My Sweet Heart

My Sweet Heart
Bab 71: Kembali berpisah


__ADS_3

Setelah menyelesaikan permasalahan yang terjadi di tanah air, Tuan Alfred kembali ke negara kelahirannya, negara Prancis. Ia juga telah memberitahukan hal itu kepada putranya yang kini masih berada di negara K.


"Di Negara Prancis"


Seperti biasa, pria paruh baya itu selalu disibukkan dengan pekerjaannya di kantor. Mendirikan banyak perusahaan-perusahaan besar, tentu membuatnya menjadi seorang yang selalu sibuk. Dikarenakan tanggung jawabnya yang besar.


Kini, Tuan Alfred tengah berada di ruangan kantornya. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang dari luar. "Tok..tok..tok!


"Masuk!" Ia langsung menyahutnya, meski masih sibuk mengotak-atik laptopnya.


"Tak..tak..tak! Terdengar suara langkah kaki seorang wanita datang menghampirinya.


"Brakk! Wanita itu langsung menggebrak mejanya dengan begitu keras hingga membuat si pemilik ruangan terkejut.


"Hah? Tuan Alfred langsung menoleh kearahnya seraya mengelus-elus dadanya.


"Ella?" Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya (dalam bahasa Prancis)" Sahutnya ketus. Ia menaikkan alis kirinya.


"Apa yang membawa mu datang kemari?" Lanjut Tuan Alfred dengan nada lembut.


"Masih berani bertanya? Dasar kakak penjahat! Sebaiknya, aku selamanya menetap di negara Amerika!" Kesalnya lagi.


"Hah? Mengapa?" Tanya Tuan Alfred tidak mengerti.


"Oh my God! Dimana keponakan ku? Apa kakak tidak ingin mempertemukannya dengan bibi cantiknya ini?" Lanjutnya sudah menggeram.


"Hahaha!" Sontak Tuan Alfred tertawa terbahak-bahak. "Bibi? Bahkan kamu belum menikah. Ingin menyuruhnya memanggil mu bibi? Bermimpi lah!" Ledek Tuan Alfred.


"Heheh.." Ella menepuk-nepuk pundak Tuan Alfred seraya tertawa menyeringai.


"Meski begitu.. tapi, aku adalah adikmu satu-satunya. Yang berarti.. bibi satu-satunya juga. Jadi, aku adalah orang langka. Mengerti?" Sahutnya kembali meledek.


"Aihkk..! Aku bisa apa, jika kamu berkata begitu?" Tuan Alfred pasrah saja tidak mempermasalahkannya lagi. Karna ia memang selalu kalah berdebat dengannya.


Elle adalah adik perempuan Tuan Alfred, berusia 40 tahun. Ia bekerja sebagai seorang desainer papan atas. Bahkan, namanya tidak lagi terdengar asing dibelahan-belahan negara di dunia. Karna memang karya-karyanya selalu mengagumkan. Hingga saat ini, ia belum menikah dan lebih memprioritaskan pekerjaannya. Meski umurnya tidak terlalu muda lagi, namun aura kecantikannya tidak pernah memudar. Bahkan para wanita-wanita kelas atas kerap merasa iri dengannya. Tuan Alfred sendiri sangat mencintainya. Bahkan selalu menganggapnya sebagai Ella kecil, gadis mungil yang tak pernah tumbuh dewasa.


"Jadi.. kapan aku bisa bertemu dengannya?" Tanyanya penuh harap.


"Emm.. belum pasti. Karna, dia juga pasti sangat sibuk sekarang!" Sahut Tuan Alfred tak ingin mengatakan yang sebenarnya. Karna ia tahu, Elle tidak akan melepaskan Jojo jika sudah bertemu dengannya.


"Aihhkkk..! Mengesalkan! Mengapa tidak bisa sekarang?" Ucapnya merasa kecewa.


"Uhuk.. uhuk! Jojo sibuk bekerja. Akhir-akhir ini, terlalu banyak masalah yang terjadi." Lanjutnya lagi.


