
Setelah Tuan Alfred dan putranya pulang dari pemakaman, keduanya langsung menuju ke vila milik Jojo. Jojo memintanya untuk tinggal bersamanya. Ayahnya pun tidak merasa keberatan sama sekali, karna ia juga ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan putra semata wayangnya itu.
Sore harinya..
"Di vila milik Jojo"
Tuan Alfred serta Jojo tampak sedang duduk santai di sofa ruang tamu minimalis ruangan tersebut. Keduanya berbincang santai sambil menikmati kopinya. Ditengah-tengah perbincangan hangat keduanya, tiba-tiba ponsel Jojo berdering. Ia langsung mengambil benda pipih miliknya dari atas meja. Wajahnya tampak murung saat menatap layar ponsel. Ternyata panggilan telepon dari Tuan William. Ia kembali meletakkan ponselnya, tidak ingin berurusan kembali dengan pria itu, yang telah menghancurkan keluarganya. Sedangkan Tuan Alfred, ia menyerngitkan dahinya melihat tingkah putranya yang mengabaikan deringan ponselnya sedari tadi.
"Emm.. telpon dari siapa? Kenapa tidak diangkat?" Tanyanya penasaran sembari menyeruput kopinya.
"Bukan orang yang penting!" Sahut Jojo dengan senyum palsunya.
"Emm? Tuan Alfred menautkan kedua alisnya.
"Siapa orang yang berani membuat putraku kesal?" Ucapnya lalu meraih ponsel Jojo dari atas meja. Ia tersenyum pasi menatap layar ponsel tersebut.
"Mengapa harus diabaikan?" Lanjutnya lagi sembari menyerahkan ponsel itu kembali ke tangan Jojo.
"Hah? Jojo malah terkejut dengan sikap tenang ayahnya.
"Angkat saja nak! Jangan biarkan mereka tahu, kalau kita sudah saling bertemu." Sahut ayahnya dengan tenang.
"Tapi.." belum selesai ia berbicara, langsung dipotong oleh ayahnya.
"Bukankah kamu ingin membalas mereka? Jadi, jangan gegabah seperti ini. Bersikaplah tenang! Mengerti?" Tegasnya, yang membuat Jojo sedikit terkejut.
"Ayah benar-benar sangat tenang! Namun, terlihat menakutkan! Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa.. seekor harimau yang tampak pendiam dan tenang lebih menakutkan dari seekor anjing yang selalu menggonggong!"Jadi, aku harus banyak belajar darinya!" Gumamnya dalam hati.
"Baiklah!" Sahut Jojo pelan. Ia membuang nafasnya dengan kasar lalu segera menjawab teleponnya.
"Halo!" Ucapnya datar sambil berjalan ke arah jendela.
"Apa kau tidak berencana pulang untuk selamanya? Kembali sekarang juga!" Hardik Tuan William dengan nada tinggi.
"Baiklah!" Sahutnya berusaha untuk tetap tenang. Namun, hatinya terasa sangat panas seperti terbakar api. Ia mengepalkan tangannya dan berdecih kesal.
"Cih! Jika bukan karna ibu.. aku tidak akan sudi bertemu dengan mu!" Geramnya dan terdengar oleh ayahnya. Pria paruh baya itu berjalan menghampirinya, lalu menepuk-nepuk pundaknya.
"Bersabarlah nak! Jangan biarkan emosimu sesaat menghancurkan segalanya!" Lanjutnya lagi dan dibalas anggukan oleh Jojo.
"Aku mengerti ayah! Kalau begitu, aku pergi dulu!" Ucapnya berpamitan dan berlalu pergi.
"Putraku ini memang terlihat sama persis denganku sewaktu masih muda. Keras kepala, emosional tinggi dan tidak berperasaan. Tapi perlahan, kamu pasti bisa mengontrolnya. Aku percaya padamu!" Ucapnya pelan, mengingat kehidupan masa mudanya dulu. Dulunya, Tuan Alfred sering dijuluki sebagai pria psikopat karna sikap dan tabiatnya yang keras. Namun, setelah bertemu dengan Nyonya Magdalena, perlahan bisa terkendali. Karna sikapnya yang lembut dan tulus mampu meluluhkan hatinya yang sekeras batu.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara bell pintu berbunyi. "Ting tong, ting tong! Ia segera bangkit dari duduknya dan bergegas membukakan pintu.
