
Beberapa hari yang lalu, Leona mendapat kabar bahwa lelaki tercintanya di rawat di Rumah Sakit. Jadi, hari ini ia memutuskan untuk menjenguknya kesana. Ia turun dengan anggun dari dalam mobil mewahnya berwarna hitam. Penampilannya yang menawan, membuat pandangan banyak orang teralihkan padanya.
"Dimana Jojo dirawat?" Tanyanya kepada petugas resepsionis. Para petugas merasa ambigu sekaligus penasaran dengannya. Pasalnya, hanya orang terdekat Jojolah yang diberi ijin untuk menjenguknya. Sementara wanita dihadapan mereka, adalah orang tak dikenal dan baru pertama kali mereka lihat.
"Apa kalian tuli? Beraninya mengabaikan ku? Jika, Jojo tahu kalian bersikap tidak sopan padaku.. kalian akan segera dipecat olehnya!" Tegasnya dengan nada mengancam. Mendengar hal itu, mereka semua menjadi takut. Apalagi, penampilan anggun Leona yang tampak tak biasa membuat mereka percaya, kalau dirinya benar-benar dikenal oleh tuannya.
"Jangan nona! Kami sangat membutuhkan pekerjaan ini! Tolong maafkan kami!" Ucap seorang petugas meminta maaf.
"Tuan Jojo.. di rawat di bangsal VIP, lantai 10, nona!" Lanjut yang lainnya sudah tampak khawatir. Tanpa menjawab, Leona langsung beranjak menuju ke lift. Ia menekan angka 10. Sesekali ia merapikan anak rambutnya serta memperbaiki polesan make-upnya.
"Sudah lama tidak bertemu! Pasti banyak hal yang berubah." Ucapnya sambil tertawa kecil.
"Ting! Pintu lift terbuka. Tampak hanya ada satu ruangan saja disana. Ruangan yang cukup luas dan besar, yang dikhususkan untuk Jojo serta orang-orang terdekatnya saja. Leona melangkah kesana. Sebelum masuk, ia lebih dulu memasang senyum lebar diwajah cantiknya. Lalu membuka pintu ruangan. "Ceklek! Matanya membulat, serta senyum cerianya perlahan menghilang kala mendapati Jojo dan seorang wanita yang tampak sangat romantis. Dan kini, tatapan keduanya terpaut menatapnya tanpa berkedip. "Uhuk! Leona sengaja berbatuk kecil untuk membuyarkan tatapan keduanya. Ia lalu berjalan menghampiri mereka dan meletakkan buah bawaannya diatas meja. Tanpa mempedulikan Kara, ia langsung memeluk Jojo dengan mesra.
"Kak, Jojo! Aku sangat merindukan mu!" Ucapnya manja. Siapapun yang melihatnya akan merasa jijik dengan tingkahnya. Terlebih Kara saat ini. Ia bergedik, merasa malu sebagai sesama wanita, melihat tingkah centil Leona. Bukannya membalas pelukannya, Jojo malah mendorong tubuhnya.
"Kamu minggir dulu. Luka ku belum sembuh!" Ucapnya beralasan. Ia tidak ingin Kara menyalapahami dirinya.
"Mengapa kakak bisa terluka?" Tanya Leona merasa khawatir. Ia lalu menoleh menatap Kara. Tatapan sinisnya membuat Kara semakin risih.
"Apa karna wanita ini?" Tunjuknya kewajah Kara. Tapi, lagi-lagi Jojo mengabaikannya. Ingin rasanya Kara tertawa terbahak-bahak saat ini. Tapi, ia menahannya. Tidak ingin mempermalukan Leona, apalagi di hadapan pria idamannya.
"Untuk apa kamu datang kesini?" Tanya Jojo datar.
"Memangnya kenapa jika aku datang mengunjungi kakak? Aku merindukan mu, kak!" Ucap Leona masih dengan nada manja. Kara yang tidak ingin mengganggu pembicaraan keduanya, berniat untuk menyibukkan dirinya dengan hal lain.
"Aku akan membereskan ini dulu. Kalian berbincanglah dengan santai!" Ucapnya sembari membereskan peralatan makan Jojo barusan. Leona sendiri terlihat sangat senang mendengarnya.
"Siapa juga yang ingin diganggu oleh wanita asing sepertimu!" Batinnya senang.
Belum sempat Kara melangkah jauh, tangannya langsung digenggam oleh Jojo. Hingga membuatnya berhenti.
"Jangan pergi, sayang! Temani aku disini!" Lirihnya dengan nada manja. Kara pun mengiyakan perkataannya.
"Emm, baiklah!" Ia mendudukkan tubuhnya ketempat semula. Leona yang tidak terima, langsung menghela nafasnya dengan kasar. "Fyuh!
"Kak Jojo hanya bercanda. Bukankah kamu ingin membersihkan meja itu?" Ia menunjuk jarinya keatas meja yang berantakan. Seketika Jojo memberinya tatapan tajam.
