
Kara melewati hari-harinya dengan baik. Ia tampak sangat akrab dengan para rekan kerjanya, yang membuatnya semakin dicintai. Berbeda dengan Rani, yang selalu berpikiran jahat terhadapnya. Meski ia selalu gagal. Karna Kara selalu bisa mengatasinya.
"Di lokasi shooting"
Kara yang hendak beranjak ke ruang istirahat, tiba-tiba terhenti. Ia kaget mendengar suara tamparan yang begitu keras. "Plakkk! Ternyata Rani menampar Ratmi, asisten pribadinya. Banyak orang yang melihat, namun tidak peduli sama sekali. Karna mereka sudah terbiasa menyaksikan Rani yang sering menindas Ratmi. Berbeda dengan Kara, ia malah merasa kasihan. Ia lalu menghampiri Rani dan menahan tangannya yang hendak kembali menampar Ratmi. "Grep! Kara lalu menghempaskan tangannya.
"Jangan terlalu sering meremehkan dan menindas orang! Karna dunia ini berputar. Kamu tidak akan selamanya berada diatas." Tegasnya kepada Rani. Bukannya marah, Rani malah tersenyum licik dalam hati.
"Hahahah..! Akhirnya, wanita rubah ini masuk kedalam jebakan ku!" Batinnya senang.
Ratmi terlihat gemetar. Tanpa mempedulikan Rani lagi, Kara langsung memberinya obat salep.
"Ini! Oleskan ke wajah mu, agar lebih baik!" Sahutnya lembut, lalu beranjak dari sana. Namun, tangannya di tahan oleh Ratmi.
"Itu.. terimakasih, Nona! Dan.. tolong, tolong maafkan saya!" Ucapnya terbata-bata. Kara dibuat bingung dengan perkataannya barusan.
"Hah? Apa maksud mu? Mengapa minta maaf? Aku tulus menolong mu! Tidak perlu merasa bersalah begitu." Timpalnya seraya mengusap pundak Ratmi. Ia lalu beranjak pergi dari sana, meninggalkan Ratmi yang dipenuhi oleh rasa bersalah.
Setelah kepergian Kara, Rani langsung menghampiri Ratmi. Ia tersenyum sumringah seraya menepuk pundaknya.
"Bagus! Teruslah tunjukkan wajah memelas mu itu. Kamu tahu kan, apa yang harus kamu lakukan selanjutnya?" Ucapnya senang sambil menatap Ratmi. Melihat Ratmi yang tertunduk diam, membuat Rani sedikit menyerngit. "Emmm? Ia menaikkan kedua sudut alisnya.
"Itu.. aku, aku tidak berani nona!" Sahut berusaha menolak. Tangannya gemetar kala Rani terus menatapnya. "Heh! Rani malah tertawa menyeringai padanya.
"Apa kamu berani membantah ku?" Geramnya ingin menjambak Ratmi, namun ia berusaha menahannya.
"Kamu harus ingat! Keselamatan keluarga mu berada di tangan ku! Jika kamu ingin kehilangan mereka.. kamu boleh menolak." Tegasnya menatap tajam Ratmi. Mendengar ancamannya, membuat Ratmi kembali teringat keluarganya. Mau tidak mau ia harus menuruti perkataannya. Demi keluargaku, aku tidak ingin mereka tersakiti, pikirnya.
"Aku.. aku mengerti!" Ucapnya seraya mengepalkan tangannya. Ia berlalu pergi dari hadapan Rani dengan isakan tangis sesegukan. Rani yang masih berada disana, kembali terkekeh senang.
"Aku ingin lihat, bagaimana kamu akan lolos dari situasi ini Kara!" Ucapnya dengan nada sombong.
