NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Selain Miss Nyosor Juga Miss Gombal


__ADS_3

Ceklek


Pintu pun terbuka. Riko yang mendengar teriakan Athar segera masuk dan berlari untuk menghampiri Athar yang tergeletak di lantai. Ternyata ia terjatuh dari ranjangnya.


Baru saja Riko hendak berucap, pandangannya mengarah pada Ning yang duduk di jendela terbuka.


“Cegah dia!! Cepat!!” teriak Athar menunjuk ke arah jendela tempat Ning berada dengan tangan kiri yang mengeluarkan darah segar. Ia terlihat menahan rasa sakit. Tubuhnya yang tergeletak di lantai nampak bergetar hebat dengan nafas memburu, saking ia takut terjadi sesuatu pada Ning, sedangan ia tak mampu berbuat apa- apa.


Riko segera berlari menghampiri Ning. Tanpa pikir panjang, ia memeluk Ning dari belakang lalu menarik tubuh gadis nekad itu dan menggendongnya. Namun Ning memberontak.


Brukk


Riko dan Ning sama- sama terjatuh ke lantai. Athar yang masih tergeletak di lantai nampak merasa lega, melihat sang kekasih berhasil diselamatkan dari hal nekat yang dilakukannya. Nafasnya ngos- ngosan menahan sesak di dada.


“Apa yang anda lakukan, Nona?!!” pekik Riko nampak marah.


“Kenapa kau tidak membiarkan ku lompat, hah?!” Ning malah meneriaki Riko.


“Apa anda sudah gila!!”


“Ya aku memang sudah gila… Gila karena lelaki it______” Ning tak melanjutkan ucapannya saat melihat Athar tergeletak di lantai. Matanya membelalak saking terkejutnya.



“Pak Daniel…” seru Riko yang baru teringat jika atasannya itu juga butuh pertolongan. Ia segera bangkit, begitu pun Ning. Keduanya bergegas menghampiri Athar.


Kebetulan ada seorang perawat masuk tanpa mengetuk pintu, karena pintu ruangan itu terbuka. Ia yang tadinya hendak mengecek keadaan pasien, bergegas menghampiri Athar yang sedang dibantu bangun oleh Riko dan Ning.


Perawat itu pun membantu memboyong Athar dan membaringkan kembali di atas ranjang. Ia bergegas keluar untuk mengambil alat medis, karena tangan kiri Athar berdarah. Nampaknya jarum infusan yang sebelumnya tertancap, sudah terlepas. Sepertinya karena ia jatuh tadi. Tak lupa ia pun segera menghubungi dokter untuk melapor kejadian yang menimpa Athar, jatuh dari brankar.


Ning yang berdiri di samping brankar melihat keadaan Athar, hanya bisa menangis tanpa bersuara. Sesekali ia menghapus jejak air matanya.


Sementara Athar berusaha bangun dibantu oleh Riko, hingga kini posisinya dalam keadaan duduk berselonjor. Tatapannya terlihat kosong, dan terdengar menghela nafas berat.


Tak lama perawat datang dengan membawa nampan aluminium berisikan peralatan medis. Ia segera menghampiri Athar untuk mengobati tangan kirinya. Bersamaan dengan itu dokter pun datang.


Ning yang hendak melangkah pergi untuk memberi tempat pada dokter, langsung dicegah oleh Athar dengan menggenggam erat tangan Ning. Ia pun paham dan hanya menggeser sedikit ke arah lemari laci di samping brankar, sehingga ia berdiri di samping dokter.


“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya dokter yang segera memeriksa keadaan Athar dengan alat stetoskop—nya.


“Pak Daniel jatuh dari ranjangnya, Dok….” Riko yang menjawab, karena melihat Athar yang hanya terdiam dengan pikiran yang entah kemana.


Ning menundukkan kepala. Ia semakin merasa bersalah, karena kenekatannya Athar sampai jatuh. Air matanya terus mengalir, ia sangat takut jika hal itu bisa berdampak buruk pada kondisi Athar.


“Bagaimana keadaan Pak Daniel, Dok?” tanya Riko yang melihat dokter serta perawat sudah selesai memeriksa keadaan Athar.


