
“Kudanil sialan!!! Berani sekali kau melecehkan ku, saat aku pingsan!! Awas kau, kalau aku benar- benat hamil, aku akan menghabisi mu, kudaniel brengs*k!!”Ning menggerutu kesal sambil berjalan menyusuri gang dengan deru nafas gusar menahan amarah.
Sesampainya di jalan raya, Ning menghentikan sebuah taksi yang melewati jalan itu. Beruntung ia tak usah menunggu lama, jika tidak ia akan marah- marah seperti orang gila dan menjadi tontonan orang-orang.
Kini ia tengah berada di perjalanan dalam taksi menuju taman kota tempat ia janjian akan bertemu dengan orang yang berkirim pesan dengannya.
Sepanjang perjalanan ia tak hentinya mengutuk Athar dalam hatinya. Ditambah jalanan yang macet, membuat Ning semakin kesal.
Ia uring- uringan tidak karuan, hingga ia air matanya mengalir begitu saja. Sedih, kesal, marah, takut bercampur menjadi satu. Segala macam hal buruk tentang nasib dirinya, kini timbul di benaknya.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya ia tiba di taman kota. Ia menghapus jejak air matanya dengan tisu, lalu turun dari taksi. Ia berjalan dengan tergesa- gesa mencari keberadaan Athar di taman tersebut, namun setelah berkeliling ia tak menemukan pria yang dicarinya itu.
“Sialan!! Dimana pria brings*k itu?? Ditelpon gak aktif- aktif!! Mana kepala ku pusing banget lagi!!” Ning tak hentinya menggerutu kesal. Ia lalu duduk di kursi panjang di bawah pohon untuk berteduh dari cuaca yang mulai panas. Ia memijat- mijat kepalanya yang terasa semakin pusing.
“Kau sudah datang rupanya?” sapa seseorang yang berdiri di hadapan Ning.
Tangan Ning berhenti memijat, ia menegakkan kepalanya dan melihat wajah orang yang ia kenali suaranya itu.
“Dinosaurus… Sedang apa kau di sini?” tanya Ning heran.
“Tentu saja untuk menemui mu….” ucapnya lalu duduk di sebelah Ning. Ia memperhatikan penampilan Ning dari ujung kepala hingga kaki. “Wah, tumben dandan cantik begini? Ternyata kau bersemangat sekali ya untuk bertemu dengan ku….”
“Apa maksud mu?” tanya Ning semakin heran.
“Jangan pura- pura lupa … Bukan kah kau ke sini untuk menemui ku?” ucap Dino yakin.
“Jangan ge er ya!!” bantah Ning.
“Ini buktinya,” Dino memperlihatkan layar ponselnya pada Ning.
“Apa? Jadi yang mengirim ku pesan dan mengajak bertemu di sini itu kau?” ucap Ning terkejut saat membaca chatingan yang diperlihatkan Dino pada layar ponselnya.
“Tentu saja, memangnya kau pikir siapa? Bukannya dulu kau menyimpan nomor ku?” ucap Dino dengan santainya.
“Sial … aku pikir yang mengajak ku ketemuan itu si kudaniel … Kenapa malah si Dinosaurus? Bego bego bego … harusnya aku nanya siapa dia, aku malah kegirangan sendiri dan menganggap itu nomor si kudaniel yang sempat ku hapus." Ning menggerutuki dirinya dalam hati.
“Kau terlihat gendutan ya sekarang….” ucap Dino sudah mulai mengejek Ning.
“Gendut apa nya? Apa mata mu sudah rabun ya, aku kurus gini dibilang gendut!!” ucap Ning tak terima disebut gendut.
“Itu kaki mu kelihatan gendut … Kayak orang yang habis naik turun gunung berhari- hari," ejek Dino melihat kaki Ning sekilas.
“Terserah!!” ucapnya tak memperdulikan, ia lalu berdiri.
“Hei, kau mau kemana?” tanya Dino ketus.
“Mau pulang lah….”
“Loh, aku baru datang kenapa kau malah ingin pulang?” hardik Dino.
“Heh, aku tidak ada urusan dengan mu!! Untuk apa aku tetap di sini?” ucap Ning nampak lemas, dan kembali memijat kepalanya.
“Tapi aku ada urusan dengan mu … Sini duduk lagi!!” Dino menarik tangan Ning hingga membuatnya kembali duduk.
Ning yang merasa kesal, menarik tangan dan melepaskannya dari Dino dengan kasar. Ia menoleh dan mendelik tajam pada Dino. Tapi kepalanya yang masih terasa pusing, membuatnya tak memiliki tenaga yang cukup untuk marah- marah. Karena ia harus menyimpan baik- baik sisa tenaganya untuk melampiaskan amarahnya pada Athar.
