
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-unggu oleh semua orang. Bagaimana tidak? Akhir-akhir ini orang nomor satu ini kerap diperbincangkan dikalangan masyarakat. Rumor ia tengah menjalin hubungan asmara tersebar pesat hingga ke Negara tetangga. Banyak orang terkejut dan bertanya-tanya, siapa wanita yang berhasil mendapatkan peringkat menjadi wanita kesayangan Tuan muda Jojo. Sebab, banyak wanita yang mendambakan hal itu. Jojo sendiri telah memantapkan niatnya untuk mempersunting Kara sebagai istrinya. Dan sekarang tibalah saatnya.
"Di sebuah kamar VIP"
Kini, Kara sedang duduk didepan meja rias. Ia terlihat sangat cantik dan berkharisma dengan sentuhan makeup diwajahnya.
"Wahh.. nona Kara memang sangat sangat cantik!" Puji seorang anggota Mua sewaannya.
"Itulah mengapa banyak pria yang berebut dengan Nona!" Sambung seorangnya lagi dengan perkataan jujur.
"Ehhh? Kalian terlalu memuji ku!" Ucap Kara sedikit canggung. Tapi kedua Mua tersebut langsung menggeleng kepala, menandakan tidak setuju dengan perkataannya barusan.
"Nona adalah pemeran utama untuk acara hari ini. Dan saya pastikan, tidak ada seorang gadis manapun yang bisa menandingi keanggunan Nona kami. Bahkan, gadis-gadis dari kalangan atas saja tidak sebanding dengan Nona" Sahut mereka serempak. Kara hanya tersenyum kaku tanpa berbicara.
"Benarkah?" Batinnya.
Perasaan yang bercampur aduk, antara bahagia dan juga deg-degan. Jauh dilubuk hatinya, ia juga merasa kurang dengan dirinya. Bagaimana tidak? Di hari bahagianya ini, ia tidak akan didampingi oleh mendiang orangtuanya. Tentu, semua orang ingin melewati momen-momen indah dalam hidup bersama dengan orang yang kita cintai. Terkhususnya, orangtua.
"Mama.. Papa.. bolehkah aku menitikkan air mata di hari bahagia ku ini? Aku bahagia bisa menikah dengan pria yang kucintai, juga sedih tanpa adanya kalian disisiku" Gumamnya pelan.
Kedua wanita disampingnya saling menatap dengan raut wajah yang memprihatinkan.
"Orang tua Nona pasti ikut bahagia, melihat Nona bisa bahagia. Apalagi akan menikah dengan pria baik seperti Tuan Jojo." Hibur mereka, mencoba meyakinkannya. Kara hanya bisa mengangguk, mendengarkan.
Selepas itu, mereka pun membantu Kara mengenakan gaunnya. Gaun mewah berwarna silver itu terlihat sangat menawan ditubuh indahnya. Keduanya menatap tak percaya dengan keanggunan seorang Kara. Meski mereka sudah sangat sering melihatnya di Tv dan media sosial, tapi jika dibandingkan dengan aslinya, ia jauh lebih cantik.
"Benar-benar anggun! Aku yang seorang wanita saja bahkan tidak bisa berpaling menatap Nona. Apalagi dengan pria nantinya? Mereka pasti sangat kagum dengan Nona!" Lagi dan lagi keduanya memujinya dengan wajah berseri-seri.
"Tok..tok..tok! Ketukan suara pintu menghentikan pembicaraan ketiganya. Keduanya langsung membungkuk sopan, melihat kedatangan David disana.
"Apa semuanya sudah beres?" Tanyanya tanpa basa-basi.
"Sudah, Tuan!"
David menghampiri adiknya yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya. Ia menampakkan senyum sumringahnya, lalu mengusap wajah menawan adiknya.
"Kamu terlihat sangat cantik, adikku" Ucapnya lembut. Kara hanya terdiam dan langsung berhambur memeluknya. David tahu, jika adiknya sangat mendambakan kehadiran orangtua mereka sekarang. Tapi, semua itu tidak mungkin.