“Kondisinya baik- baik saja, tekanan darahnya juga normal… Mulai hari ini tidak perlu dipasang infus lagi… Kita tinggal menunggu hasil pemeriksaan kaki kanannya…”


“Syukurlah, Dok….” Riko pun bisa bernafas lega.


“Kalau begitu saya permisi….”


“Iya, Dok … terimakasih….”


Dokter pun beranjak pergi diikuti oleh perawat. Riko melihat ke arah Athar yang masih menggenggam tangan Ning. Ia melangkah menuju jendela, kemudian menutup rapat jendela itu dan menguncinya kembali.


“Jangan berbuat nekad lagi, Nona…” ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan Athar dan Ning berdua di ruangan tersebut.


Athar menarik tangan Ning, hingga membuat tubuhnya berdekatan dengan dirinya yang masih dalam posisi duduk di brankar.


Grep


Athar langsung memeluk Ning, membenamkan wajah di dada wanita yang sangat dicintainya itu. Ia melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ning. Air matanya yang sejak tadi ia tahan pun tumpah seketika.


“Jangan lakukan hal bodoh seperti tadi lagi, aku mohon….”ucapnya dengan nafas tersengal- senggal. Pria itu benar- benar menangis, menangis tergugu di pelukan Ning. “Aku mohon jangan seperti itu lagi… Aku benar- benar takut terjadi sesuatu pada mu, Ning... Aku sangat takut…” pintanya di sela tangisannya.


Ning yang merasa terenyuh, membalas pelukan Athar. Ia mengeratkan pelukannya, mengusap kepala Athar dengan lembut. Sedih dan terharu dirasakannya. Baru kali ini ia melihat Athar menangis seperti itu.


“Maaf….” Ucap Ning lirih disertai kembali jatuhnya bulir bening dari pelupuk matanya.


“Aku lebih rela melihat mu bahagia dengan lelaki lain, daripada melihat mu mencelakai dirimu sendiri….”


Ning yang mendengar ucapan Athar, sontak melepaskan pelukannya, lalu mendorong tubuh Athar. Ia mundur untuk menjauhkan dirinya dari pria yang masih menangis itu, yang kemudian menatap nanar pada Ning.


“Aku akan melakukanya lagi jika kau terus meminta ku meninggalkan mu!!” tegas Ning dengan sorot mata tajam. Nampaknya ucapan Athar seolah memberi goresan perih di hatinya.


Athar menggelengkan kepala.”Jangan Ning… jangan lakukan hal bodoh itu lagi, aku mohon….” Pintanya mengiba dengan raut wajah takut.


“Kalau begitu, kau harus menjadikan ku kekasih mu lagi, dan kita akan terus bersama selamanya….” Ning pun mengajukan syarat.


“Tapi_____”


“Gak ada tapi- tapian lagi!! Iya atau aku benar-benar akan loncat dari jendela itu!!” tunjuk Ning pada jendela, yang kemudian melangkahkan kakinya. Athar terlihat semakin ketakutan jika Ning akan berbuat nekad lagi.


“Iya… ya… Aku minta kamu tetap bersama ku, dan jangan pernah meninggalkan ku, Ning….” Athar pun menuruti kemauan Ning. Nampaknya ia trauma dan takut kembali kehilangan wanita yang ia cintai setelah Alexa dulu.


“Beneran?” tanya Ning meyakinkan.


“Iya….” angguk Athar yakin.


“Janji, gak akan pernah meminta ku meninggalkan mu lagi?”


“Iya, janji….”


“Janji, kamu juga agak akan ninggalin aku walau bagaimana pun keadaan mu?”


“Aku janji….”


Ning tersenyum sumringah. Ia melangkah kembali menghampiri Athar dan memeluk pria itu lagi. Tentunya Athar yang sudah berhenti menangis kembali merasa lega. Ia membenamkan kepalanya di dada Ning dan memeluk tubuh wanita yang amat dicintainya itu seolah tak ingin melepasnya lagi. Ya karena posisinya ia duduk di ranjang sedangkan Ning berdiri di samping ranjang itu, sehingga posisi tubuh Ning jauh lebih tinggi dari Athar.


“Yess… akhirnya berhasil… Dassar om om mesum, dikasih drama dikit aja langsung soak dan nurut… Thanks Ocha atas ide gila lo,” Batin Ning dalam hati sembari tersenyum penuh kemenangan. Ternyata tadi ia tak benar- benar berniat melompat dari jendela, itu hanya sandiwara saja, agar Athar tak mengusirnya lagi.