"Kalau kamu hanya ingin membuat keributan saja... sebaiknya kamu pergi sekarang juga. Kamu tidak disambut disini!" Ketusnya tak berperasaan.
"Tapi kak.." Lagi-lagi Leona ingin melakukan pembelaan atas dirinya. Namun tidak mempan bagi Jojo.
"Apa gunanya aku menggaji begitu banyak pelayan?" Ucap Jojo sedikit berteriak. Dan benar saja, beberapa pelayan langsung datang dan segera membereskan meja yang berantakan tadi.
__ADS_1
"Maaf Tuan! Kami terlambat!" Sahut kepala pelayan sopan. Tiba-tiba ruangan hening, tanpa ada seorangpun yang berbicara. Setelah kepergian para pelayan tadi, Leona kembali melanjutkan aksinya. Ia tidak terima Jojo selalu membela wanita dihadapannya. Ia mengambil buah yang ia bawa tadi, dan berniat menawarkannya pada Jojo.
"Kak.. ini Leona bawain buah! Kakak makan ya?" Ucapnya mencoba meluluhkan hati Jojo. Namun lagi dan lagi, Jojo hanya mengabaikannya.
"Tidak perlu! Aku tidak berselera!" Tatapannya tak sedikitpun menoleh Leona, melainkan selalu menatap Kara. Kara yang merasa kasihan, lalu mencubit kecil lengannya.
"Mengapa kamu sangat bermusuhan padanya?" Ia berbisik agar tidak terdengar oleh Leona yang sedari tadi menatapnya dengan sinis.
"Aku tidak ingin kamu salah paham!" Ucap Jojo jujur. Ia mengusap lembut jari-jemari mungil Kara, yang semakin membuat Leona memanas. Ia langsung menarik lengan Kara dengan kasar.
"Kamu.. wanita tidak tahu malu!" Sarkasnya keras. Ia hendak menampar Kara, namun langsung ditahan oleh Kara. "Aish! Terdengat suara helaan nafas beratnya.
"Aku sudah bersabar sejak tadi. Tapi, kamu..? Huh! Benar-benar menjengkelkan!" Ucap Kara sedikit kesal. Kemudian, ia melepaskan tangannya dari lengan Leona.
"Pergilah! Sebelum aku berubah pikiran!" Lanjutnya sudah pasrah. Tapi Leona tidak mengindahkan perkataannya. Ia kembali menghampiri Jojo dan menyentuh lengannya.
"Mengapa? Mengapa kakak tidak pernah menganggap ku? Aku menyukaimu, kak! Hiks..hiks..hiks!" Tangisnya pecah. Ada rasa iba diwajah Kara, tapi ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia hanya bisa membujuk Jojo agar mau berbicara baik-baik. Ia tidak ingin kesalahpahaman Leona menghancurkan hubungan mereka.
"Aku sudah menganggap mu sebagai adikku. Jadi Leona.. berhentilah berharap padaku! Kamu hanya adik bagiku, tidak lebih." Jelas Jojo to the point.
"Apa?" Tanya Leona gemetar. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kakak... pasti bercanda kan?" Lanjutnya sembari menggelengkan kepala. Ia berharap semua perkataan Jojo barusan hanya candaan saja. Tapi, nyatanya tidak.
"Aku tidak ingin menyakitimu. Karna aku tahu, kamu adalah orang yang baik." Ucapnya lembut. Ia melepaskan pelukannya dan memegang kedua tangan Leona.
"Aku yakin, suatu hari nanti.. kamu akan dipertemukan dengan pria yang akan mencintaimu dan bisa menghargai perasaanmu. Mungkin.. Jojo bukan orang yang tepat untukmu. Tapi, kamu tidak boleh putus asa karna hal ini. Hidup harus terus berlanjut!" Lanjutnya kembali memeluk Leona. Leona membalas pelukannya.
"Tapi.. aku, aku tidak bisa melupakannya begitu saja." Ucapnya masih menangis sesegukan.
"Sekarang.. memang belum. Tapi seiring berjalannya waktu, kamu pasti bisa." Sahut Kara menasihati. Ia lalu menoleh kearah Jojo dan menatapnya lekat.
"Kamu tetap bisa kok, menganggapnya sebagai kakak mu! Aku tidak keberatan!" Ucapnya lagi. Jojo sampai terheran melihatnya. Ia bisa meluluhkan Leona dengan cepat. Berbeda dengan dirinya, yang selalu mengabaikan Leona tanpa memberinya penjelasan yang pasti.
"Kamu.. kamu wanita yang baik!" Lirih Leona menatap Kara. Ia merasa bersalah karna hampir saja menyakiti Kara yang tidak bersalah.
"Aku minta maaf! Dan terimakasih!" Lanjutnya sembari memegang kedua tangan Kara. Kemudian ia melirik Jojo sekilas.