"Kakak tahu apa yang kamu rasakan sayang. Tapi percayalah, Mama dan Papa kita juga pasti sangat senang melihat mu dari surga." Ucapnya pelan sambil menepuk-nepuk punggung sang adik.
"Lagipula, meskipun raga Mama dan Papa sudah tidak ada, tapi mereka akan selamanya berada di hati kita." Lanjutnya lagi. Sementara Kara mendongakkan kepalanya, menatap sang kakak yang masih ia peluk dengan erat dan mulai tersenyum.
"Iya, kak!" Angguknya.
"Nah, gitu dong.." David mentoel gemas hidung adiknya. Lalu menggenggam jemari mungil gadis itu, seraya menuntunnya keluar ruangan.
"Kita pergi, yuk? Semua pasti sudah menunggu!" Ajaknya tak sabaran.
Mereka menaiki sebuah mobil mewah yang dihiasi dengan bunga-bunga yang masih fresh dan cantik. Bersamaan dengan itu, mobil tersebut dikawal oleh para bodyguard Jojo yang ia khususkan untuk menjaga keamanan pengantinnya selama perjalanan nanti. Memang jarak tempuhnya tidak terlalu jauh, tapi untuk berjaga-jaga dari ancaman para musuh sehingga tidak membahayakan calon pengantin. Jalanan tampak dipenuhi dengan deretan mobil mewah saja, seolah semuanya sudah diatur sebelumnya.
Sementara itu..
__ADS_1
"Di Halaman Gereja"
Sesuai keinginan Kara, Jojo mengabulkan permintaannya. Keinginan untuk mengucap janji suci di depan Altar Tuhan, adalah dambaannya sejak kecil. Setiap sudut Gereja telah didekorasi dengan hiasan bunga-bunga yang tak ternilai harganya. Jojo memang menghabiskan tak sedikit uang untuk hari ini. Tapi, itu bukanlah apa-apa baginya. Yang terpenting adalah kebahagiaan gadis pilihannya, yang akan segera berstatus menjadi istrinya.
"Huh! Ia menghela nafasnya, sambil berjalan kesana-kemari, untuk menghilangkan rasa gugupnya. Tuan Mourinho dan Tuan Alfred yang tadinya berbincang dengan beberapa tamu undangan pun lalu menyudahi perbincangannya dan menghampiri Jojo yang sejak tadi mereka perhatikan. "Uhuk! Tuan Alfred berbatuk kecil dan sudah menyadarkan lamunan putranya.
"Ehhh? Ayah? Kakek?" Ucapnya sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Semua pria memang begitu. Ia akan terlihat menyeramkan dihadapan orang lain. Tetapi jika menyangkut hal tentang wanitanya, ia akan gugup dan menjadi bodoh." Ucapnya jujur. Karna dulu, ia memang demikian. Sama persis dengan Jojo yang sekarang. Seperti kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, pikir Tuan Mourinho sambil terkekeh kecil.
Jojo yang mendengarnya pun hanya bisa tersenyum, menyadari perkataan ayahnya barusan. Yang berarti, keduanya memiliki sifat yang sama.
"Huh! Tuan Alfred menghela nafasnya sambil melirik jam tangannya.
"Sudah jam segini. Mari masuk! Mereka akan segera tiba." Ucapnya mengajak Jojo serta Tuan Mourinho untuk segera memasuki Gereja. Ketiganya berjalan pergi menuju ke dalam.
Tak berselang lama, orang yang dinantikan pun tiba. Segera MC memanggil pengantin wanita untuk memasuki Gereja. David menuntun Kara berjalan masuk. Semua mata tertuju padanya.
"Ia jauh lebih cantik dari dugaan ku!"
"Wahh! Pria tampan menikah dengan wanita cantik. Benar-benar beruntung!"
"Andai aku bisa seberuntung dia! Aku pasti bisa mendapatkan Tuan Jojo"
"Bisakah kita bertukar nasib? Aku benar-benar iri pada Tuan Muda ini. Bisa mendapatkan seorang gadis yang sempurna!"