“Hufh, untunglah tadi ada Pak Riko… kalau enggak, bisa loncat beneran gue….” Batin Ning lagi lalu menghela nafas lega. Bukan karena diselamatkan Riko, tapi juga akhirnya Athar tak akan memintanya untuk meninggalkannya lagi.


Cukup lama mereka saling berpelukan, seolah melepas rindu setelah sekian lama tak bersua, padahal setiap hari selalu bertemu.


“Hei, sampai kapan kau akan terus memelukku seperti ini….” protes Ning yang sepertinya mulai merasa gerah.


“Sampai aku puas….” Athar masih anteng membenamkan wajahnya di dada sang kekasih.


“Jangan sampai khilaf ya….” ejek Ning yang tahu betul lelakinya itu berotak mesum.


Athar mengurai pelukannya kemudian menegakkan tubuhnya.


“Ke kenapa?” tanya Ning heran, padahal baru saja ia protes minta mengakhiri sesi berpelukan.


“Kenapa apanya?” Athar malah balik bertanya.

__ADS_1


“Kok dilepas?” protes Ning.


“Katanya takut khilaf….”


“Aku ‘kan cuma bercanda….” Ucap Ning yang kemudian nyengir.


“Tapi kau benar…”


“Benar apanya?”


“Dada mu yang empuk itu bisa membuat ku khilaf,” ucap Athar.


“Hahahahaha….” Bukannya marah, Ning malah menyemburkan tawa. Tentunya hal itu membuat Athar terheran- heran.


“Kenapa malah tertawa? Biasanya kau akan marah kalau aku bicara seperti itu….”


“Aku senang… Berarti om mesum kesayangan ku sudah kembali….”


“Memangnya selama ini aku pergi kemana? Orang cuma berbaring di kasur sialan ini!!”


“Kemarin- kemarin kan kamu diam terus, murung aja kerjaannya… Udah kayak ayam kena rabies….” ejek Ning yang kemudian kembali tertawa.


“Mana ada ayam rabies….”protes Athar.


“Ada lah….”


“Gak ada!!”


“Ada ih….” Kekeuh Ning.


“Ada dari mana?”


“Ada, karena ayam-nya udah digigit sama anjing rabies….”


“Mati dong tuh ayam!!”


“Hahahahahaha….” Ning tertawa terbahak- bahak melihat ekspresi wajah Athar yang nampak kesal disamakan dengan ayam rabies. Sementara Athar mendengus kesal.


Ning kemudian duduk di bibir brankar, menghadap pada Athar yang duduk berselonjor kaki.


Grep


Ning memeluk Athar, dan kini ia yang membenamkan wajah di dada bidang kekasihnya itu.


“I love you….”


“I love you more….” Athar membalas pelukan Ning, kemudian mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Ning.


“Mulai sekarang dan seterusnya, kita akan selalu bersama, om mesum ku sayang….”


Athar tak membalas ucapan Ning. Ia hanya tersenyum dan kembali mengecup kepala Ning.


Perlahan Ning melepaskan diri, dan duduk tegak.


“Kok diam? Lagi mikirin apa?” tanya Ning heran.


Athar tak menjawab, hanya menggelengkan kepala saja.


“Kamu mikirin hasil pemeriksaan kaki mu, ya?”


Athar menghela nafas panjang. “Bagaimana kalau kaki kanan ku harus diamputasi?”


“Jika itu terjadi, aku akan menjadi laki- laki yang gak berguna dan hanya akan menjadi beban bagi orang lain… Aku hanya akan membuat mu malu, Ning…”


“Kata siapa, hem? Aku bangga kok sama kamu… Kamu itu lelaki hebat yang pernah aku temui dalam hidup ku….”


“Itu dulu… Tapi, sekarang... Untuk berjalan saja aku harus menggunakan kursi roda, atau tongkat….”


“Oh, ayolah Om mesum ku sayang… Sekarang ini zaman sudah canggih… Misalkan nih ya, amit amit ini mah ya… Walaupun kaki kanan mu harus diamputasi, ‘kan ada kaki palsu… Jadi kamu bisa menggunakan kaki palsu dan bisa berjalan seperti biasa tanpa menggunakan kursi roda ataupun tongkat… Lagian orang- orang gak akan tahu, toh kamu ‘kan suka pakai celana panjang….”