"Hem..! Baiklah! Aku akan memaafkan mu kali ini. Tapi ingat, tidak ada lain kali!" Tegasnya dan langsung berlalu pergi dari sana. Ia tersenyum sumringah membayangkan betapa bahagianya ia nanti saat bertemu dengan keponakannya itu.


"Dia pasti tampan seperti kakak penjahat ku ini!" Gumamnya pelan.


Sementara Tuan Alfred, ia hanya menggeleng melihat tingkah sang adik.

__ADS_1


"Di Negara K"


Mentari pagi kembali memancarkan sinarnya. Cahaya hangatnya masuk hingga ke sela-sela sudut kamar. Hal itu membangunkan Jojo dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan. Sudut bibirnya melengkung hingga membentuk sebuah senyuman indah, kala mendapati gadisnya yang masih tidur terlelap di dalam dekapannya. Ia membelai wajah Kara dengan lembut.


"Selamat pagi sayang!" Ucapnya seraya memberikan kecupan manis dikeningnya.


"Ternyata.. demamnya sudah turun! Tapi.. biarkan saja dia itirahat lebih lama!" Batinnya.


Lalu, ia bangkit dari tidurnya menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan mereka. Setiap kali Jojo datang, ia pasti akan memasak untuk Kara. Karna memang gadisnya sangat menyukai masakan buatannya.


"Di dapur"


Jojo mengambil nefron yang terletak di dalam laci, dan langsung memakainya. Ia kembali berjalan kearah kulkas. Kini, ia tampak sedang memilah-milah berbagai macam sayuran dan juga bumbu masak lainnya.


Sebelum memulai aksinya, ia terlebih dahulu meregangkan otot-otot kekarnya. Kini, ia mulai tampak sibuk. Tangannya sangat cekatan dalam memotong-motong sayuran, layaknya seorang koki profesional. Ia memang sudah terbiasa melakukannya saat ia tinggal sendiri di Inggris.


Ditengah-tengah kesibukannya, tiba-tiba sepasang tangan mungil melingkar diperutnya. Jojo yang menyadarinya, segera menoleh kecil kebelakang. Ia tersenyum bahagia. Ternyata memang benar, gadisnya sedang memeluknya. Ia lalu mematikan kompornya dan segera membalikkan badannya.


"Apa kamu sudah baikan?" Ucapnya lembut sambil menyentuh kedua tangan Kara.


"Emm" Kara hanya membalas singkat, namun tetap tersenyum.


"Baiklah! Sekarang.. kamu tunggu di meja makan ya? Aku akan segera selesai!" Lanjutnya lagi seraya mencubit kecil hidung gadisnya.


"Tapi..." Kara hendak melanjutkan perkataannya, namun Jojo langsung menutup bibirnya.


"Sttt! Nggak ada tapi-tapian. Kamu nurut ya? Kamu kan baru sembuh?" Bujuknya seraya mengecup bibir ranum Kara sekilas. Mau tidak mau, Kara hanya bisa menurut saja, tidak ingin merepotkan Jojo. Ia langsung bergegas menuju ke meja makan, sementara Jojo, ia kembali melanjutkan kesibukannya.


Berselang beberapa waktu, Jojo telah selesai masak. Ia segera menghampiri Kara di ruang makan dan menyediakan semua hidangan diatas meja. Ia langsung disambut dengan senyuman manis oleh gadisnya.


"Umm?" Kara mendengusi aroma setiap masakan di hadapannya.


"Baunya enak banget! Makin laper!" Ucapnya memuji.


"Yaudah! Jangan diliatin mulu. Ntar makanannya ngambek lagi, hahah.." Lanjut Jojo terkekeh kecil. Ia langsung mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk Kara, barulah ia mengambil untuk dirinya sendiri. Keduanya makan dengan lahap.


"Di ruang keluarga"


Setelah selesai makan, keduanya langsung beranjak ke ruang keluarga. Kini, mereka tampak sedang duduk santai di sofa ruangan itu. Jojo tak henti-hentinya menciumi wajah Kara, hingga membuat wajahnya sedikit lembab.


"Emm? Wajahku jadi lembab gara-gara kamu!" Sahut Kara sedikit memonyongkan bibirnya.