Bicara soal Athar, Ning baru teringat jika Dino adalah keponakannya si om tamvan nya itu. Ia menghela nafas panjang untuk meredam kemarahannya.
“Kau datang dengan siapa ke sini?” tanya Ning ketus.
“Seperti biasa, dengan sopir dan dua bodyguard …"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau berharap aku akan datang dengan Om Athar?”
Ning membuang muka. “Jangan menyebut namanya di depan ku!!”
“Kenapa? Apa kalian sedang bertengkar? Masa pacaran pura- pura, bisa bertengkar beneran,” ucapnya tersenyum menyeringai.
Ning membelakan matanya dan kembali menatap Dino. “Maksud mu apa?” tanya Ning dengan raut wajah terkejut.
“Om Athar sudah memberitahukan ku yang sebenarnya, kalau kalian hanya pura- pura pacaran supaya Oma berhenti menjodoh- jodohkannya dengan anak dari teman- teman Oma…. Sudah ku bilang kan, tidak mungkin selera om Athar turun drastis dari Tante Alexa yang seorang model ke baby sitter seperti mu….” ucapnya tersenyum kecut.
“Ya … kau memang benar … Dan sekarang kau sudah tahu semuanya, lalu kau mau apa?” Ning pun tak menyangkalnya.
“Aku ingin mengatakan sesuatu pada mu,” ucap Dino mulai bicara sopan.
“Ya ngomong aja apa susahnya….” Ning tetap bersikap jutek.
__ADS_1
Dino tiba- tiba memegang tangan Ning dan mengangkatnya secara perlahan. Ning mengarahkan pandangannya pada Dino yang menatap intens matanya. Bibirnya menampakan senyum yang merekah. Tatapanya pun berubah teduh. Hal itu membuat Ning diam tertegun.
“Ning, aku cinta sama kamu ….” ucapnya dengan suara lemah lembut. Tak disangka Dino menyatakan cinta.
Ning membelakan matanya mendengar ucapan Dino. Ia menatap tak percaya, terkejut, terkesima. “Ap apa apaan kau ini?” ucap Ning nampak gugup, ia berusaha melepaskan tangannya, namun Dino menggenggam nya dengan erat.
“Aku cinta sama kamu, Ning ….” Dino kembali mengulang perkataannya dengan penuh keyakinan.
Ning benar- benar terkejut dengan pengakuan Dino. Ia tak bisa berkata apa-apa pada pria yang sudah seperti musuh baginya. Keduanya saling menatap tanpa ada perkataan yang terucap. Hal itu membuat Ning salah tingkah, gugup dan kebingungan sendiri.
“Gimana Ning? Apa jawaban mu?” tanya Dino meminta jawaban.
“Ap apa maksud mu? A aku ini kan pacarnya om mu ….” Ning yang merasa kebingungan, lupa jika Dino sudah mengetahui kebenaran hubungannya dengan Athar.
“Tadi kan aku sudah bilang kalau aku sudah tahu kalian pura- pura pacaran… Jadi bagaimana? Selama ini kan kita sering melewati hari- hari bersama. Kau banyak memberikan perubahan pada ku. Dan itu membuat ku jatuh cinta pada mu, Ning ….” Ucapnya tanpa melepas pandangan matanya dari Ning.
“Hah? Apa? Tapi aku_____”
“Apa kamu sudah jatuh cinta sungguhan pada Om Athar?” tanya Dino curiga.
“Ak aku … Aku ….” Ning terlihat semakin gugup.
Tiba- tiba raut wajah Dino berubah, ia nampak menahan tawa melihat ekspresi wajah Ning.
“Hahahaha … kena kau!! Hahahha….”Dino tertawa terbahak- bahak.
“Mana Ning yang biasanya selalu percaya diri dan menganggap ku selalu merindukan mu? Hahahaha.” Dino tertawa dengan renyahnya.
Ning tercengang dan langsung menghempaskan tangannya dengan kasar dari genggaman tangan Dino.
“Gak lucu tahu gak!!” hardik Ning kesal yang baru menyadari jika dia sedang di prank oleh Dino.
“Hahahaha … lihat ekspresi wajah mu itu, seperti orang bodoh …. Hahaha.” Dino tak hentinya menertawakan Ning yang sudah berhasil dikerjai olehnya.
“Diam kau!!” bentak Ning semakin kesal, ia lalu bangkit dan bergegas pergi meninggalkan Dino. Ia berjalan sembari memijat kepalanya yang masih terasa pusing.
“Berhenti!!”
Baru saja Ning berjalan dua langkah, Dino menyuruhnya berhenti. Namun Ning tak menghiraukannya dan terus berjalan. Dino lalu bangkit dan mengejarnya.