Tak sedikit yang memuji Kara ataupun Jojo. Begitupun dengan Tuan Mourinho, sang kakek, ia tampak senang. Ia melebarkan senyumnya menatap cucu perempuannya yang terlihat sama persis dengan mendiang putrinya sewaktu masih muda.
Ia lalu menghampiri keduanya. David sendiri mengarahkan sang Kakek untuk membawa Kara kehadapan Jojo. Ia menggandeng Kara dengan anggun, sembari menggenggam tangan mungil gadis itu.
"Dia, Kara cucuku. Kamu tahu, nak! Aku sangat mencintainya lebih dari diriku sendiri. Berjanjilah, untuk selalu menjaganya dan mencintainya seumur hidupmu!" Ucap Tuan Mourinho, dengan tulus. Ia mencium kening Kara cukup lama, seakan tak rela cucu kesayangannya itu pergi dari sisinya. Kemudian ia mengarahkan tangan Kara kepada Jojo.
Sementara David, ia tak cukup hanya dengan berkata-kata. Baru saja adikku kembali, tapi secepat ini sudah akan menikah, pikirnya. Ia berharap untuk tinggal lebih lama bersama sang adik, untuk mengobati rindunya yang ia rasa belum terobati. Padahal sebenarnya, ia saja yang tidak menyadari kalau selama ini pertemuannya dengan sang adik bukanlah waktu yang singkat lagi.
"Aku serahkan adikku padamu! Aku yakin, kamu pasti bisa menjaga kepercayaan ku ini. Maka dari itu, cintailah dia seperti kamu mencintai dirimu sendiri." Ia hanya memberi pertanda lewat wajahnya yang tampak tersenyum sambil mengangguk menyetujui Jojo, sang sahabat. Jojo mengerti maksudnya, walau ia tidak berbicara. Dengan senang, Jojo kembali membalasnya dengan anggukan kepalanya.
"Aku berjanji!" Gumamnya dalam hati. Ia tidak menyangka, kalau jodohnya ternyata adik sahabatnya. Bahkan, ia tidak pernah berpikir untuk menikah sebelumnya. Tetapi kehadiran Kara, bisa mengguncang hatinya bahkan membuatnya jatuh cinta hingga kehilangan akal sehat.
Keduanya saling melempar senyum satu sama lain. Jojo menggandeng tangan Kara, menuntunnya berjalan menuju ke Altar. Tak sedikitpun pandangannya berpaling dari wajah cantik gadis disamping nya.
"Demi apapun, kamu selalu membuatku terpikat sayang!" Ucapnya berbisik. Kara hanya tersipu malu mendengarnya.
Acara pun berlangsung dengan aman dan damai. Beberapa lagu rohani mereka nyanyikan dengan penuh ria. Hingga saatnya keduanya mengucapkan janji suci...
"Maka tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan saudara. Saya persilakan saudara masing-masing menjawab pertanyaan saya" Ucap Pendeta.
"Christian Jonathan Sean Rodriguez, maukah saudara menikah dengan Charamell Alexa Sebastian yang hadir disini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun duka??" Lanjutnya lagi.
Jojo menatap lekat manik Kara, sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya, saya mau!" Ucapnya tulus. Kemudian, dilanjutkan kembali.
__ADS_1
"Charamell Alexa Sebastian, maukah saudara menikah dengan Christian Jonathan Sean Rodriguez yang hadir disini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun duka?"
Kara segera menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum haru, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ya, saya mau!"
Kemudian, keduanya pun langsung bertukar cincin.
"Charamell Alexa Sebastian cincin ini aku berikan kepadamu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaan ku" Ucap Jojo sembari memasangkan cincin ke jemari Kara.
Begitupun sebaliknya, Kara juga melakukan hal demikian.
"Christian Jonathan Sean Rodriguez cincin ini aku berikan kepadamu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaan ku"
Lalu keduanya duduk berlutut, untuk melakukan pemberkatan.
