My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 82: Balas dendam


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Setelah menunggu waktu yang cukup lama, kini Kara sudah tersadar kembali. "Emm! Ia mengigau sambil melirik pria disampingnya. Ia langsung disambut hangat oleh senyuman mengembang prianya.


"Kamu sudah bangun?" Sahut Jojo lembut sambil mengusap pucuk kepalanya. Kara hanya tersenyum tanpa menyahut.


Kemudian Jojo beranjak dari sana. Ia mengambil sebotol air mineral yang terletak diatas meja. Lalu menuangkannya kedalam gelas disampingnya.


"Minumlah! Kamu pasti haus!" Ucapnya sembari menyuguhkannya pada gadisnya. Kara langsung meneguknya hingga habis. "Glek..glek..glek!


"Apa aku.. tidur terlalu lama?" Tanyanya masih menatap lekat manik indah milik Jojo. Jojo kembali tersenyum padanya.


"Enggak kok! Baru 3 jam." Sahutnya polos. Berbeda dengan Kara, ia sudah membulatkan matanya. "Hah? Kagetnya.


"Tiga jam? Apa yang harus ku lakukan? Adegan yang harus ku perankan masih belum selesai. Matilah aku! Sutradara dan yang lainnya pasti akan sangat marah padaku!" Ucapnya penuh khawatir. Jojo malah menertawai dirinya. "Pffttt, hahahah....!" Ia terkekeh-kekeh, hingga memenuhi seisi ruangan.


"Emm? Kara menaikkan kedua sudut alisnya. Mengapa dia tertawa, pikirnya. Melihat Jojo yang tiada hentinya tertawa, membuatnya sedikit kesal.


"Apaan sih!" Kesalnya sudah memalingkan wajahnya. Seketika Jojo meraih tangannya.


"Tidak perlu khawatir! Semuanya sudah pulang. Tidak ada yang melakukan shooting hari ini." Ucapnya berusaha meyakinkan Kara.


"Mengapa?" Tanya Kara dengan mata di micingkan sebelah.


"Menurutmu?" Lanjut Jojo bertanya balik. Kara hanya bisa menghela nafasnya, mendengar perkataannya. "Fyuh!


"Bagaimanapun.. kamu adalah bos! Semua pasti menurut padamu!" Sahutnya pasrah. Jojo langsung menarik hidungnya, yang membuatnya sedikit meringis. "Aww!


"Itu semua demi kebaikan mu. Bagaimana mungkin, aku membiarkan gadisku bekerja dalam kondisi seperti ini. Kalau bisa.. aku hanya ingin kamu tinggal diam dirumah. Tapi aku juga sadar, kalau itu tidak mungkin. Dia pasti akan marah dan langsung mengabaikan ku dengan kejam." Jelas Jojo sedikit kesal. Kara yang mendapati pengakuannya langsung tertawa bahagia. "Pfft!


"Aku tahu! Kamu pasti senang menghukum ku!" Lanjut Jojo masih dengan kekesalannya. Melihat tingkah menggemaskannya, Kara langsung memeluknya.


"Itulah mengapa aku memilih mu." Ucapnya penuh arti.


"Benarkah?" Sahut Jojo memastikan. Namun ia sudah tampak tersenyum bahagia.


"Tentu saja!" Timpal Kara dengan wajah serius.


"Maka.. berjanjilah untuk tidak meninggalkan ku! Tetaplah disisiku, nona Kara!" Pintanya, seraya menciumi jari-jemari mungilnya. "Emm! Kara hanya menyahutnya singkat. Tiba-tiba ia kembali menyerngitkan dahinya. Lalu melepas pelukannya dari tubuh Jojo.


"Itu.. dimana wanita pengganggu tadi?" Tanyanya memaksudkan Rani.


"Masih memikirkannya? Kamu tenang saja! Dia pasti akan langsung di basmi oleh Zack dan David. Wanita sepertinya.. layak untuk tidak dibelas kasihani lagi." Sahut Jojo dengan nada serius.


"Hemm. Aku ingin bertemu dengannya!" Ucap Kara sambil memikirkan sesuatu. "Hahahah..!" Jojo tertawa kaku mendengarnya. Ia tidak percaya kalau Kara masih berpikir untuk bertemu dengan wanita yang hampir saja membuatnya jatuh kedalam lubang buaya.


"Mengapa menertawai ku?" Tanya Kara disela-sela lamunannya. Akhirnya, Jojo pun kembali menoleh kearahnya.