Flashback off
"Di sebuah kamar hotel VIP"
Untuk menebus kesalahannya beberapa waktu lalu, Rani harus membayarnya dengan tubuhnya kepada bosnya, Bagus. Kini, Rani tampak duduk dipangkuan Bagus. Ia membelai lembut wajah gemuk Bagus. Lalu, sesungging senyuman licik terlukis di wajah cantiknya.
"Sepertinya.. b******n ini menyukai Kara? Hahahah..! Aku bisa menjadikannya sebagai kambing hitam ku" Gumamnya dalam hati.
Memang benar. Selama rapat berlangsung, Bagus tiada henti menatap Kara. Dan hal itu disaksikan oleh Rani. Jadi, ia tahu kalau Bagus tertarik dengan Kara.
"Apa kamu menyukai Kara?" Tanyanya dengan nada lembut. Ia berusaha menahan diri. Bagaimanapun, saat ini Bagus masih terlihat marah padanya. Mau tidak mau ia harus membujuknya.
"Hah? Bagus mendongak mendengar pertanyaannya. Wajahnya bersemu merah, mengingat senyuman indah Kara.
"Sepertinya.. memang benar kamu menyukainya!" Lanjut Rani sudah bangkit dari pangkuannya. Ia berjalan kearah jendela, dan menatap pemandangan malam diluar. Bagus yang tadinya duduk, ikut berjalan menghampiri dirinya. Ia memeluk tubuh Rani dari dari belakang.
"Apa kamu cemburu?" Bisiknya ketelinga Rani, yang membuatnya bergedik geli.
"Cemburu? Pada pria tua, gemuk sepertimu? Bermimpilah! Aku hanya menyukai Jojo seorang!" Batinnya.
Ia membalikkan tubuhnya seketika.
"Anggap saja begitu. Tapi.. aku berniat membantumu mewujudkan impian mu itu. Lagipula.. selama ini, kamu sudah sangat membantu ku. Jadi, ini hanya bentuk terimakasih ku saja!" Ucapnya berpura-pura. Bagus tampak berpikir sejenak.
"Tapi.. aku tidak berani mengusik Jojo!" Ucapnya merasa khawatir. Karna ia tahu jelas, tabiat Jojo yang tidak tahu ampun, kalau berani mengusiknya atau orang-orang terdekatnya. Mendengar hal itu, Rani malah tersenyum.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu khawatir! Kamu hanya perlu menggunakan tubuhnya, besok siang. Sisanya.. serahkan padaku!" Sahut Rani penuh percaya diri. Dan Bagus dengan bodohnya langsung menyetujuinya.
"Baiklah! Aku setuju! Kamu memang pantas menjadi kesayangan ku!" Sahutnya, sambil mengecup leher jenjang Rani sekilas. Ia mendengusinya berkali-kali.
"Tapi.. kamu harus melayani ku malam ini. Untuk menebus kesalahan mu kemarin." Lanjutnya lagi, dan sudah mengangkat tubuh Rani menuju ke ranjang. Rani pasrah saja. Meski dalam hatinya ia mengumpat.
"Dasar pria b******n! Lihat saja! Ketika aku sudah menjadi wanita resmi Jojo.. aku akan memenggal kepala botakmu ini!" Geramnya.
Satu jam kemudian..
Setelah selesai memuaskan nafsu pria botak tadi, Rani segera bangkit dari tempat tidur. Ia memakai jubah tidurnya dan beranjak ke balkon kamar. Seperti biasa, ia menyalakan rokoknya dan menghisapnya berkali-kali, hingga pikirannya kembali netral seperti semula.
Beberapa saat kemudian, ia tampak menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan Ratmi, asisten pribadinya.
"Halo!" Sahut Ratmi dari seberang telpon.
"Emm.. besok, aku punya pekerjaan tambahan untukmu!" Sahut Rani datar.
"Ada apa, nona?" Tanya Ratmi penasaran.
"Dengarkan aku! Besok di lokasi shooting, aku akan sengaja menyiksamu! Dan jangan berani-beraninya membantah ku, mengerti?" Tegasnya tak berperasaan.