Athar terdiam sejenak, ia nampak memikirkan ucapan Ning yang memang ada benarnya.


“Aku sudah tak punya apa- apa, Ning… Bahkan tempat tinggal pun aku tak punya….”


“Siapa bilang? Rumah ku itu adalah rumah mu… Dan usaha ku itu juga milik mu….”


Athar tersenyum miris mendengar hal yang mustahil bagi dirinya itu.


“Dulu rumah ku di sita rentenir, dan kau yang menebusnya….” lanjut Ning.


“Itu ulah Mami, Ning….” sergah Athar.


“Ya, dan kau menebusnya dengan meninggalkan ku untuk melindungi ku… Bahkan kau tetap menjaga ku dari kejauhan… Itu karena apa? Karena cinta mu yang begitu besar pada ku… Dan itu lebih berharga daripada materi sebanyak apa pun…”


Athar kembali terdiam.


Ning menghela nafas sejenak. “Apa kamu ingat dengan uang yang 100 juta yang pernah kau berikan pada ku saat aku sakit dulu?”


Athar mengerutkan keningnya. “Uang? Uang apa?”


“Ck, dulu kau pernah meminta ku untuk menjadi pacar pura- pura mu dengan bayaran uang 100 juta agar aku bisa menebus rumah ku….”


“Itu_____”


“Uang itu yang ku jadikan modal usaha ku yang sudah berjalan selama setahun lebih… Jadi kau lah investornya, sedangkan aku dan Ocha pengelola nya… Berarti usaha ku itu milik mu, bukan? Ya meskipun usaha ku itu sangat kecil jika dibanding perusahan besar mu… Setidaknya bisa memberi penghasilan untuk makan dan kebutuhan sehari- hari… “


“Tapi itu kan uang hak mu sesuai perjanjian kita… Tidak ada sangkut pahutnya lagi dengan ku….”


“Hehehhe… Tentu saja bukan… Apa kau lupa? Sepertinya kau mengeluarkan uang lebih besar untuk biaya operasi dan perawatan ku dulu… Bahkan kau sampai membuatkan asuransi untuk ku…”


Athar kembali terdiam. Ia kembai menundukkan kepalanya dengan raut wajah sedih. Sungguh ia iklhas membayar semua biaya perawatan Ning dulu, karena ia sangat mencintai gadis itu dan ingin melihatnya kembali sehat seperti sedia kala, pikirnya.


Ning yang melihat ekspresi wajah Athar, baru menyadari jika Athar salah mengartikan maksud dari ucapannya. Ia menghela nafas sejenak. Ia mengusap- usap punggung tangan Athar.


“Maaf… bukan maksudku membahas kebaikan mu dan ingin membalas hutang budi pada mu… Aku hanya tak ingin kamu terus berpikir jika dirimu tak punya apa- apa lagi dan terus merendahkan dirimu sendiri… Dan yang pasti, kamu punya aku… hehehe….” Ucapnya tersenyum lebar.


“Ning….”


“Hem….”


Athar kembali membawa Ning ke dalam pelukannya. Rasa lega dan haru bercampur menjadi satu di hatinya. Ia tak menyangka jika gadisnya itu begitu mencintainya sebesar cinta yang dirasakannya.


“Terimakasih, Ning… Terimakasih… Aku sangat mencintai mu….” Ucapnya lalu mengecup pucuk kepala Ning.


“Aku juga lebih lebih mencintai mu, Tuan Om-ku sayang….”


Keduanya sama- sama terkekeh dengan mata yang berkaca- kaca, terharu karena bahagia. Cukup lama mereka dalam posisi berpelukan seperti itu.

__ADS_1


Kruukk krukk krukk…


Bunyi keroncongan yang berasal dari perut Ning seolah menginterupsi keduanya. Athar pun melepaskan pelukannya.


“Sudah sana makan!! Kau belum makan, sayang….” Ucap Athar yang teringat jika kekasihnya itu belum makan.


“Asik….”


“Asik apa?” tanya Athar heran.


“Asik dipanggil sayang lagi….”