"Emm. Daripada bertemu dengannya, lebih baik kita kembali kerumah saja. Bagaimana?" Bujuknya. Namun Kara lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


"Tapi.. aku tetap harus bertemu dengannya!" Ucapnya seraya mengedip-edipkan kelopak matanya. Mau tidak mau, Jojo terpaksa mengiyakannya. Itulah senjata rahasia Kara, agar Jojo luluh dengan kata-katanya.


"Baiklah!" Ucapnya pasrah. Kara langsung tersenyum bahagia mendengarnya.


"Tapi.." Jojo menggantung ucapannya, yang membuat Kara berhenti tertawa. Ia menaikkan kedua sudut alisnya, seolah meminta penjelasan.


"Kamu harus makan dulu!" Lanjut Jojo lagi, dan dibalas anggukan kepala oleh Kara. Jojo segera membuka bingkisan nasi yang ia bawa tadi. Sementara Kara yang memperhatikannya, ia bergumam syukur dalam hati.


"Untung saja.. Jojo datang tepat waktu. Kalau tidak.. mungkin aku sudah dinodai oleh pria b******k itu!" Batinnya sambil tersenyum tipis.


Tiba-tiba senyuman diwajahnya, perlahan-lahan mulai menghilang. Ia mengepalkan tangannya diatas seprai.

__ADS_1


"Wanita tidak tahu malu itu! Aku harus memberinya pelajaran!" Geramnya..


Ia tidak menyangka, kalau Rani masih berani mengusik dirinya. Setelah apa yang ia lakukan beberapa tahun lalu.


"Sekalinya j****g, memang akan tetap menjadi j****g seumur hidupnya!" Gumamnya pelan. Dan terdengar oleh Jojo. Namun ia lebih memilih untuk diam.


Disela-sela lamunannya, Jojo langsung menyuguhkan sesendok nasi, mengarah ke mulutnya.


"Nah, aaa.." Ucapnya lembut. Kara langsung tersadar kembali. Tapi wajahnya sudah merona kemerahan.


"Aku, aku bisa makan sendiri!" Ucapnya merasa canggung. Namun Jojo tetap kokoh dengan sendok ditangannya. Mau tidak mau, Kara pun membuka mulutnya. "Nyam..nyam..nyam! Sesuap demi sesuap masuk kedalam mulutnya.


Selama ia makan, tatapan Jojo tak pernah beralih darinya. Hal itu membuat Kara semakin tersipu malu.


"Mengapa, mengapa terus menatap ku?" Tanyanya malu-malu. Jojo lagi-lagi terkekeh dibuatnya. "Pfftt!


"Aku hanya merasa senang saja. Aku senang kamu baik-baik saja!" Ucapnya penuh arti. Ia mengusap-usap pucuk kepala Kara.


"Emm, benarkah?" Sahut Kara masih ambigu. Ia menggaruk-garuk wajahnya yang tidak gatal. Jojo yang tidak tahan melihat ekspresi menggemaskannya, langsung mengecup bibirnya. "Cup!


"Benar, putriku!" Ucapnya penuh semangat. Sedangkan Kara, sudah mencubit kecil perutnya.


"Kamu sembarangan!" Protesnya. Namun Jojo malah bersikap seolah tak bersalah.


"Aku tidak sembarangan. Aku hanya mencium kekasih ku saja. Siapa yang akan melarang ku, hahahhh!" Elaknya sambil terkekeh kesenangan. Kara hanya menggelengkan kepala, sudah pasrah.


Setengah jam kemudian...


Setelah selesai makan, keduanya langsung bergegas menuju ke mobil. Dimana mereka akan pergi ke hutan lebat yang tak jauh dari pinggiran kota. Yang mana, Rani dan Bagus telah dikurung disebuah bangunan tua ditengah-tengah hutan lebat itu. Namun tak luput dari penjagaan anak buah Jojo juga Zack dan David. Disana adalah tempat yang kerap Jojo gunakan untuk membasmi para musuhnya.


Sebelumnya, saat anak buah Jojo hendak membawa keduanya ke kantor polisi, mereka langsung dicegat oleh David dan Zack. Mereka berencana menyiksa keduanya dahulu, sebelum beralih ke jalur hukum.


"Benar-benar wanita ular! Tidak tahu malu!" Ucapnya merasa jijik.


Waktu sekarang...


Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, kini mobil yang Jojo kendarai telah tiba di tempat tujuan. Kedua sepasang kekasih itu langsung turun dari mobil. Kedatangan mereka disambut hangat oleh para bawahannya.


