
Malam semakin gelap, kerlap- kerlip cahaya bintang bertaburan menghiasi indahnya malam. Rembulan pun memancarkan cahaya membulat sempurna.
Malam yang indah, mewakili perasaan Singgih seorang duda tampan beranak satu yang tengah melamar Ning untuk menjadi pendamping hidupnya.
Kedua tangannya menggenggam tangan Ning dengan lembut. Matanya tak henti menatap Ning, menunggu jawaban dari sang pujaan hati dengan penuh harap.
Sementara Ning yang terlihat sangat gugup dan bingung, malah terdiam tenggelam dalam pikirannya.
“Aku harus jawab apa ini? Kenapa dia tiba- tiba melamar ku seperti ini?” gumam Ning dalam hati. “Aduh itu tatapan matanya, kenapa seperti itu… benar- benar menggetarkan hati ku… Tapi aku… belum siap untuk nikah… Gimana ini??” batinnya lagi.
Tiba- tiba bayangan Ocha dan Nana terlintas di kepalanya. ‘Ingat Ning jangan sia-siakan orang yang sayang dan ada di hadapan lo… Nana mau mama… Nana mau mama ke sini… Nana mau diantar ke sekolah sama mama…’ ucapan demi ucapan itu terus terngiang di telinga Ning.
“Ning….” suara Singgih yang disertai usapan pada tangan Ning, membuatnya membuyarkan lamunannya.
“Iy iya… Aku bersedia….” tiba- tiba jawaban itu terlontar begitu saja dari bibir Ning.
Kini giliran Singgih yang terkejut mendengar jawaban Ning yang tak disangka akan menerima pinangannya. Meski sebenarnya ia berharap demikian, namun ia sanksi jika Ning akan menerima nya secepat itu.
“Apa?” ucap Singgih tak percaya dengan yang ia dengar.
“Iy iya, Mas… Aku bersedia menikah dengan Mas Igih….” Ucap Ning memperjelas jawabannya.
Singgih yang masih tak percaya, tersenyum sumringah mendengar jawaban Ning. Perlahan ia melepaskan tangan Ning, kemudian mengambil kotak yang berada di atas meja dekat Ning. Ia membukanya dan mengambil isi kotak tersebut yang ternyata adalah sebuah cincin.
“Boleh pinjam tangan kirinya?” ucapnya meminta izin, Ning pun mengulurkan tangannya yang nampak bergetar. Singgih kemudian melingkarkan cincin itu di jari manis Ning. “Eh, sepertinya kelonggaran ya… Maaf, seharusnya aku tanya dulu ukuran cincin untuk jari manis mu….”
“Hehehe… pasang di jari tengah aja, Mas….” Ucap Ning terkekeh melihat raut wajah SInggih yang terlihat malu. Singgih pun memindahkan cincin itu ke jari tengah Ning, dan benar saja cincin itu lebih pas disana.
“Terimakasih, Ning….” ucap Singgih yang kemudian mencium punggung tangan Ning.
Deg deg serrr….
Itulah kiranya yang sedang dirasakan Ning, berdebar- debar di dada. Bahagia, terpancar dari raut wajah keduanya, meski ada sedikit kecanggungan diantara mereka. Mungkin karena sama- sama nervous.
“Eh, Kristal ini lucu ya….” ucap Ning yang masih nampak gugup, ia melepaskan tangannya dari genggaman Singgih dan beralih mengambil kristal tersebut.
"Hehehe… iy iya….” Singgih pun sama halnya terlihat gugup, meski dalam hatinya ia merasakan bahagia yang membuncah sekaligus lega.
Iwuw iwuw iwuw....
Tiba- tiba terdengar bunyi sirine ambulan yang begitu jelas.
“Bukannya itu suara ambulan ya, Mas….” tanya Ning.
“Sepertinya begitu….”
“Kayak dekat banget suaranya ya, Mas….”