"Tolong, jaga dia untukku!" Saat ia hendak berbalik, Kara kembali memeluknya. Ia tahu, betapa hancurnya hati gadis polos itu saat ini.
"Kita bisa berteman. Jadi, kamu tidak perlu sungkan lagi padaku." Ucapnya tulus. Pelukannya dibalas hangat oleh Leona. Ini adalah kali pertama, ia diperlakukan tulus bahkan dianggap sebagai teman oleh sesama wanita. Selama ini, ibunya selalu melarangnya bergaul dengan orang luar. Bahkan, ia hanya diijinkan berteman dengan para kalangan wanita kelas atas saja. Hal itulah yang membuatnya selalu sombong dan tidak pernah menghargai orang lain. Tapi, setelah melihat ketulusan Kara.. ia baru sadar. Kadang kala, hal kecil bisa membuatmu lebih bahagia. Pertemanan kecil, mungkin saja bisa menghilangkan kesedihan hatinya.
"Aku senang bisa berteman dengan mu!" Ucapnya sambil tersenyum. Kemudian ia melepas pelukannya.
__ADS_1
"Suatu hari nanti, aku ingin mengajak mu jalan-jalan. Aku ingin tahu lebih banyak tentang mu, teman ku!" Keduanya saling melempar senyum satu sama lain. Lalu ia menoleh kembali kearah Jojo.
"Aku akan menerima semua keputusan mu kak Jojo. Meski, sangat sulit bagiku!" Matanya tampak berkaca-kaca. Tapi, ia berusaha menahannya agar tidak menangis lagi. Ia berbalik segera untuk menghindari tatapan pria yang akan membuatnya semakin tidak ingin pergi dari sisinya.
"Aku pergi!" Ia berlari keluar ruangan. "Bruk! Tanpa sengaja ia menabrak Zack yang hendak masuk kedalam.
"Maaf, maaf nona!" Ucap Zack merasa bersalah. David yang tak jauh dari sana pun bisa menyaksikan pemandangan dihadapannya. Tapi, ia lebih memilih untuk melanjutkan perbincangannya dengan Dr.Rian, paman sekaligus ayah angkatnya.
"Kamu baik-baik saja kan? Maafkan saya. Saya tidak sengaja!" Sahut Zack semakin merasa bersalah, kala melihat Leona yang sudah menangis tanpa henti. "Hiks..hiks..hiks! Zack merasa ambigu, tidak tau harus berbuat apa lagi.
"Apa anda terluka?" Tanyanya lagi. Tapi hanya dibalas gelengan kepala oleh Leona.
"Saya tidak apa-apa. Permisi, pak!" Pamitnya dan segera berlalu dari sana dengan isakan tangis yang tiada henti. Zack hanya mengedikkan bahunya.
"Dia tidak terluka, tapi menangis?" Ucapnya tak mengerti. Ia baru tersadar dengan perkataan Leona barusan. Hah? Matanya membulat sempurna.
"Apa aku setua itu? Dia memanggilku pak?" Lanjutnya menggerutu. Tapi, pikirannya buyar seketika.
"Hanya ada satu ruangan disini. Dan aku melihat jelas, kalau wanita itu keluar dari dalam. Apa jangan-jangan" Otaknya dipenuhi dengan pikiran negatif. Secepat kilat ia berlari kedalam.
"Joo.. apa yang terjadi?" Teriaknya tampak khawatir. Jojo yang mendengar teriakannya langsung menatapnya dengan tajam.
"Ada apa?" Ketusnya. Tapi tidak disahut oleh Zack. Huh! Ia mengusap dadanya lega. Ternyata, Jojo baik-baik saja. Ia sempat berpikir kalau terjadi hal buruk padanya.
"Siapa wanita barusan?" Tanyanya penasaran. Namun Jojo hanya memutar matanya malas. Ia tidak ingin menjelaskan. Berbeda dengan Kara, ia langsung berinisiatif menjelaskan.
"Dia penggemar berat Jojo, kak. Tapi, tidak tau besok atau kedepannya masih sama." Jelas Kara sambil terkekeh kecil. Zack hanya menganggukkan kepala.
"Apa kamu tertarik padanya?" Goda Jojo menjahilinya. Tapi, Zack malah membalasnya dengan tawa seringaiannya.
"Tertarik dari hongkong? Aku hanya kasihan padanya. Dia menangis histeris, seperti dikejar setan tau?" Ucapnya asal.
"Benarkah?" Tanya Jojo masih terkekeh.
"Tentu saja!" Kesal Zack. Ia menyibikkan bibirnya sebelah. Kara hanya bisa menggeleng sambil tertawa menyaksikan perdebatan keduanya.
TBC
Halo para readers setiaku💜💜
Jangan lupa tinggalkan jejak say🤗
I lovyu all😘
__ADS_1