"Tapi.." Ratmi hendak berbicara, namun langsung dipotong olehnya.
"Tidak ada tapi-tapian! Aku yakin, Kara pasti tidak tega melihat mu. Secara, dia kan pandai berpura-pura baik didepan semua orang? Jadi, dia juga pasti akan cari muka besok. Dan kamu.. harus sebisa mungkin menarik perhatiannya. Besok, aku akan memberimu segelas jus, yang harus kamu berikan padanya. Dan jangan sampai kamu mengatakan kalau itu dariku. Kamu sudah mengerti kan apa maksud ku? Tapi.. kamu boleh kok menjelek-jelekkan ku dihadapannya. Intinya, kamu harus membuatnya percaya padamu dan memastikan dia menghabiskan jusnya mengerti?" Sahut Rani dengan nada mengancam.
"Bukan, bukannya saya menolak. Ta, tapi..!" Sahut Ratmi terbata. Ia enggan untuk menolaknya. Bagaimanapun.. Kara adalah gadis baik-baik. Rani pasti ada niat jahat, pikirnya.
"Hanya memastikannya untuk meminum jus pemberian ku, apa susahnya sih? Kamu dengar ya.. jika kamu berani membantah ku, aku akan membunuh semua anggota keluarga mu. Nyawa mereka ada ditangan ku sekarang!" Hardiknya keras. Lagi-lagi, ia mengancam Ratmi.
"Baik, baik!" Sahut Ratmi ketakutan. Setelah Ratmi mengiyakan perkataannya, Rani langsung mematikan ponselnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di dadanya sambil tersenyum bahagia.
Flashback on
"Di ruang istirahat"
Kara langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ia memainkan ponselnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Bagaimana tidak? Ia mendapat pesan dari pujaan hatinya.
"*Apa kamu masih bekerja?"
"Tidak! Aku sedang istirahat!"
"Emmm! Aku akan datang, membawakan makan siang untuk mu."
"Ahh.. benarkah? Tapi, kamu juga sibuk. Jadi, tidak perlu repot begitu😊"
"Tidak! Ini keinginan ku! Aku sudah merindukan mu!"
"Kalau begitu.. baiklah!"
"Tunggulah aku. Aku akan segera tiba❤️❤️*"
Kara kembali tersenyum.
"Dia selalu mengkhawatirkan ku!" Gumamnya pelan. Ia lalu menutup layar ponselnya, hendak beristirahat sebentar sembari menunggu kedatangan prianya. Tapi, mendengar suara ketukan pintu dari luar, ia terpaksa harus mengurungkan niatnya kali ini.
"Siapa ya?" Gumamnya pelan dan segera berjalan kearah pintu. "Ceklek! Ia membuka gagang pintu. Ternyata, ada Ratmi disana.
__ADS_1
"Ehh, kamu ya?" Sapanya lembut. Ia beralih ketangan Ratmi, yang memegang segelas jus mangga, kesukaannya. Ratmi yang menyadari tatapannya, langsung menyuguhkannya padanya.
"Ini.. aku membawakan jus untuk nona! Anggap saja, sebagi ucapan terimakasih ku, karna sudah menolong ku tadi." Ucapnya lembut sambil tersenyum tipis.
"Lagipula.. hanya memastikannya untuk menghabiskannya kan? Setelah itu, keluarga ku akan terlepas dari genggaman kuntilanak berwujud manusia itu. Tapi, apakah jus ini beracun? Tidak mungkin kan? Negara ini adalah negara hukum. Pasti Rani tidak berani melakukannya." Batinnya.
Ucapan Kara kembali menyadarkan lamunannya.
