NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Tragedi Ruang USG


__ADS_3

Hingga beberapa saat Ning menunggu, namun Athar tak kunjung memberinya jawaban, tak mengiyakan atau pun menyanggah. Timbullah rasa malu bercampur kecewa dalam hati Ning. Ia menyadari jika dirinya bukan siapa- siapa bagi Athar, hubungan mereka hanya sebatas kerja sama yang saling menguntungkan.


“Mustahil dia akan menuruti permintaan ku ….” batin Ning lirih.


“Kenapa mulut ku tiba- tiba mengatakan hal itu sih? Bodoh sekali aku.... Tidak mungkin dia meninggalkan pekerjaan penting hanya untuk ku yang hanya pacar pura- pura nya ….” Ning menggerutuki dirinya dalam hati.


Senyuman yang sejak tadi merekah di bibir Ning pun luntur seketika. Ia mencoba melepaskan diri dari Athar. Namun Athar yang menyadari pergerakan Ning, malah mengeratkan pelukannya.


“Tetaplah seperti ini?” lirihnya terdengar sendu. Ia kembali membelai rambut Ning dari pucuk kepala hingga ujung rambut.


Ning pun mengurungkan niatnya dan tetap berada di pelukan Athar, karena sesungguhnya ia masih ingin berlama- lama berada di sana.


Krukk krukk krukk


Terdengar suara bunyi cacing berdemo dari dalam perut, namun bukan hanya dari perut Ning melainkan dari perut Athar juga. Hal itu membuat keduanya tertawa bersamaan. Ning yang merasa malu, melepaskan dirinya dari Athar.


“Cacing mu itu menganggu saja, Ning ….” ejek Athar terkekeh.


“Yeee, cacing di perut tuan om juga, hehehe.” Ning balik mengejek dengan suara lemas.


“Oh iya, kamu belum makan siang ya … ini sudah jam tiga, pastinya kamu sudah lapar,” ucapnya melihat ke arah jam tangan.


“Apa tuan om juga belum makan?” tanya Ning.


“Hmmm …” angguknya terkekeh.


“Kalau begitu aku akan pesankan makanan, sebelum kamu pingsan lagi ... Tadi saja pingsannya lama banget … Heran deh kamu, tiap pingsan kok suka lama sih?” cerocosnya yang kemudian mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi untuk memesan makanan via online.


Ning hanya tersenyum dengan mata yang terus memandangi Athar. Walaupun terkadang ia menyebalkan dan sering membuat Ning kesal, namun ia selalu memberi Ning perhatian.


“Tuan Om….” panggil Ning.


“Iya….”


“Itu kayaknya di meja ada makanan?” Ning melihat ke arah meja khusus untuk menaruh makanan untuk pasien.


“Itu sudah dingin, datangnya juga tiga jam yang lalu … Sudahlah mending pesan saja, makanan rumah sakit itu gak enak ….” ucapnya lalu memilih makanan di layar ponselnya.


“Oh ya, kamu mau makan apa?” tanyanya.


“Terserah … asal jangan steak,” ucap Ning.


“Kenapa dengan steak?” Athar terheran-heran.


“Sepertinya aku gak berjodoh sama steak … aku masih sakit hati, baru saja mau disuapkan keburu hujan ….”


“Hahahaha, kamu itu pendendam ternyata ya,” Athar tertawa dengan renyahnya.


“Ya bisa jadi … Aku juga sebenarnya masih marah sama tuan om,” ucapnya lalu mengusap tengkuk leher nya dengan sedikit menggeliat.


“Marah kenapa? Apa karena aku mendiamkan mu belakangan ini, hem?”


“Emmmm ….” Ning menggantung ucapannya.


“Berarti aku berhasil membuat mu kesal karena merindukan ku, kan?” Athar malah terlihat senang.


“Ih, dasar menyebalkan,” ucapnya mencebikan bibir, lalu memijat kepala.


“Kamu masih merasa pusing ya? Berbaring lagi saja ….” ucapnya, lalu Athar membantu Ning berbaring. Ia kembali duduk di kursi samping ranjang tempat Ning berbaring.


“Tuan Om ….” panggil Ning menatap sendu.


“Iya ….” sahut Athar.


“Apa benar tuan om akan pergi ke London dan menetap di sana?” Ning mempertanyakan berita yang ia terima dari Dino.


