
Ning kembali ke dapur dan menemui koki yang masih memasak dan menunggu kabar darinya.
“Tuan muda ingin makan apa siang ini?” koki tersebut kembali bertanya setelah melihat Ning kembali.
“Dia bilang ingin makan ramen sangat pedas, salad buah dan jus cabe.” Ning pun menyebutkan apa yang diinginkan Dino.
“Baiklah ….” Sang koki lalu bergegas membuatkan makanan yang Ning sebutkan tanpa kembali bertanya atau pun terkejut.
Sepertinya ia sudah paham dengan kelakuan tuan muda nya itu. Ia pun meminta bantuan salah satu rekan kerjanya yang sama- sama bertugas di dapur.
Ning justru merasa heran dengan hal itu.
“Kenapa dia langsung membuatkan makanan aneh itu tanpa protes?” Ning bertanya- tanya dalam hatinya. Ia melangkah ke ruangan khusus pelayan untuk menunggu masakan nya jadi.
Kruk kruk …
Cacing di perut Ning kembali berdemo.
“Ya ampun, kapan sih nih waktunya makan? Perutku sudah sangat lapar … Masa iya minum air lagi … bisa- bisa perut ku kembung. Di rumah sebesar ini kok pelit banget sama makanan. Pakai alasan harus sesuai jadwal makan segala lagi … nasib nasib ….” keluhnya mengusap- usap perutnya.
Ia kembali mengambil air minum untuk mengganjal perutnya, daripada tidak diisi sama sekali pikirnya.
Dalam waktu 15 menit, makanan yang dipesan Dino sudah selesai dibuatkan. Ning pun diminta mengantarkannya ke kamar Dino.
Ning menggelengkan kepalanya saat berjalan meninggalkan dapur dengan membawa nampan yang berisi makanan pesanan anak asuhnya.
“Gila … itu koki benar- benar membuatkan makanan ini … Sepertinya seisi rumah ini orang gila semua, kecuali gue kali ya satu- satunya orang waras ….” gumam Ning sembari melangkahkan kakinya.
“Istana ini seperti nya lebih pantas disebut rumah sakit jiwa yang mevah hihihi ….” Ning cekikikan sendiri saat menaiki tangga.
“Baru tahu gue … Ternyata zaman sekarang bukan penjara saja yang bisa dirubah jadi megah karena diisi tahanan orang kaya melintir. Rumah sakit jiwa juga bisa semegah istana … hihihihi.” Ning terus saja brdialog sendiri sembari cekikikan, hingga tak terasa ia pun tiba di depan pintu kamar Dino, sang anak asuhnya.
Tok tok tok …
“Tuan muda, ini makanan na sudah siap.” Seru Ning dari balik pintu.
“Masuk!!” terdengar sahutan dari dalam kamar.
“Apa gak salah dengar? Dia menyuruh ku masuk hanya dengan satu ketukan pintu?” Ning bertanya- tanya dan merasa heran.
“Waduh, jangan – jangan ada jebakan betman lagi ….” ucap Ning mengira- ngira.
Ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, lalu menotak- atiknya kemudian dimasukan kembali ke dalam saku celananya.
“Mana makanannya?!” teriak Dino dari dalam kamar.
“Iy iya, Tuan ….”
Ning menghela nafas panjang, ia lalu menekan pegangan pintu ke bawah dan terbukalah pintunya. Namun ia tak langsung masuk. Ning mendorong pintu dengan kakinya agar terbuka lebar dan melihat ke arah langit- langit.
“Aman … tidak ada apa-apa lagi di atas pintu,” gumamnya bernafas lega. Ia pun mulai melangkahkan kakinya memasuki kamar tersebut dengan mata yang melirik kesana kemari memastikan taka da ranjau lagi yang akan mencelakai dirinya.
“Apa kau itu kura- kura? Lamban sekali jalan mu!” hardik Dino seperti yang sudah tak sabar ingin makan.
Ia tengah duduk di sofa dan di depannya terdapat meja bundar kecil yang terbuat dari kaca. Ning pun menghampirinya.
