
Kring..kring..kring! Dering alarm membangunkannya tepat pada pukul 6 pagi.
"Cepet banget sih.. udah pagi aja" ucapnya dengan suara khas bangun tidur.
Hari ini Kara tidak bersemangat. Sejak kejadian kemarin, dia menjadi was-was jika sewaktu-waktu pria aneh tersebut mengikutinya dan mengancamnya seperti kemarin.
"Emm.. apa aku ambil cuti aja ya hari ini?
Rasanya aku pengen refreshing deh biar gak suntuk! Akhir-akhir ini banyak kejadian aneh yang datang dan berlalu pergi, huh!"
Ia sudah membulatkan niatnya. Segera ia menghubungi menejernya dan meminta cuti untuk hari ini.
Kara mengikat rambutnya asal, hingga menampakkan leher jenjangnya.
"Ok, kita akan mulai dari beres-beres dulu, ucapnya pelan.
Dia memulai harinya, dengan membersihkan seluruh apartemennya dan memindahkan letak barang-barang sesuai seleranya.
Waktu berjalan begitu cepat, bulir-bulir keringat mengalir di keningnya juga di leher jenjangnya. Kara tampak lelah mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Mulai dari menyapu, ngepel, menyetrika, mencuci dan lain sebagainya dilakukannya.
"Fyuhh.. akhirnya kelar juga!" Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.
Dia merasa ngantuk dan tertidur kembali.
Beberapa saat kemudian, ia terbangun karna merasa lapar. Lapar dibarengi lelah itulah yang dirasakannya.
"Kruyuk..kruyuk.. kruyuk! Perutnya berbunyi meminta sang pemilik untuk segera mengisinya.
"Laper banget! Hari ini masak yang simpel aja deh."
Dia berjalan menuju dapur kecilnya, namun tampak alat-alat masak tersusun rapi juga bersih.
Dia membuka kulkasnya dan mengambil 2 butir telur. Dia membuat telur dadar seadanya sesuai seleranya. Lalu ia sarapan dengan lahap meskipun dengan menu yang sederhana. Sebelum kehidupannya berubah, dia selalu makan makanan yang enak dan mengandung gizi yang seimbang.
Sekarang, dia makan seadanya. Namun, ia tetap bersyukur karna Tuhan masih memberinya kesempatan untuk melanjutkan hidupnya dan memberinya pekerjaan yang layak.
Setelah usai sarapan, ia membersihkan dirinya dan memakai pakaian cassualnya.
Celana pendek di atas lutut, dan baju lengan pendek berwarna hitam. Dan memakai sepatu sport berwarna putih.
__ADS_1
Ia mengikat rambut panjangnya asal, menampakkan leher jenjangnya. Tak lupa ia memakai ransel hitam kesayangannya, yang ia beli dengan gaji pertamanya. Kara dominan lebih suka dengan warna-warna gelap juga putih.
Hari ini dia akan pergi ke pantai untuk menghilangkan segala kepenatannya. Pergi ke pantai Joomoonjin, tempat para idolanya sering melakukan photo shoot.
"Siapa tau aku bisa bertemu dengan idolaku di sana, heheh" ucapnya terkekeh.
Dia akan diantar oleh Lian. Tapi Lian hanya diijinkan untuk memantaunya dari kejauhan saja. Kara tidak ingin diganggu oleh siapapun, ia ingin lebih leluasa di sana. Juga ia sudah bisa berbahasa Korea. Jadi, tidak membutuhkan seorang guide ataupun seorang translator.
Mobil telah melaju dengan kecepatan sedang. Perjalanan kali ini cukup melelahkan, karna jarak yang harus mereka tempuh lumayan jauh juga.
Joomoonjin Beach
Sekitar satu jam mereka dalam perjalanan, kini mereka telah tiba di tempat tujuan dan mobil telah terparkir sempurna.
Kara langsung keluar dengan gembira.
"Yeeeey.. akhirnya aku bisa ke sini juga! Huuu..." teriaknya.
Lian terkekeh kecil melihat tingkah Kara seperti anak kecil yang mendapat permen gula.
Kara berlari kesana kemari, ia menampakkan senyum bahagianya. Sudah lama ia tak sebahagia ini. Lalu ia beranjak ke tepi pantai dan bermain pasir disana, layaknya anak kecil.
Tak terasa hari semakin panas, membuat Kara yang kelelahan berkeringat. Ia mengusap keringat di keningnya, tanpa disengaja pasir telah menempel diwajahnya. Ia semakin terlihat imut.
"Huh... Gerah banget lagi!" ucapnya pelan.