“Siapa bilang? Ini aku masih ada di sini,” ucap ya menyanggah sembari tersenyum.


“Dino yang bilang ….” ucap Ning.


Athar mendengus. “Anak itu … pasti dia mengerjai mu, kan?”


“Darimana tuan om tahu?” tanya Ning heran.


“Maksudnya? Tahu apa?” Athar malah balik bertanya.


“Eh, itu, eng … tadi tuan om bilang Dino mengerjai ku….” Ning nampak bingung dibuatnya. Tidak mungkin ia mengatakan jika Dino sudah mengerjainya dengan menyatakan cinta padanya.


“Tunggu … Ngomong- ngomong soal Dino, kamu kok bisa bersama Dino di taman kota? Tapi tadi saat aku ke sini tidak ada Nana bersama kalian … Ada hubungan apa kamu sama Dino?” selidik Athar yang malah mencurigai Ning.


“Hah? It itu … itu … Aku gak, aku gak ada hubungan apa-apa kok sama si Dinosaurus ….” Ning membantah dengan gelagapan. Ia menghindari tatapan Athar.


“Aduh, aku harus jawab apa? Masa iya aku bilang kalau aku sama Dino janjian bertemu di taman kota, karena aku mengira Dino adalah si kudaniel yang mengajak ku ketemuan … Malu banget kan kalau ketahuan aku sangat berharap bertemu dengannya?” gumam Ning dalam hati.


“Hei … kamu tuh kebiasaan suka melamun kalau lagi diajak ngobrol,” protes Athar memegang telungkup tangan Ning.


“Eng itu, aku … eng ….” Ning kebingungan harus menjawab apa.


Ceklek


Terdengar ada suara pintu terbuka. Athar dan Ning pun melihat ke arah pintu yang ternyata muncul seorang dokter dan dua orang perawat mengikuti dari belakang. Ning pun bernafas lega, setidaknya kehadiran mereka, membuat Athar teralihkan dan tak banyak bertanya lagi.


“Pasien sudah sadar ya … Maaf mengganggu sebentar … Dokter akan memeriksa keadaan pasien….” ucap suster yang kemudian mendekati ranjang tempat Ning berbaring bersama dokter dan satu rekannya.


“Silahkan, Dok ….” ucap Athar mempersilahkan, ia pun berdiri.


“Pasien atas nama Ningrat Atisaya, benar ….” tanya suster memastikan nama pasien sesuai data.


"Iya suster," ucap Ning menjawab


"Bisa tolong sebutkan tanggal lahirnya?" ucap suster lagi untuk mencocokan data.


"14 Februari 2003." Ning kembali menjawab.


“Saya periksa dulu, ya ….” ucap Dokter yang kemudian mulai memeriksa Ning dengan stetoskopnya, sementara suster yang satu memeriksa tensi darah pada lengan kiri Ning dan yang satu lagi mencatat hasil pemeriksaan.


“Maaf, suster bilang ada pembengkakan pada kaki Mbak, boleh saya periksa kakinya?” ucap dokter.


“Iy iya, Dok …."


Suster menarik selimut yang dipakai Ning secara perlahan, dan dokter pun memeriksa kedua kaki Ning.


“Sudah berapa lama kaki Mbak seperti ini?” tanya dokter yang sudah selesai memeriksa.


“Eng, saya gak tahu, Dok … Saya gak nyadar kalau ada pembengkakan di kaki saya … Eng, hanya saja tadi pagi saat mau pakai sepatu, ternyata sepatu saya pada gak muat,” ucapnya nampak bingung. Ia berusaha bangun dan suster pun membantunya duduk.


“Apa ada keluhan lainnya?” Dokter kembali bertanya.


“Eng ….” Ning terlihat bingung, ia menoleh ke arah Athar yang berdiri di sebelah ranjangnya, tepat di sebelah suster.


“Kamu bilang aja apa yang kamu rasakan sama dokter,” ucapnya tersenyum.


“Eng, belakangan ini saya sering merasa gatal- gatal di beberapa bagian badan saya … Tapi gak ada bentol atau beruntusan….”

__ADS_1


“Ada mual muntah atau pegal- pegal badannya?” tanya dokter.


