My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 61: Khawatir!


__ADS_3

Keesokan harinya..


"Di kamar hotel"


Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Namun si empunya kamar belum juga bangun dari tidurnya. Hari ini, Kara akan berangkat kerja pukul 8 seperti biasa.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara deringan ponsel berbunyi. Hal itu membangunkan tidurnya. Perlahan, Kara membuka matanya dengan berat. Nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Lalu, ia mencari-cari letak keberadaan ponselnya.


"Emmmh.. siapa sih?" Ucapnya dengan suara khas bangun tidurnya. Ia mengangkat asal, tanpa melihat layar ponselnya terlebih dahulu. Entah siapa pagi-pagi begini sudah menelpon dirinya.


"Halo?" Ucapnya dengan nada malas.


"Apa aku mengganggu tidur mu?" Terdengar suara seorang pria yang tidak asing baginya. Kara menyerngitkan dahinya, lalu beralih menatap ke layar ponselnya untuk memastikan apakah dugaannya benar atau salah. Ia terbelalak, ternyata dugaannya benar.


"Apa kamu masih disana?" Tanya Jojo lagi, yang menyadarkan lamunannya.


"Ehh, emm, iya!" Kara gelagapan menjawabnya. Ia canggung untuk menanyakan tentang wanita yang menelponnya kemarin.


Keduanya terdiam beberapa saat. Berselang beberapa menit, mereka saling membuka bicara secara bersamaan.


"Apa...!" Ucapan keduanya terhenti. Kara semakin terlihat canggung dan tidak tau harus berbuat apa sekarang.


"Kamu duluan yang berbicara" Sahut Jojo mengalah.


"Tidak! Kamu saja! Kan kamu yang menelpon ku?" Timpal Kara tersenyum tipis. Ia menusuk-nusuk pipinya untuk menghilangkan kegugupannya.


"Emm, baiklah! Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Jojo to the point.


"Ya, aku baik-baik saja! Hemm.. bagaimana dengan mu?" Sahutnya tak sabaran. Ia penasaran, mengapa Jojo mengabaikan panggilan teleponnya kemarin. Entah apa yang terjadi dengannya, pikirnya.


"Aku baik-baik saja!" Setelah kalimat terakhir yang diucapkan olehnya, mereka kembali terdiam.


"Kamu.. ada apa menelpon ku kemarin?" Tanya Jojo penuh hati-hati.


"Ehh?" Kara kembali tersadar dari lamunannya mendengar ucapan Jojo barusan.


"Itu... masalah itu, kamu..." ucapannya terhenti.


"Untuk apa aku mempermasalahkannya lagi? Sepertinya.. wanita itulah yang sudah berbohong padaku!" Gumamnya dalam hati.


"Ada apa? Apa sesuatu sedang mengganggu mu?" Tanya Jojo lagi.


"Ehh, bukan! Maksudku, tidak ada apa-apa! Benar!" Sahut Kara gelagapan.


"Huh! Terdengar Jojo sedang membuang nafasnya dari seberang telpon. Ia sudah tau, jika wanita bilang tidak apa-apa, pasti ada apa-apanya, pikirnya.


"Apa ada sesuatu? Katakanlah! Jangan memendam nya!" Ucapnya dengan nada lembut.


"Hah? Kara membulatkan matanya.


"Apa dia mesin pembaca pikiran? Bagaimana dia bisa tahu?" Batinnya.


"Aku akan mendengarkan!" Sahut Jojo lagi.


"Baiklah! Akan lebih baik jika menanyainya secara langsung. Agar lebih jelas! Meski aku mempercayai dirinya!" Batin Kara tersenyum tipis.


Lalu, ia membuang nafasnya pelan.


"Emm.. apa, apa kamu memiliki seorang tunangan?" Tanyanya penuh selidik.


"Ahh? Hahahaha..." Jojo malah tertawa mendengar nya. Dia bingung sekaligus bahagia mendengar nada cemburu gadisnya itu.


"Mengapa kamu tertawa?" Kesal Kara seraya menyerngitkan dahinya.


"Emm? Apa kamu ingin.. agar aku segera melamar mu?" Tanya Jojo memastikan.


"Aku tidak!" Sahut Kara pura-pura kesal. Padahal, wajahnya sudah memerah bagai tomat. Jauh dilubuk hatinya, tentu saja ia ingin dilamar oleh Jojo, apalagi dinikahi olehnya. Bukan hanya dirinya yang mendambakan hal itu, para wanita-wanita bangsawan diluar sana juga banyak yang tergila-gila dengannya.

__ADS_1


"Lalu.. apa yang membuat kelinci ku berpikir begitu?" Lanjutnya dengan nada menggoda.


"Apa kamu akan percaya.. jika aku mengatakannya?" Sahut Kara dengan nada sedikit ditekankan.


"Emm? Tentu saja! Aku hanya mempercayai mu seorang!" Timpal Jojo meyakinkan.


"Huh! Kemarin.. ada nomor tak dikenal menelpon ku. Dia seorang wanita. Dia juga mengatakan kalau dia adalah tunangan mu, dan.. kalian akan segera menikah dalam waktu dekat!" Ucapnya lirih.


