
Waktu ke waktu terus berlalu, Kara disibukkan dengan pekerjaannya saat ini... membuatnya tidak merasa jenuh lagi. Sepulang kerja, dia langsung beristirahat. Dan sesekali dia akan keluar untuk belanja dan berolahraga di sore hari.
Pagi ini dia sedang libur, sehingga dia bermalas-malasan di kasur empuknya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Lalu, dia beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Satu jam lamanya dia sibuk di kamar mandi... kemudian dia keluar hanya mengenakan handuk. Dia memakai baju cassualnya. Celana pendek dipadukan dengan sweater pink kesayangannya.
Kruyuk.. kruyuk..kruyuk! perutnya berbunyi.
"Duhh.. laper nih, ucapnya pelan!
Kemudian, dia beranjak dari kamarnya menuju ke dapur.
"Aku masak dulu, deh.. ucapnya! Dia akan memasak hari ini. Ia membuka kulkasnya, dan ternyata tidak ada apa-apa di dalamnya alias kosong menomplong. Bahan makanan telah habis. Dia lupa untuk belanja sebelumnya, karena selalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Huh, yaudah deh.. Hari ini makan di luar aja deh.. ucapnya pelan.
"Tapi.. makan makanan yang murah ya. Aku pengen nabung dulu, jadi harus hemat heheh.. lanjutnya lagi sembari mengelus-elus perutnya yang rata.
Dia pergi ke toko roti terdekat. Dia membeli beberapa roti yang harganya lumayan murah, untuk menghemat uangnya.
Dia kembali ke apartemen. Sesampainya di sana, ia langsung menyeduh teh hangat khas daerah itu lalu duduk menikmati sepotong roti yang sudah di belinya tadi. Dia duduk di balkon, sambil memainkan ponselnya.
Dia membuka aplikasi WeChat nya.
Ada pesan dari kakaknya.
" Kakak akan mengirimkan uang bulanan mu. Kenapa uang yang ku kirim sebelumnya belum juga dipakai? Apa adik kesayangan kakak sedang kesal? Memang benar, setiap kali kakaknya mengirim uang kepadanya... tidak pernah ia gunakan lagi. Karna dia sudah bekerja dan menghasilkan uang sendiri meskipun tak seberapa.
"Aduh.. gimana nih? Harus balas apa nih? Gak mungkin kan aku jujur sekarang? Bisa-bisa kakak marah lagi, ucapnya takut sambil memikirkan cara untuk membalas pesan kakaknya.
"Ctik! Aha.. dia menjentikkan jarinya seperti punya ide.
"Kak... Aku masih ada uang kok! Karna hidup disini berbeda dengan di sana. Di sini biaya hidup lebih murah. Jadi, uang yang kakak kirim belum kepake sama sekali๐๐ Jadi kakak gak perlu ngirim bulan ini. Kedepannya pasti Kara kasih tau ke kakak, ok? balasnya.
"Mudah-mudahan kakak gak curiga deh! Aku juga gak mau kakak terlalu bekerja keras, ucapnya lirih.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Tak terasa waktu telah berlalu begitu cepat. Dia kembali ke dapur dan hendak memasak.
"Ehh.. aku lupa! Belum belanja ternyata, ucapnya pelan sembari memukul pelan jidatnya.
Dia kembali ke kamar untuk mengambil dompet kecilnya. Lalu beranjak dari sana menuju ke luar. Seperti biasa, dia pergi ke swalayan terdekat. Dia tidak ingin bepergian ke tempat yang lebih jauh, terlebih lagi harus merepotkan Lian untuk mengantarnya.
Di dalam swalayan.. Kara masih sibuk memilih-milih belanjaannya. Berbagai macam sayuran, buah-buahan serta bahan masak lainnya. Sampai akhirnya, tanpa terasa dia telah menghabiskan waktu selama 1 jam berada di sana. Kemudian, ia membayar belanjaannya dan berlalu pergi.
Ketika ia hendak menyeberang, tiba-tiba..
__ADS_1
Ckit.. suara mobil berhenti.
Tiba-tiba seorang pria keluar dari sana.
"Ehh.. kamu? Pria itu mengulurkan tangannya.
Kara enggan membalasnya.
"Apa kita saling kenal? sahutnya ketus. Lalu dia beranjak dari sana. Tapi, belum beberapa langkah, lelaki tersebut langsung menarik tangannya.. sontak membuat Kara kaget.
"Apa maksud mu? Lepaskan kataku! Dia melototi pria asing tersebut.
"Perangai mu memang buruk, nona. Tapi kamu menarik, ucap pria itu melirik Kara.
"Aku tidak tau siapa kamu? Dan aku tidak ingin tau! sarkasnya tegas sembari berusaha melepaskan tangannya.
