
Beberapa minggu kemudian..
Seperti waktu-waktu sebelumnya, Kara disibukkan dengan rutinitas shootingnya. Tanpa kehadiran Rani, sang pengganggu tentu saja membuatnya merasa lebih tenang dan lega. Namun hari bahagia itu tak berlangsung lama.
"Ting! Saat jam istirahat tiba, Kara mendapat pesan dari orang yang tidak dikenal.
"Temui aku di Hotel xxxx"
Ia bermaksud mengabaikan pesan teks tersebut. Tapi orang tak dikenal itu, lagi-lagi mengiriminya pesan tanpa henti.
"Huh! Aku tahu, wanita sepertimu.. mana berani berhadapan dengan ku. Dasar tidak berguna!"
"Fyuh! Kara menghela nafasnya. Ia tampak sedang mengotak-atik ponselnya. Ternyata sedang membalas pesan orang tadi.
"Terserah kamu mau bilang apa. Tapi, aku harus tahu dulu.. siapa kamu!"
Beberapa saat kemudian, pesannya terbalas.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku!"
Kening Kara mengerut. Ia kesal dengan orang asing itu, karna tidak memberitahukan tentang jati dirinya.
"Apa dia bodoh atau gimana sih? Mana mungkin aku bertemu dengannya tiba-tiba? Bisa-bisa aku kena masalah kan? Aneh!" Gerutunya pelan. Disela-sela kekesalannya, ponselnya kembali berbunyi. "Ting!
"*Baiklah! Sepertinya.. aku tidak perlu bersembunyi lagi darimu."
"Aku Zaskia! Aku ingin bertemu denganmu. Dan membicarakan hal penting sebagai sesama wanita*."
Kara membulatkan matanya. Ternyata Zaskia masih berani menghubungi dirinya. Tapi positif thinking saja, pikirnya.
"Mungkin.. dia sudah tobat kali?" Gumamnya pelan. Gumamannya terhenti, mendengar suara ponselnya berdering. Sesegera mungkin ia mengangkatnya.
"Halo!" Ucapnya datar.
"Nanti.. anak buah ku akan menjemputmu." Sahut Zaskia dari seberang telpon. Kara sampai terheran dengan perkataannya. Zaskia seolah mengatur-atur dirinya.
"Heh! Mengapa aku harus menyetujui mu?" Ucapnya sambil berdecak pinggang.
"Karna aku tidak akan menyakitimu." Mendengar hal itu, Kara pun menyetujuinya. Mungkin dia benar-benar sudah bertobat, pikirnya.
"Baiklah!" Ucapnya menyetujui.
"Tapi.. kamu harus datang sendiri. Tanpa dikawal oleh para bodyguard, bahkan asisten sekalipun. Begitupun dengan ku. Aku akan datang sendiri." Lanjut Zaskia dengan nada serius. "Hah? Kara sempat tak menyetujuinya, mengingat Kakak serta tunangannya, Jojo akan sangat marah. Bahkan akan menyalahkan para bawahannya sepenuhnya tanpa ampun. Tapi, sepertinya.. tidak adil bagi Zaskia jika aku melanggar perjanjiannya, batinnya.
"Baik. Aku setuju!" Ucapnya pasrah. Lagipula.. hanya ada kami berdua. Aku tidak mungkin terluka. Itulah yang dipikirkan Kara saat ini. Ia menganggap, kalau Zaskia benar-benar sudah berubah menjadi lebih baik.
Sore harinya...
Kara sengaja keluar sejam lebih awal dari jam pulang kerja biasanya. Karna ia khawatir, mungkin Jojo akan menjemputnya sore ini. Dan apabila ia tahu, kalau Kara bertemu dengan Zaskia, ia akan marah besar. Itulah sebabnya Kara terpaksa menyembunyikannya. Ketika ia sudah keluar dari gedung pencakar langit itu, benar saja. Ia telah ditunggu oleh seorang pria yang berdiri tegap, di samping sebuah mobil mewah berwarna hitam. Dan bajunya senada dengan warna mobil.
"Apa anda adalah nona Kara?" Tanya pria itu. Kara hanya mengangguk, tanpa berbicara.
"Nona ku meminta saya untuk menjemput anda." Lanjutnya lagi.
