NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Aku Mencintai Mu....


__ADS_3

Ocha yang terkejut melihat Ning menangis sembari memeluk pria tak dikenalinya, segera menghampiri Ning. Ia lalu berjongkok di belakang Ning.


“Astaga, Ning… Lo ngapain peluk- peluk orang mabok gitu? Bahaya tahu… Orang mabok bisa berbuat hal diluar kendalinya… Ayok kita pulang….” ucapnya menarik tangan Ning, namun ia tak menggubris sahabatnya itu dan malah terus menangis dipelukan Athar.


“Ning… dia udah teler tuh… biasanya orang mabok suka muntah… Ayok cepat kita pergi dan tinggalkan tempat ini….” Ocha kini bukan hanya menarik tangan Ning, namun ia memegang kedua lengan bahu Ning dan menariknya untuk menjauhkan tubuh Ning dari pria itu.


“Lepasin gue, Cha…. Hiks hiks….” Ning yang melepaskan pelukannya dari Athar, lalu menghempaskan tangan Ocha dengan kasar.


“Lo kenapa sih? Ketularan mabok juga? Ayok kita pulang….” Ocha terus memaksa.


“Gue gak mau pulang, gue mau tetap di sini, Cha… hiks hiks,” Ning terus menolak ajakan sahabatnya sembari terisak.


“Lo gak takut apa kalau orang mabok itu ngapa- ngapain lo? Ayok pulang… Pakai nangisin orang mabok segala lagi!!” Ocha mulai merasa kesal.


Seketika Ning berhenti menangis, ia menghapus jejak air matanya. Ia mengedarkan pandangannya nampak mencari sesuatu, namun tak ditemukannya.


“Oke kita pulang… Tapi bawa dia juga sekalian….” ucap Ning melirik ke arah Athar yang nampak sudah tepar.


“Jangan gila lo ya… Ngapain lo bawa orang mabok ini ke rumah lo? Kenal juga enggak… Lagian ya, apa lo lupa kalau di rumah lo itu kan penghuni nya perempuan semua… Lo mau digrebek warga bawa laki- laki tengah malam ke rumah?”


“Gue kenal sama dia, Cha… Makanya gue mau bawa dia pulang… Kasihan kan dia sendirian di sini….”


“Terus bawa nya gimana? Dia udah teler gitu… Kita berdua ini perempuan, mana bisa gendong dia…. Udah yuk kita pulang… Anggap aja kita gak pernah ketemu dia, dan lo pura- pura gak kenal aja sama dia….” Ocha kembali menarik tangan Ning, namun ia kembali menghempaskan tangan Ocha.


“Enggak… gue gak bakalan ninggalin dia sendirian di sini… Kalau terjadi sesuatu sama dia gimana? Kalau nanti hujan gimana? Kalau nanti di nyebrang terus ketabrak mobil gimana?”


“Astaga naga… lo peduli amat sih sama ni orang… Kenal sih kenal, tapi gak biasanya lo kayak gini sama cowok….” Ocha terheran- heran dibuatnya.


“Hei gadis galak… minum mana minum… Bibir ku kering.. minum minum minum….” Athar kembali merancau.


“Tuan om….” Ucap Ning lirih, ia kembali duduk mendekat pada Athar.


“Hah?Gadis galak? Tuan om? Kok kayaknya gue pernah dengar kata- kata itu….” gumam Ocha sembari mengingat- ingat. “Ning, lo manggil dia tuan om barusan?” tanya nya memastikan apa yang ia dengar.


“Iya… dia ini Daniel Athar Shulekha….”


“Hah?!” Ocha membekap mulutnya yang ternganga. “Anjay… Gila lo Ning… Pantesan lo gak bisa move on dari yang namanya si kudaniel… Orangnya ganteng begini….” Ucapnya terkejut sekaligus takjub. “Lagi mabok wajahnya kusut gitu aja masih terlihat ganteng… Apalagi kalau lagi rapi….”


