NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Dia Benar- Benar Pergi


__ADS_3

“Ning… lo kenapa?”


“Nona kenapa ?”


Ocha dan Siti yang duduk di sisi kiri dan kanan Ning, kembali melempar pertanyaan. Namun Ning tak menghiraukan mereka, dan malah terus- terusan menangis.


Akhirnya keduanya tak bertanya lagi dan membiarkan Ning menumpahkan air matanya. Mungkin dengan begitu ia bsa merasa lega.


Bagaimana ia tak bersedih, selama satu bulan lebih ia tersiksa dalam kerinduan dan terus mempertanyakan keberadaan sang pujaan hati. Namun nampaknya yang datang malah kabar yang tak mengenakan hatinya.


Ocha mengambil selebaran yang terjatuh di lantai, dimana di dalamnya berisikan tulisan seseorang. Sementara Siti memeluk Ning yang terus menangis dan tak menjawab satu pun pertanyaan dari mereka.


Ocha yang nampak penasaran, membaca isi surat tersebut.


^^^Teruntuk^^^


^^^Ning Si Gadis Galak^^^


Ning…


Saat kau membaca surat ini, aku sudah berada di London dan akan menetap di sini untuk mengurus perusahaan baru keluarga ku. Aku minta maaf, karena tidak bisa memenuhi janjiku untuk selalu berada di sisi mu saat kau berjuang untuk kesembuhan penyakit mu. Tapi aku senang, akhirnya kamu bisa sembuh dan sehat kembali.


Terimakasih, kamu sudah bersedia bekerja sama dengan ku. Aku juga minta maaf, selama ini sering membuat mu kesal serta bersikap kurang sopan pada mu. Kini sudah saatnya kita mengakhiri kontrak kerja sama kita.


Seperti yang telah kita sepakati sebelumnya, aku sudah mentransfer pembayaran kerja sama kita sesuai perjanjian. Dan sesuai permintaan mu, setelah kerja sama kita selesai aku tidak akan mengganggu mu lagi.


Terimakasih atas semuanya. Aku kembalikan surat perjanjian yang pernah kita tanda tangani. Senang sudah mengenal dan bekerja sama dengan mu. Jaga kesehatan mu baik- baik ya. Mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi.


^^^Daniel Athar Sahulekha^^^


Ocha menoleh pada Ning.


"Kenapa membaca surat seperti ini saja, Ning sampai nangis kayak gitu? Perasaan dia sudah beberapa kali dipecat, biasa aja tuh….” batin Ocha yang terlihat bingung dan heran.


Tatapannya tertuju pada map yang ada di atas meja. Rasa penasaran Ocha semakin bertambah. Ia pun mengambil map itu, lalu membukanya. Ia membaca lembaran yang ternyata isinya merupakan surat perjanjian Ning dan Athar. Betapa terkejutnya ia mengetahui jenis kerja sama yang dilakukan Ning dan Athar itu.


“Astaga naga… Jadi lo sama cowok lo itu cuma pura- pura pacaran Ning?” Ocha yang sudah mulai paham, melempar pertanyaan pada Ning yang jelas- jelas sejak tadi tidak mu bicara. Bukannya menjawab, Ning yang terlihat begitu terpukul, tiba- tiba hilang kesadarannya.


“Ning….”


“Nona….”


Ocha dan Siti berteriak melihat Ning pingsan. Keduanya membantu Ning berbaring di kursi panjang yang sedang ia duduki.


Ocha lalu keluar untuk meminta pertolongan, beruntung Singgih datang untuk mengantarkan Nana bersama pengasuhnya yang ingin mengunjungi Ning.


Ia yang membawa tas kerja di dalam mobilnya, segera memeriksa keadaan Ning. Kemudian, ia menggendong Ning dan membawanya ke dalam kamar.


Usai membaringkan dan menyelimuti Ning, Singgih pun keluar. Namun Nana tidak mau keluar, karena ingin menemani Ning. Singgih pun meminta Maya tetap mengawasi Nana disana, karena takut mengganggu Ning yang sedang beristirahat.


Singgih menghampiri Ocha.


“Kenapa Ning bisa sampai pingsan? Apa dia melakukan pekerjaan rumah? Kecapekan atau____”


“Enggak, Pak Dokter… Ning cuma lagi sedih aja, kok….” Ocha langsung menempas, seolah tak ingin Singgih mengetahui alasan sebenarnya yang membuat Ning pingsan.


“Sedih kenapa?” tanya Singgih nampak penasaran.


“Itu Pak Dokter… Tadi nona membac_____” belum selesai Siti bicara, Ocha langsung membungkam mulut Siti.