“Ning … apa kau benar- benar mencintai Om Athar?” ucapnya melontarkan pertanyaan sembari berjalan mengikuti Ning dari belakang. Namun, Ning masih tak menghiraukannya.
“Ning berhenti!! Jika tidak, kau tidak akan pernah bertemu lagi dengan Om Athar!!” teriaknya mulai kesal.
Ning menghentikan langkahnya mendengar perkataan Dino. Ia berbalik, lalu mendekat menghampiri Dino yang tersenyum. Entah itu karena berhasil menghentikan Ning, entah ada prank lainnya lagi yang disiapkannya untuk Ning.
“Cukup Dino!! Berhenti membuat lelucon konyol lagi!! Jangan mengejar ku, aku mau pulang, ngerti!?” ucapnya dengan nada tegas, ia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.
“Ini bukan lelucon Ning … Om Athar akan pergi ke London untuk mengurus perusahaan baru dan menetap di sana … Jika kau ingin menemuinya untuk yang terakhir kali, kau masih punya waktu satu jam lagi….” ucapnya setengah berteriak dan masih membawa- bawa nama Athar.
Ning tercengang dan kembali menghentikan langkahnya. Nampaknya ia goyah dan mulai percaya dengan apa yang diucapkan Dino.
“Apa? Dia akan pergi ke luar negeri dan menetap di sana?” gumam Ning dalam hati sembari memijat kepalanya.
“Bagaimana ini? Gimana kalau aku beneran hamil? Aku minta pertanggung jawaban pada siapa jika dia beneran pergi?” batin Ning mulai takut, wajahnya terlihat semakin pucat memikirkan nasib dirinya yang akan ditinggal pergi oleh Athar.
“Kau masih punya waktu Ning….” ucap Dino yang kini berdiri di sebelah Ning.
Brukkk …
Ning tiba- tiba jatuh terkulai lemas dan tak sadarkan diri. Dino langsung berjongkok hingga duduk di tanah.
“Ning … Ning ….” Dino menepok- nepok pipi Ning, namun ia tak terusik sama sekali. Dino berusaha untuk mengendong Ning, namun tenaganya tak cukup kuat untuk mengangkat tubuh Ning. Ia semakin panik melihat wajah Ning yang begitu pucat.
Dino akhirnya memanggil kedua pengawal yang selalu berada di dekatnya dan menyuruh mereka untuk membawa Ning masuk ke dalam mobil.
Ning dibaringkan di jok penumpang yang sandarannya di turunkan, dan Dino duduk di jok sebelahnya untuk menemani Ning.
“Cari rumah sakit terdekat!!” titah Dino pada sang sopir.
“Baik, tuan muda ….” Sopir pun segera melajukan mobilnya, diikuti mobil pengawal dari belakang.
**
“Emh …” Ning mulai siuman. Ia membuka matanya perlahan. Tubuhnya yang terasa lemas, membuatnya tak bisa banyak bergerak.
“Dimana ini?” ucapnya dengan suara pelan dan lemas. Ia mengedarkan pandangannya melihat sekelilingnya yang serba putih. Matanya tertuju pada tangan kanannya, dimana di pergelangan tangannya tertancap sebuah jarum yang terhubung pada selang panjang dengan cairan bening di dalamnya.
__ADS_1
“Bukannya tadi aku_____” Ning membuka matanya lebar- lebar saat ia teringat kejadian di taman kota. Ia hendak bangun, namun terasa lemas, dan ia merasakan ada sesuatu yang berat di tangan kirinya. Ia pun menoleh kesana.
Betapa terkejutnya ia mendapati seseorang duduk membungkuk di kursi dengan menundukkan kepalanya pada sisi ranjang yang ia tempati, dengan tangan yang menggenggam tangan kirinya. Nampaknya orang itu sedang tidur.
Ning memperhatikan kepala itu yang ia yakini seorang laki- laki, terlihat dari rambutnya yang pendek. Ia tak bisa melihat jelas orang itu, karena wajahnya mengarah ke bawah kaki Ning yang tertutup selimut.
“Siapa dia? Apa si dinosaurus?” gumam Ning bertanya- anya dalam hatinya. Ia mengamati dengan seksama pria itu.
“Kalau dilihat dari pakaiannya … Sepertinya bukan Dino,” batin Ning.
Ning berusaha menarik tangan kirinya agar terlepas dari genggaman orang itu. Merasakan ada pergerakan di tangannya, membuat sang pria terusik. Ia terbangun,lalu mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Ning. Hingga membuat keduanya saling bertatapan.
“Kamu sudah sadar, Ning?” ucap orang itu yang kemudian menggeliat dan membenarkan posisi duduknya.