“Maaf Tuan, pinggang saya masih terasa sakit gara- gara kelereng tadi, jadi jalannya belum bisa cepat- cepat,” ucap Ning memberi alasan sekaligus menyindir jika sakit yang ia alami karena ulah Dino sang bayi besar.
“Bukan urusan ku! Mana makanan ku?” Dino tak memperdulikan alalsan Ning.
Ning memutar jengah bola matanya serta mencebikkan bibirnya.
“Ini, Tuan ….” Ning lalu menaruh nampan tersebut di atas meja.
“Silahkan Tuan, saya permisi,” ucap Ning pamit undur diri.
“Siapa yang menyurh mu pergi?”
Deg …
“Sudah ku duga kau akan mengerjai ku lagi kan dinosaurus,” gerutu Ning dalam hati.
Ia sebenarnya merasa kesal pada anak asuhnya itu, namun ia sebisa mungkin ia tetap tersenyum.
“Maaf Tuan, memangnya untuk apa lagi saya berdiam diri disini? Tidak mungkin kan saya menyuapi Tuan muda?” ucapnya sembari tersenyum.
“Kau pikir aku ini bayi apa? Minta disuapi segala!” Dino memberi tatapan tidak suka pada Ning.
“Lalu untuk apa gerangan saya harus tetap disini?” Ning masih dalam mode pura- pura ramah.
Dino mengambil gelas dari atas nampan tersebut. “Habiskan ini, baru aku akan makan!” titahnya menyodorkan gelas berisi jus cabe pada Ning.
Ning membelakkan matanya mendengar perintah anak asuhnya itu.
“Sialan, masa iya gue musti minum jus cabe itu, yang benar saja … dinosaurus keparat!!” gerutu Ning dalam hati.
__ADS_1
“Hei, kenapa malah bengong? Ayo habiskan ini!” bentaknya.
Ning terperanjat mendengar bentakan Dino.
”Iy iya Tuan muda ….” ucapnya gelagapan.
“Nih cepat habiskan!”
“Gila, mana bisa gue menghabiskan jus cabe ini ….” gumam Ning dalam hati sembari menatap jus yang ada di tangn Dino.
“Eh tunggu … dia bilang kan habiskan, bukan diminum … etdah kok gue mendadak bego begini.” Ning kembali bergumam dalam hati, seolah mendapat pencerahan.
“Baiklah, setelah jus ini habis. Tuan muda harus memakan makanannya juga sampai habis," ucap Ning bernegosiasi.
“Ya,” ucap Dino dengan sangat yakin.
“Jangan mangkir ya ….”
“Iya.”
Ning lalu mengambil gelas dari tangan Dino. Dan justru hal itu mengejutkan Dino.
“Apa? Dia benar- benar mengambil jus itu?! Wanita ini sepertinya sudah gila … yang sebelum- sebelumnya bisanya menangis dan menyerah dan menolak jadi pelayan ku …” gumam Dino dalam hatinya dengan raut wajah tak percaya.
“Kau benar- benar akan menghabiskannya?” tanya Dino penasaran.
“Tentu saja … bukankah itu perintah dari tuan muda ….” ucap Ning yang masih bisa memberikan senyuman palsu.
“Tuan muda yakin akan makan ramen super pedas itu jika jus ini habis?” Ning malah balik bertanya.
“Te tentu saja ….” ucap Dino dengan ragu- ragu.
“Yakin, akan makan ramennya sampai habis?” Ning mengulang pertanyaannya.
“Iy iya. Tentu saja aku yakin.” Dino kini yang mulai ketakutan.
“Apa taruhannya jika setelah aku menghabiskan jus ini, tuan akan segera makan ramen?” tanya Ning seolah menantang.
“Maksud mu?”
“Jika Tuan tak memakan ramen itu sampai habis, maka Tuan harus menerima ku jadi pengasuh mu dan mengikuti semua perintah ku.” Ning pun mengutarakan hadiah taruhannya jika ia yang menang.
