NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Kau Dimana, Ning .... Maafkan Aku ....


__ADS_3

Assalamu’alaikum...


Nyonya Rosmala yang saya hormati,


Saya minta maaf, mungkin saat Nyonya membaca surat ini saya sudah tidak berada di rumah ini lagi. Saya minta maaf, karena saya sudah tidak sanggup bekerja di sini lagi. Saya sudah berusaha menjalankan tugas dan pekerjaan dari Nyonya dengan sebaik mungkin sesuai yang diperintahkan, walaupun dengan cara aneh saya.


Semenjak saya menginjakan kaki di rumah ini, saya selalu mendapat hinaan dan ejekan, tapi masih bisa saya terima, karena memang begitulah keadaan saya. Tapi kali ini saya sudah tidak sanggup, saya tidak sanggup menerima tuduhan keji akan hal yang tak pernah saya lakukan. Saya memang orang miskin, tapi tidak pernah terpikir di benak saya untuk melakukan hal- hal tak bermoral hanya demi mendapatkan uang.


Sekali lagi saya minta maaf … Saya juga berterima kasih karena Nyonya sudah berkenan mempekerjakan saya di rumah ini dan masih tetap memberi upah saya. Walau sebenarnya saya bekerja di sini untuk membayar hutang paman saya.


Ini buku tabungan dan kartu ATM saya. Uang yang Nyonya berikan masih utuh dan belum saya pakai, karena yang saya gunakan hanyalah uang tabungan saya yang sebelumnya. Nomor PIN nya akan saya kirimkan lewat chat. Tapi jangan khawatir, saya tidak akan mangkir dan saya akan melunasi sisa hutang paman saya dengan dicicil dari hasil bekerja di tempat lain.


^^^Terimakasih^^^


^^^Wassalamu’alaikum …^^^


^^^Ning^^^


Dino pun melemparkan surat yang sudah dibacanya itu.


“Bagaimana aku tidak mengkhawatirkannya … Ning pergi tanpa membawa uang.” Rosmala kembali mengatakan hal yang sama.


“Kakak ini orang yang cerdas dan teliti, masa bisa tertipu hanya dengan sepucuk surat ini?” ucap Athar yang menyayangkan sikap kakak iparnya.


“Ning tidak menipu ku, Athar … Aku sudah mengecek sendiri dan benar jumlah nominal yang pernah aku berikan pada Ning masih utuh di rekening itu … Bahkan, aku juga mengecek pengambilan terakhir di rekening itu dua minggu yang lalu, persis saat Ning menjadi pengasuh pengganti untuk Sheryl,” ucapnya dengan yakin.


“Sudahlah, Mama … gak usah mikirin dia lagi … Toh dia bisa mendapatkan mangsa baru di luaran sana untuk mendapatkan uang.” Dino bicara semakin tidak terkontrol.


“Jaga bicara mu Dino! Ning bukan wanita seperti itu!” bentak Rosmala kesal.


“Kalau bukan, kenapa tempo hari dia tidur di kamar ku? Untuk apa coba kalau bukan untuk menggoda dan menjebak ku?” Athar mengadukan apa yang dilakukan Ning.


“Apa?” ucap Dino dan Rosmala bersamaan. Keduanya nampak terkejut mendengar perkataan Athar.


“Jadi dia datang sendiri ke kamar Om? Bukan Om yang memintanya melayani Om?” tanya Dino yang masih terkejut.


“Sembarangan kau Dino! Kau pikir selera Om mu ini serendah itu!!” Athar nampak kesal pada Dino yang seolah menuduhnya mesum pada Ning.


“Athar … Apa maksud mu?” tanya Rosmala.


“Kakak harus tahu wanita macam apa pelayan itu … Malam itu dia tidur di kamar ku, dan lebih parahnya dia membawa Nana juga,” ucap Athar.


“Apa?” Rosmala kembali terkejut.