“Iy iya, Dok… sejak tadi pagi saya pusing dan mual muntah … Badan saya juga rasanya ringsek….”


“Apa nafsu makannya berkurang?”


“Iy iya, Dok ….”angguk Ning.


“Baiklah, kalau begitu kami akan melakukan beberapa test lebih lanjut pada Mbak Ningrat.”


“Test apa saja dok?” tanya Athar.


“Kami akan melakukan tes darah, tes urine, dan USG Abdomen….” ucap dokter.


“Hah? Kenapa saya harus melakukan test itu? Apa terjadi sesuatu sama saya, Dok?” tanya Ning mulai cemas.


“Begini Mbak Ni____”


“Silahkan lakukan test nya, Dok ….” Athar langsung memotong ucapan Dokter, ia menggelengkan kepala dan melirik ke arah pintu saat Dokter melihat ke arah nya.


“Baik kalau begitu, nanti petugas lab akan datang ke sini … Sedangkan untuk USG akan dilakukan besok, karena Mbak harus berpuasa dulu 8- 12 jam … Saya permisi.” Nampaknya dokter paham dengan kode yang diberikan oleh Athar. ia pun pamit undur diri setelah menjelaskan.


“Terimakasih, Dok ….” ucap Athar.


Sementara Ning tak mengatakan apa pun, ia nampak termenung memikirkan ucapan dokter. Bukan hanya itu, perkataan Ocha pun kini terngiang di telinganya yang menyangka jika dirinya hamil.


“Test urine, test darah, USG … kenapa aku harus melakukan test itu?” tanya nya dalam hati.


“Oh ya ampun … apa aku benar- benar hamil sampai harus USG segala? Bagaimana ini?” batin Ning.


“Ning … Ning …” Athar menggoyangkan tangan kiri Ning. Hal itu membuat Ning terperanjat tersadar dari lamunannya.


“Apa aku beneran hamil?” ucapan itu tiba- tiba terlontar begitu saja dengan ekspresi wajah cemas dan takut.


“Apa? Hamil?” Athar terkejut bukan main mendengarnya, beruntung dokter dan suster sudah keluar dari ruangan itu.


“Kamu hamil, Ning? Hamil sama siapa? Baru ditinggal dua minggu kamu kok bisa sampai hamil?”cerocos Athar yang masih syok.


Ning yang melihat ekspresi terkejut Athar, malah membuatnya kesal, marah dan kecewa.


“Tentu saja itu karena perbuatan tuan om!!” ucapnya bersaman dengan menetesnya air mata yang jatuh membasahi pipinya.


“Apa? Aku? Kamu bilang aku yang sudah menghamili kamu? Jangan ngawur kamu, Ning!!” Athar nampak emosi, ia tak terima dengan tuduhan yang dilayangkan padanya.


“Kenapa tuan om tega ngelakuin itu sama aku, saat aku tidak sadarkan diri? hiks hiks … tuan om jahat, huhuhuhu.…” Ning tak kuasa menahan tangisnya yang pecah mengingat hal keji yang menurutnya sudah dilakukan oleh Athar.


“Apa? Aku ini masih tahu batasan, Ning … Aku tidak pernah melakukan hal bejat itu pada mu….” bantah Athar yang merasa geram, hingga ia tak memperdulikan Ning yang sudah berlinang air mata.


“Kalau enggak, kenapa tuan om bisa tahu kalau di dekat pusar ku ada tanda lahir? Hiks hiks….” Ning terus menangis.


Athar tercengang, ia mengusap kasar kepalanya.


“Oh astaga … Aku tidak sengaja melihatnya saat membaringkan mu yang pingsan dan saat itu baju mu sedikit terangkat … Aku bersumpah aku tidak pernah berbuat macam- macam pada mu….” ucapnya dengan yakin.


“Terus … aku hamil sama siapa? Huhuhuhuu ….” Ning semakin sedih dan takut, karena ia tak tahu siapa yang sudah membuatnya hamil.


Athar nampak frustasi. Bukan hanya karena tuduhan Ning, ia tak menyangka jika wanita yang dijaganya malah hamil dengan orang lain. Ia menatap Ning dengan tatapan yang sulit diartikan.


Ia mencoba menghela nafas panjang beberapa kali, agar ia bisa bicara pada Ning tanpa emosi. Walau bagaimana pun ia tetap merasa tak tega melihat Ning menangis seperti itu.