"Selamat sore, Tuan.. Nona!" Sapa mereka sopan. Kara mengangguk sambil tersenyum tipis membalas sapaan mereka. Sementara Jojo, ia hanya berdehem kecil saja. "Emm!


"Dimana mereka?" Tanya Kara, disela-sela langkah kakinya. Jojo langsung menarik tangannya, memasuki sebuah ruangan yang begitu gelap. "Tap..tap..tap! Suara langkah kaki mereka, terdengar oleh Zack dan David. Begitupun dengan Rani dan juga Bagus. Mereka menoleh, penasaran dengan orang yang datang menghampiri mereka.


Jojo menjentikkan jarinya. Anak buahnya yang sudah mengerti langsung menyalakan lampu sorot, tepat dihadapan mereka.


"Kamu?" Kaget Rani, menatap tajam kepada Kara. David yang sudah menggeram sedari tadi, hendak menamparnya. Namun langsung ditahan oleh Kara.


"Apa yang kakak lakukan?" Ucapnya sambil tersenyum lebar. David, Zack dan juga Jojo sampai terheran dengannya. Ia bisa dengan santainya berhadapan dengan Rani, wanita ular yang sudah menjebaknya. Jika hal itu terjadi kepada ketiganya, mungkin mereka sudah menghabisinya tanpa ampun. Namun hal itu berbeda dengan Kara. Ia menghampiri Rani perlahan.


"Apa kamu senang melihat ku?" Ucapnya disertai senyum mengembangnya. "Cih! Rani yang disapa olehnya malah berdecih seolah jijik.


"Aku tidak sudi!" Teriaknya begitu keras. Lagi-lagi David terpancing untuk menamparnya. Namun segera ditahan oleh sang adik. Ia mengisyaratkan tangannya untuk melakukannya sendiri.


Kemudian Kara berjongkok dihadapannya, diikuti belaian tangannya yang mendarat diwajah sinis Rani.


"Sungguh gadis yang malang! Apa pria kebanggaanmu itu sudah meninggalkan mu?" Bisiknya ketelinga Rani. Hal itu membuat Rani semakin naik darah.


"Menyingkirlah dariku!" Pekiknya sudah merapatkan giginya. "Hahaha...! Kara langsung menertawai dirinya.


"Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa.. aku tidak bersedia!" Ucapnya masih berbisik. Tiba-tiba, senyuman manisnya berubah menjadi senyuman licik. "Heh! Apa kamu tahu? Selama beberapa tahun ini.. aku selalu memikirkan mu. Tidak pernah terlewat satu detikpun. Apa kamu ingin tahu alasannya?" Ucapnya sudah menatap tajam Rani. "Glek! Rani menelan salivanya dengan kasar. Keberaniannya seketika menciut.


"Alasannya adalah.. untuk balas dendam!" Lanjut Kara disertai tawa jahatnya. "Hahahah.."

__ADS_1


"Saat pertama kali kita bertemu kembali, aku hampir saja melupakan pengkhianatan mu dulu padaku. Tapi.. semakin aku menyadari, ternyata kebencian mu pada ku, sudah semakin mendalam." Kara menepuk-nepuk wajahnya.


"Dan yang lebih tidak tahu malunya lagi adalah.. kamu masih berpikir untuk melakukan hal yang sama memalukannya pada saat itu. Apa kamu pikir aku tidak tahu? Heh! Aku sudah muak, selalu dipikirkan oleh otak udang mu ini. Setidaknya.. kamu harus mengganti strategi untuk melawan ku. Tapi sekarang.. sudah terlambat! Kamu tidak lagi bisa berbuat apa-apa! Kamu hanyalah sampah tak berguna sekarang!" Teriak Kara dengan emosi yang sudah meluap. Tidak mau hanya berdiam diri, Rani juga kembali meneriaki dirinya.


"Lalu apa, hah? Ingin membunuh ku sekarang? Lakukanlah Kara! Aku ingin lihat.. seberapa hebatnya wanita j****g seperti mu ini!" Teriaknya sambil tertawa bahagia. Ia senang bisa memancing emosi Kara. Disela-sela tawa bahagianya, tiba-tiba.. "Plakk! Kara langsung mendaratkan sebuah tamparan diwajah bagian kirinya.


"Hentikan mulut busuk mu ini!" Geramnya sambil menunjuk kemulut Rani. Ingin rasanya, menjambaknya hingga menggila. Bahkan membunuh nya sekalipun.. ia tidak keberatan. Tapi ia berusaha menahannya.


