My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 27: Pelukan hangat


__ADS_3

Kara sontak kaget, karna tangannya tiba-tiba dipegang oleh seseorang dari belakang. Ia segera membalikkan badannya. Dan..


"Tu..tuan! Apa.. apa yang anda lakukan?" ucapnya terbata.


Ia meronta mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Jojo. Namun, Jojo menggenggamnya erat. Ia menatap manik indah Kara.


"Apa ada masalah Tuan?" sahutnya lagi.


Dia merasa heran dengan tingkah Jojo saat ini.


"Apa yang ingin dia lakukan? Apakah dia tidak menyukai ku dan berpikir untuk memecat ku? Jika ini sampai terjadi.. aku harus bagaimana? Oh, Tuhan... apa yang harus ku lakukan sekarang? Seseorang tolonglah aku!" batinnya.


Sementara Jojo masih terdiam dengan tatapan sendu dimatanya. Tiba-tiba ia menarik Kara dan membawanya ke dalam dekapannya. Lagi-lagi kara terkaget. Matanya terbelalak dan mencoba meronta kembali. Namun, lagi-lagi Jojo menahannya lagi. Ia semakin mempererat pelukannya.


Kara hampir kehilangan nafas dibuatnya.


"Tuan... apa yang anda lakukan? Tolong lepaskan saya! Ini tidak pantas.. apalagi ini masih jam kerja. Jika orang lain melihat maka.." ucapannya langsung dipotong oleh Jojo.


"Aku mohon! Hanya sebentar saja" ucapnya lirih.


Ia kembali mempererat pelukannya.


"Apa-apaan ini? Apa dia pikir aku ini boneka? Tapi.. tapi dia sudah menyelamatkan aku waktu itu. Mungkin aku sudah mati atau jadi p*****r sekarang jika dia tidak menolong ku! Lagipula ini hanya pelukan. Tidak sebanding dengan kebaikannya dulu kepada ku." batinnya.


"Tuan.." sahut Kara dengan wajah memelasnya.


"Ada apa? Apa tidak boleh?" ucapnya sembari mengernyitkan dahinya.


"Aku... aku tidak bisa bernafas!" ucapnya sedikit ragu.


Kemudian, Jojo sedikit melonggarkannya. Tanpa sadar Kara membalas pelukan pria asing yang baru dua kali bertemu dengannya dan belum ia kenal.


Lama mereka berpelukan.. membuat mereka saling menatap dan melepaskan pelukannya.


Mereka saling mengalihkan pandangan untuk menghindari kecanggungan diantara keduanya. Lalu, Jojo memegang pelipisnya dan mengusap wajahnya kasar.


"Maaf!" ucapnya datar. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang, yaitu meminta maaf. Kara menundukkan kepalanya. Wajahnya sudah panas dan memerah.


"Apa yang sudah ku lakukan barusan? Dia pasti terkejut sekarang? Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis. Jadi begini rasanya memeluk seseorang ketika kamu merasa lelah? Dan itu bisa menghilangkan rasa lelah mu. Aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Apa.. apa? Apa yang ku pikirkan?" batinnya.


Ia kembali menatap wajah Kara yang memerah bagai tomat.

__ADS_1


"Tapi.. tadi, tiba-tiba aku melihat bayangan ibu di wajahnya. Apa itu hanya ilusi ku aja, ya? Lagipula gak mungkin kan? Mungkin aku terlalu banyak berpikir, huh" gumamnya pelan.


Kara mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk berbicara.


"Anda tidak perlu berterimakasih, Tuan! Saya lah yang harusnya berterimakasih kepada anda. Karna waktu itu, di Bandara.. tuan telah menyelamatkan saya dari kejaran para orang-orang jahat itu" jelasnya dengan suara pelan.


"Bandara?" tanya Jojo sedikit menyerngit.


"Benar, tuan! Sepuluh bulan yang lalu... pada awal bulan Januari, tuan menolong saya di Bandara Internasional Ibukota Jakarta. Tuan juga meminjamkan saya ponsel milik anda. Saya sungguh berterimakasih, tuan! Jika anda tidak menolong saya pada saat itu... mungkin sekarang saya sudah mati" Ucapnya lirih.


Matanya mulai berkaca-kaca mengingat kejadian pahit itu. Ia mengepalkan tangannya dan tubuhnya mulai gemetar.


"Oh. Baiklah, jadi kita impas sekarang!" ucapnya singkat.


Kara tak mengindahkan perkataan Jojo barusan. Ia sudah terisak. Dia tak kuasa menahan rasa sakit yang selama ini ia pendam sendiri..


"Hiks.. hiks..hiks!


"Ka..kamu, kenapa? Apa.. apa yang terjadi? Apa aku menyakiti perasaan mu?" tanya Jojo khawatir.


Kara hanya menggeleng masih dengan tangis pilunya. Lalu, Jojo mendekatinya dan kembali menatap wajah gadis mungil yang tengah menangis itu. Ia mengusap wajah itu dengan lembut.


