
Jojo mengusap lembut pucuk kepala gadisnya itu. Sesekali ia mencium kening Kara, seraya memejamkan matanya. Begitupun dengan Kara, ia menikmati pelukan hangat Jojo. Rasa lelah dan penatnya hilang seketika, seolah mendapat kekuatan baru lagi.
"Apa kamu lelah?" Tanya Jojo penuh kasih. Kara hanya menggeleng tanpa berbicara. Ia masih memejamkan wajahnya di dada bidang Jojo. Jojo kembali tersenyum.
"Sepertinya.. kelinci kecil ku semakin manja saja!" Batinnya senang.
"Haruskah kita pergi sekarang?" Tanyanya penuh hati-hati. Lagi-lagi Kara menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku masih ingin mengumpulkan kekuatan ku!" Ucapnya pelan. Ia ingin mengisi kembali daya baterainya dengan memeluk prianya itu. Entah mengapa? Itulah kebiasannya. Dengan memeluk Jojo, ia bisa merasa lebih aman dan tenang.
"Baiklah!" Jojo membiarkannya saja. Ia tahu pasti Kara sangat lelah akhir-akhir ini. Setelah selesai bekerja, ia harus datang mengunjungi Jojo ke rumah sakit. Padahal dia sudah melarangnya. Tapi tetap saja Kara ngotot untuk mengunjunginya.
Ditengah-tengah keromantisan keduanya, tiba-tiba terdengar teriakan seseorang, memanggil nama Kara dengan bahasa Korea. Siapa lagi kalau bukan Mi-Rea. Dan hal itu membuat pasangan kekasih itu saling melepas pelukannya.
"Kara...? Ini.. kalian? Kenapa bisa?" Mi-Rea terbelalak tidak percaya. Ia sampai menjatuhkan ponsel ditangannya. Bagaimana mungkin, bos bisa tertarik dengan Kara, pikirnya. Siapapun tidak akan percaya jika tidak melihat pasangan yang sedang kasmaran ini secara langsung. Mengingat sikap dingin Jojo terhadap semua wanita selama ini. Orang-orang selalu berpikir, kalau suatu kemustahilan jika Jojo bisa tertarik ataupun memiliki kekasih.
"Ehh.. Mi-Rea?" Sahut Kara merasa canggung. Kara memang tidak pernah memberitahunya jika dia menjalin hubungan asmara dengan Jojo. Kemudian, Mi-Rea menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin kan? Mereka berpacaran? Pasti aku yang terlalu banyak berpikir!" Gumamnya dalam hati.
Lalu, ia menarik tangan Kara.
"Kamu harus menjelaskannya padaku!" Bisiknya ketelinga Kara. Ia kembali menoleh kearah bosnya berdiri.
"Tuan.. kalau begitu kami tidak akan mengganggu anda lagi. Kami harus segera pulang!" Ucapnya sopan seraya menundukkan kepalanya. Ia berpikir kalau Jojo hanya memanfaatkan Kara saja.
"Ehh? Itu.." belum sempat Kara selesai berbicara, langsung dipotong oleh Mi-Rea.
"Benarkan sayang? Kita harus kembali untuk istirahat!" Sahutnya lagi seraya mencubit kecil pipi mungil Kara.
"Itu, bukan.." lagi-lagi Mi-Rea memotong pembicaraan nya. Ia tidak memberi Kara ruang untuk menjelaskan tentang kebenarannya. Malah, semakin menggurui dirinya.
"Apa kamu merasa bersalah meninggalkannya? Ada apa denganmu? Dengar ya.. dia adalah bos! Sebaiknya, kamu tidak terlalu menaruh banyak harap terhadapnya" Celotehnya tanpa henti. Sementara Jojo, ia sudah tampak geram melihat Mi-Rea saat ini.
"Beraninya dia?" Kesalnya dalam hati.
Tanpa berpikir panjang, Jojo kembali menarik tangan Kara hingga wajahnya menempel di dada bidangnya.
"Kenapa kamu begitu over protective terhadapnya?" Ketus Jojo, menunjukkan tatapan mematikannya. Hal itu membuat Mi-Rea menelan salivanya. "Glek!
"Ada apa ini? Sepertinya..ada yang terlewat?" Gumamnya merasa bersalah.
"Tuan, maksud.." belum selesai ia berbicara, Jojo langsung melanjutkan perkataannya dengan tegas.
"Kara adalah kekasihku! Kenapa dia harus mengikuti aturan mu?" Ketusnya tak berperasaan.
"Ahh, oh.. begitu rupanya!" Sahut Mi-Rea masih belum sadar.
"Benar!" Jojo kembali menoleh menatap Kara. Keduanya saling membalas senyuman satu sama lain. Tiba-tiba mereka kembali terkaget mendengar teriakan Mi-Rea.
"Apaaaaa? Apa maksud.. emmh" Kara segera menghampirinya dan mengatup mulutnya dengan tangannya. Karna sudah banyak orang yang menoleh kearah mereka, mendengar teriakan Mi-Rea barusan.
"Berbicaralah dengan pelan! Banyak orang yang melihat kesini!" Bisik Kara seraya melepaskan tangannya.
