


"Syukurlah kamu baik-baik saja, sayang!" Ucapnya lega. Keningnya kembali mengerut.


"Untung saja aku tidak terlambat. Bagaimana kalau aku.." Ia menghentikan ucapannya. Lalu kembali menoleh kearah Kara.


"Aku mencintaimu, sayang! Bagaimanapun aku tidak ingin kamu terluka. Tolong jangan membuat ku khawatir lagi!" Lanjutnya seraya mencium keningnya.


Beberapa saat kemudian, ia menghubungi David. "Tut..tut..tut! Tak menunggu waktu lama, ada sahutan dari seberang telpon.


"Halo!" Terdengar suara khas David dari seberang.


"Halo!" Sahut Jojo datar.


"Ada apa? Apa ada masalah disana?" Sahut David penasaran.


"Ya! Tadi terjadi sesuatu disini!'


"Emm? Apa itu?"


"Kara hampir saja dinodai oleh Bagus!"


"Apaaa?" David berteriak begitu keras disertai suara gebrakan meja yang begitu keras. "Brakk!


"Ya! Dan ini ada hubungannya dengan wanita j****g itu"


"Beraninya dia?" Pekik David penuh amarah.


"Jadi, masalah ini.. aku serahkan padamu saja. Sementara aku akan menjaga Kara disini. Dan menunggunya hingga tersadar." Lanjut Jojo seraya menghela nafasnya.


"Bagaimana dengan Kara? Apa dia baik-baik saja?"


"Dia baik-baik saja! Kamu tidak perlu khawatir." Jojo kembali'mengusap-usap rambut Kara.


"Baiklah!" Setelah David mengiyakan perkataannya, Jojo langsung memutuskan panggilan teleponnya. Ia tak henti-hentinya menciumi jari-jemari wanita dihadapannya.


"Tidurlah, kelinci kecil ku! Aku akan menemanimu disini!" Ucapnya lembut seraya tersenyum manis.


"Aku pernah berjanji pada ibu, untuk menikahi mu. Aku akan segera mengabulkannya! Karna kamu sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup ku, sejak kita bertemu!" Gumamnya penuh kasih.


TBC


Halo para readers setiaku:)

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak❤️


I lovyu all😘


__ADS_2