“Ning … Apa kamu pernah tidur dengan seorang pria? Atau kamu pernah dilecehkan?” selidik Athar.


Ning menggelengkan kepalanya dengan berlinang air mata, tanpa menjawab dengan lisannya.


“Tadi pagi saat aku muntah- muntah, dan aku merasakan pusing, Ocha bilang itu tanda- tanda orang hamil, huhuhuhu hiks hiks ….”


Athar membuang nafas kasar, namun hal itu seolah membuatnya merasa lega.


“Ya ampun Ning … Mual muntah dan pusing itu bukan berarti kamu hamil … Bisa saja karena masuk angin atau telat makan jadinya asam lambung naik … Tadi juga dokter tidak bilang kamu hamil, kan?”


Ning tertegun mendengar ucapan Athar yang memang ada benarnya. Ia menyadari jika ia terlalu cepat menyimpulkan sesuatu yang belum pasti. Ia pun berhenti menangis dan menghapus jejak air mata dengan telapak tangannya.


“Terus, kenapa aku harus di USG segala?” tanya Ning nampak bingung.


“Mungkin lambung mu bermasalah…. Apa kamu punya riwayat penyakit maag?”


“Enggak.” Ning menggelengkan kepala.


“Tapi tadi kata dokter saat kamu masih di UGD, asam lambung mu naik,” ucap Athar.


“Eng … mungkin … mungkin karena sejak pagi aku belum makan apa- apa,” ucap Ning pelan.


“Apa?” Athar kembali terkejut mendengar pengakuan Ning. “Ya ampun Ning … jadi sejak pagi kamu belum makan… Pantas aja kamu sampai pingsan … Apa kamu sedang berpuasa?” cerocos Athar.


“Enggak … tadinya aku mau makan bareng Ocha, tapi gak keburu ….”


Athar yang terlihat merasa lega, kembali duduk di kursi. “Sekarang terjawab sudah alasan yang membuat kamu muntah- muntah dan pusing itu karena lambung mu bermasalah, bukan karena hamil, Ning….”


“Iy iya ….” Ning malu sendiri jadinya, sudah mengira dirinya hamil dan juga menuduh Athar melecehkannya.


“Jadi, sekarang kamu jangan berpikir aneh- aneh lagi … Pemeriksaan yang akan dokter lakukan itu berarti karena ada masalah pada lambung mu, dan semoga hasilnya baik- baik saja.” ucap Athar menenangkan Ning yang masih terlihat cemas. Ia mengusap- usap telungkup tangan kiri Ning.


“Iya ….”


Athar memang merasa lega, tapi tak sepenuhnya karena masih ada kekhawatiran akan kondisi kesehatan Ning. Ia bangkit dan berdiri sembari melihat layar ponselnya.


“Tuan om mau kemana?” tanya Ning langsung menarik tangan Athar. Nampaknya ia takut benar- benar akan ditinggal pergi oleh Athar.


“Mau keluar sebentar,” jawabnya dengan menatap Ning dengan heran.


“Mau ngapain?” Ning kembali bertanya.


“Ya ampun, Ning … apa aku harus melaporkan apa pun yang akan aku lakukan, hem?” ucapnya terkekeh.


“Bukankah tuan om juga begitu pada ku … Mengharuskan ku melapor semua kegiatan ku, pergi kemana dengan siapa dan lainnya,” keluhnya menggerutu.


“Hahahaha … baiklah baiklah nona pendendam….” Athar tertawa de ngan renyahnya.


“Kamu kan bilang, kalau aku butuh apa- apa tinggal suruh orang dan tunjuk- tunjuk saja … Dan sekarang akau akan menyuruh Riko untuk mengambil makanan yang sudah sampai di bawah, laporan selesai … Apakah nona galak sudah bisa melepaskan tangan ku dan membiarkan ku pergi keluar?” ucapnya nampak menahan tawa.


“Pergi saja sana!!” ucap Ning melepaskan tangan Athar.


“Bener nih, boleh pergi?” goda Athar.


“Iya.”ucap Ning ketus


Athar yang merasa gemas melihat raut wajah Ning, menggeleng- gelengkan kepalanya sembari menahan tawa. Ia beranjak pergi, berjalan dengan senyum merekah di bibirnya.