“Diam lo… Ayok bantu gue mapah dia ke depan sana….” Ning menunjuk ke arah jalan raya yang menjadi tujuan awal mereka tadi.


“Heh, gila lo ya… ogah ah ….ntar kalau dia tiba- tiba ngamuk gimana? Mending lo telpon aja gitu siapa tuh yang dulu asistennya si kudaniel? Lupa gue namanya….” Cerocos Ocha menolak.


“Pak Riko….” ucap Ning yang baru teringat pada asisten pribadinya Athar.


“Nah iya, lo telpon aja si Pak Riko… Biar dia jemput majikannya ke sini….” Ocha mengusulkan.


“Mau nelpon Pak Riko pakai apa, Ocha? Hape kita kan pada mati….” ketus Ning.


“Yaelah bego banget sih lo… Geladah aja tuh pakaiannya si ganteng, pasti dia punya hape kan? Atau enggak cari dompetnya gitu… Biasanya kan kalau horang kayah suka punya kartu nama, pastinya di kartu itu tertera nomor telpon kantor atau rumahnya….”


“Bener juga lo….” Ning kemudian meraba- raba saku celana Athar.


“Ahh… ahhh… geli sayang ku… Jangan di sini sayang… Kasurnya keras, kita cari yang empuk wow wow wow… hahahaha….”Athar kembali merancau sembari menggeliat- geliatkan tubuhnya seperti ulat, dengan satu tangan yang mencengkram tangan Ning.


“Ssssttt… Diam!!!” ucap Ning menghempaskan tangan Athar. Ia kemudian menemukan ponsel Athar dari saku celananya.


“Sial… pakai kode lagi ponselnya… Eh tapi, bisa pakai sidik jari….” Ucapnya saat menyalakan layar ponsel Athar. Ia lalu menarik tangan kanan Athar dan menempelkan jempolnya pada layar ponsel itu. Dan hal itu berhasil.


Ning segera membuka file kontak telepon. Ia mencari nama Riko dan berhasil menemukannya. Ia pun segera menghubungi Riko.


“Hallo, Pak Riko … ini saya Ning….”


*******************************


“Gimana Ning?” tanya Ocha pada Ning yang baru selesai mengakhiri panggilan telponnya.


“Pak Riko bilang dia baru tiba di Indo dan masih di bandara….”

__ADS_1


“Terus gimana nih si ganteng?”


“Si ganteng si ganteng mulu… Namanya Daniel !!” hardik Ning sewot.


“Selow dong selow… Lo jangan sewot gitu kali, Ning….” ucap Ocha terperanga melihat sikap Ning.


“Ya lo juga sih nyari perkara… Biasanya juga lo nyebut dia si kudaniel, kenapa sekarang tiba- tiba manggil dia si ganteng?” cerocos Ning.


“Yaelah, emang dia ganteng kok… Jadi gimana ini? Malah bahas ganteng, udah larut malam nih… Mana gak ada orang lewat lagi… Cuma ada beberapa kendaraan noh di jalan…. ”


“Pak Riko bilang suruh bawa dia ke apartemen nya… Nanti dia kirim alamatnya… Kalau kita nunggu dia datang ke sini bakalan lama… Lo tahu sendiri jarak dari bandara ke sini jauh amat….”


“Yaudah… Kalau gitu lo pesan taksi online aja dari ponsel si ganteng….” usul Ocha.


“Kudaniel….” Ning meralat.


“Iya boloning… ribet amat sih lo jadi orang!!”


Ning mengunduh aplikasi transportasi online di ponsel Athar. Ia lalu memesan dengan tujuan alamat yang sudah dikirimkan oleh Riko.


Tak lama taksi pesanan pun datang. Sang driver membantu membopong dan memasukan Athar yang sudah benar- benar teler ke dalam mobil. Ia didudukkan di jok depan sebelah sopir. Beruntung ia tak merancau lagi. Ning dan Ocha turut masuk, keduanya duduk di jok penumpang, kemudian mobil pun segera melaju.