Kemudian, ia membuka kembali ranselnya dan mengambil sebotol minuman yang dibawanya dari rumah. Dan langsung meneguknya.
"Gluk..gluk..gluk! " Dia minum sampai puas tanpa mempedulikan orang disekitarnya.
Tanpa ia sadari, beberapa kelompok orang telah memperhatikan kelakuannya sedari tadi.
Ada yang terkekeh, ada yang merasa takjub dan juga merasa gemas dengan tingkah Kara.
Kemudian, seseorang berjalan menghampirinya.
"Halo, senang bertemu denganmu" (dalam bahasa Korea) Sahut pria itu sembari mengulurkan tangannya.
Kara yang kebingungan melihat ke kanan dan ke kiri. Dia bertanya dalam hati siapa yang pria itu sapa, apakah ada orang lain di dekatnya sedari tadi? Dia khawatir jika orang lain memperhatikan kelakuannya.
__ADS_1
Setelah memastikan tidak ada orang disekitarnya.. ia lalu membalas uluran tangan pria itu.
"Ya, halo!" (dalam bahasa Korea)
"Saya perhatikan.. nona bukanlah orang sini?" tanya pria itu.
"Memangnya kenapa? Apa tidak boleh? Kenapa dia sangat kepo.. baru juga kenal, batinnya.
"Ya. Saya memang bukan asli orang sini. Saya orang Indonesia, sahutnya.
"Tapi.. nona lancar dan sepertinya sudah terbiasa dengan bahasa kami. Apakah nona hanya berkunjung kemari atau telah menetap tinggal di negara ini?" Tanya pria itu penuh selidik.
"Tuh kan.. apa dia seorang penjahat? Kenapa dia ingin tahu coba? Aduh aku harus gimana, nih! Kalau sampai dia berniat jahat sementara Lian gak tau dimana, aku harus ngapain coba? Gak mungkin kan tenggelam biar gak dikejar.. meskipun aku tau berenang, tapi kedalaman dan keamanan tempat ini belum terjamin. Aku juga seorang pendatang, hiks" batinnya.
Dia enggan dan khawatir untuk menjawabnya. Di satu sisi, tidak baik mengabaikan orang yang sedang berbicara, akan terkesan tidak sopan. Di sisi lain dia merasa tertekan dan juga takut.
Kemudian pria itu melanjutkan ucapannya.
"Tidak usah takut nona! Saya tidak ada niat jahat terhadapmu. Saya adalah Lee Byum Ge, seorang produser film. Kami sedang melakukan shooting di sini. Pemeran utama wanita kami sedang sakit, jadi dia harus pulang. Dan kami membutuhkan seseorang sebagai penggantinya untuk berlakon di adegan terakhir. Tapi kami belum juga menemukannya. Tinggal satu adegan lagi.. maka film ini akan usai. Jika nona berkenan... apakah nona bersedia membantu kami? Jika ini berhasil saya akan memberikan upah mu dan jika akting mu bagus.. kamu bisa terikat kontrak dengan kami" Jelasnya panjang lebar.
Kara terbelalak mendengarnya.
"Apaa? Apa aku sedang bermimpi? Seseorang tolonglah aku! Sadarkan aku sekarang juga" batinnya.
Kara memang pandai berakting. Selama duduk di bangku SMA, dia selalu ikut ekskul seni bagian drama. Dan sering mendapat penghargaan antar sekolah. Jadi, tidak sulit baginya untuk memerankan adegan semacam ini. Sebenarnya dulu dia berencana untuk melanjutkan studinya di Universitas negara A mengambil jurusan seni. Tapi apalah daya sekarang ini, hidup pas-pasan saja sudah syukur. Mereka harus banting tulang untuk menghidupi diri sendiri. Bagaimana dengan biaya kuliah dan biaya hidupnya nanti?
Kara masih sibuk dengan lamunannya. Angan-anganya selama ini... mungkinkah bisa terwujud?
"Apakah nona bersedia?" sahut pria itu memastikan lagi dan hal itu membuyarkan lamunan Kara.
"Sepertinya ini kesempatan bagus untukku, untuk menuang ilmu yang telah ku pelajari selama ini" batinnya.
"Emmm.. saya, saya bersedia!" ucapnya terbata.
"Baiklah, nona! Boleh saya tau siapa nama mu?"
"Nama saya Charamell Alexa Sebastian. Panggil saja Kara"
"Nama yang bagus. Mari ikut saya kesana! Semua sudah menunggu mu!"
__ADS_1
"Haaah? Baiklah!"
TBC