"Emm..! Saya sudah tahu!" Ucapnya datar. Kemudian, pria itu mempersilakannya untuk masuk dengan sopan. Setelah keduanya duduk dengan posisi benar, kemudian mobil segera melaju menuju ke Hotel yang diinstruksikan oleh Zaskia sebelumnya.
Sebelum pergi, Kara juga telah memberitahukan hal itu kepada para bodyguard yang selalu menjaganya selama ini, untuk tidak perlu mengikutinya kali ini. Bahkan melarang untuk memberitahukannya kepada bosnya. Ia beralasan untuk bertemu dengan seorang teman saja. Dan tidak akan menghabiskan waktu lama.
"Aku akan pulang lebih awal. Agar kalian tidak khawatir!"
Awalnya mereka menolak untuk menyetujuinya. Tapi, mereka tidak tega dan merasa iba melihat wajah Kara yang sudah tampak memohon belas kasihan. Dan pada akhirnya, mereka pun menyetujui hal itu. Ditambah lagi, ia sudah berjanji untuk pulang lebih awal. Sepertinya.. kata-kata ini bisa dipegang. Karna Kara bukan seorang gadis yang suka berbohong
"Di dalam mobil"
Kara menatap keluar jendela mobil. Pemandangan yang sangat asri dan jalanan yang dipenuhi dengan pepohonan, membuatnya terlena. Sudah sekian lama, ia tak lagi pernah menghabiskan waktunya dengan bersantai sejenak. Karna banyaknya jadwal kerja barunya.
Berselang beberapa waktu, mobil tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Hal itu membuatnya sedikit menyerngit.
"Loh, pak? Kok berenti disini?" Ucapnya sedikit khawatir. Namun pria itu malah tertawa sinis padanya.
"Apa otaknya miring kali ya? Ditanyai malah ketawa?" Batinnya sambil memijit-mijitt keningnya.
"Ceklek! Suara pintu mobil terbuka, membuyarkan lamunannya. Ia menoleh kesamping dan terkejut melihat kehadiran beberapa pria bertubuh besar, datang menghampirinya.
"Kalian sedang apa disini?" Teriak Kara sudah melotot. Namun para pria itu lagi-lagi menertawai dirinya. Saat ia hendak keluar dari pintu sebelahnya lagi, ternyata sudah ada seorangnya lagi berdiri disana. Pria itu sesigap mungkin langsung menutup hidung dan mulutnya dengan sapu tangan ditangannya.
"Emm.. emmm.. emmm!" Kara memberontak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun tak lama kemudian, kesadarannya perlahan menghilang.
"Ternyata.. ini hanya tipuan wanita rubah itu? Aku begitu bodoh!" Batinnya merasa bodoh.
Meski tubuhnya sudah semakin melemah, tapi ia tetap berusaha agar bisa terlepas. Walau semuanya sia-sia.
"Kakak, Jojo.. tolong selamatkan aku!" Batinnya lagi.
__ADS_1
Dan kini, ia benar-benar sudah pingsan. Setelah ia tak bergerak lagi, pria tadipun langsung melepaskan tangannya.
"Dua orang jaga dia. Dan yang lainnya, kalian ikut mobil dibelakang." Titah seorang pria, yang merupakan ketua gengnya. Kemudian, mobil kembali melaju dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu..
"Di ruangan kantor Jojo"
Jojo sengaja mempercepat pekerjaannya. Karna tidak sabar untuk bertemu sang kekasih. Tadi pagi, keduanya sudah berjanji untuk membicarakan tentang perencanaan pernikahan mereka yang akan segera dilangsungkan.
"Uhhh! Akhirnya selesai!" Ucapnya sambil menutup laptopnya. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku. Lalu ia meraih ponselnya yang terletak diatas meja.
"Tut.. tut.. tut! Ia bermaksud menelpon Kara dahulu sebelum menjemputnya. Namun tak ada sahutan dari orang yang diharapkan. Malah yang terdengar adalah suara telepon operator.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan.... dan bla..bla..bla!"
Kemudian ia langsung mematikannya.
"Mungkin dia masih sibuk kali ya?" Ucapnya pelan. "Fyuh! Ia menghela nafasnya. Lebih baik langsung kesana saja, pikirnya. Ia lalu mengenakan kembali jasnya dan berjalan keluar meninggalkan ruangan. Kedua sahabatnya yang melihatnya keluarpun tak lagi banyak bertanya. Mereka sudah tahu pasti kalau dirinya akan menemui calon istrinya.