“Mungkin di hotel ada tamu yang sakit….”
“Iya, ya Mas….”
“Eh, sudah malam… ayok kita pulang….” ajak Singgih.
“Iya, Mas…” ucap Ning yang kemudian hendak berdiri dengan membawa kristal di tangannya.
“Ning….”
“Iya… Kenapa, Mas?”
“Kamu mau membawa Kristal itu pulang?” ucapnya saat Ning tak melepaskan Kristal itu dari tangannya.
“Eh, iya lupa… hehehe….” Ning yang kemudian meletakan kembali Kristal tersebut di atas meja. Keduanya pun bangkit dan beranjak pergi meninggalkan meja tersebut bersama Ning.
Kini mereka tengah berdiri di depan pintu lobi, sembari menunggu penjaga membawakan mobil Singgih dari parkiran.
“Pak… Tadi saya dengar ada suara sirine ambulan… Apa ada yang sakit atau kecelakaan di hotel ini?” tanya Ning pada salah satu penjaga keamanan yang berdiri tak jauh darinya.
“Oh, itu Mbak… Tadi ada tamu yang sakit dan pihak keluarganya meminta kami menghubungi rumah sakit terdekat untuk memanggil ambulan kemari….”
“Oh, sakitnya parah ya?” tanya Ning penasaran.
“Kalau tidak salah tadi orang tersebut sesak nafas, jadi membutuhkan bantuan oksigen… Pelayan yang melihat kejadiannya bilang, setelah kembali dari toilet orang itu batuk- batuk kemudian sesak nafas sampai tergeletak di lantai….”
“Apa? Batuk- batuk setelah dari toilet?” Ning teringat pada orang yang batuk- batuk setelah ia mengeluarkan gas beracunnya tadi.
“Betul, Mbak….”
“Orangnya laki- laki atau perempuan, Pak?” tanya Ning semakin penasaran.
“Ning… ayok, mobilnya sudah di depan….” Ucap Singgih mengajak Ning pulang.
“Iy iya, Mas….” Ning yang belum mendapatkan jawaban dari penjaga keamanan tersebut, dengan terpaksa mengikuti ajakan Singgih untuk pulang. Entah mengapa ia nampak penasaran dengan orang yang sakit tersebut yang sepertinya menganggu pikirannya.
Keduanya pun masuk ke dalam mobil, Singgih lalu melajukan mobilnya.
“Apa orang itu yang ku dengar batuk di toilet tadi? Apa dia batuk dan sesak nafas gara- gara mencium bau kentut ku? Hah… apa jangan- jangan dia____” gumam Ning dalam hati. “Gak… gak mungkin… Dia gak mungkin ada di sini, dia bilang kan akan menetap di London selamanya….” Gumamnya membuang jauh- jauh pikirannya tentang pria yang pernah mengisi hatinya itu.
“Ning….”
“Iy iya, Mas….”
“Lagi mikirin apa?”
“Hehehe… a aku… A aku … aku masih gak percaya kalau Mas Igih melamar ku….” Ucap Ning gelagapan.
“Jujur, aku juga masih belum percaya kamu menerima lamaran ku… hehehe… terimakasih ya Ning….” ucapnya tersenyum.
“Hehehe… Eng, tapi Mas… apa kita akan menikah dalam waktu dekat?”
“Kalau soal itu, terserah kamu siapnya kapan… Lagipula, aku juga kan harus menemui keluarga mu untuk melamar secara resmi….” Ucapnya tersenyum dan kembali konsentrasi menyetir. Sepertinya Singgih lupa jika keluarga Ning sudah tidak memperdulikannya.
Ning pun tersenyum ketir. Wajahnya berubah sendu saat mendengar kata keluarga. Ia teringat pada Nyai, paman dan bibi nya di kampung.
