
Zaskia yang menyadari bahwa dirinya telah melukai Jojo, langsung melongo. Pistol terjatuh begitu saja dari genggaman tangannya. Tubuhnya terhuyung, tak seimbang.
"Apa yang ku lakukan?" Gumamnya dalam hati.
Ia menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tidak mengira, kalau ia akan melukai Jojo dengan tangannya sendiri.
Sementara itu, Jojo masih memeluk erat tubuh Kara. Ia menahan rasa sakitnya. Tidak ingin membuat Kara khawatir. "Hiks..hiks.. hiks! Namun, deraian air mata Kara sudah mengalir begitu deras. Ia merasa bersalah telah melibatkan kedua pria kesayangannya itu.
"Kamu.. kamu terluka!" Ucapnya gemetar. Ia menyentuh kedua pipi eksotis pria dihadapannya. Dengan sigap Jojo meraih tangannya. Ia menggeleng disertai senyum tipis bibirnya.
"Aku baik-baik saja! Jangan menangis!" Ucapnya lembut. Ia mengusap air mata Kara. Dan kembali memeluknya dengan erat. Namun tak menunggu waktu lama, tubuh Jojo mulai melemah. Ia terjatuh kelantai, tak kuasa menahan rasa sakitnya lagi. "Ugh!
"Jojo.. Jojo! Jangan tinggalkan aku! Aku mohon!" Teriak Kara frustasi. David tidak tega melihatnya. Ia pun menghampiri keduanya. Meski ia juga sudah terluka parah.
"Kakak disini!" Ucapnya mengusap rambut sang adik. Kemudian ia menoleh kearah Jojo. Dan memegang tangannya.
"Tetaplah sadar, Jo! Aku yakin kamu kuat!" Ucapnya pelan. David memejamkan matanya berusaha untuk menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.
"Zack.. cepatlah datang! Aku juga tidak kuat lagi! Bagaimana nasib Jojo nantinya?" Batinnya penuh harap.
Suara tangisan Kara memenuhi seisi ruangan.
"Jangan tinggalkan aku, Jo! Aku tidak mengijinkan mu pergi!" Lirihnya. Kemudian, Jojo meraih tangannya dengan lembut. Meski matanya sudah terpejam sedari tadi.
"Aku tidak akan mati! Jangan menangis!" Ucapnya dengan suara lemahnya. Bersamaan dengan itu, pintu kembali terbuka. "Brakk! Ternyata Zack dan yang lainnya sudah tiba. Ekspresi wajah Zack tampak sangat marah. Ia berjalan menghampiri kedua sahabatnya dahulu.
"Maaf, aku terlambat!" Ucapnya merasa bersalah. Andai, ia datang lebih awal. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Dikarenakan urusan keluarganya, membuatnya sedikit terlambat.
"Jangan omong kosong lagi. Selamatkan Jojo!" Sahut David tak sabaran. Karna tidak tahan lagi, iapun terjatuh pingsan di lantai. Kara semakin menangis histeris dibuatnya.
"Kakak...! Kakak..! Jangan tinggalin Kara!" Teriaknya.
"Apa yang kalian lakukan? Cepat bawa mereka ke rumah sakit!" Teriak Zack, kepada para bawahannya. Lalu beberapa diantara mereka pun segera membawa David dan juga Jojo ke rumah sakit, diikuti oleh Kara. Kara memegang tangan Jojo dan David secara bersamaan. Ia tidak ingin melepas genggaman tangannya.
Sementara Zack yang tertinggal, langsung beranjak menghampiri Zaskia. Sorot matanya begitu menakutkan. Hingga membuat Zaskia merinding dan gemetar. Tak hanya dia. Tapi juga kedua anak buahnya.
"Kamu.. jangan mendekat!" Sahutnya terbata, namun Zack tak mempedulikannya. Zack mencengkeram kuat dagunya, hingga ia sedikit meringis.
"Dasar wanita j****g!" Pekiknya begitu keras. Ia semakin mempererat cengkeraman tangannya di dagu Zaskia.
"Aku akan membuatmu lebih baik mati daripada hidup!" Lanjutnya berteriak. Tiba-tiba ia tertawa menyeringai padanya. "Heh! Lalu menjentikkan jarinya.
"Ya, bos!" Sahut Liam, anak buah Zack.
"Kirim wanita menjijikkan ini ke bangsal di Amerika. Lakukan operasi ganti gender sepenuhnya!" Ucapnya menatap Zaskia dengan tatapan mengejek. Mendengar hal itu, Zaskia langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku tidak mau!" Teriaknya begitu keras. Namun Zack lagi-lagi tidak peduli.
"Kamu tidak berhak mengatur ku!" Pekiknya dan hendak berjalan keluar. Namun langkahnya kembali terhenti, kala anak buahnya kembali bertanya.