15 menit kemudian..
Beberapa waktu kemudian, mobil yang Jojo kendarai tiba di FJ Entertainment. Ia keluar dari mobil mewahnya dengan memegang sebuket bunga mawar merah, kesukaan Kara. Sebelumnya, ia membelinya di perjalanan menuju kemari.
"Wajahnya pasti akan berseri-seri melihat ini" Ucapnya membayangkan ekspresi wajah menggemaskan Kara. Ia hendak beranjak kedalam, namun langkahnya terhenti oleh kehadiran anak buahnya.
"Tu, Tuan!" Ucap mereka terbata. Jojo memasang senyum mengembangnya.
"Kalian sudah bekerja keras. Mulai bulan depan.. kalian akan mendapatkan kenaikan gaji." Sahutnya merasa puas dengan kinerja mereka yang selalu menjaga Kara dengan baik.
"Tapi Tuan.." Ucap mereka lagi sambil tertunduk. Hal itu membuat Jojo sedikit menyerngit.
"Ada apa? Aku serius dengan perkataan ku." Ucapnya dengan nada serius. Namun untuk saat ini, yang mereka inginkan bukanlah hal itu. Tapi kehadiran Kara, nonanya. Bagaimana tidak? Mereka baru menyadari kalau Kara telah pergi begitu lama, dan belum kembali sejak tadi. Mereka tersadar ketika melihat kehadiran bosnya disana.
"No.. nona tidak ada di, disini Tuan!" Sahut salah seorang dengan nada terbata. Mendengar hal itu tanpa sadar, bunga yang Jojo pegang terjatuh begitu saja. Ia membulatkan matanya, menatap tajam kearah mereka semua.
"Apa maksud mu, huh?" Teriak Jojo begitu keras. Ia mencengkeram kerah bajunya.
"No, nona.. katanya, nona pergi untuk menemui teman, temannya Tuan." Sahutnya terbata.
"Kapan dia pergi? Kemana perginya?" Tanya Jojo lagi. Ia berusaha untuk meredam amarahnya.
"Jam 3 tadi, Tuan. Ta, tapi kami juga tidak tahu kemana Nona pergi. Karna Nona melarang kami untuk, untuk mengikutinya." Lanjut Bram sudah ketakutan. Dan benar saja. Amarah Jojo tak lagi bisa ia tahan. Ia langsung menggebuki mereka satu persatu tanpa ampun. "Bugh..bugh..bugh!
"S****n! Dasar tidak berguna!" Teriaknya begitu keras.
"Ahhh..!" Teriaknya sambil memukul setir mobilnya. Ia tak tahu harus mencari Kara kemana lagi. Apalagi waktu sudah hampir gelap.
"Kemana aku harus mencari mu, sayang?" Ucapnya merasa frustasi. Ia berkali-kali menghubungi ponsel Kara. Namun tak ada sahutan sama sekali.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba ia teringat kembali dengan Samuel. Dan langsung menelponnya tanpa memberhentikan mobilnya.
"Halo!" Terdengar suara khas Samuel dari seberang telpon.
"Sam.. tolong lacak keberadaan seseorang untukku." Ucapnya tak sabaran.
"Emm? Siapa?" Tanya Samuel balik.
"Jangan banyak tanya. Aku akan mengirimkan nomornya ke email mu." Ucap Jojo sedikit berteriak. Namun, bukan Samuel namanya, jika tidak bisa memancing emosi Jojo di waktu seperti ini.
"Jangan lupa bayarannya harus tinggi." Sahut Samuel menggoda.
"Aku tidak peduli!" Teriak Jojo dan langsung mematikan ponselnya secara sepihak. Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali berbunyi. Menerima pesan dari Samuel. Ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke alamat yang baru ia terima. Tapi tak lupa, ia juga memberitahukan hal ini kepada David selaku kakak Kara. Dan untuk berjaga-jaga, setidaknya mereka juga membutuhkan beberapa pengawal.
Waktu bersamaan...
"Di sebuah bangunan tua"
Kara perlahan membuka matanya, kala wajahnya disiram dengan air yang begitu dingin. "Uhh! Ia mengigau kecil sambil melihat keseisi ruangan. Mata indah pekatnya membulat melihat Zaskia yang berdiri dan menatap sinis padanya. Bukan hanya dia seorang. Tapi juga para pria bertubuh besar, berbaris rapi disana.