“Bagaimana aku bisa menikah, jika keluarga ku saja sudah tak mau mengakui ku lagi sebagai bagian dari mereka… Bahkan Nyai pun masih belum bisa menerima ku lagi, gara- gara hasutan Renita dan Bi Marni… Lalu, siapa yang akan menjadi wali ku nanti….” Lirihnya dalam hati.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, mobil yang ditumpangi Ning dan Singgih pun tiba di depan halaman rumah Ning. Ia turun dari mobil, namun Singgih tak turun untuk mampir, karena sudah malam. Ia memarkirkan mobil, kemudian melajukannya untuk pulang.
Ceklek …
“Cie, yang baru pulang nge-date….” Goda Ocha yang membukakan pintu rumah Ning.
“Apaan sih lo… kenapa lo belum pulang?” ucap Ning berjalan melewati Ocha. lalu masuk ke dalam rumah.
“Gimana gue bisa pulang, kalau pikiran gue dipenuhi rasa penasaran yang luar biasa tentang kalian berdua… Gimana… gimana … Dia udah nembak lo kan?” tanya Ocha penasaran pada Ning yang baru saja duduk di kursi.
“Bukan cuma itu…dia melamar gue….” Ucapnya mengangkat tangan dan memamerkan jemari tangannya yang terdapat cincin yang diberikan oleh Singgih…”
“O my God… sumpah lo beneran dilamar….” Ocha terkejut luar biasa.
“Iya… Tapi____”
“Tapi kenapa?”
“Tapi gue bingung Cha… Dia bilang nanti mau melamar gue secara resmi ke keluarga gue… Lo tahu sendiri kan gimana hubungan gue sama mereka….”
“Ning… Kita coba lagi aja datang ke sana… Kalau perlu lo bawa sekalian si pak dokter… Mudah- mudahan aja hati Nyai bisa luluh… Kan kalau Nyai udah didapatkan hatinya, paman dan bibi lo juga gak bisa membangkang Nyai….”
“Gue kan udah pernah coba datang ke sana saat lebaran tahun kemarin, dan bahkan tiga bulan yang lalu… Tapi tetap aja Nyai nolak ketemu sama gue, karena masih gak mau maafin gue cuma gara- gara hasutan Renita sama Bi Marni….”
“Udahlah, itu dipikirinnya nanti aja… Sekarang kan lo lagi bahagia nih… cerita- cerita dong gimana lamarannya tadi….” ucap Ocha mengalihkan topik. Ia tak mau jika sahabatnya bersedih. Ning pun menceritakan semua yang terjadi di restoran tadi. Dan Ocha tak berhenti tertawa mendengar kejadian salah masuk toilet.
**
Keesokan harinya, pagi- pagi sekali Ning sudah bersiap untuk pergi ke rumah Bu Asri memenuhi janjinya pada Nana dengan menaiki taksi online. Namun di sana tak ada Singgih, karena ia menginap di rumahnya. Walaupun begitu, ia masih bisa video call dengan pria yang akan menjadi calon suaminya itu saat ia sudah dalam perjalanan mengantarkan Nana ke sekolah.
Usai mengantarkan Nana ke dalam kelasnya, Ning kembali ke dalam mobil yang biasa mengantarkan Nana.
Selama dua jam ia menunggu Nana di sekolahnya, ia duduk di dalam mobil sembari mengerjakan pekerjaannya di laptop yang ia bawa. Jadi ia tak perlu meninggalkan pekerjaan, meski sedang berada di luar.
Hal itu berlangsung selama tiga hari, dan untuk hari sabtu ini sepulang sekolah Ning membawa Nana pulang ke rumahnya. Karena Singgih akan mengajak mereka ke sebuah acara malam minggu ini.
*
“Mas… kita mau kemana sih?” tanya Ning penasaran.
“Ke acara ulang tahun ….”
“Tapi kok gak bawa kado?”
“Ada tuh di jok belakang… Di sebelah Nana duduk….”
“Oh….”