Sementara Ning terus memandangi Athar hingga ia menghilang di balik pintu. Entah mengapa ia begitu takut ditinggalkan oleh Athar dan tak bertemu lagi dengannya.


Selama Athar belum kembali, Ning terus memandangi pintu untuk menunggu kedatangannya dengan harap- harap cemas. Meski tubuhnya masih terasa lemas dan seharusnya berbaring, ia memaksakan diri untuk tetap duduk.


“Kenapa lama sekali sih perginya? Katanya cuma mau nyuruh Pak Riko membawa makanan, tapi sepertinya dia pergi mengambilnya sendiri ….” gumamnya yang sudah mulai kesal dan bosan memandangi pintu.

__ADS_1


Ceklek …


Ning langsung tersenyum sumringah saat ada yang membuka pintu kamar ruang rawat inapnya. Namun saat melihat orang yang masuk, senyumnya seketika sirna.


“Maaf, Mbak … saya mau ambil bekas makan siang nya,” ucap seorang petugas rumah sakit.


“Iya, silahkan ….”


Petugas itu pun mengambil nampan yang berisi makanan yang masih utuh dan meletakan sepiring kecil buah serta satu cup kecil pudding di atas meja. Ia lalu pamit undur diri.


Ning yang merasa kecewa, tak memandangi pintu lagi. Ia duduk dengan menundukkan kepalanya nampak meratapi kesedihannya.


Selang beberapa saat Athar pun dengan membawa beberapa kantong kresek di tangannya.


“Kok lama sih? Katanya mau nyuruh Pak Riko....” Ning langsung mengeluh.


“Iy iya … It itu tadi pas mau balik ada telpon penting, jadi agak lama. Hehehe ….” Athar menjawab pertanyaan Ning dengan gelagapan.


“Oh … Apa itu?” tanya Ning melihat barang yang dibawa Athar.


“Tentu saja makanan ….” ucapnya mendekat pada Ning.


“Hah? Sebanyak itu?” tanya Ning merasa aneh.


“Aku bingung kamu suka nya apa… Ya sudah akhirnya pesan beberapa jenis makanan, jadi kamu bisa milih sendiri makanan yang sesuai dengan selera mu … Sebelum itu, kamu minum dulu nih ….” Athar memberikan sebotol air mineral pada Ning yang sudah dibukanya. Ning pun meminumnya.


Athar membuka isian kantong krersek, kemudian menyajikannya di atas meja. Ia mendorong meja tersebut dan mendekatkannya pada Ning yang duduk di ranjang pasien.


“Silahkan nona … Tenang saja ini semua makanan sehat tapi enak kok … Dan yang pasti ada nasi nya ….”ucapnya terkekeh.


“Darimana tuan om tahu kalau itu enak?” tanya Ning heran.


“Tentu saja aku tahu, semua ini kan dipesan dari restoran langganan ku… Mau makan yang mana dulu? Biar aku suapi," Athar menawarkan bantuan.


”Ih, jangan … Biar aku makan sendiri saja….”tolak Ning.


“Hei, tangan kanan mu diinfus dan kamu masih terlihat lemas, mana bisa makan sendiri … Sudah jangan menolak lagi, biar aku suapi ….” Ucapnya lalu menyendokkan makanan.


“Tapi____”


“Aaaakk, buka mulutnya ….” Athar benar- benar menyuapkan makanan pada Ning, dan ia pun tak bisa menolaknya lagi. Ia makan dengan lahap dan wajah berseri- seri, hingga tak terasa sampai menghabiskan dua porsi makanan. Entah karena sangat lapar, atau nafsu makannya sudah kembali lagi saat kerinduannya telah terobati.


Baru saja selesai makan, ada seorang perawat yang datang untuk mengambil sampel darah dan urine Ning. Athar pun menggendong Ning untuk mengantarkannya ke kamar mandi, meski ia sudah menolak namun Athar tetap bersikeras.


Bukan hanya itu, Athar bahkan menginap di rumah sakit untuk menemani Ning. Padahal Ning sudah memintanya pulang, namun ia tak tega meninggalkan Ning sendirian. Ia begitu mengkhawatirkan kondisi kesehatan Ning. Apalagi Ning memintanya untuk tidak memberitahu keluarga Bu Asri, jika dia dirawat di rumah sakit.