"Emm? Tunangan? Jadi, wanita itu yang membuat mu kesal?" Tanya Jojo merasa heran.


"Ya!"


"Huh! Apa kamu lebih mempercayai wanita gila itu daripada aku?"


"Tidak! Aku tidak bermaksud!"


"Dia pasti suruhan wanita s****n itu! Lain kali, kamu tidak perlu meladeninya!"


"Jadi, benar kalau dia hanya suruhan ibu tirimu?"


"Dia bukan ibuku ataupun ibu tiriku. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Kelak, aku akan memberitahu mu tentang kebenarannya!"


"Baiklah! Dia benar-benar nenek sihir! Tidak punya hati! Lain kali, aku pasti akan membalasnya karna berani menyinggung ku dan juga.. berani menyakitimu selama ini!" Geramnya sudah merapatkan giginya.


"Haha.. aku akan menunggu hari itu tiba! Aku pasti mendukung mu!" Timpal Jojo tertawa lepas.


"Aku sangat tersanjung!" Sahutnya seraya tersenyum tipis. Ia lega, mengetahui kebenaran bahwa wanita itu bukanlah tunangan sungguhan Jojo.


"Hemm..! Kamu harus ingat baik-baik, kalau aku, Jojo, bayi besar mu.. hanya akan mencintai mu seorang. Tidak ada wanita manapun selain kamu!" Jelas Jojo penuh arti. Hal itu membuat Kara semakin tersipu malu. Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Deg..deg..deg!


"Ahh.. bukankah dia sering mengatakan hal itu? Kenapa wajahku terasa begitu panas!" Gumamnya pelan.


"Emm.. kalau begitu, aku tutup dulu! Aku akan berangkat kerja sebentar lagi!" Sahut Kara menghindari gombalan maut prianya itu. Jika terus dilanjutkan, mungkin saja aku akan pingsan, pikirnya.


"Baiklah, kelinci kecil ku! Selamat bekerja dan tetap semangat! Ingatlah untuk beristirahat! Jangan terlalu lelah, mengerti? Karna aku tidak ada disisimu sekarang!" Timpal Jojo menyemangati.


"Emm.. siap bos! Aku mengerti!" Sahut Kara senang seraya tersenyum bahagia. Lalu, ia memutuskan panggilan teleponnya.


"Tapi, apakah dia benar, baik-baik saja? Apa aku yang terlalu mengkhawatirkan nya?" Ia tampak khawatir. Dan kembali terlintas wajah Jojo didalam benaknya. Kenyataannya, hari ini.. Jojo akan melakukan operasi. Saat ini, pria gagah itu telah berada di rumah sakit.


" Huh! Semoga hanya firasat ku saja!" Gumamnya lagi, mencoba menghilangkan pikiran negatifnya. Kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Karna hari ini, ia tidak ingin terlambat bekerja.


Beberapa saat kemudian, ia keluar dan langsung memakai pakaian cassualnya. Lalu, ia bergegas menuju ke meja riasnya. Kara tampak sedang sibuk mentouch-up sedikit make-up diwajah cantiknya.


Ditengah-tengah kesibukannya, tiba-tiba bell pintu berbunyi. Ia berlari kecil untuk segera membukanya. Ia tersenyum lebar melihat kedatangan Mi-Rea, menejer sekaligus teman baiknya. Namun, senyumannya perlahan menghilang, kala ia melihat wajah pucat kesayangannya itu. Kara mengusapnya dengan lembut.


"Ada apa dengan mu? Apa kamu sedang sakit?" Sahutnya merasa khawatir. Mi-Rea hanya menggelengkan kepala. Tidak ingin membuatnya merasa khawatir. Lalu, ia memegang kedua tangan cantik nan mulus Kara.


"Aku tidak apa-apa, sayang!" Ucapnya lembut seraya tersenyum tipis.


"Bergegaslah! Kita akan segera berangkat!" Lanjutnya lagi. Ia mencubit kecil pipi mungil Kara seperti biasanya.


"Tapi.." ucapan Kara langsung dipotong olehnya.


"Emm? Aku baik-baik saja, ok?" Ucapnya lagi berusaha meyakinkan nya. Kara hanya mengangguk pelan, meski ia masih tampak sedang khawatir.


Berselang beberapa menit, keduanya keluar dari kamar dan langsung bergegas menuju ke mobil. Sepanjang perjalanan, Kara tak henti-hentinya menatap lekat wajah pucat Mi-Rea.


"Ada apa dengannya? Wajahnya tampak pucat? Apa dia sakit?" Gumamnya merasa khawatir.


Namun, lagi-lagi Mi-Rea mengatakan tidak apa-apa.


"Di Jude de Luxembourg"


Tak menunggu waktu lama, mobil yang mereka kendarai tiba di Jude de Luxembourg, dimana mereka akan melakukan pemotretan lanjutan. Para desainer serta penata rias datang menghampirinya. Tampaknya mereka semua bukanlah orang biasa, melainkan orang-orang yang sudah profesional.