"Ehh, kalian rupanya! Silahkan masuk!" Ucapnya ramah, mempersilakan Zack dan David masuk ke dalam. Lalu, ketiganya berjalan masuk menuju ke ruang tamu.
"Di ruang tamu"
"Mau minum apa? Biar om buatkan!" Ucapnya menawarkan. Namun, kedua pemuda itu mengibas-ngibaskan tangannya, menandakan tidak perlu.
"Ehh, gak usah repot-repot, om!" Sahut Zack.
__ADS_1
"Benar om! Gak apa-apa!" Sambung David seraya tersenyum tipis.
"Emm? Tidak usah sungkan! Bagaimanapun, kalian ini adalah sahabat putraku. Jadi, kalian termasuk anakku juga." Sahut Tuan Alfred penuh arti.
"Lagipula, kalian mencari Jojo kan? Sayang sekali, dia baru saja pergi! Om gak tau juga jam berapa baru pulang! Takutnya kalian bosan karna menunggu terlalu lama!" Lanjutnya lagi.
"Hemm, sebelumnya.. makasih om atas perhatiannya. Dan juga, kedatangan kami kali ini bukan untuk mencari Jojo. Tapi untuk membahas sesuatu hal yang penting dengan om!" Sahut Zack dengan nada pelan. Ia kembali menoleh ke samping. David pun menganggukkan kepalanya sudah mengerti arti lirikan Zack barusan.
Sementara Tuan Alfred, ia semakin penasaran. Ada hal penting apa yang ingin mereka bahas dengan ku, pikirnya.
"Hah? Mencari ku?" Kagetnya sambil menunjukkan jari telunjuknya ke wajah tampannya. Dan dibalas anggukan oleh Zack dan David bersamaan.
"Ada hal penting apa? Apa itu ada kaitannya dengan Jojo?" Tanyanya penuh selidik.
"Kami rasa, ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu om kalau... sebenarnya, Jojo terkena penyakit yang serius." Jelas Zack penuh hati-hati.
"Ap, apaaaa?" Teriaknya dengan begitu keras. Ia kaget mendengar putra semata wayangnya terkena penyakit yang serius.
"Bagaimana mungkin, tubuh putraku yang begitu gagah dan perkasa terserang penyakit? Ini adalah salahku! Salahku yang tidak berada disisinya selama ini!" Batinnya merasa bersalah.
Ia sempat bengong tak bergeming, namun ia kembali bertanya untuk memastikan.
"Sebenarnya, dia terkena penyakit apa?" Ia menundukkan kepalanya sembari mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Jojo terkena penyakit Leukimia om. Tapi, om tidak perlu terlalu khawatir. Ia akan segera sembuh setelah menjalankan operasi." Sahut David menjelaskan.
"Emm? Benarkah?" Ucapnya senang. Ia kembali mengangkat kepalanya menoleh kearah keduanya.
"Benar, om! Karna om adalah ayah kandung Jojo, sudah pasti sumsum tulang belakang om cocok dengannya." Sahut Zack senang.
"Kami tidak bermaksud untuk menundanya, om! Tapi, akan lebih baik jika operasinya dilakukan di negara lain. Untuk berjaga-jaga agar para musuh tidak mengetahui hubungan kalian sekarang ini. Akan sangat berbahaya jika mereka mengetahuinya!" Sahut David menjelaskan. Ia khawatir, jika operasinya dilakukan di dalam negeri, baik Tuan William ataupun Nyonya Renata akan lebih mudah menghancurkan keduanya.
"Emm, idemu bagus juga. Aku akan membawanya ke Prancis. Aku punya sahabat, seorang ahli bedah disana. Bagaimanapun juga, keamanan disana akan lebih terjamin!" Sahut Tuan Alfred menyetujui nya.
"Kami setuju dengan om. Tapi, Jojo belum menyadari kalau kami sudah mengetahui tentang penyakitnya. Sebelumnya, ia berniat untuk menyembunyikan nya dari kami! Tapi sekarang, menundanya bukanlah hal yang baik juga!" Timpal Zack merasa khawatir.
"Emm, masalah itu.. kalian tidak perlu khawatir. Aku akan menyelesaikannya sendiri!"
"Baiklah! Semuanya kami serahkan kepada om saja!" Sahut David merasa lega.
"Kalau begitu.. kita pamit dulu om! Masih banyak hal yang harus kami selesaikan!" Timpal Zack berpamitan.
"Baiklah! Hati-hati dijalan!" Sahut Tuan Alfred ramah. Ia menghantarkan keduanya hingga kedepan rumah.