"Kamu?" Teriak Kara hendak bangkit berdiri. Namun ia tersadar, setelah melihat tangan dan kakinya diikat dengan begitu ketat.
"Dasar penipu!" Lanjut Kara berteriak. Ia sangat kesal dengan Zaskia saat ini. Saking kesalnya, bahkan sangat ingin menjambaknya hingga mati.
"Sudah puas teriaknya?" Sahut Zaskia. Kini, ia berjalan menghampiri Kara. Dan memegang dagunya dengan begitu keras.
"Kamu akan mati di tangan ku hari ini. Jadi, berteriaklah sesukamu!" Bisiknya ketelinga Kara. "Cih! Kara langsung berdecih padanya.
"Aku tidak sudi mati ditangan wanita ular seperti mu." Ucapnya merasa jijik. Mendengar omelannya, Zaskia semakin mempererat cengkeramannya.
"Lalu kamu apa? Jika kamu tidak kembali.. Jojo sudah pasti menjadi milikku." Kesalnya sambil merapatkan giginya. "Hahahah...!" Kara malah tertawa sinis padanya.
"Dari awal sampai akhir, kamu tidak akan bisa.. dan tidak akan pernah bisa memilikinya. Karna dia ditakdirkan hanya untukku." Sahut Kara, semakin memancing emosi Zaskia. "Plakk! Ia menampar wajah Kara tiba-tiba.
__ADS_1
"Dasar wanita j****g! Masih berani sombong rupanya?" Teriaknya membabi buta. Lagi-lagi Kara menertawai dirinya.
"Ternyata.. kamu adalah seorang wanita bermuka tebal. Heh! Mengapa aku baru menyadarinya?" Lanjut Kara masih terkekeh kecil. "Plakk! Lagi-lagi Zaskia menampar wajahnya hingga memerah.
"Kamu bilang apa?" Teriaknya.
"Aku tidak bilang apa-apa!" Sahut Kara tersenyum lebar. Ia menatap wajah Zaskia tanpa berkedip. Zaskia yang menyadarinya pun langsung memasang wajah muramnya.
"Apa liat-liat?" Teriaknya lagi. "Hahahah..!" Kara kembali tertawa, yang membuat Zaskia kembali menggerutu dalam hati.
"Apa wanita ini sudah gila? Dia tertawa seperti orang gila!" Batinnya.
"Ahhh! Kerutan di wajahmu semakin bertambah. Apa kamu semakin tua? Lihatlah.. kamu terlihat seperti nenek-nenek!" Ejek Kara. Zaskia langsung menyentuh wajahnya.
"Apa dia tahu, kalau aku ini sebenarnya oplas?" Batinnya.
"Diaaammmm!" Ia berteriak hingga suaranya memenuhi seisi ruangan, kala mendengar tawa Kara yang tiada henti. Kemudian ia mengambil pistol dari saku jaketnya.
"Apa kamu percaya.. aku akan membunuhmu, jika berani mengoceh lagi?" Sahutnya mengarahkan pistol tadi ke kepala Kara. Kara terpaksa diam dan mengikuti alur rencananya. Sebenarnya ia takut, tapi ia berusaha bersikap tegar, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Tidak mungkin kan.. wanita bodoh ini membunuh ku sekarang?" Batinnya.
Berselang beberapa waktu, terdengar suara ribut diluar. Sepertinya ada perkelahian, batin Kara. Namun dia hanya terdiam tanpa berkutik. Bersamaan dengan itu, seorang anak buah Zaskia datang menghampirinya dan berbisik sesuatu, hingga membuatnya sedikit gemetar.
"Nona.. Jojo dan beberapa bawahannya datang kemari. Mereka sudah menyerang anggota kita hampir setengah."
Zaskia mengepalkan tangannya.
"Sepertinya.. jika tidak membunuh wanita s****n ini, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan mu Jojo. Maka dari itu, aku tidak akan membiarkan mu melihatnya lagi, selamanya." Batinnya.
Kemudian ia menjentikkan jarinya.
"Kalian.. keluarlah. Bantu yang lainnya menghalangi mereka masuk. Dua orang tinggal disini." Titahnya dan dituruti oleh mereka.