“Nana kok gak biasanya diam aja? kenapa sayang?” tanyanya pada sang putri yang duduk di belakang, nampak asyik bermain boneka.
“Gak apa-apa….” ucapnya ketus.
“Dia ngambek sama kamu, Mas….” Ucap Ning terkekeh.
“Ngambek kenapa?”
“Katanya papa gak nginep- nginep di rumah nenek….”
“Wah, siapa yang ulang tahun Mas? Sampai dirayakan di hotel mewah begini?” tanya Ning saat mobil Singgih memasuki gerbang hotel mewah.
“Ulang tahun Bu Andini, oma nya Nana….”
“Oh….” Ning mengangguk- anggukkan kepalanya. “Apa? Oma nya Nana? Maksud Mas Igih, Nyonya besar?” Ning yang bari menyadari, terkejut.
“Iya….”
“Hah? Kenapa Mas gak bilang dari tadi….”
“Loh, memangnya kenapa? Bu Andini sendiri yang mengundang ku dan memintaku membawa calon istriku untuk bertemu dengannya….”
“Tapi, Mas … Mas Igih kan tahu sendiri kalau aku pernah bekerja di rumah nyonya besar… Memangnya Mas Igih gak malu memperkenalkan aku sebagai calon istri Mas pada Nyonya besar?” ucap Ning mencari alasan.
“Kenapa harus malu… Kamu itu gadis yang baik dan juga sangat menyayangi Nana… “
“Tapi, Mas….”
“Ning, kamu gak usah takut… Gak akan terjadi apa-apa kok… Bu Andini sebenarnya orang yang baik… Selama ini aku sudah salah sangka pada beliau….” ucapnya mengusap tangan Ning setelah ia menghentikan mobilnya. “Ayok kita turun, sudah sampai….” Ajaknya kemudian melepaskan seatbelt dan turun dari mobilnya.
Ning pun melakukan hal yang sama. Tak lupa ia membukakan pintu untuk Nana yang ikut turun pula. Ketiganya masuk ke dalam ballroom hotel tempat berlangsungnya acara. Ning dan Singgih menuntun Nana yang berjalan diantara mereka.
“Mas, kayaknya gak banyak tamu ya?” ucap Ning melihat sekeliling.
“Iya, hanya keluarga dan orang- orang terdekat saja yang diundang….”
“Oh, gitu ya….”
“Tenang, kamu jangan takut… Aku sudah banyak cerita tentang kamu pada beliau, nampaknya beliau juga setuju jika kamu menjadi ibu sambungnya Nana….” ucap Singgih yang melihat Ning nampak gelisah.
“Hai Nana….” Sapa Sheryl yang datang menghampiri.
“Kak Sheryl….” Nana menyapa balik.
“Loh, kok ada Mbak Ning Nong?” tanya Sheryl heran.
“Hai, Non Shheryl… apa kabar?” sapa Ning.
“Baik….” Ucapnya menjawab singkat, ia beralih pada Nana. “Nana, ayo ikut dengan ku… Aku punya sesuatu loh buat kamu….”
“Papa….” Nana melihat ke arah Singgih untuk meminta izinnya.
“Iya, boleh… Tapi jangan jauh- jauh ya….” ucap Singgih.
“Kakak temenin ya….” Ning mengajukan diri.
“Gak usah Mbak Ning nong… kan kita sudah ditemani Mbak Susi….” tolak Sheryl.
“Biarkan saja Ning… mereka sudah biasa main bersama di rumah Bu Andini sejak tiga bulan lalu….” ucap Singgih.
“Oh… Yasudah,,, hati- hati ya…. Ingat gak boleh jauh jauh dari Kak Sheryl dan MbAK Susi ya….” Ning mengingatkan Nana.
__ADS_1
“Iya… dadah papa… dadah kakak peri….” Ucapnya lalu beranjak pergi bersama Sheryl dan Susi.
“Mas… sejak kapan Nana dekat dengan oma nya?” tanya Ning penasaran.