“Maaf jika hal ini mengejutkan Kakak … Tapi itulah kenyataannya … Dia tidak sebaik yang kakak pikir … Dia itu wanita murahan yang rela melakukan apa saja demi uang.” Athar mengemukakan pendapatnya tentang Ning.


“Tidak Athar … Malam itu aku yang menyuruhnya tidur di kamar mu ….” ucap Rosmala.


“Apa?” kini Athar dan Dino yang terkejut mendengar ucapan Rosmala.


“Maksud Kakak apa?” Athar kembali bertanya.


“Malam itu ……”


Flashback


Tok tok tok ….


“Ning buka pintunya ….” ucap Rosmala dari balik pintu kamar Ning.


Ceklek …


“Nyonya … Akhirnya kau datang juga, saya sudah ngantuk sekali,” sapa Ning yang baru membukakan pintu.


“Ssssstttt … cepat pakaikan jaket Sheryl ini pada Nana. Kita bawa Nana pergi dari sini ….” Rosmala memberikan jaket yang terdapat penutup kepalanya.


“Tapi di bawa kemana Nyonya?” tanya Ning penasaran.

__ADS_1


“Sudah jangan banyak tanya … Cepat gendong Nana sebelum ada yang melihat kita … Saya sudah meminta kepala pelayan mengadakan rapat dadakan dengan para pelayan.”


“Baik Nyonya ….” Ning memakaikan jaket pada Nana kemudian menggendongnya. Rosmala menutup kepala Nana dengan hodie jaket tersebut.


Keduanya pun segera beranjak pergi meninggalkan kamar Ning. Rosmala berjalan di depan dan Ning mengikutinya di belakang.


“Nyonya … ini kan arah ke kamar Non Sheryl ….” ucap Ning yang sudah hafal ruangan disana.


“Ssssssttt … jangan banyak bertanya ….”


“Ros ….” terdengar suara yang memanggil nama Rosmala dari arah belakang mereka. Keduanya menghentikan langkahnya dengan raut wajah terkejut, karena mereka kenal betul dengan suara itu.


Rosmala menghela nafas panjang.


“Ning, tidurkan Sheryl ke kamarnya … Kasihan dia pasti sangat lelah,” ucap Rosmala.


“Baik, Nyonya.” Ning pun paham dan ia bergegas pergi.


Rosmala membalikan tubuhnya dan melihat ke arah sang mertua.


“Mami ….” Sapanya dengan tersenyum, Ia berjalan menghampiri Nyonya besar yang berdiri di ujung tangga bersama perawat pribadinya.


“Kamu mau kemana malam- malam begini, Ros?” tanya beliau.


“Tadi Sheryl ingin melihat keadaan Ning yang sejak siang merasa kuang enak badan, padahal dia sudah mengantuk … Jadi tadi ketiduran di kamar Ning. Mami sedang apa di sini? Kenapa keluar kamar? Kalau butuh apa-apa bilang saja sama Ros.” Rosmala berusaha bicara dengan setenang mungkin agar mertuanya tidak curiga.


“Mami mencari kepala pelayan ingin menanyakan persiapan untuk acara amal lusa.”


“Oh, itu … kalau begitu biar Ros saja yang akan menemui kepala pelayan … Mami sebaiknya segera istirahat, supaya besok fit … Kan besok malam kita ada undangan makan malam dari rekan bisnis baru Bang Aufar.”


“Baiklah …” Nyonya besar pun beranjak menaiki tangga bersama perawat untuk kembali ke kamarnya.


Rosmala akhirnya bisa bernafas lega.


“Syukurlah, Mami tidak curiga ….” gumamnya dalam hati. Ia pun pergi ke kamar Sheryl setelah mertuanya tak terlihat lagi.


Ceklek …


“Hah? Kenapa keluar lagi, Nyonya? Kasihan kan ini Non Nana, masa digendong trus.”


“Sudah jangan banyak tanya, ayok ikuti saya!”