*


Sesampainya di depan pintu lobi apartment, salah seorang penjaga membantu membopong Athar. Ia rupanya sudah kenal dengan Athar yang sebelumnya merupakan salah satu penghuni apartment mewah tersebut.


“Maaf, Mbak… Untuk password pintunya hanya Pak Daniel yang tahu….” Ucap sang penjaga yang sudah mengantarkan Athar bersama Ning dan Ocha tepat ke depan pintu unit apartment milik Athar.


“Tapi kan dia lagi mabuk, Pak… Mana mungkin bisa ngasih tahu pasword nya… Tadi aja ngomong gak jelas banget….” ucap Ocha.


“Maaf, Pak… Bisa tunggu sebentar … Saya akan menghubungi asisten pribadinya Daniel… Kalau tidak salah, dia tahu pasword nya kok….” ucap Ning yang kemudian menghubungi Riko kembali dengan menggunakan ponsel Athar. Ia pun mendapatkan password pintu unit milik Athar dan menekan tombol sesuai yang diberitahukan oleh Riko.


Ceklek …


Akhirnya pintu itu pun berhasil dibuka. Ning memasukan ponsel Athar ke dalam tas nya, dan mengambil uang dari dalam dompetnya.


Sementara Ning dan Ocha membopong Athar masuk ke dalam, dengan melingkarkan tangan Athar ke pundak masing- masing. Ning di sisi kanan Athar, sementara Ocha di sisi kiri Athar.


“Busyet dah… ini hunian horang kayah mah mewah dan besar begini ya… Beda sama apartement yang pernah gue datengin….” Ocha terkagum- kagum melihat seisi ruangan tersebut.


"Ning… ini si ganteng mau dibawa kemana?” tanyanya yang nampak merasa berat.


Bukannya menjawab, Ning malah memberi tatapan tajam pada Ocha. Nampaknya ia tidak suka Ocha memanggil om tamvan-nya dengan sebutan si ganteng.


“Etdah… Lo cemburuan amat sih….” protes Ocha.


“Kita bawa ke kamarnya aja, noh di sana….” ucapnya lalu membawa Athar masuk ke dalam kamar.


Bruk…


“Aduh… kenapa dilepas sih, Cha?”protes Ning yang ikut terjatuh ke lantai bersama Athar.


“Berat tahu… leher gue pegal….” Ocha memijat- mijat tengkuk lehernya.


“Yaelah, dikit lagi juga nyampe kasur….”


“Udahlah, baringkan aja di sofa ini aja….” tunjuk Ocha pada sofa yang terletak di depannya. Ia lalu membantu Ning membangunkan Athar dan kembali membopongnya yang kemudian di dudukan di sofa tersebut.


“Aduh habis kayaknya tenaga gue… Mana ngantuk lagi… yuk kita pulang, Ning….” ajak Ocha.


“Masa kita ninggalin dia sendirian di sini?” Ning nampaknya tak tega meninggalkan Athar.


“Eh, boloning… Ini kan di rumahnya dia, kenapa lo musti khawatir? Udah yuk pulang… Udah larut malam nih….” Ocha sudah benar- benar kesal pada sahabatnya.


“Bentar lagi, Cha… Kita tunggu Pak Riko datang….” Ning terus mencari alasan agar dia bisa melihat pria yang dirindukannya lebih lama. “Lagian tadi kan lo bilang kalau orang mabuk bisa melakukan hal di luar kendalinya… Gimana kalau dia sampai keluar dan loncat dari balkon?”


“Ck, halah… biang aja lo masih kangen sama si ganteng itu kan….” Ocha berdecak kesal.

__ADS_1


“Apaan sih lo Cha….” sanggah Ning yang kemudian berdiri lalu beranjak pergi.


“Mau kemana lo?” tanya Ocha.


“Mau nyari baju nya dia….” ucap Ning menghentikan langkahnya dan menoleh pada Ocha.


“Buat apa? Lo mau pinjem bajunya dia?” tanya Ocha heran.


“Lo gak lihat itu bajunya dia basah gara- gara ketumpahan minuman tadi?”