"Ahh.. kamu tidak perlu repot begini! Tapi.. karna kamu berniat baik dan juga tulus, aku akan menerimanya." Sahut Kara senang. Tanpa banyak berpikir lagi, ia segera meneguknya hingga habis. "Glek..glek..glek! Kara memang sudah sangat kehausan sejak tadi. Jadi, tidak terpikirkan olehnya kalau Ratmi bersekongkol dengan Rani.
"Habis!" Sahutnya lagi. Ratmi hanya membalasnya dengan senyuman. Tapi, wajahnya tampak khawatir.
"Semoga saja, tidak terjadi apa-apa pada non Kara." Batinnya khawatir.
Sementara Rani, sudah tersenyum kemenangan mendengar pembicaraan mereka dibalik pintu.
"Yes! Akhirnya Tuhan berpihak padaku!" Ucapnya senang.
Beberapa saat kemudian..
"Makasih ya! Kenapa orang sebaik dirimu diperlakukan buruk oleh Rani?" Sahut Kara merasa kasihan. Ratmi hanya menggeleng tanpa berbicara.
"Jika tidak nyaman bersamanya.. mengapa kamu bertahan?" Lanjutnya bertanya. Ia benar-benar tidak tega dengan Ratmi yang selalu diperlakukan dengan tidak baik oleh Rani.
"Dan kamu.." Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba kepalanya menjadi pusing. "Ahh! Ia mengigau seraya menggeleng-gelengkan kepala, berusaha untuk tetap sadar.
"Mengapa aku tiba-tiba pusing?" Batinnya.
Tubuhnya jatuh kelantai, yang membuat Ratmi semakin merasa bersalah. Ia menangis sesegukan, dipenuhi rasa bersalah. "Hiks..hiks..hiks!
"Mengapa.. mengapa kamu menangis?" Tanya Kara pelan. Pandangannya mulai buram. Tak lama kemudian, ia benar-benar sudah kehilangan kesadarannya. Hal itu membuat Ratmi berteriak frustasi.
"Nona, kumohon bangunlah! Anda baik-baik saja kan? Apa ini kerjaan wanita gila itu? Mengapa juga aku harus melibatkan mu dengan urusan keluarga ku? Aku tidak ada bedanya dengan wanita itu. Aku benar-benar jahat!" Ucapnya merasa bersalah. Disela-sela tangisnya, tiba-tiba Rani sudah berdiri di belakangnya.
"Sudahlah! Tidak perlu menangis seperti orang kesurupan. Dia tidak akan mati!" Ucapnya sinis. Ratmi segera berdiri dan membentaknya.
"Kamu.. kamu wanita jahat! Semoga saja kamu dapat ganjaran atas semua ini." Ucapnya gemetar. "Cih! Rani berdecih padanya.
"Pergilah! Sebelum aku berubah pikiran. Kamu tenang saja, aku tidak akan menyakitinya. Atau kamu ingin menolongnya, dan mengorbankan keluarga mu?" Ucapnya dengan nada mengancam. Seketika keberanian Ratmi menciut.
"Aku, aku akan pergi. Tapi berjanjilah, tolong.. jangan sakiti dia!" Pintanya memohon. Ia berlutut di kaki Rani. Namun Rani langsung menghempaskan tubuhnya dari kakinya.
"Aku tidak butuh izin mu!" Pekiknya.
Perlahan, Ratmi mengangkat kepalanya keatas. Ternyata, bukan hanya Rani saja yang berada disana. Tapi juga bosnya, pria mesum yang tidak pernah puas dengan wanita.
"Apa yang akan mereka lakukan?" Batinnya khawatir.
Ia hendak menahan Rani, namun pintu sudah lebih dulu ditutup. "Brakk! Berkali-kali Ratmi mencoba mengetuk, berharap pintu dibuka. "Tok..tok..tok! Namun, tak ada hasil.
"Apa yang harus ku lakukan?" Teriaknya frustasi.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tetap nantikan kelanjutannya❤️
Jangan lupa tinggalkan jejaknya say..🐨
I lovyu all😘
__ADS_1
TBC