“Sejak tiga bulan lalu, saat peringatan enam tahun meninggalnya Diandra, Bu Andini bertemu dengan Nana di makam Diandra… Beliau menangis dan memeluk Nana yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang putrinya… sejak itu Nana sering dibawa ke rumah Bu Andini….”
“Oh… Syukurlah kalau begitu… Pantesan Nana akhir- akhir ini jarang main ke rumah ku….”
“Iya… ayok kita ke sana menemui Bu Andini… Jangan tegang ya….” ucapnya menggenggam tangan Ning. Lalu keduanya berjalan menghampiri Andini yang sedang bersama Rosmala, dengan Ning yang menggandeng lengan Singgih.
“Selamat malam, Mami… selamat ulang tahun….” sapa Singgih memberi ucapan. Ia memberikan bingkisan pada Andini.
“Eh, Singgih… terimakasih sudah datang… kenapa sampai repot- repot bawa bingkisan segala… Oh ya, mana Asri?” tanya Andini.
“Ahh, ini hanya alakadarnya saja … Ibu sedang kurang sehat, jadi gak bisa datang….”
“Selamat ulang tahun Nyonya besar….” ucap Ning memberanikan diri.
“Terimakasih… saya dengar kalian akan segera menikah ya? Selamat ya, dan jangan lupa undang kami…” ucap Andini.
“Saya juga turut senang dengan pernikahan kalian… semoga lancar sampai hari H ya Ning, Gih….” Rosmala pun ikut bicara.
“Hehehe… terimakasih….” Ning terlihat kikuk.
“Rencana pernikahan apanya? Orang baru dilamar beberapa hari yang lalu… cepat banget gosipnya beredar….” gumam Ning dalam hati.
“Loh, Dayana mana?” tanya Andini yang tak melihat keberadaan cucunya.
“Nana tadi pergi sama Sheryl….” ucap Singgih.
“Hmm, anak itu… gak dimana gak dimana main aja hobinya… Silahkan kalian nikmati hidangannya, saya mau menemui keluarga mendiang papi dulu….” ucap Andini yang kemudian beranjak pergi bersama Rosmala.
“Iya, terimakasih….” ucap Singgih.
“Ayok, kita ke stand makanan… Kamu kan belum makan….” ajaknya pada Ning.
“Hehehe, iya Mas….” Keduanya pun berjalan menuju tempat stand makanan. Tapi Ning hanya mengambil jus saja, nampaknya ia merasa kurang nyaman berada di sana. Ditambah gosipnya akan segera menikah sudah diketahui oleh keluarga Nyonya besar Sahulekha itu.
“Kok cuma minum?” tanya Singgih heran.
“Belum lapar, Mas… nanti aja sekalian nunggu Nana… Nanti dia ngambek lagi kalau kita makan duluan, hehehe….”
“Baiklah… nah, itu anaknya datang….” Singgih menunjuk ke arah putrinya yang sedang berjalan menghampiri mereke, bersama Sheryl juga Susi.
“Loh, peri kecil kenapa sedih gitu? Abis nangis ya?” tanya Ning heran melihat wajah sembab Nana.
“Iya, Mbak Ning nong… tadi Nana lari- larian terus jatuh….” malah Sheryl yang menjawab.
“Hah? Jatuh? apa ada yang luka, mana coba kakak lihat?” ucap Ning kemudian berjongkok dan memperhatikan setiap bagian tubuh Nana.
Nana yang membawa sebuah godie bag di tangannya, menggelengkan kepala sambil menunduk.
“Sayang, kamu kenapa? Mau pulang?” tanya Singgih yang nampak mengkhawatirkan putrinya yang sedang moodie itu.
“Enggak….” Nana menggelengkan kepala.
“Om… “ teriak Sheryl melambaikan tangan pada seseorang yang berada di arah belakang Ning dan Singgih. “Nana, ayok kita ke sana… Om sudah janji akan membawakan kita oleh- oleh dari luar negeri….” ajak Sheryl menunjuk ke arah orang yang dipanggil om itu.