"Hahaha.." Jojo hanya terkekeh kecil, namun masih belum juga menghentikan aksinya. "Cup! Berkali- kali ia mengecupinya lagi dan lagi.


Ditengah-tengah kejahilannya, ponselnya tiba-tiba berdering. Namun ia berpura-pura tidak mendengarnya. Kara yang melihatnya pun langsung menarik hidungnya.


"Itu ponselmu berdering loh! Kok gak diangkat?" Ucapnya sedikit menyerngit.


"Itu hanya pengganggu sayang! Tidak usah di pedulikan!" Sahutnya masih memeluk Kara.


"Aihhkkk!" Kara langsung mendorong kecil tubuhnya.

__ADS_1


"Siapa tau penting! Mending diangkat dulu deh!" Protes Kara dengan nada tegas.


"Huh! Jojo mendengus kesal. Mau tidak mau, ia harus menuruti keinginan gadisnya. Ia langsung mengambil ponselnya dari atas meja. Wajahnya tampak muram, kala menatap layar ponselnya.


"Halo!" Kesalnya. Karna yang menelponnya adalah Zack, si jomblo akut.


"Apa dia punya Cctv di sekeliling ku kali ya? Mengapa dia selalu mengganggu ku?" Geramnya dalam hati.


"Jo..! Mengapa lama sekali?" Celoteh Zack sedikit kesal. Namun, Jojo malah tambah kesal mendengar hal itu.


"Katakan saja to the point!" Ucapnya datar.


"Aishhh! Dasar bucin akut!" Kesal Zack lagi.


"Oh, nggak ada ya? Yaudah.." Mendengar nada kesalnya, Zack langsung melanjutkan perkataannya.


"Huh! Jadi gini.. intinya, kamu harus pulang secepatnya. Ada masalah penting!" Jelas Zack to the point. Jojo langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Ada sebersik rasa kecewa dihatinya.


"Baiklah!" Ucapnya, langsung mematikan ponselnya secara sepihak.


"Siapa yang menelponnya? Mengapa wajahnya jadi muram begitu?' Gumam Kara pelan. Ternyata, ia memperhatikan Jojo sedari tadi.


"Ada apa?" Tanyanya penasaran.


"Itu.. emm, aku aku harus" Sahut Jojo terbata-bata. Kara menaikkan alisnya, minta kejelasan. Jojo langsung meraih tangannya.


"Aku harus kembali sayang!" Ucapnya pelan.


"Ehh? Baiklah!" Sahut Kara pasrah. Senyumannya perlahan menghilang.


"Ini.. sebenarnya, aku tidak ingin sayang! Tapi.. ada hal penting yang harus.." belum selesai ia dengan perkataannya, Kara langsung membuka bicara kembali, berusaha meyakinkannya.


"Aku ngerti kok! Duniamu kan bukan hanya aku seorang?" Ucapnya lembut, seraya membalas sentuhan tangannya.


"Tapi.. bagaimana dengan mu? Kita jadi gak bisa pulang barengan ke Indonesia!" Sahut Jojo merasa bersalah. Sebenarnya, ia berniat menunggu Kara hingga 2 bulan kedepan. Agar mereka bisa pulang bersama ke Indonesia. Tapi, keadaan tidak memungkinkan. Banyak hal yang harus Jojo lakukan untuk saat ini hingga kedepannya. Mungkin ia akan sangat sibuk.


"Umm? Ini bukan salahmu! Aku akan pulang sendiri! Aku kan bukan anak kecil lagi?" Lanjut Kara berusaha meyakinkannya.


"Kamu yakin?" Tanya Jojo memastikan.


"Emm" Kara mengangguk mengiyakan. Ia kembali memeluk tubuh kekar pria dihadapannya. Dan dibalas hangat oleh Jojo.


"Dua bulan lagi.. aku akan kembali. Aku bisa berkumpul dengan kakak!" Batinnya senang.


"Aku akan menjemputmu di Bandara!" Sahut Jojo kembali mempererat pelukannya.


TBC


Halo para readers setiaku:)


Jangan lupa jempol, komentar and votenya say😍

__ADS_1


Tetap semangat untuk kalian💪


I lovyu all😘


__ADS_2