Ning tak menjawab, ia nampak terkesima dan merasa bahagia secara bersamaan. Senyuman pun terukir di bibir manisnya. Ia berusaha bangun sekuat tenaga, namun badannya terasa begitu lemas.
Pria itu langsung berdiri dan mendekat pada Ning yang masih berusaha untuk bangun. Ia pun membantu Ning, karena tak tega melihatnya yang terlihat bersusah payah.
“Kalau masih lemas, jangan memaksakan bangun…” ucapnya pada Ning yang sudah dalam posisi duduk.
Grepp
Ning langsung memeluk pria yang berdiri di samping ranjangnya itu.
“Tuan om kemana aja? Kenapa tiba- tiba menghilang? Hiks hiks….” Ning akhirnya bisa melampiaskan kerinduannya dengan memeluk pria yang selama seminggu ini hilang tanpa kabar, lebih tepatnya mengacuhkannya, entah menghindarinya. Ia pun tak kuasa menahan tangis.
“Hei, jangan menangis … Aku ada di sini, tidak kemana- mana,” ucapnya mengusap pucuk kepala Ning. “Ayok lepaskan dulu, kamu masih sakit … lebih baik berbaring lagi,” tambahnya nampak masih mengkhawatirkan Ning.
“Aku gak sakit kok, hiks hiks” ucapnya menggelengkan kepala dengan tangan semakin mengeratkan pelukannya.
“Kalau tidak sakit, kenapa nangis? Kamu juga pingsan sampai begitu lama ….”
“Aku… aku … aku gak apa- apa kok ... Aku gak nangis,” ucap Ning yang kemudian berhenti menangis. Ia teringat dengan ucapan Athar pernah bilang jika dia malas melihat wanita cengeng. Walau sebenarnya ia menangis saking merindukan Athar, namun terlalu memalukan jika ia harus mengakui hal itu.
“Kalau begitu, lepaskan dulu pelukannya,” ucap Athar memegang kedua lengan Ning.
Ning yang merasa tidak enak, melepaskan pelukannya lalu menundukkan kepalanya.
“Tuan om jijik ya dipeluk sama aku?” ucapnya nampak sedih dan kecewa.
“Kamu ngomong apa sih? Ko jadi baper-an gini? Biasanya juga galak,” ucapnya heran, ia lalu duduk di sisi ranjang dengan terus memandangi Ning yang masih menunduk.
“Maaf sudah lancang memeluk tuan om dan mengotori baju tuan om dengan air mataku ….” ucap Ning masih menunduk.
“Hei, bukan itu maksud ku… Gak enak tau kau memeluk perut ku seperti tadi, geli … Kalau mau memeluk ku, peluk yang benar … sini,” ucapnya merentangkan tangan untuk menyambut Ning agar kembali memeluknya. Namun Ning tak merespon dan malah tersipu malu.
“Hei, mau dipeluk atau tidak, Ning?” goda Athar, namun Ning masih tetap menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
“Baiklah, kalau begitu mending aku pergi saj____”
Grepp
Belum selesai Athar bicara, Ning langsung memeluk Athar tanpa aba- aba. Nampaknya ia tak ingin menyia- nyiakan Athar yang sudah menyerahkan diri padanya untuk dipeluk. Ia melupakan rasa malu serta kemarahannya pada om tamvan nya itu.
Athar pun terkekeh dibuatnya, ia menampakan raut bahagia di wajah tampannya. Begitu pula dengan Ning, yang tersenyum bahagia dipelukan si Kudaniel yang sangat dirindukannya.
Keduanya saling berpelukan layaknya dua sejoli yang sudah sekian lama terpisah jarak dan waktu, yang kini dipertemukan kembali. Bahagia yang membuncah dirasakan keduanya. Rindu yang menggebu kini terobati sudah.
Athar membelai rambut panjang Ning yang terurai. Dikecupnya pucuk kepala gadis galak yang amat dirindukannya itu. Ning pun tak berontak seperti biasanya, karena entah sejak kapan berada di pelukan Athar sudah menjadi tempat ternyaman baginya.
Namun, senyumnya luntur saat ia teringat ucapan terakhir Dino sebelum dirinya pingsan. Perasaan takut itu kembali muncul, ia memberanikan diri membuka suara dalam suasana hening itu.
“Tuan Om ….” panggil Ning dengan nada lemas.
“Hmmm,” sahut Athar.
“Jangan pergi… Aku mohon jangan pergi….” ucap Ning lirih.
Athar tertegun mendengar ucapan Ning. Tangannya pun berhenti membelai rambut Ning. Ia terdiam membisu dengan tatapan kosong. Raganya masih di sana, namun pikirannya entah di mana.
-
------------TBC-------------
*********************
-
__ADS_1
Happy Reading ….