“Apa- apaan kau ini? Berani kau sekali menantang ku?” Dino tak terima dengan taruhan yang diajukan oleh Ning.
“Wah wah, sepertinya Tuan muda takut ya.” Ning malah mengejek.
“Jadi, beneran yakin akan makan ramen itu sampai habis, setelah jus ini habis?” Ning kembali bertanya dengan tangan kiri yang dimasukan ke dalam saku celananya
“Tentu saja.”
“Deal ya dengan taruhannya?” Ning kembali memastikan.
“Baik …jika kau tidak berhasil menghabiskan jus itu maka kau harus mundur dari pekerjan mu dan enyahlah dari rumah ini.” Dino pun meladeni taruhan Ning.
“Baiklah … siapa takut ….” Ning tersenyum dengan penuh percaya diri.
“Cihh, percaya diri sekali kau ini ….” Dino menatap tidak suka pada Ning.
“Oh ya, aku tanya sekali lagi … Yakin mau makan ramen itu sapai habis?”
“Sekali lagi kau bertanya, aku akan merobek mulut mu yang terus mengoceh itu!!” hardik Dino kesal.
“Uwww, tatut …. Bukannya tuan muda sedang sakit … memangnya tidak takut sakit nya tambah parah kalau makan makanan yang pedas gitu?” Ning seolah mengulur waktu.
“Si siapa bilang aku sakit? Aku baik- baik saja.” Dino tak ingin dianggap orang berpenyakitan.
“Ya ya ya, sekarang aku mengerti. Ku perhatikan tubuh tuan muda baik- baik saja, bahkan tadi pagi saja masih bisa lari- larian sampai menabrak ku. Berarti tubuh Tuan muda tidak sakit.”
“Itu kau tahu.”
“Sepertinya mental tuan muda yang bermasalah,” ucap Ning mengejek dengan santainya.
“Apa kau bilang? Berani sekali kau menghina ku seperti itu!” Dino merasa tersinggung dengan ucapan Ning yang secara tidak langsung menyebutnya gila.
“Santuy, anak manis … kalau gak merasa ya gak usah sewot gitu dong ….”
“Kau!” Dino menunjuk wajah Ning.
“Aku apa? Aku benar? Aku pintar? Aku cerdik? Atau aku cantik?” ucap Ning sembari mengedip- ngedipkan matanya seperti wanita genit.
“Menjijikan ….”
“Oh terimakasih … aku anggap itu sebagai pujian ….” Ning terus saja mengolok- olok.
“Kau benar- benar memuakan!”
__ADS_1
“Terserah terserah terserah ….” Ning berlagak tak peduli dengan semua ucapan yang keluar dari mulut anak asuhnya itu. “Jadi kapan mau makan-nya ini?” Ning kembali ke pembahasan awal.
“Tentu saja setelah kau menghabiskan jus mu itu!” ucap Dino tersenyum sinis.
“Baiklah … dengan senang hati, Tuan muda ….” Ning memperlihatkan senyuman semanis mungkin yang tentunya membuat Dino semakin muak pada nya. Hingga ia membuang muka karena tak ingin melihat wajah Ning.
Ning dengan segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dengan membawa segelas jus cabe di tangan kanannya.
Byuurrr …
Ning membuang jus cabe itu ke dalam kloset lalu menekan tombol pembuang kloset tersebut.
“Hei, apa yang kau lakukan?” teriak Dino yang kaget mendengar suara dari kamar mandi miliknya itu. Ia pun berdiri dan melihat ke arah kamar mandinya.
Ning keluar dari kamar mandi. Ia melangkah dengan santainya untuk menghadap anak asuhnya itu.
“Apa yang kau lakukan di kamar mandi ku?” bentaknya semakin kesal.
“Tentu saja melaksanakan perintah Tuan Muda.” Ning menggoyang- goyangkan gelas kosong di tangannya, hingga membuat mata Dino terbelak melihatnya.
“Aku menyuruh mu menghabiskan jus cabe itu … Kenapa kau malah membuangnya?”