"Terlalu mudah untuk membunuhmu sekarang!" Lanjutnya lagi. Ia menjentikkan jarinya. "Ceklek! Pintu dibuka oleh salah seorang anak buah Jojo. Ia langsung menghampiri Kara dengan membawa dua buah besi yang sudah ia panaskan bagai bara api. Kemudian, ia menyerahkannya pada Kara. Rani yang melihatnya pun berdesir ketakutan.


"Apa, apa yang akan kamu lakukan?" Ucapnya sudah gemetar. Matanya membulat sempurna melihat tulisan yang terukir di besi tersebut.


"Aku seorang wanita j****g!"


"Dengki, iri hati, pembawa malapetaka!"


"Tidak! Dia pasti sedang bercanda!" Batinnya sambil menggelengkan kepala.


Kara sama sekali tidak mempedulikannya. Kini, ia sudah mengarahkan besi tadi mendekat kewajah Rani.


"Tidak! Jangan!" Teriak Rani membabi buta. Ia tidak rela wajahnya tergores dengan benda memanas itu.


"Berteriaklah sesukamu!" Sahut Kara tak berperasaan. Ia langsung menempelkan besi tadi kewajah Rani. "Sssttttt! Terdengar ingsutan kulit wajahnya terbakar.


"Aahhhhh! Ahhhhh! Hentikan!" Teriak Rani begitu keras.


"Tolong, tolong hentikan!" Teriaknya lagi. Akhirnya Kara pun menghentikannya.


"Aku akan tetap membiarkan mu hidup. Tapi meskipun kamu melakukan oplas sekalipun, goresan ini tetap akan membekas seumur hidup mu!" Ucapnya merasa puas. Ia lalu beranjak menghampiri ketiga pria di belakangnya, yang terlihat sudah melongo keheranan. Ia menyunggingkan senyum manisnya kepada ketiganya.


"Sekarang.. kalian boleh mengirimnya ke penjara!" Ucapnya sedikit melirik kearah Rani yang sudah berteriak mengumpatnya.


"Jojo, Tuan Jojo! Kamu lihat! Wanita ini sangat jahat. Dia bahkan membakar wajah ku!" Sahutnya berteriak pada Jojo. Namun tidak dipedulikannya sama sekali. Ia malah merangkul Kara dengan manja, seolah memanas-manasi dirinya.


"Beruntunglah dia masih membiarkan mu hidup. Tadinya, aku juga sangat berharap jika kamu mati saja sekalian." Ketusnya tanpa menoleh. Lagi-lagi Rani merapatkan giginya.


"Bahkan.. dia tidak peduli dengan kondisi ku yang seperti ini?" Batinnya menangis.


Rani menitikkan air matanya. Ia tak kuasa menahan rasa sakit hatinya. Juga luka diwajahnya. Namun, Kara dan yang lainnya sama sekali tidak peduli. Malahan, Jojo kembali menjentikkan jarinya, memanggil anak buahnya.


"Kalian.. bawa mereka ke kantor polisi!" Titahnya tidak ingin berlama-lama di sana.


"Karna adikku masih bermurah hati padamu, maka tidak akan ku persulit lagi! Tapi.. jika di masa depan, kamu masih berpikir untuk mengulanginya.. aku tidak akan segan untuk segera menghabisimu!" Lanjut David menatap tajam kearah Rani. Kemudian mereka pergi beranjak dari sana. Sementara Rani yang tertinggal, masih saja mengumpat tanpa henti.


"Aku akan membalas mu Kara! Meskipun.. aku sudah menjadi hantu!" Umpatnya dalam hati.


"Kamu tunggu saja! Aku pasti akan membunuhmu! Dasar wanita j****g!" Teriaknya lagi. Mendengar teriakannya, membuat para bawahan Jojo sedikit kesal.


"Diamlah! Atau kami akan benar-benar membakar seluruh wajah busuk mu ini. Aku yakin.. Tuan tidak akan keberatan!" Tegasnya tak berperasaan. "Glek! Rani menelan salivanya. Ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Aku tidak boleh mati. Aku masih harus membalas dendam ku!" Batinnya.


Entah kapan ia akan terbebas dari jeruji besi itu, mungkin ia hanya bisa berharap agar seseorang dapat menolongnya. Tapi siapa? Untuk saat ini, tidak ada satupun orang yang akan berbelas kasih padanya.


TBC


Haloo para readers setiaku:)


Jangan lupa tinggalkan jejak say🐨❤️


I lovyu all😘

__ADS_1


__ADS_2