Jojo kembali memeluk Kara. Entah mengapa ia tak tega melihat gadis yang satu ini menangis. Jojo jadi teringat dengan masa lalunya bersama dengan ibunya. Ibunya yang sering ia dapati menangis di dalam kamar. Namun, ia selalu menyembunyikannya dari Jojo. Ia tidak ingin gadis di depannya itu bernasib sama dengan ibunya. Apa-apa harus dipendam.


Kara langsung membalas pelukan hangat pria itu. Ia kembali teringat akan kakaknya yang selalu memberinya pelukan hangat kala ia sedang sedih.


"Menangis lah! Tidak ada yang akan memarahi mu!" ucapnya pelan sambil menepuk-nepuk punggung Kara.


"Hiks..hiks..hiks! Aku.. aku ingin balas dendam!" teriaknya masih dengan isakan tangisnya.


"Apa? Apa maksudmu?" tanya Jojo heran.


Kara melepaskan pelukannya. Dan meluruskan badannya, menatap manik cerah milik Jojo.


"Aku ingin balas dendam, tuan! Bisakah anda menolong ku sekali lagi? Tolong.. tolong jangan pecat saya, tuan!" ucapnya lirih.


"Apa yang kamu katakan? Siapa yang ingin memecat mu? Jika pekerjaan mu bagus.. tentu saja saya akan senang." ucapnya tegas.


"Saya.. saya akan bekerja keras, tuan! Tidak peduli siang atau malam. Aku akan berusaha keras" ucapnya penuh percaya diri.


"Baguslah kalau begitu. Kamu boleh pulang sekarang dan... beristirahatlah dengan baik" ucapnya lembut.

__ADS_1


"Terima... terimakasih, Tuan! Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan mu" ucapnya dengan senyum mengembangnya. Ia membungkukkan badannya dan meluruskannya kembali.


"Hapus air matamu. Jangan biarkan mereka melihat dan berpikir bahwa aku menindas mu!" sahutnya singkat.


"Ahahah.. Baik.. baik, tuan!" ucapnya terkekeh.


Lalu ia mengusap air matanya dan berlalu pergi.


"Sampai jumpa, tuan!"


Setelah kepergian Kara.. Jojo kembali duduk dan sedikit berpikir.


"Apa dia lebih menderita dariku? Apa dia lebih terpuruk dariku? Kenapa ada seorang gadis semacam itu di dunia ini? Kenapa aku merasa iba kepadanya? Mungkinkah aku telah mengenalnya sebelumnya?


Ahhh... kenapa aku memikirkannya? Jelas-jelas dia hanyalah seorang gadis yang tak tau asal-usulnya. Tapi, kenapa... kenapa aku tidak bisa mengabaikannya?" gumamnya pelan.


"Tok..tok..tok!" Ketukan suara pintu kembali menyadarkannya.


"Ehem.. masuk!" ucapnya tegas.


Ternyata yang datang adalah asistennya Zack, sekaligus sahabatnya.


"Bos.." ucapannya langsung dipotong oleh Jojo.


"Hanya ada kita berdua. Panggil namaku saja. Ada apa?" tanyanya langsung to the point.


"Jo, menurut informasi dari direktur Lee.. ternyata nona Kara bukanlah kebangsaan negara ini. Dia berasal dari Indonesia dan tinggal selama kurang lebih 10 bulan di sini. Dan dia belajar bahasa beberapa bulan kemudian setelah ia menetap di sini. Tidakkah menurut mu ini sedikit janggal? Mungkin dia adalah seorang mata-mata?" jelasnya tidak sabaran.


"Hemm.. Aku udah tau! Dia itu gadis yang aku tolongin 10 bulan yang lalu di Bandara Internasional Jakarta. Kamu kan disana juga? Sebetulnya, aku juga hampir tidak mengenalinya tadi. Tapi dia memberitahuku. Dan berterimakasih kepada ku lagi.


Aku juga sempat berpikir hal yang sama denganmu tadi. Tapi ini tidak sesederhana yang kita pikirkan. Dan orang-orang yang mengejarnya waktu itu sepertinya anak buah orang berada. Juga orang yang menjemputnya.. mereka bukan orang biasa. Segera selidiki tentang masa lalunya dan juga keluarganya. Kenapa dia sampai di negara ini? Aku ingin tau secepatnya" jelasnya tegas.


" Oke, siap bos! Tapi bonusnya ada gak?" sahut Zack dengan senyum manisnya.


"Bonus mulu di pikiran lo, huh. Tapi karna gue orang dermawan.. lo tenang aja. Gaji lo bakalan gue naikin. Lagipula aku gak akan miskin karna uang segitu" ucapnya sombong sembari menepuk-nepuk pundak Zack.


"Iya. Orang kaya mah bebas! Hahaha" ledek Zack.


Dava juga ikutan terkekeh. Mereka tertawa bersama.


TBC

__ADS_1


__ADS_2