"Mari, ikut kami (dalam bahasa Prancis)" Sahut mereka ramah dan dibalas anggukan oleh Kara. Lalu mereka melangkah pergi menuju ke ruangan tata rias. Kara segera diubah penampilannya meski tak jauh berbeda dari sebelumnya. Ia tampak sangat cantik dan anggun, namun tidak menghilangkan aura naturalnya. Semua orang akan takjub saat melihatnya.

__ADS_1


"Hemm.. perfect!' Sahut Thomas memuji. Thomas adalah seorang penata rias terkenal di Eropa. Kara hanya tersenyum membalasnya.


Kemudian, mereka berjalan keluar ruangan. Banyak para karyawan/karyawati yang memuji dirinya.


"Dia sangat cantik (dalam bahasa Prancis)"


"Pantas menjadi model perusahaan kita (dalam bahasa Prancis)"


"Dia juga ramah! Tidak menganggap rendah para karyawan seperti kita (dalam bahasa Prancis)


Mereka senang dengan kehadiran Kara. Selain cantik, ramah juga baik hati. Memang sudah dari sononya. Ia sudah dibiasakan sejak kecil oleh orangtuanya untuk selalu rendah hati dan menghargai orang yang lebih tua dari dirinya. Yang artinya, Kara bukanlah seorang gadis bermuka tebal. Namun, itu adalah sifat aslinya.


Pemotretan segera berlangsung, setelah semua kru bersiap.


"1..2..3! Ya, bagus!" Sahut fotografer merasa puas.


"Ganti pose, ya.... ok! Good job!"


Mereka mengambil berbagai pose gambar cantik alami Kara, sambil menunjukkan parfum yang mereka iklankan.


Ditengah-tengah kesibukan mereka, tiba-tiba terdengar suara ribut para karyawan lainnya, membuat si gadis cantik tak bisa fokus seperti diawal.


"Ada apa (dalam bahasa Prancis)?" Tanyanya penasaran. Fotografernya hanya mengedikkan bahunya. Mereka sama-sama tidak tahu, karna jaraknya yang lumayan jauh.


Tanpa berpikir panjang, Kara segera berlari menuju kearah suara ribut berasal. Ia terbelalak melihat Mi-Rea tengah pingsan, tergeletak di tanah.


"Apa yang terjadi?" Teriaknya, sudah memeluk tubuh lemah Mi-Rea.


"Cepat panggilkan ambulans!" Teriaknya lagi. Air matanya jatuh begitu saja.


"Tolong! Tetaplah baik-baik saja! Aku tidak ingin kehilanganmu!" Gumamnya dalam hati.


Ia kembali teringat orangtuanya. Aku tidak ingin kehilangan semua orang yang ku sayangi, batinnya.


Beberapa saat kemudian, petugas kesehatan datang menghampirinya dan segera mengangkat tubuh Mi-Rea. Kara mengikuti langkah perawat tersebut.


"Apa kita tidak akan melanjutkan pemotretannya?" Tanya fotografernya yang menghentikan langkahnya.


Kara menggelengkan kepalanya.


"Lebih baik kehilangan pekerjaan, daripada kehilangan dirinya!" Gumamnya dalam hati.


"Hari ini, pemotretannya sampai disini dulu. Tolong sampaikan maafku kepada atasanmu! Aku minta maaf, aku harus melihatnya. Dia orang penting bagiku, hiks.. hiks!" Ucapnya sambil menangis tersedu-sedu, yang membuat semua karyawan disana merasa iba. Mereka hanya menganggukkan kepala, menuruti keinginannya.


Kara segera bergegas masuk ke mobil. Ia duduk dibelakang, mendampingi Mi-Rea. Kini mobil telah melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit.


"Di American Hospital of Paris"


Setibanya di rumah sakit, Mi-Rea segera dibawa keruangan darurat. Saat Kara hendak masuk, ia dihalangi oleh para petugas.


"Tolong, tunggu diluar!" Sahut mereka sopan. Kara hanya bisa menatap mereka menjauh dari pandangannya.


Lama ia berdiri disana, ia lalu mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tunggu. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Tolong, baik-baik saja!" Gumamnya pelan.


Ia kembali mengusap wajah sembabnya. Saat ia membuka matanya, ia terkejut melihat pria yang tampak tidak asing baginya. Pria itu duduk di sebuah kursi roda dan memakai pakaian pasien khas rumah sakit tersebut. Terlihat seorang perawat wanita sedang mendorong kursi rodanya didampingi oleh seorang pria paruh baya. Ia menatap lekat kearah ketiganya untuk memastikan apakah penglihatannya benar atau salah.


"Jojo....." Teriaknya begitu keras. Teriakannya membuat semua orang yang berada disana menoleh kearahnya. Tak terkecuali pria itu. Ia terbelalak melihat kehadiran Kara di sana.


TBC


Halo para readersku semuanya:)


Jangan lupa like, coment and vote ya say๐Ÿ’—


Follow author juga๐Ÿ˜

__ADS_1


Tetap semangat dan jaga kesehatan guys...๐Ÿ’ช๐Ÿ˜‡


I lovyu all๐Ÿ˜˜๐Ÿ’‹


__ADS_2