"Hiduplah menurut janjimu, hayatlah tugas dan tanggung jawabmu dan terimalah berkat Tuhan: Allah, Bapa Tuhan Yesus Kristus yang telah memanggil dan mempersatukan kamu dalam perkawinan ini, akan memberkati kamu dan memenuhi rumah tanggamu dengan Kasih karunia Roh Kudus; supaya dalam iman, pengharapan dan Kasih, kamu hidup suci dan bahagia selama-lamanya." Ucap sang Pendeta.
Setelah usai, mereka mengambil beberapa gambar untuk mengabadikan momen itu. Wajah keduanya tampak sangat bahagia. Disertai dengan orang-orang disekelilingnya, termasuk sahabat Kara, Leona, Zeremy, Bibi Jojo dan yang lainnya.
"Selamat ya.." Orang-orang berlalu-lalang menyalami keduanya. Tak sedikit juga yang meminta foto kepada keduanya. Bagaimana mungkin, orang-orang menyia-nyiakan untuk tidak berfoto dengan seorang Kara, terlebih Jojo orang nomor satu di Tanah Air. Tapi meski demikian, tidak ada kericuhan yang terjadi. Karna kebanyakan yang datang adalah tamu kelas atas. Nama keluarganya akan tercoreng, jika berani melakukan keributan. Apalagi di acara penting seorang Tuan Muda Jojo.
"Huh, adikku sudah tidak melajang lagi" Ucap David sambil berkacak pinggang.
"Hahahah..." Mereka tertawa sambil berbincang-bincang. Setelah usai, para tamu undangan memasuki Gedung resepsi, yang bersebelahan dengan Gereja. Semua tampak menikmati momen ini. Alunan musik yang merdu, membuat siapapun akan betah disana. Bukan hanya Gedung untuk resepsi, tapi juga Ruang dansa yang luas dan megah. Banyak yang menari ria disana, begitupun dengan tokoh utamanya.
"Makasih, sayang" Ucap Jojo lembut sambil mencium bibir mungil Kara, dan disaksikan oleh para tamu undangan.
"Tolong hargai aku yang jomblo ini..." Ucap Airi sambil memonyongkan bibirnya. Sontak Dimas langsung mentoer bibirnya.
"Siapa yang mau sama cewek tomboy kayak lu" Ledeknya.
"Lu nyepelein gua, huh? Sarkas Airi kembali memukulnya.
"Hahahah...." Tuan Mourinho dan yang lainnya menertawakan keduanya. Sementara Zack, hanya memperhatikan sembari menikmati segelas anggur ditangannya.
Bersamaan dengan itu, tampak seorang pria disudut ruangan, sedang memperhatikan mereka. Raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaannya. Ia menggenggam erat gelas winenya.
"Tuang lagi!" Ucapnya kesal kepada seorang pelayan yang lewat, hingga membuat orang tersebut sedikit ketakutan. Reyhan menghabiskannya dalam sekali tegukan.
"Harusnya aku yang disana. Kenapa kau malah memilih pria brengs*k itu, huh??" Geramnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak terima, kalau Kara sudah menikah dengan pria pilihannya.
"Apa yang kurang dariku??? Jelas-jelas, para wanita begitu tertarik dengan ku. Apa mungkin, mereka membuat perjanjian nikah?" Banyak pertanyaan yang timbul dibenaknya, seolah menolak kebenaran yang terjadi.
"Aku pasti bisa mengambil hatimu kembali, Kara. Lihat saja!" Ucapnya penuh percaya diri dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
TBC
Halo sahabat author.... maaf ya, baru update soalnya setahun belakangan author sibuk sayang🥺 Sekali lagi author minta maaf sebesar-besarnya sudah mengecewakan kalian para readers kesayangan ku. Diusahakan untuk update setiap harinya. Jangan lupa dukungannya ya beb....
Like, coment and tambahkan ke favorit ya beb....
__ADS_1
Makasih❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️