"Aku tidak percaya.. kalian bisa mengalahkan anak buah ku dengan mudah" Gumamnya senang.
Ia tahu, kalau Jojo dan David hanya dikawal oleh 6 orang bawahan saja. Jadi, tidak mungkin mereka bisa mengalahkan anak buah ku yang berjumlah 80 orang ini, pikirnya. Ia kembali berjalan kearah Kara. Dan kini, mereka hanya berjarak 1 meter saja.
"Buka talinya!" Ucapnya. Tali pengikat tangan dan kakinya langsung dibuka oleh kedua bawahannya.
"Jika aku tidak bisa memiliki Jojo sepenuhnya, kamu juga tidak bisa." Ucapnya menatap tajam kearah Kara.
"Apa maksud mu?" Tanya Kara tak mengerti.
"Mari kita saksikan kematian Jojo bersama-sama." Ucapnya berpura-pura tersenyum. Namun matanya kini sudah berkaca-kaca.
"Kamu? Kamu wanita jahat. Dasar gila!" Teriak Kara. Ia hendak pergi keluar, namun langsung ditahan oleh kedua pria berjubah hitam tadi.
"Lepas, lepaskan b*****h!" Lanjutnya berteriak, sambil meronta-ronta berusaha terlepas. Namun tak juga bisa.
"Kamu yang memaksaku untuk melakukan ini, Kara! Jika kamu tidak keras kepala dan memberikan Jojo kedalam pelukan ku, dia pasti tidak akan mengalami hal ini. Salahkan dirimu yang egois ini!" Teriak Zaskia menyudutkannya.
"Dasar wanita jahat!" Teriak Kara lagi. Matanya kini sudah berkaca-kaca membayangkan bagaimana jika terjadi sesuatu pada prianya nantinya.
"Bukan hanya Jojo. Tapi juga kakak mu. Hahahah...!" Zaskia tertawa menyeringai padanya. Berbeda dengan Kara, ia sudah tampak gemetar. Kemudian, ia memohon kepada Zaskia, tanpa memikirkan harga dirinya lagi. Ia berharap Zaskia akan menyetujuinya.
"Tolong, tolong lepaskan mereka. Lukai saja aku! Lukai saja aku! Aku mohon!" Pinta Kara memohon. Namun usahanya tetap sia-sia.
"Tidak akan!" Sahut Zaskia tidak peduli.
"Aku mohon padamu! Lukai saja aku. Jangan mereka! Aku mohon, hiks..!" Tangisan Kara pecah. Disela-sela tangisannya, tiba-tiba pintu terbuka. "Brakkk! Mereka semua terkaget melihat kehadiran David dan juga Jojo yang sudah dipenuhi dengan luka lebam diwajah keduanya.
"Kara..!" Teriak mereka serempak.
"Kakak..! Jojo!" Sahut Kara senang. Ia lega melihat keduanya masih hidup. Berbeda dengan Zaskia. Ia sudah terlihat gemetar dan takut. Takut Jojo akan membenci dirinya.
"Bagaimana mereka bisa mengalahkan anak buah ku secepat itu?" Gumamnya dalam hati.
Ia lalu beralih menatap Kara dan menggelengkan kepalanya.
"Aku harus membunuhmu! Kamu harus mati!" Geramnya. Kemudian ia mengambil kembali pistolnya tadi dari saku celananya. Dan mengarahkannya ke arah Kara.
"Apa?" Teriak Kara, juga kedua pria kesayangannya itu.
"Pergilah ke neraka!" Teriaknya dan menarik pelatuk pistolnya. "Dor! Suara tembakan terdengar hingga keluar gedung. Ternyata, bukan Kara yang terluka. Melainkan Jojo. Saat Zaskia menarik pelatuknya, ia segera berlari kearah Kara dan menyembunyikannya di dalam dekapannya. Agar tembakan tidak mengenai tubuh gadisnya.
"Apa? Apa ini?" Tanya Kara gemetar.
TBC
Halo para readers setiaku:)
Mohon maaf sebelumnya karna author lama update. Dikarenakan author kurang sehat dalam seminggu ini. Tolong dimaklumi. Dan tetap dukung author ya say.. biar ceritanya terus berlanjut.
__ADS_1
Terimakasih:)
I lovyu all๐