Setelah kepergian keduanya, pria paruh baya itu masih bergumam sendiri.
"Bagaimana mungkin, masalah sebesar ini bisa dia pendam selama ini? Bagaimanapun, hal ini menyangkut tentang keselamatannya sendiri! Huh, benar-benar anakku yang keras kepala!" Gumamnya pelan sambil berjalan masuk kedalam.
Sementara itu...
"Di Negara K"
Kara tampak sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa, ruangan istirahat, lokasi shootingnya. Ia sibuk mengotak-atik ponselnya. Tadi pagi, ia mendapat kabar dari menejernya, bahwa dalam waktu sebulan kedepan, mereka akan shooting di negara Prancis. Karna akting dan modelingnya yang sangat bagus, jadi kali ini ia dipercayakan menjadi seorang model di koleksi barang-barang branded dan terkenal negara Prancis. Tentu saja, hal itu akan semakin mengharumkan namanya dan membawanya menjadi seorang artis Internasional. Pendapatannya pun akan semakin meningkat. Sehingga ia mampu membalaskan dendam mereka, terutama kedua orangtuanya.
__ADS_1
Dan sekarang, gadis cantik itu tampak sedang berpikir keras. Ia bingung apakah ia harus atau tidak memberitahukan hal ini kepada kekasihnya.
"Emm, haruskah aku memberitahu hal ini kepada si bayi besar? Dia pernah bilang, kalau aku harus memberitahunya kemanapun aku pergi! Tapi, bukankah dia sangat sibuk akhir-akhir ini? Huh, apa sebaiknya ditunda dulu kali ya? Aku tidak ingin membuatnya terlalu khawatir!" Gumamnya pelan.
"Ahh, yaudahlah. Lain kali saja baru beritahu! Dia pasti akan maklum kan?" Gumamnya lagi, lalu bangkit dari rebahannya setelah mendengar suara ketukan pintu diketuk.
"Masuk!" Sahutnya sedikit berteriak.
Tak lama kemudian, Mi-Rea segera masuk dan menghampirinya.
"Apa istirahat mu cukup? Kita akan menyelesaikan adegan terakhirnya 10 menit lagi!" Ucapnya lembut sambil mencubit kecil pipi mungil Kara seperti biasa.
"Ahh, kamu selalu saja mencubitku!" Kesal Kara dan dibalas tawa oleh menejer kesayangannya itu.
"Hahaha..! Siapa suruh kamu begitu menggemaskan? Jadi, aku akan melakukannya setiap saat!" Sahutnya merasa senang.
"Menyebalkan!" Kesal Kara lagi, sembari merapikan pakaiannya yang sedikit lusuh akibat rebahannya tadi.
"Hahaha..! Bersiaplah sayangku!" Sahut Mi-Rea masih terkekeh dan sudah berlalu pergi dari sana.
Sementara Kara, ia kembali tersenyum. Ia membayangkan betapa beruntungnya bisa bertemu dengan Mi-Rea yang baik hati meskipun sedikit menyebalkan.
Berselang beberapa waktu, ia meraih ponselnya dari atas meja dan segera mengambil beberapa potret dirinya. "Cekrek.. cekrek.. cekrek! Ia tersenyum manis melihatnya dan langsung mengirimnya ke WeChat Jojo, kekasihnya.
"Hei, bayi besar🥺 Tetap semangat ya? Aku merindukanmu!"
Tak menunggu waktu lama, ia langsung mendapat balasan dari orang yang dirindukannya.
"Terimakasih sayang! Gadisku semakin cantik saja! Aku tidak bisa berhenti menatapnya!"
Kara tersenyum lebar mendapat balasan pesan hangat dari kasihnya itu.
"Benarkah? Kamu memang tidak diijinkan untuk menatap wanita manapun selain aku! Tidak boleh! Mengerti?"
"Aku tidak akan!"
"Emm, aku akan kembali bekerja!"
"Baiklah sayangku, penyemangatku, istriku! Selamat bekerja!"
Kara menggenggam erat ponselnya ke dadanya sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Dasar penggombal! Tapi.. aku sangat merindukan mu!" Gumamnya pelan.
Lalu, ia melangkahkan kakinya menuju ke lokasi shooting dengan wajah berseri-seri.
TBC
Halo para readersku semuanya:)
Jangan lupa tinggalkan jejak say💗 Kasih tips juga boleh😍
Tetap semangat dan jaga kesehatan ya guys..
__ADS_1
Salam hangat dari author💫💜