"Bagaimana dengan kedua orang ini bos?" Tanya mereka. Zack langsung menunjukkan ekspresi wajah tak sukanya.
"Masih bertanya?" Tegasnya. Baru saja ia berucap, Liam langsung menembak mati keduanya. "Dor..dor! Dan Zaskia pun semakin ketakutan.
"Dasar monster!" Batinnya.
__ADS_1
Belum sempat Zack keluar dari sana, pintu kembali terbuka.
"Zaskia.. Zaskia..! Kamu dimana?" Teriak seseorang yang tak lain adalah Reyhan. Zaskia langsung tersenyum senang. Ternyata, Reyhan datang untuk menyelamatkan aku, pikirnya.
"Reyhan..!" Ucapnya senang. Sementara Zack, ia langsung bertepuk tangan menyaksikan keduanya. "Prok..prok..prok! Ia tersenyum sinis kearah mereka.
"Kalian bekerjasama ternyata? Benar-benar pasangan yang serasi!" Ledeknya sambil terkekeh.
"Kamu?" Sahut Reyhan menatapnya dengan tatapan aneh.
"Siapa dia?" Batinnya.
Ia memang tidak mengenal Zack sebagai sahabat Jojo. Karna ini pertama kali baginya melihat Zack.
"Apa kamu yang sudah menolongnya?" Tanyanya menunjuk ke Zaskia. "Hahahah...!" Kali ini, bukan hanya Zack seorang yang tertawa. Tapi juga Liam dan yang lainnya.
"Yang benar saja! Apa dia buta atau gimana?"
"Dia benar-benar sudah gila!"
"Apa matahari terbit dari bagian Selatan? Hahahah.."
Banyak diantara mereka yang meledek dirinya. Namun ia belum mengerti.
"Menurut bos.. orang ini baiknya diapakan?" Tanya Liam lagi. Ia meregangkan otot-otot jari-jemarinya.
"Bagaimana menurut kalian.. jika kedua pasangan ini berganti gender? Apa jadinya nanti?" Sahut Zack serius. Namun, Liam dan yang lainnya malah tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha....! Sementara Reyhan, sudah membulatkan matanya. Bagaimana mungkin, pikirnya. Tapi, ia tetap angkuh seperti biasa.
"Apa kalian tidak tahu siapa aku?" Ucapnya tertawa sinis. Liam dan yang lainnya kembali terkekeh geli. Begitupun dengan Zack.
"Apa kalian menantikannya?" Tanyanya senang.
"Kami menantikannya bos!" Sahut mereka serempak. Zack pun menganggukkan kepalanya.
"Maka lakukanlah secepatnya! Jangan mengecewakan ku." Ucapnya tersenyum. Kemudian ia beranjak pergi dari sana. Sedangkan para anak buahnya masih saja tertawa geli melihat Reyhan juga Zaskia. Mereka tidak peduli meski keduanya berteriak mengumpat mereka. Yang terpenting adalah bisa menyaksikan keduanya saling bertukar gender. Entah siapa yang akan lebih cantik atau tampan dari aslinya? Mereka sangat menantikannya.
Sementara itu...
"Di rumah sakit"
Operasi sedang berlangsung. Kara terduduk menangis di kursi ruang tunggu. Kali ini, ia benar-benar sangat merasa bersalah akan kejadian kali ini. Sejak tadi, beberapa pelayan wanita telah berusaha untuk menenangkannya. Tapi tetap saja tidak bisa. Bahkan, minum seteguk air pun tidak mau. Rasanya hanya ingin menangis dan menangis.
"Non...! Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Nanti malah jatuh sakit lagi. Bibi gak mau non sampe sakit. Apalagi Tuan. Jika Tuan sudah sadar dan melihat keadaan non seperti sekarang ini, Tuan pasti akan sangat sedih." Bujuk Bi Rumi. Kara hanya menolehnya sekilas. Namun masih tetap terdiam.
"Non itu orang baik. Jadi, ini bukan salah nona!" Lanjutnya lagi berusaha membujuknya. Kara langsung menatap wajah sendu Bi Rumi sembari mengusap air matanya perlahan.
"Orang baik? Hahahah...! Apa aku baik, sampai membuat kedua orang yang ku cintai terluka begini?" Ucapnya tertawa paksa. Kemudian ia menggeleng.
"Nggak! Aku bukan orang baik. Bibi terlalu naif. Aku adalah orang terjahat di dunia. Jika bukan karna aku.. hiks! Jika bukan karna aku hiks.. mereka tidak akan terluka! Hiks..hiks..hiks! Aku orang jahat....!" Kara memukul-mukul dadanya. Hal itu membuat Bi Rumi ikut terisak.
"Non, ti.." Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Zack yang baru saja tiba langsung menepuk pundaknya dan memintanya untuk segera pergi. Ia memberi isyarat tanpa suara. Bi Rumi hanya bisa mengangguk setuju. Ia tidak ingin semakin memperkeruh suasana. Setelah kepergiannya, Zack segera duduk disamping Kara. Ia mengusap pundak Kara dengan lembut, yang menyadarkan Kara dari isakan tangisnya.