“Ck.. sudah sana makan, lalu minum obat mu….”


“Suapin….” rengek Ning dengan nada manja.


“Kau sudah besar dan bisa makan sendiri….”


“Gak mau… pengen disuapin….”


Athar kembali mendengus. “Yasudah sana ambil makanannya, biar aku suapin….”


Ning tersenyum sumringah karena permintaannya dikabulkan. Ia bangkit kemudian mengambil rantang susun yang sudah ia bersihkan tadi. Ia pun mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk dari rantang tersebut.


Ia lalu kembali ke brankar dan duduk kembali di tempat semula dengan piring yang ia pegangi di tangannya. Athar pun menyuapi Ning.


“Yang sakit siapa, yang disuapi siapa….”


Ning hanya tersenyum dengan mulut yang tengah mengunyah makanannya, mendengar celotehan sang kekasih.


Cup


Setelah menelan makanannya, Ning mengecup bibir Athar.


“Dasar... Mis Nyosor....” ejek Athar.


“Tapi suka ‘kan?” ledek Ning mengerlipkan matanya seperti wanita genit. Athar pun tertawa gemas melihat kelakuan kekasihnya itu. Ia kembali menyuapi Ning.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada dua pasang mata yang mengintip dari pintu kamar yang agak terbuka. Ternyata setelah Riko keluar tadi, mereka hendak masuk. Namun mengurungkan niatnya saat melihat Athar dan Ning sedang berpelukan.


“Mami lihat sendiri ‘kan… Seberapa besar kekuatan cinta mereka…” ucapnya lalu menutup rapat pintu itu dengan perlahan agar tak mengeluarkan suara. Rosmala berjalan perlahan mendorong kursi roda yang dinaiki oleh mertuanya. Kemudian ia berhenti di depan kursi tunggu yang ada di lorong pemisah antara ruangan pasien tersebut.


Rosmala mendaratkan bokongnya di atas salah satu kursi, hingga keduanya duduk saling berhadapan. Ia menghela nafas sejenak, lalu memberanikan diri menatap mata wanita yang sudah tak muda lagi itu.


“Mami… Sekeras apa pun usaha Mami untuk memisahkan mereka, tapi takdir terus berpihak pada mereka… Tolong jangan pisahkan mereka lagi… Kasihan Athar, apalagi dengan kondisinya yang sekarang ini… Dia rapuh, butuh kekuatan dan dukungan dari wanita yang sangat dicintainya… Dia berhak mendapatkan kebahagian sesuai pilihan hatinya seperti aak- anak mami yang lainnya….” ucapnya lirih.


“Kau tahu sendiri alasan ku….”


“Mami dengar sendiri tadi apa yang dikatakan Ning, bukan? Apa pun yang terjadi, bagaimana pun keadaan Athar, ia akan tetap bersama Athar dan tak akan pernah meninggalkannya….”


“Lalu bagaimana dengan Nadira? Bagaimana kalau itu memang anaknya Athar?”


“Mami lebih percaya anak sendiri atau orang lain? Belum cukupkah yang dialami Athar sekarang?”


Nyonya Andini menghela nafas berat. “Kau tahu sendiri apa yang akan dilakukan orang tua Nadira pada Athar dan keluarga kita….”


“Mas Aufar juga Dandy yang akan mengatasi mereka… Lagi pula Athar sendiri sangat yakin jika dia tak pernah menyentuh Nadira… Kalau perlu kita bisa melakukan tes DNA pada janin itu….”


“Mami… Ros tahu sebagai seorang ibu, Mami pasti ingin melindungi anak- anak Mami dan ingin yang terbaik untuk mereka… Tapi Mami bisa melihat sendiri, hal yang menurut Mami terbaik untuk Athar tapi malah membuatnya menjauh dari Mami dan bahkan sampai kejadian seperti ini….”


Nyonya Andini menundukkan kepala. Perkataan Rosmala sepertinya mampu menggerakkan hatinya yang sekeras batu. Bahunya terlihat bergetar, air matanya tumpah begitu saja.