Pria aneh tersebut adalah pria yang telah menabraknya beberapa bulan yang lalu di depan swalayan dekat tempat tinggalnya.
Pria tersebut tertawa menyeringai.
"Sungguh wanita yang menyebalkan! Tapi dia cantik juga, apalagi kalau marah.
Di apartemen
Kara masih dengan kekesalan diwajahnya, langsung melemparkan semua belanjaannya begitu saja. Dia duduk di sofa empuknya. Lalu memainkan ponselnya.
Lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan membawa belanjaannya ke dapur. Segera ia menatanya ke dalam kulkas.
Seperti biasa, memasak sendiri, makan pun sendiri juga. Setelah itu, dia tidur dengan begitu lelap.
Ke esokan paginya
Cit..cit..cit! Suara burung berkicau. Menandakan fajar telah datang untuk kembali memancarkan kehangatan nya. Kara terbangun dari tidurnya. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Hoam.. nyenyak banget tidurnya! ucapnya dengan suara khas bangun tidur.
Dia langsung bergegas ke kamar mandi. Hari ini, dia memakai celana jeans, atasannya sweater rajut halus berwarna oranye. Dan sepatu sport berwarna hitam.
Setelah itu, dia memakan sepotong roti sebagai sarapannya. Dan bergegas ke tempat kerjanya, di antar oleh Lian sang bodyguard.
Di BF Seafood Restaurant
Restoran tampak kosong. Tak seorangpun tamu ataupun karyawan yang terlihat di sekitaran sana.
"Ehh.. kok sepi? Tamu-tamu dan karyawan.. kok enggak ada? Mereka semua kemana sih? Aneh! Dia berjalan menuju loker.Tiba-tiba seorang pria menarik tangannya.
__ADS_1
"Ehh.. jangan sembarangan dong! Kamu....? dengan emosi yang meluap-luap dia langsung menghempaskan tangannya.
"Temani aku makan, titah pria asing tersebut.
"Kamu.. lagi? Beraninya memerintah ku? tanyanya ketus.
"Atau.. kamu mau restoran ini tutup selamanya? ucap pria tersebut menyeringai.
"Kamu... mengancam ku? Kamu berani melakukan ini, heh? ucapnya tegas.
Di sana... tampak sang menejer sedang berdiri dengan menundukkan kepala, datang menghampiri mereka.
"Kara... tolong jangan mengecewakan saya. Bukan hanya saya.. tetapi juga para karyawan yang lain. Jika restoran ini tutup, mereka harus bekerja dimana? ucapnya lirih.
Sementara para karyawan yang lain.. merasa takjub dengan Kara. Karna dia bisa bertatap muka dengan orang terkaya nomor lima di negara itu.
Kara sontak kaget dibuatnya.
"Sebenarnya.. siapa pria ini? Menejer pun bisa-bisanya menundukkan kepala dan takut dengannya? Meskipun dia orang kaya sekalipun, tapi gak seharusnya melakukan hal rendahan seperti ini. Sungguh menjijikkan, batinnya.
Lalu dia menuruti permintaan pria itu, untuk duduk bersamanya. Dia tidak ingin membuat restoran itu tutup selamanya dan membuat para karyawan kehilangan pekerjaan.
Di meja makan, telah tertata rapi berbagai macam hidangan mewah dan termahal di restoran itu.
"Mari makan bersama, ajak pria itu! namun, ditolak oleh Kara.
"Maaf, tuan! Saya hanya menemani anda duduk bukan makan bersama, ucapnya ketus.
Lalu pria itu mulai melahap makanannya. Sementara Kara menatapnya tajam, seperti harimau yang ingin menerkam mangsanya.
Setelah beberapa lama kemudian, pria asing itu telah menghabiskan makannya. Para pelayan langsung membersihkan mejanya.
"Sudah selesai makan... aku ingin bekerja!" Dia berdiri dari duduknya dan beranjak dari sana menuju loker. Lagi-lagi pria aneh itu menggenggam lengannya.
"Aishhh.. kamu mau apa lagi, huh? Berani-beraninya kamu.... ucapannya terhenti.
"Zeremy!" Ucapnya sembari mengulurkan tangannya.
Kara tak membalas uluran tangannya.
"Kelak.. tolong jangan ganggu hidupku lagi, tuan! Terimakasih! Dia membungkukkan badannya dan meluruskannya kembali.
Zeremy merasa aneh dengan tingkah Kara.
"Sebentar baik sebentar menggila, huh! Tapi dia semakin menarik! Tanpa disadari, pada pertemuan kedua, dia sudah menyukai Kara.
__ADS_1
TBC