"Semua akan baik-baik saja! Mereka pasti sembuh! Jadi, jangan menangis lagi, ok?" Ucapnya berusaha tersenyum.
"Tapi kak.. ini semua karna keteledoran ku. Aku pantas disalahkan." Lirih Kara dengan wajah sendunya. Zack menggeleng tidak setuju.
__ADS_1
"Ini adalah musibah!" Sahut Zack masih menatapnya dengan lekat.
"Tapi.." Kara hendak menyahutnya lagi, namun langsung didahului oleh Zack.
"Jika mereka tahu kamu menyalahkan dirimu atas semua ini, mereka pasti akan sangat sedih." Sahutnya berusaha menjadi kakak yang baik untuknya.
"Lalu.. Kara harus gimana, kak?" Tanya Kara tidak mengerti.
"Intinya kamu dilarang untuk bersedih. Aku melarang mu, meski aku bukan David dan Jojo. Karna aku sudah menganggap mu sebagai adikku. Jadi aku sama seperti mereka. Tidak mengijinkan mu bersedih!" Zack mengusap air mata Kara perlahan.
"Dan satu hal lagi. Kedepannya.. jangan terlalu mudah percaya dengan orang lain. Mengerti? Siapapun itu! Kadang kala, kita memang ditakdirkan untuk bertemu dengan para manusia jelmaan iblis. Tapi, sebisa mungkin kita harus lebih pintar dari mereka. Karna orang-orang seperti ini adalah penghancur paling membahayakan yang tidak ada obatnya." Ucapnya sambil tersenyum tipis. Kara pun menganggukkan kepalanya.
"Emm..! Sebaiknya kita banyak berdoa, agar mereka cepat sembuh." Lanjut Zack lagi dan kembali dibalas anggukan oleh Kara.
Mereka duduk menunggu cukup lama disana. Dibarengi dengan doa dan harapan, serta rasa khawatir yang tiada henti sejak beberapa jam yang lalu. Kara sesekali berjalan kesana-kemari sembari merapatkan kedua tangannya. Dan Zack sendiri adalah saksi untuk semua rasa khawatirnya. Meski ia juga sebenarnya sangat khawatir akan keselamatan kedua sahabatnya itu. Keduanya memang dioperasi secara bersamaan. Akibat benturan keras di kepalanya, mengharuskan David untuk ikut serta menjalani operasi.
Beberapa jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka.
"Ceklek! Kara juga Zack langsung menoleh dan menghampiri Dokter serta beberapa perawat yang baru saja melangkah keluar.
"Bagaimana keadaan mereka, Dokter?" Tanya Zack tak sabaran.
"Operasinya berjalan dengan lancar. Tapi, mereka harus benar-benar istirahat total dalam beberapa bulan kedepan. Agar proses pemulihannya tidak terhambat." Sahut Dr.Rian merasa lega. Ia lega operasinya berjalan dengan baik. Apalagi David sendiri sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.
"Syukurlah!" Sahut Zack dan Kara bersamaan.
"Terimakasih Dok!" Sahut Kara lagi. Dan dibalas anggukan oleh Rian.
"Apa kami boleh masuk ke dalam?" Tanya Zack penuh harap.
"Silahkan!" Sahut Dr.Rian mempersilakan.
"Tapi, mereka masih belum sadar, akibat obat bius. Mungkin, besok pagi baru akan sadar!" Lanjutnya lagi dengan sopan. Tanpa mempedulikan perkataannya lagi, Kara sudah berlari masuk kedalam. Zack yang melihatnya hanya menggeleng kepala. Ia juga ikut senang, kondisi kedua sahabatnya sudah baik-baik saja.
"Di dalam kamar rawat"
Kara segera mencium wajah kedua pria tampan yang kini sedang berbaring disampingnya. Ia lalu meraih tangan keduanya.
"Terimakasih untuk tidak meninggalkan ku!" Ucapnya senang. Namun air matanya kembali berlinang.
"Kara janji! Mulai hari ini.. aku tidak akan membebani kalian lagi." Ucapnya pelan. Ia menautkan kedua tangan pria disampingnya ke wajahnya, sembari memejamkan matanya.
"Karna kalian sangat berharga bagiku! Aku tidak akan menyia-nyiakan kalian lagi!" Gumamnya dalam hati.
Sementara Zack, ia juga tampak sangat senang. Namun, matanya juga sudah berkaca-kaca.
"Aku tau, kalian berdua adalah sahabat ku. Para lelaki kuat.. tidak akan mudah mati!" Batinnya senang.
TBC
Halo para readers setiaku:)
Jangan lupa tinggalkan jejaknya say🐨
I lovyu all😘
__ADS_1