“Anjay… Sebegitu perhatiannya lo sama dia, Ning… Ning….” Ocha terkekeh sembari menggeleng- gelengkan kepala.


Ning tak menghiraukan ucapan Ocha, ia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju lemari pakaian. Ia membuka pintunya satu persatu, namun sayang ia tak mendapatkan satu pun pakaian di sana.


“Loh, kok gak ada baju satu pun? Apa karena dia baru kembali dari London?” gumam Ning saat melihat lemari yang kosong itu. Ia lalu menutup kembali pintu lemarinya dan mengedarkan pandangan di seluruh ruangan kamar itu.


Ia baru teringat dengan ponsel Athar yang masih ada di dalam tas nya. Ia mengambil ponsel itu sembari berjalan mendekati ranjang. Ning berniat menghubungi Riko untuk menanyakan letak pakaian Athar. Namun saat ia, ia menemukan sebuah koper di sebelah tempat tidur, ia pun mengurungkan niatnya.


Ning berjalan mengitari ranjang, kemudian membuka koper tersebut. Ditemukanlah beberapa pakaian di dalamnya. Ia mengambil kemeja yang terletak di bagian paling atas urutan pakaian tersebut. Lalu ia kembali menghampiri Athar yang setengah badannya berbaring di sofa, sementara kakinya menggantung ke bawah.


“Cha, bantuin bangunin dia dong….” pinta Ning.


“Hadeuh, nih leher masih sakit juga… Untung nih orang ganteng, jadi gue rela deh. Lumayan kan… kapan lagi bisa *****- ***** cowok ganteng….” Ocha tak henti menggerutu, namun ia tetap membantu Ning.


“Otak lo benar- benar mesum ya….” ucap Ning kesal.


“Haahahaha….” Ocha membantu membangunkan tubuh Athar hingga ia duduk bersandar pada sofa. Ning kemudian menggantikan kaos putihnya yang kotor dengan kemeja yang sudah diambilnya dari koper. Athar pun kembali dibaringkan dengan benar.


Ning membuka sepatu dan kaus kaki Athar. Ia pergi ke kamar mandi dan kembali dengan membawa handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air hangat. Sementara Ocha keluar dari kamar tersebut.


Ning duduk di lantai tepat di depan sofa tempat Athar berbaring. Dilap lah wajah Athar yang nampak berantakan dan kusam, dengan perlahan dan penuh kelembutan.


Tangannya beralih mengusap kepala Athar dengan lembut. Ia masih tak percaya, pria yang sudah menghilang tanpa kabar selama setahun belakangan ini, kini benar- benar ada di hadapannya. Hatinya merasa terenyuh melihat pria yang sangat dirindukannya, ditemukan dalam keadaan menyedihkan di pinggir jalan.


“Kenapa kamu mabuk seperti ini, tuan om?” lirihnya sedih dengan terus memandangi setiap inci wajah tampan Athar yang sudah tidur lelap itu hingga beberapa saat. Ia hendak bangkit untuk berdiri.


“Aku mencintai mu… Aku sangat mencintai mu… Aku sangat merindukan mu, sayang….”


Deg…


Ning mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Athar. Ia kembali duduk dengan menatap wajah Athar yang masih dalam kondisi mata terpejam itu.


“Aku mencintai mu… Aku sangat mencintai mu, sayang… Jangan tinggalkan aku lagi….” Athar kembali berucap dengan suara parau dan mata masih terpejam.


Ning tertegun mendengar ucapan Athar. Entah itu memang diperuntukan pada dirinya, entah itu hanya ucapan dibawah alam sadar Athar. Namun Ning nampak merasa tersentuh dengan ungkapan cinta itu.


“Aku juga mencintai mu, tuan om….” Entah mendapat dorongan dari mana, bibir Ning tiba- tiba membalas ungkapan cinta Athar.



-


-


------------- TBC-------------


************************


-


-


-


Happy Reading….


Alapenyu tuan om…. Eh… alapyu all….

__ADS_1


__ADS_2