“Anu Pak dokter … Ning tadi teringat sama mendiang orang tua nya… udah biasa kok dia kalau inget suka sedih gitu, hehe….” ucap Ocha.


“Oh, gitu ya….” Singgih menganggukkan kepalanya dengan pelan.


“Iy iya, silahkan duduk, Pak dokter ….” Ocha mempersilahkan Singgih duduk, sementara Siti diminta Ocha pergi ke belakang untuk membuatkan teh.


“Oh iya Pak Dokter... Bagaimana keadaan Ning?” tanya Ocha.


“Dia baik- baik saja, hanya perlu istirahat.. Usahakan jangan diberi beban pikiran sampai ia bisa sembuh total… Ginjal barunya masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan tubuh Ning…”


“Syukurlah….“ Ocha bernafas lega.


“Ocha… Eng… Apa Ning tidak punya sanak saudara lain selain orang tuanya? Saya perhatikan, Ning hanya tinggal bersama kamu dan Siti saja di sini?” tanya Singgih nampak ingin tahu tentang Ning.


“Sebenarnya Ning masih punya paman, bibi, dan sepupu … Hanya saja, mereka tinggal di kampung….”


“Apa mereka tahu keadaan Ning?” Singgih kembali bertanya.


Ocha hanya menganggukkan kepala.


“Berarti… mereka pernah menjenguk ke sini?”


“Enggak ada ….” Ocha menggelengkan kepalanya.


“Kok bisa? Mereka tahu Ning sakit, tapi sama sekali tidak menjenguk Ning? Apa tidak terbesit di benak mereka, jika saat Ning koma, ia tak akan bangun lagi?” Singgih nampak heran dan merasa tak habis pikir.


“Mereka tahu kok kalau Ning sakit, dioperasi sampai koma… Tapi tidak ada satu pun yang datang menjenguk… Padahal saya sudah mendatangi mereka untuk memberitahukan secara langsung ke kampung… Tetap saja mereka tak peduli dan tak mau datang ke sini….” ucap Ocha yang kemudian menghela nafas berat. Pandanganya lurus ke pintu kamar Ning.


“Dari dulu mereka gak pernah peduli sama Ning… Padahal seharusnya mereka berterima kasih sudah bisa tinggal di sini secara gratis, tapi mereka malah memanfaatkan Ning. Bahkan menjadikan Ning sebagai penebus hutang… Dan yang lebih parah, mereka menggadaikan rumah ini ke rentenir tanpa sepengetahuan Ning….”


Singgih terkejut sekaligus tak menyangka jika ternyata Ning ditelantarkan oleh keluarga nya sendiri. Hatinya merasa terenyuh, membayangkan betapa sedihnya Ning yang masih sangat muda sudah tidak punya orang tua. Apalagi di saat seperti ini, pastilah Ning sangat membutuhkan dukungan dari keluarga nya. Tapi, justru keluarganya tak memperdulikan Ning sama sekali.


“Kasihan sekali kamu, Ning…” gumamnya lirih dalam hati.


“Pak Dokter, silahkan diminum teh nya … Dan ini kue nya juga….” ucap Siti yang menyuguhkan secangkir teh dan satu toples kue.


“Iya, terimakasih ….”

__ADS_1


“Pak Dokter….” ucap Ocha.


“Iya….” sahut Singgih.


“Saya perhatikan, kayaknya peduli banget sama Ning?” ucap Ocha nampak sedang menyelidik.


“Apa? It itu… eng… Itu karena Nana sangat menyayangi Ning… Dan, eng … ya seperti yang pernah ibu saya katakan, kalau kami …. Eng, kami menganggap Ning seperti keluarga sendiri…. Iya begitu….” Singgih menjawab dengan gelagapan.


“Oh … gitu….” Ocha mengangguk-anggukkan kepalnya.


“Iy iya… saya minum dulu teh nya….” Singgih terlihat semakin gugup, ia lalu mengambil gelas dan menyeruput teh yang masih terasa panas itu, untuk menyembunyikan kegugupannya. Ia meletakan kembali gelasnya, kemudian berdiri.


“Em, terimakasih atas teh nya… Maaf, saya harus pergi, karena sebentar lagi jam praktek saya dimulai… Saya permisi, assalamu’alaikum….” Singgih pun pamit dengan terburu- buru. Nampaknya ia tak ingin berlama- lama di sana, seolah takut diinterogasi oleh Ocha.


*


Sepanjang perjalanan, pikirannya tertuju pada Ning. Entah perasaan iba atau memang ada perasaan lain pada Ning. Bahkan, saat ia di ruang praktek nya pun, bayangan Ning seolah tak mau menyingkir dari pikirannya.


