
Setelah Kara tiba di apartemen, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Ia menyerngit seolah memikirkan sesuatu.
"Semoga saja dia baik-baik saja di sana!" Gumamnya pelan lalu memejamkan matanya.
Kara tertidur hingga sore. Dia melewatkan makan siangnya.
"Kruyuk.. kruyuk.. kruyuk!" Perutnya berbunyi. Ia menggeliat kesana-kemari, lalu membuka matanya perlahan. Ia menatap jam di dinding ruangan itu.
"Hemm.. Udah jam segini ternyata. Pantasan perut ku keroncongan" Ucapnya pelan.
Lalu ia duduk dan meraih ponselnya dari atas meja. Dia menatap ponselnya, tidak ada notif apapun dari Jojo. Tanpa pikir panjang, ia langsung mendial nomor ponsel Jojo. Namum, tak ada jawaban sama sekali. Berulang-ulang dia mencobanya, tapi tetap nihil.
"Harusnya udah sampai kan? Kenapa dia tidak mengabari ku? Huh, yaudahlah. Mungkin dia kelelahan kali!" Ucapnya sambil membolak-balikkan layar ponselnya itu.
Kemudian, ia bangkit dari duduknya dan meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Yaudah, aku mandi dulu deh!" Ucapnya lagi dan sudah beranjak pergi ke kamar mandi.
"Di Tanah Air"
Jojo yang baru saja tiba di tanah air, langsung bergegas menuju ke vila pribadinya di pinggiran kota. Tanpa mengabari Kara lebih dulu. Karna dia sudah geram dengan ibu tirinya itu. Jadi, ia harus mendapatkan informasi serta rencana Nyonya Renata secepatnya.
Di sana, David beserta bawahannya yang lain sudah lama menunggu kedatangannya sedari tadi. Jojo langsung di sambut oleh mereka.
"Selamat datang kembali, Tuan!" Sapa para pelayan dengan hormat. Dan hanya dibalas anggukan kepala olehnya.
"Kalian udah datang ternyata!" Sahut David menyapa Jojo dan juga Zack.
Namun, Jojo langsung menarik lengannya menuju ke dalam sebuah ruangan yang tampak besar, tanpa membalas sapaan David.
David sendiri sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Jojo kepadanya. Tentu saja menanyakan permasalahan tentang perjodohan yang telah diatur oleh ibu tirinya itu. Sementara Zack hanya duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Apa yang direncanakan oleh wanita iblis itu?" Tanya Jojo geram. Ia melonggarkan dasinya dan sudah mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dan sorotan matanya telah berubah menjadi sangat menakutkan.
"Kamu pasti sudah tahu.. kalau masalah kali ini bukanlah hal baru lagi. Kamu sudah sering melaluinya. Aku sendiri pun sudah muak hanya mendengarnya saja." Sahut David merasa kesal.
"Heh, hahaha... lagi-lagi cara menjijikkan itu? Sungguh wanita yang memalukan!" Timpal Jojo tertawa menyeringai.
"Tapi masalahnya, Jo.. kali ini, wanita yang akan dijodohkan dengan mu nanti bukanlah seorang wanita penghibur. Tapi seorang putri tunggal dari keluarga terpandang di kota C. Keluarganya sangat berkuasa. Mungkin kamu.. tidak akan bisa mengalahkannya? Haruskah kamu.. menerimanya?" Tanya David berhati-hati.
"Braaakk! Jojo menggebrak meja dengan begitu kasar.
__ADS_1
"Lelucon macam apa ini? Apa kau belum mengenal ku? Menerimanya? Heh, biarkan suaminya saja yang menikahi si putri kaya itu. Tidak peduli apapun.. aku tidak akan pernah menerimanya. Karna dia sudah memulainya.. maka jangan salahkan aku untuk memimpin perangnya." Ucapnya tegas.
" Ini akan menjadi kenangan yang paling menyakitkan untukmu wanita iblis! Renataaaaaa..... aku akan membuat mu hancur!" Teriaknya lagi. Membuat kedua sahabatnya itu langsung berdiri dan segera menghampirinya. Keduanya saling bertatapan. Tatapan penuh kekhawatiran lalu mereka berusaha menenangkan Jojo.
"Jo, kamu tenang dulu. Kita pasti akan membantu mu apapun yang terjadi, ok?" Sahut Zack.
"Iya, Jo! Kamu harus tetap tenang. Apa gunanya kamu emosi begini? Kita akan menyusun rencana untuk menghancurkannya, ok?" Timpal David.
Jojo mengepal kuat kedua tangannya. Lalu ia memejamkan matanya, berusaha untuk meredakan emosinya.
"Aku tidak akan pernah melepaskannya! Aku akan menghancurkannya, sampai dia benar-benar kehilangan segalanya seperti butiran debu." Ucapnya lirih.