"Hosh..hosh..hosh! Mi-Rea masih ngos-ngosan. Ia mengibas-ngibaskan tangannya agar Kara tidak terlalu khawatir. Setelah nafasnya normal, ia kembali melanjutkan perkataannya.
"Uhuk! Coba jelaskan! Kalian.. berpacaran?" Bisiknya, namun masih terdengar oleh Jojo. Kara hanya mengangguk mengiyakan.
"Kenapa tidak memberitahu ku? Habislah aku! Jangan-jangan Tuan akan memecat ku sekarang?" Ia mulai khawatir, mendapati tatapan dingin Jojo saat ini.
"Kamu tenang saja! Aku akan mengurusnya!" Bisik Kara berusaha menenangkannya.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian. Kamu pulanglah lebih dulu! Aku akan segera kembali!" Lanjut Kara, seraya mendorong tubuhnya untuk segera pergi menjauh dari mereka. Sementara Jojo, ia masih terdiam tanpa ekspresi.
Setelah kepergian Mi-Rea, Kara segera menghampiri Jojo dan memeluk mesra lengan kekarnya.
"Emm..? Kamu tidak boleh marah!" Ucapnya manja sambil mengedip-edipkan matanya kearah prianya itu. Seketika Jojo kembali tersenyum bahagia melihat tingkah menggemaskannya. Kemudian, ia mengusap-usap rambut indah gadisnya itu.
"Aku tidak marah!" Ucapnya pelan.
"Benarkah? Aku senang mendengarnya!" Sahut Kara merasa kegirangan.
"Emm! Apa kekuatan mu sudah pulih?" Tanyanya memastikan.
"Umm.. iya!" Sahutnya seraya tersenyum lebar.
"Baiklah! Kalau begitu.. ikutlah denganku!"
"Hah? Kemana?"
"Kamu akan tau nanti!" Sahut Jojo seraya menarik lembut tangan mungilnya. Ia menuntun Kara menuju ke mobil.
"Brak! Suara pintu mobil tertutup. Kara duduk disamping setir, tepat disebelah Jojo. Jojo segera memakaikan sabuk pengaman untuknya. Hari ini, ia sengaja tidak membawa anak buahnya, karna tidak ingin hari bahagianya diganggu oleh siapapun. Ia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Kara sebelum ia kembali ke Korea. Tak menunggu waktu lama, Jojo segera melajukan mobilnya menuju ke Alma Star Hotel.
Karna jaraknya yang tidak terlalu jauh, jadi mereka bisa sampai dalam waktu singkat. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk bangunan pencakar langit yang menjulang tinggi itu.
"Hah? Kara menyerngitkan dahinya. Mengapa dia membawa ku kesini, pikirnya. Ia mulai berpikiran negatif.
"Apa dia akan..." gumamannya terhenti karna Jojo sudah menutup matanya dengan kain berwarna hitam.
"Apa yang..." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Jojo sudah menutup bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Ahhh...! Aku bisa jalan sendiri." Bisiknya ketelinga Jojo.
"Tapi aku tidak ingin membuatmu merasa lelah!" Ucapnya, penuh arti. Akan sangat sulit untuknya berjalan dengan memakai penutup mata, pikirnya.
"Aku..."
"Emm? Jangan khawatir Tuan Putri. Kita akan segera tiba!" Ia tetap bersikeras agar Kara terdiam.
Kemudian, ia melangkahkan kaki panjangnya menuju kedalam. Semua orang terheran melihatnya. Tapi, mereka tidak lagi berani berkutik seperti kemarin, karna sudah diperingati oleh Richard. Jika mereka melanggar, akan segera dipecat tanpa pesangon sedikitpun. Sehingga, mereka hanya bisa bergumam dalam hati saja.
"Ting! Suara pintu lift terbuka. Jojo segera masuk kedalam. Hembusan nafasnya yang hangat terasa ditelinga Kara. Hal itu membuat wajahnya bersemu merah.
"Berapa lama lagi, kami akan sampai? Bisa-bisa aku keburu pingsan nih, menahan suasana yang menegangkan ini!" Gerutunya dalam hati.
Berselang beberapa menit, pintu lift kembali terbuka.
Mereka langsung disambut oleh para pelayannya.
"Selamat malam, Tuan!" Sahut mereka, seraya membungkukkan badannya. Jojo menghentikan langkahnya sesaat.
"Apa semuanya, sudah beres?" Tanyanya penasaran.
"Beres, Tuan!" Sahut mereka serempak dan dibalas senyuman oleh Jojo.
"Baiklah! Kalian boleh kembali!"
"Baik, Tuan!"
"Sepertinya.. gadis ini sangat spesial bagi Tuan!" Batin mereka, melihat perlakuan lembut Jojo terhadap Kara.
__ADS_1
Sementara itu, Jojo yang baru saja masuk kedalam, langsung menurunkan tubuh Kara perlahan. Lalu, ia memposisikan dirinya, tepat dibelakang Kara. Senyuman mengembangnya lolos terlukis di wajah eksotis nan tampannya. Perlahan dibukanya kain penutup mata gadisnya itu. Dan...