Ning pun keluar dari kamar Sheryl dan kembali mengikuti kemana Rosmala melangkah. Dan langkahnya terhenti di depan pintu sebuah kamar yang tak asing lagi bagi Ning. Rosmala memasukan kunci dan membuka pintu itu.


“Ayok masuk!” ajaknya setelah ia masuk lebih dulu dan ia menyalakan lampu ruangan itu.


“Apa? Ini kan kamar Tuan Athar ….” ucap Ning bingung.


“Sudah cepat masuk!!”


Ning pun mengikut perintah Rosmala dan masuk ke dalam kamar tersebut. Rosmala kembali menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


“Baringkan Nana di tempat tidur … Dan kau temani dia tidur di sini.”


“Tapi Nyonya, kenapa harus di kamar Tuan Athar … Kalau dia tiba- tiba datang bagaimana?” Ning nampaknya merasa khawatir.


“Ini satu- satunya tempat yang aman dan nyaman untuk Nana, karena kamar ini selalu dibersihkan setiap hari … Kau tenang saja, Athar jarang sekali pulang atau pun menginap di sini, di lebih suka tinggal di apartment nya,” ucap Rosmala panjang lebar.


“Beneran ya aman ….” ucap Ning memastikan.


“Iya … sudah sana baringkan Nana, kasihan dia pasti tidak nyaman tidur seperti itu.”


“Seharunya dia juga kasihan pada ku yang sejak tadi pegal mengendong anak ini … Apa dia tidak tahu, kalau menggendong orang tidur itu jauh lebih berat,” Ning menggerutu dalam hati. Ia lalu membaringkan Nana di atas tempat tidur. Ia lalu menyelimutinya dan kembali berdiri di sebelah tempat tidur.


Rosmala menghampiri Nana lalu duduk di tempat tidur. Ia membungkukkan tubuhnya dan mencium kening Nana. Rosmala mengusap lembut kepala Nana sembari tersenyum.


“Selamat tidur peri kecil ….” ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Ning membelakan matanya saat mendengar Rosmala memanggil Nana dengan sebutan yang sama seperti Athar memanggil anak itu tempo hari.


“O em ji … apa Non Nana ini beneran anak hasil perselingkuhan Tuan Athar dan Nyonya Rosmala?” gumam Ning dalam hati.


“Ning ….” panggil Rosmala.


“Iy iya, Nyonya ….” sahut Ning gelagapan.


“Kau belum menjelaskan pada ku, bagaimana kau bisa sampai membawa Nana ke rumah ini?” tanya Rosmala.


Ning pun menjelaskan kronologinya pada Rosmala dengan detail.


 


“Oh, jadi begitu ceritanya … Terimakasih banyak Ning, kau sudah melakukan hal yang benar … Aku terlalu sibuk sehingga aku sampai tidak tahu jika Nana menunggu orang yang menjemputnya di sekolah ….” ucapnya dengan mata yang terus menatap Nana.


“Apa aku tidak salah dengar? Nyonya lampir ini bicara lembut dan bahkan berterimakasih pada ku?” bisik Ning dalam hati.


“Dan aku juga minta maaf karena sudah melibatkan mu dalam hal ini,” tambahnya lagi.


“Apa? Dia juga minta maaf pada ku? Apa aku sedang bermimpi?” gumam Ning dalam hati masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Rosmala menghela nafas panjang. Ia lalu bangkit dan berdiri.


“Sebaiknya kau juga tidur, besok subuh kau akan membawa Nana pergi secara diam- diam. Dan sopir yang sudah ku atur akan menunggu mu di garasi mobil ... Berikan saja Nana pada nya, dia akan mengantarkan Nana pulang … Dan kau kembali ke kamar mu ….” ucapnya panjang lebar. Ia lalu menyalakan lampu tidur, tapi hanya satu yang di dekat Nana saja.


“Baik, Nyonya.”


Rosmala beranjak pergi, ia menekan stop kontak untuk mematikan lampu kamat tersebut.