"Tentu saja. Kita akan membuatnya hancur perlahan-lahan" Timpal David merasa geram.
"Baiklah! Lupakan semua masalah yang ada, mari kita minum sampai mabuk, Hahahah!" Sahut Zack sedikit berteriak.
Dia memberikan keduanya gelas berisi wine. Lalu mereka bersulang dan segera meminumnya.
"Cheers! Mari bersulang!" Sahut Zack dan David bersamaan. Jojo hanya tersenyum tipis dan hanya meminum segelas wine saja karna tidak mood. Sementara itu, Zack dan David menghabiskan begitu banyak wine, dan botolnya telah berserakan dimana-mana.
Beberapa saat kemudian..
Jojo yang duduk di tengah, merasa risih. Karna kedua sahabatnya itu menyandarkan kepala ke atas bahunya dan sudah dalam keadaan mabuk.
"Ehm.. apa kamu tau? Jojo sudah punya pacar. Dia bahkan tidak mempedulikan aku selama di negara K. Dia hanya peduli dengan pacarnya. Ahh.. aku sangat kesal. Kenapa dia harus.. harus punya pacar, huh?" Teriak Zack mengigau.
'"Be.. benarkah? Siapa?" Timpal David masih mengigau.
Karna tak tahan lagi.. Jojo langsung mendorong keduanya dari bahunya dan hendak pergi dari ssna. Tapi, Zack menahannya.
"Sayang.. jangan tinggalkan aku!" Ucapnya tersenyum lebar dan dengan mata terpejam.
"Cih! Dasar Zack s****n ! Apa kamu seorang homo? Sangat menjijikkan!" Teriak Jojo kesal dengan tingkah mereka.
"Emm.. aku mencintaimu!" Sahutnya lagi.
"Sayang... kamu dimana?" Teriak David lagi.
Jojo terbelalak melihat kedua sahabatnya itu, lalu ia memijit-mijitt keningnya dan membuang nafasnya kasar.
"Fyuhh... aku sungguh tidak tahan lagi! Benar-benar menggelikan." Sahutnya datar.
__ADS_1
Kemudian, ia mengambil rokoknya dan berjalan meninggalkan kedua pria yang telah mabuk itu menuju ke balkon.
Ia menyalakan rokoknya, lalu menghisapnya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia berdiri sambil menatap keindahan bangunan-bangunan tinggi ibukota.
Tak berselang beberapa waktu, ponselnya berdering. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih tersebut. Dan langsung menjawabnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Ya, halo!" Sahutnya datar.
"Sayang... kamu baik-baik saja?" Tanya seorang perempuan dari seberang telpon.
Lalu, Jojo melihat layar ponselnya dan matanya terbelalak. Ternyata yang menelponnya adalah pujaan hatinya.
"Ehmm... sayang! Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengabaikan mu! Aku hanya..!" Ucapannya terpotong oleh Kara.
"Aku mengerti. Asal kamu baik-baik saja.. aku akan merasa tenang!" Ucapnya lembut.
"Sayang...!" Sahut Jojo lagi. Dan langsung dipotong oleh Kara.
"Apa kamu sudah makan?" Ucapnya khawatir.
"Emm.. sudah!" Sahutnya sambil tersenyum tipis.
"Kenapa suaramu terdengar aneh? Apa kamu.. kamu, merokok lagi? Kamu.. minum alkohol lagi? Kenapa kamu tidak mau mendengarkan ku? Itu buruk untuk kesehatan mu. Dan lagi aku tidak suka dengan pria pemabuk." Ucapnya mengomeli Jojo dari seberang telpon.
Jojo tersenyum bahagia mendengar omelan Kara. Itu terdengar sama persis dengan ibunya dulu. Ibunya akan selalu memarahinya jika berbuat nakal.
"Ibu.. ternyata, masih ada orang yang menyayangi ku setulus hatimu!" Gumamnya dalam hati.
"Halo.. apa kamu mendengar ku? Apa kamu tersinggung dengan ucapan ku barusan?" Tanyanya berhati-hati.
"Tidak, sayang. Aku tidak tersinggung sama sekali. Ini salahku! Aku yang terlalu keras kepala dan tidak mendengarkan ucapan mu! Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya! Tolong maafkan aku!" Pintanya lirih.
"Baiklah. Asal kamu tidak mengulanginya lagi.. aku akan memaafkan mu kali ini!" Sahut Kara dengan tegas.
"Siap kelinci kecil ku!" Ucapnya tersenyum bahagia.
"Hemm.. aku tutup dulu ya? Jagalah dirimu baik-baik!" Sahutnya sambil tersenyum tipis.
"Kamu juga. Jaga dirimu baik-baik! Aku merindukan mu" Ucap Jojo tersenyum.
"Aku juga merindukanmu. Aku akan menelpon mu besok, ok?"
__ADS_1
"Hemm. Istirahatlah dengan baik!"
TBC