“Loh, Tuan muda kok marah? Bukan kah aku sudah melaksanakan perintah tuan muda….”
“Apa maksud mu, hah?”
“Tuan muda bilang habiskan jus cabe itu bukan minumlah jus cabe itu. Dan sekarang jus nya sudah habis kan? Kini giliran Tuan Muda makan ramen super pedas itu sampai habis.”
“Kau!!!” Dino menunjuk waah Ning.
“Eit, makan ramen mu sampai habis atau kau menyerah.”
“Dasar licik!!”
“Aku ini cerdik bukan licik, Tuan ….”
“Heh, kau pikir aku bisa kau tipu segampang itu? aku juga tinggal membuang ramen ini.”
“Oh tidak bisa … kau sudah bilang kalau kau akan memakan ramen itu dengan sangat jelas.” Ning mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Lalu ia memperdengarkan suara obrolan Dino dan dirinya yang ternyata di rekam sejak Ning mengajukan taruhan.
“Nah kau dengar sendiri kan Tuan Muda … semua ucapan mu sudah terekam di ponsel ku. Jadi kau tak bisa mangkir.”
“Kau!! Benar- benar licik. Berikan ponsel mu pada ku!”
“Oh tidak bisa … ini adalah bukti kuat taruhan kita.” Ning menggoyang- goyangkan ponsel dibtangannya yang masih memperdengarkan suara rekaman obrolan mereka sebelumnya.
“Brengsek kau!!” caci Dino.
“Hahaha… ternyata kau tidak berani memakan makanan pesanan mu sendiri … ini berarti aku yang menang taruhan … Dan kau harus mengikuti semua perintah ku, anak asuh ku yang baik.”
“Aku tidak akan sudi!”
“Kau harus sudi dan memaksakan untuk sudi … syaalala” Ning tersenyum penuh kemenangan.
”Semua sudah terekam jelas di ponsel ku, dan aku bisa memberikan ini pada Nyonya Rosmala sebagai bukti kau bersedia menjadi anak asuh ku … Kau tidak bia mangkir lagi anak manis ….”
“Sial … berikan ponsel mu pada ku!” Dino berusaha merebut ponsel Ning, tapi Ning berhasil menghinndar. Ia lau memasukan ponselnya ke dalam saku celananya lagi dan segera berlari untuk keluar.
Namun tak disangka, Dino justru mengejar Ning. Dan terjadilah aksi kejar- kejaran hingga keduanya turun ke lantai bawah.
Ning terus berlari sekencang yang ia bisa menyusuri rumah itu, Dino pun terus mengejarnya.
Kepala pelayan yang melihat itu pun segera mengejar Dino yang ditakutkan akan pergi keluar rumah. Ia menghubungi petugas keamanan untuk menngkap Dino.
Brukkk …
Ning bertubrukan dengan seseorang, namun beruntung ia tak terjatuh, karena orang itu berhasil menarik tangan Ning hingga tubuhnya dengan reflex bersentuhan dengan tubuh orang itu yang membuat mereka terlihat seolah sedang berpelukan.
“Hmmm … wangi banget sih nih orang,” gumam Ning yang seolah betah menempel pada dada orang tersebut sembari memejamkan matanya.
“Hei, wanita sialan!! Berikan ponsel itu pada ku!” teriak Dino.
Ning seketika membuka matanya, ia lalu menanggahkan kepalanya untuk melihat wajah orang yang sedang dipeluknya itu dengan tanpa sengaja.
Ia membelakan matanya saat melihat jelas wajah yang ada di hadapannya dan begitu dekat dengannya itu.
“Ka kau ….” ucapnya dengan raut wajah terkejut.
Tiba- tiba semuanya menjadi gelap, tubuhnya terkulai lemas dan membuat Ning seketika tak sadarkan diri di pelukan orang itu.
"Eh, kenapa dia jadi pingsan begini??" orang itu terheran- heran.
--------------- TBC----------------
*********************
__ADS_1
Happy Reading ….