“Luar negeri? Tanya Nana heran.
“Iya… Om kan baru pulang dari luar negeri kemarin… ayok kita ke sana….” Ajak Sheryl menarik tangan Nana.
“Papa, Nana pergi dulu ya….” ucapnya yang tiba- tiba terlihat ceria lagi. Sheryl dan Nana berlarian untuk menghampiri pria tersebut.
Ning tertegun mendengar perkataan Sheryl. Ia bangkit dan hendak membalikan tubuhnya untuk melihat pria yang dipanggil om tadi oleh Sheryl. Namun, sayang Singgih yang perawakannya tinggi, menghalangi jarak pandang Ning.
“Makanlah sesuatu, aku gak mau kalau kamu sampai pingsan di sini….” ucap Singgih melingkarkan tangan ke pinggang Ning.
“Mas… ih malu….” Ning merasa risih dengan apa yang dilakukan Singgih.
“Kenapa musti malu? Mereka tahu kok, kalau kamu calon istri ku…. Jadi mau makan apa?”
“Eng, aku mau makan kue yang ada di sana saja….” tunjuk Ning.
“Baiklah, Ayok….” Ajaknya lalu melepaskan tangan dari pinggang Ning dan beralih menggandeng tangannya berjalan menuju stand kue.
Ning yang berusaha melihat ke arah orang yang dimaksud Sheryl, ternyata tak dapat melihat orang tersebut karena terhalang oleh beberapa orang. Ia lalu mengambil Capitan dan memilih kue untuk dimakannya.
“Ning, sebentar ya… aku terima telpon dulu….” Ucap Singgih yang kemudian beranjak keluar dari ballroom tersebut.
Sementara Ning melanjutkan memilah milih kue. Namun tangannya terhenti saat ia mendengar suara tawa Nana dan Sheryl. Ia lalu melihat ke arah tersebut yang ternyata tak jauh darinya dan hanya berjarak sekitar sepuluh meter.
Deg…
Ia melihat sesosok pria yang tengah menggendong Nana dan Sheryl di kedua lengannya. Walau yang terlihat hanya tubuh bagian belakangnya, namun nampaknya Ning mengenali postur tubuh serta gaya rambut pria itu yang familiar baginya.
“Apa itu dia? Apa dia sudah pulang?” gumam ning dalam hati dengan mata yang terus memperhatikan pria yang menggendong Nana dan Sheryl sembari mengajak kedua anak itu bercanda.
Ning mengurungkan niatnya untuk mengambil kue. Entah mendapat dorongan dari mana, ia malah melangkah perlahan dengan raut wajah tak percaya namun dalam hatinya seolah penuh harap untuk menghampiri orang tersebut.
Hatinya mulai bergejolak hingga membuat langkah kakinya terasa berat saat ia hampir sampai di dekat orang yang masih menggendong Nana dan Sheryl itu. Ia mengangkat tangannya yang nampak bergetar. Disentuhlah punggung pria itu dengan telapak tangan Ning, namun ia menundukkan kepala seolah merasa belum siap menatap wajah lelaki itu.
Pria itu pun menoleh saat merasakan sentuhan Ning di punggungnya. Saat melihat seseorang berdiri dengan menundukkan kepala di belakangnya, ia pun berbalik. Kini keduanya berdiri saling berhadapan.
Dengan ragu- ragu disertai desiran hebat di dada, Ning menghela nafas panjang kemudian memberanikan diri mengangkat kepala untuk melihat wajah pria yang berdiri di depannya itu. Kini keduanya saling menatap satu sama lain dengan raut wajah sama- sama terkejut.
“Dia_____” lirih Ning dalam hati denagn mata membulat sempurna.
-
-
------------ TBC------------
*******************
-
__ADS_1
-
Happy Reading….