**


Keesokan pagi nya, suster datang mendorong kursi roda untuk membawa Ning melakukan pemeriksaan USG. Ia terlihat begitu tegang dan cemas. Athar pun terus menemaninya.


Setelah Ning meminum satu setengah botol air mineral, ia dibawa masuk ke ruangan dokter.


“Hei, kenapa kau terus memegang tangan ku seperti ini?” protes Athar saat Ning sudah berbaring di atas ranjang untu melakukan USG. Sementara suster tengah mempersiapkan alatnya.


“Aku takut,” ucap Ning mengeratkan genggaman tangannya.


“Takut apa? Aku kan ada disini," ucap Athar.


“Aku belum pernah melakukan pemeriksaan seperti ini, tuan om ….”


“Apalagi aku … hehehe,” ucap Athar terkekeh.


“Ishhh ….”


“Jangan takut ... ini gak disuntik- suntik kok, gak akan sakit ….” Athar mencoba membuat Ning tenang, namun ia malah semakin terlihat takut saat Dokter datang menghampirinya dan duduk di depan alat USG.


“Tapi … eng, Tuan om ….”


“Hmmm ….”


“Gimana ini?” ucap Ning dengan suara berbisik.


“Kenapa lagi?” tanya Athar mulai jengah.


“Aku jadi pengen buang gas,” ucap Ning semakin memelankan suaranya karena malu.


“Astaga Ning … Kau jangan sampai ken____”


Dut durut dut dut dut…..


Belum selesai Athar berbicara, gas beracun Ning sudah menggelegar lebih dulu. Ia bahkan tak bisa menangkis serangan gas yang bisa membahayakan dirinya itu. Athar langsung batuk- batuk, karena sudah terlanjur menghisap bau gas beracun Ning.


Dokter pun langsung bangkit dengan menutup hidungnya. Ia langsung pergi keluar dari ruangan tersebut. Sementara suster masih di ruangan dengan menutup hidungnya.


“Suster tolong dia … Alerginya kambuh … Dia bisa pingsan karena sesak nafas ….” teriak Ning meminta pertolongan suster saat melihat Athar yang mulai sesak nafas. Ia segera turun dengan membawa cairan infusan di tangannya dan segera menghampiri Athar.


Suster pun segera menelpon rekannya untuk membawakan tabung oksigen ke ruangan itu.


“Tuan om … tuan om … maafkan aku ….” Ning merasa sangat bersalah melihat Athar yang tergeletak di lantai dengan kondisi sesak nafas.


Athar masih bisa menggenggam tangan Ning, ia menggelengkan kepalanya, seolah ingin mengatakan jika ini bukan salah mu.


Tak lama, seorang perawat laki- laki datang dengan membawa tabung oksigen lengkap dengan peralatannya. Diikuti oleh dokter dari belakangnya.


“Cepat tolong pasien!!” teriak suster.


Perawat itu pun langsung menghampiri. Dengan segera ia hendak memasangkan selang oksigen. Namun bukannya pada Athar, justru malah memasangkannya pada hidung Ning, karena ia yang memakai baju pasien.


Plakk


Ning langusng menampar perawat itu.


“Dasar bodoh!! Apa kau buta? Kenapa mau memasangkan alat ini pada ku? Lihat, dia yang sedang sesak nafas!!” bentak Ning menunjuk pada Athar.


“Maaf maaf, Mbak … saya pikir Mbak yang membutuhkan bantuan oksigen ….” ucapnya meminta maaf, ia segera memasangkan selang oksigen pada Athar yang sudah terkulai lemas di lantai.


Beruntung Athar segera mendapat pertolongan. Ia dibaringkan di atas ranjang yang sebelumnya dipakai Ning untuk melakukan pemeriksaan USG. Dokter segera memeriksa keadaan Athar.


Ning pun akhirnya bisa bernafas lega. Ia kembali duduk di kursi roda memperhatikan Athar yang sedang menerima penanganan.


“Maafkan aku tuan om … maafkan aku, hiks ….” lirih Ning sedih dalam hati dengan terisak.


-


-


-


-------------- TBC ---------------


********************


Happy Reading ….

__ADS_1


__ADS_2