“Mami…” lirih Rosmala yang merasa bersalah membuat mertuanya menangis tergugu seperti itu. Ia meluruh dan berlutut di depan ibu mertuanya.“Ros minta maaf… Ros tidak bermaksud_____”


“Aku memang Ibu yang buruk, Ros… Semua ini salahku… Ini semua salah ku…. Hiks hiks….” Nyonya menangis semakin jadi, hingga beliau memegang dadanya karena merasa sesak.


“Suster… Suster… tolong mami saya sesak nafas….” Rosmala meminta pertolongan suster yang kebetulan baru kelar dari ruang rawat inap. Suster itu pun langsung mengecek kondisi Nyonya Andini, kemudian membantu membawanya masuk ke dalam ruang rawat inap yang bersebelahan dengan tempat Athar dirawat.


_____


“Bagaimana, Dok hasilnya?” tanya Ning yang merasa was- was saat dokter dan perawat baru saja datang menghampiri Athar dan dirinya. Karena sesuai jadwal, hasil pemeriksaannya akan keluar siang ini.


Dokter pun tersenyum mendengar sambutan Ning yang langsung menodongkan pertanyaan padanya.


“Tadi di ruangan saya sudah memperlihatkan hasil pemeriksaan Pak Daniel di layar khusus, sekaligus menjelaskannya pada Bu Rosmala… Yang pada intinya, kaki kanan Pak Daniel tidak mengalami kerusakan fatal. Namun ada pergeseran tulang yang mengakibatkan kakinya mengalami kesulitan serta terasa sakit saat digerakkan…”


“Apa itu berbahaya, Dok?” Ning yang masih terlihat cemas kembali bertanya.


“Jika dibiarkan tentunya akan berbahaya… Oleh sebab itu kami akan melakukan tindakan operasi untuk pemasangan ven. Dan setelah itu, Pak Daniel bisa sembuh dengan melakukan terapi rutin dalam beberapa bulan ke depan…”


“Alhamdulillah….” Ucap Ning bernafas lega dengan penuh rasa syukur. Yaang selama beberapa hari ini ditakutkan oleh Athar, akhirnya tidak terjadi. Ia tersenyum bahagia, begitu juga dengan Athar yang saling beradu pandang dengannya.


Setelah menjelaskan beberapa hal dan melakukan pemeriksaan rutin, dokter pun pamit undur diri yang diikuti perawat.


“Apa aku bilang… Harus mikir yang baik- baik ‘kan,” ucap Ning yang kini berdiri di samping brankar dan sangat dekat dengan Athar.


“Iya…” sahut Athar dengan senyuman lebar di bibirnya.


“Ihhh… kamu ganteng banget sih kalau senyum kayak gitu….”


“Baru tahu ya, kalau aku ganteng?”


“Iya, ganteng banget malah… Aku aja sampai klepek- klepek….”


“Katanya om om… Tapi suka juga kamu….”


“Ya ampun… Siapa sih yang bisa menolak pesona luar biasa om om mesum seperti kamu… Iya kamu…, hahaha.”


“Ck… selain Miss Nyosor, sekarang kamu jadi Miss Gombal juga ya, hemm….” Ejek Athar menjawil hidung Ning.


“Iya donk… Kan belajar dari sang Suhu’nya mesum….”


Athar tertawa geli mendengar ucapan Ning. ia menarik lengan sang kekasih dan memeluk wanita yang sangat dicintainya itu.


“Terimakasih….” ucap Athar lirih.


“Untuk?”


“Karena sudah hadir di dalam hidupku dan memberiku cinta yang begitu besar….”


“Aku juga berterima kasih untuk itu….” balas Ning yang merasa terharu dengan ucapan Athar. “Aaaahh… Udah ahh, jangan mellow lagi deh…Capek tahu kalo nangis lagi….” Rengek Ning.


Tiba- tiba Athar iseng mendusel- dusel kan hidungnya pada dadha Ning. “Ihh, apaan sih!!” pekik Ning yang kemudian melepas pelukannya dan mundur satu langkah.


“Kan biar gak nangis… Empuk juga ternyata….”


“Ih… Dasar mesum!!” pekik Ning dengan suara melengking dan tangannya menjewer telinga Athar.

__ADS_1


“Aduh aduh ampun… Sayang... Ampunn….” Athar meringis kesakitan. Ning seolah tidak menyadari jika luka- luka bekas kecelakaan Om mesum kesayangannya itu masih belum pulih total.


__ADS_2