“Oh iya… jangan lupa kunci pintunya supaya tidak ada yang masuk ke kamar ini,” ucapnya lalu memutar kunci pintu dan keluar dari kamar tersebut. Kemudian kembali menutup pintunya.


“Aduh, aku kebelet banget dari tadi ….” Ning bergegas pergi ke kamar mandi dan setelah beberapa saat ia pun keluar.


“Waaahh, enak banget sih jadi orang kaya … Kamarnya luas, kasurnya empuk banget dan kamar mandinya juga luas dan bagus … Kalau masih siang pengen banget mandi di bak besar itu … Tapi sayangnya ini sudah malam ….” ucap Ning yang seolah baru melihat kamar dan kamar mandi horang kayah.


“Hoaamm … ngantuk banget … Eh tapi, aku tidur di mana? kalau di sisi sana bisa- bisa aku jatuh … Yasudah lah di tengah saja biar aman … Toh Non Nana juga tidak terlalu pinggir tidurnya.” Ning lalu ikut berbaring di tempat tidur menemani Nana. Ia masuk ke dalam selimut yang sama dengan Nana dan ia melupakan pesan terakhir Rosmala.


“Akhirnya Non Nana bisa tidur nyaman di sini,” ucap Ning tersenyum melihat Nana yang sudah tertidur lelap di sebelahnya. Ia pun mulai memejamkan matanya untuk tidur.


Flashback off


“Apa?” Dino dan Athar kembali terkejut mendengar penjelasan Rosmala.


“Jadi seperti itu kejadiannya? Kenapa Kakak tidak mengatakannya pada ku saat aku mengirimkan pesan tengah malam itu ….” protes Athar.


“Aku pikir subuh itu Ning dan sopir ku sudah melaksanakan tugas mereka saat kamu bilang kalau Nana sudah pulang, tanpa melihat waktu kamu mengirim pesan. Karena aku membuka pesan mu pukul lima pagi … Aku pun mulai sibuk menyiapkan acara Mami dan tak sempat bertanya lagi pada Ning. Pagi itu aku menyuruh Ning kembali menjadi pengasuh Dino ….”


“Apa? Berarti aku sudah salah mengira ….” Athar mulai menyadari kesalahpahaman yang terjadi anatara dirinya dan Ning.


"Salah mengira apa maksud mu?" tanya Rosmala.


“Tunggu ... sekarang aku mengerti kenapa dia bilang tidak sanggup bekerja di sini lagi … Apa karena kamu sudah menuduhnya yang tidak- tidak, Athar? Sampai tadi kau mengatakan dia wanita murahan yang rela melakukan apa pun demi uang ….” Rosmala mulai paham dengan meghubungkan rentetan kejadian dengan ucapan Athar dan Dino yang terus menjelek- jelekkan Ning.


Athar terdiam membisu, begitu pula dengan Dino. Sepertinya mereka menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat pada Ning.


“Athar … Ning sudah tidak punya siapa- siapa lagi, bahkan rumahnya pun sudah di sita oleh rentenir … Dia juga tidak punya uang, bagaimana dia bisa bertahan hidup … Apa kau tahu, dia juga_____” belum selesai Rosmala bicara, Athar langsung bangkit dan bergegas pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu.


Mata Rosmala tertuju pada Dino yang terus menunduk tak seperti sebelumnya yang begitu percaya diri mengatakan hal buruk tentang Ning. Ia menatap tajam pada putra sulungnya itu seolah ingin meminta penjelasan.


Sementara Athar pergi mengendarai mobilnya dengan membawa perasaan bersalah. Ia pergi tak tentu arah dengan mata yang terus melihat kesana kemari sembari menyetir dengan berharap menemukan seseorang.


“Kau dimana, Ning??”


“Maafkan aku ….” Lirihnya dengan penuh penyesalan.


---------------- TBC -----------------

__ADS_1


************************


Happy Reading ….


__ADS_2