"Surprise!" Ucapnya lembut ketelinga Kara. Kara sontak terbelalak melihat sekelilingnya. Deraian air mata bahagia, mengalir di wajah cantiknya. Ia masih menggeleng tidak percaya, melihat ruangan yang begitu luas dan telah didekorasi semewah mungkin.
Ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lilin. Seisi ruangan dipenuhi dengan hiasan bunga mawar merah kesukaannya. Dan sebuah meja disertai kursi, disisi kanan dan kiri tertata begitu rapi. Nuansa keromantisan memenuhi ruangan tersebut.
Jojo berjalan menghampiri Kara. Ia meraih tangan mungilnya dengan lembut dan meletakkannya di dada bidangnya.
"Selamat ulang tahun, sayang!" Ucapnya lembut seraya memeluknya dengan hangat. Kara hanya tersenyum, namun air matanya tiada berhenti.
Beberapa saat kemudian, Jojo melepas pelukannya. Ia memegang wajah gadisnya itu. Lalu mengusap air matanya dengan lembut. Kara kembali memeluknya.
"Dia ternyata.. mempersiapkan ini semua? Aku bahkan hampir melupakan hari ulang tahunku sendiri!" Gumamnya dalam hati.
Ia memang tidak ingat, kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Karna disibukkan dengan pekerjaan, jadi ia tidak sempat membuka aplikasi WeChatnya. Ternyata sudah banyak pesan masuk dari orang-orang terdekatnya. Terlebih dari kakak kesayangannya. David adalah orang pertama yang memberinya ucapan selamat ulang tahun.
"Baiklah! Berhenti menangis! Atau.. kue ulang tahunmu juga akan menangis nanti!" Jojo terkekeh kecil menggodanya. Ia lalu menuntun Kara untuk duduk dikursi. Setelah keduanya duduk, Jojo langsung saja menyalakan lilinnya.
"Oke, Tuan Putri! Make a wish!" Ucapnya seraya tersenyum lebar dan dibalas anggukan oleh Kara. Kara menutup matanya dan melipat kedua tangannya.
"Tuhan, aku hanya berharap tidak dipisahkan lagi dari orang-orang yang ku sayangi. Aku ingin hidup bahagia bersama mereka. Terlebih pria dihadapanku dan juga kakak ku untuk selamanya!"
Itulah doa harapan Kara. Kemudian, mereka meniup lilinnya secara bersamaan. Keduanya saling membalas senyuman satu sama lain.
"Sekali lagi, happy birthday sayang! Berbahagialah selalu!" Sahut Jojo lagi.
"Terimakasih untuk segalanya, bayi besar!" Timpal Kara tersenyum senang. Jojo hanya terkekeh mendengarnya. Ia mengusap-usap rambut Kara. Kemudian, Kara memotong kuenya dan langsung menyuapkan potongan besar ke mulut Jojo.
"Haha.. aku sangat bahagia!" Ucapnya lagi masih tertawa. Tidak hanya sampai disitu saja, ia melumuri seluruh wajah Jojo dengan krim kuenya. Jojo pasrah saja. Tidak ingin mengacaukan hari bahagianya ini.
Beberapa saat kemudian, Jojo kembali merogoh saku celananya. Ia mengambil sebuah kotak kecil dari sana. Dan langsung saja, ia membukanya. "Hah? Kara terkejut melihatnya. Ternyata, sebuah cincin berlian.
Jojo berlutut dihadapannya. Ia menautkan kaki kirinya kebawah dan sebaliknya, kaki kanannya berada diatas. Kemudian, ia meraih tangan Kara dan mengusapnya perlahan.
"Maukah kamu menikah dengan ku dimasa depan, nona?" Ucapnya penuh harap.
"Hah? Dia melamar ku?" Batin Kara.
Tanpa banyak berpikir lagi, Kara segera mengangguk setuju.
"Aku mau!" Ucapnya tersenyum haru. Lalu Jojo memakaikan cincin berlian itu ke jari manisnya dan menciumnya sekilas.
"Terimakasih sayang!" Ucapnya lembut dan dibalas senyuman oleh Kara. Kemudian, ia memapah tubuh Jojo untuk berdiri kembali. Tak lupa, ia juga merapikan kembali pakaian prianya itu.
Tanpa menunggu persetujuan dari Kara, Jojo langsung mencium bibir ranumnya.
"Mulai sekarang.. kamu adalah tunanganku, sekaligus istri masa depanku!" Sahutnya penuh arti.
"Emm" Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Kali ini, ia benar-benar sangat bahagia. Disayangi dan diperlakukan dengan begitu lembut oleh seorang kekasih merupakan dambaan hati setiap orang. Begitupun dengan Kara. Ia benar-benar beruntung bisa dipertemukan dengan Jojo.
"Kamu adalah satu-satunya wanita yang akan ku cintai, mulai saat ini.. sampai selama-lamanya!" Lanjut Jojo lagi. Keduanya kembali berciuman dengan penuh kelembutan.
TBC
Halo para readers setiaku:)
Jangan lupa tinggalkan jejak say๐
Kasih votenya juga dong:)
I lovyu all๐๐
__ADS_1