“Dokter, diluar ada perawat katanya mau mengingatkan jika siang ini dokter ada jadwal untuk tindakan operasi… Katanya sudah menghubungi dokter, tapi nomornya tidak aktif….” ucap suster.


“Iya, Ning … gak apa- apa kok….” Singgih menjawab dengan tatapan kosong.


“Hah? Maaf, dokter… Saya Risti, bukan Ning….” Suster nampak heran.


Singgih terperanjat mendengar suara suster. Ia membuyarkan lamunannya. “Maaf, Suster bilang apa tadi? bukannya pasiennya sudah selesai?”


“Iya, dok… pemeriksaan pasiennya sudah berakhir … Dokter nanti siang ada jadwal tindakan operasi….”


“Oh, iya … saya ingat kok…. Saya ke toilet dulu ….” Singgih lalu berdiri dan bergegas keluar untuk pergi ke toilet. Ia membasuh wajahnya berkali- kali.


“Ya ampun…. ada apa dengan ku? Kenapa tadi aku melihat wajah suster mirip sekali dengan Ning? Kenapa aku terus teringat padanya??” gumam Singgih dalam hati sembari melihat pantulan wajahnya yang basah di cermin toilet. Ia kembali membasuh wajahnya.


*


Sementara Ning yang sudah tertidur selama dua jam, perlahan mulai membuka matanya. Setelah kesadarannya sudah penuh, Ia yang berbaring menyamping kembali teringat dengan surat dari Athar. Air matanya pun kembali jatuh membasahi pipinya.


“Tuan om… hiks hiks….” Lirih Ning terisak.


Nampaknya, ia sudah benar- benar mencintai Athar dan tak ingin kehilangannya. Namun sayang, om tamvan nya itu sudah pergi dan tak akan pernah kembali lagi padanya.


“Jadi selama ini kau hanya menganggap ku rekan kerja sama nya saja? Ternyata yang kau katakan itu benar, kita hanya bekerja sama saling menguntungkan… Dan yang kau bisikan hanyalah kebohongan… kebohongan…. Hiks hiks,” lirih Ning dalam hati saat ia teringat dengan ucapan Athar dulu.


Air matanya terus mengalir kala ia teringat semua hal yang pernah dilewatinya bersama Athar. Ia sama sekali tak menyangka, jika dirinya akan ditinggalkan begitu saja oleh pria yang sudah berjanji akan bersama dan selalu menjaganya itu.


Ia pun tak hentinya menggerutuki dirinya sendiri, yang begitu bodoh mempercayai setiap ucapan manis Athar yang kini dicap sebagai pembohong olehnya.


“Kakak peri….” Suara anak itu terdengar dari belakang Ning, disertai sentuhan tangan mungilnya pada punggung Ning.


“Nana….” ucapnya nampak terkejut. Seketika ia pun berhenti menangis dan dengan segera ia menghapus jejak air matanya.


“Peri kecil kok ada di sini?” Ning memaksakan diri untuk tersenyum, dan tangannya mengusap lembut kepala bocah cilik itu.


“Kakak peri masih ada?” Nana malah balik bertanya dengan suara serak khas bangun tidur.


“Hehehe, iya….”


“Biasanya, kalau Nana bangun kakak hilang… Mbak Maya bilang, kaka peri terbang….”


“Hehehehe… Terbang pakai apa?” Ning terkekeh.


“Pakai sayap peri….” ucap Nana dengan polosnya.


“Kamu ini ada- ada aja….” Ning mengusap kepala Nana dengan gemas.


“Kakak peri nangis ya? Kok matanya merah? Kok suaranya gitu?” Nana nampaknya menyadari.


“Eng enggak kok … hidung kakak lagi meler aja… kamu salah lihat kali….” ucapnya menyangkal.


Nana mengucek- ngucek matanya, kemudian memperhatikan wajah Ning dengan teliti. Hal itu membuat Ning heran sekaligus geli melihat kepolosan anak itu.


“Ayok kita bangun … Kayaknya Nana masih berasa mimpi ya….” ajak Ning yang kemudian duduk.


Nana pun bangun, namun bukannya turun dari tempat tidur, ia malah memeluk Ning. Nampaknya ia takut jika kakak peri nya itu menghilang lagi, terbang kocar kacir. Ning nampak terlihat tenang sekarang. Sepertinya ia tak ingin bersedih di depan Nana.


Nana mengeluarkan mainan dan boneka dari dalam tas nya. Ia bermain bersama Ning di atas tempat tidur sambil bercerita tentang dirinya dan teman- temannya saat di sekolah sebelum ia datang ke rumah Ning, layaknya sorang anak yang bercerita pada ibu nya sendiri.


Ocha yang berdiri di ambang pintu hendak menghampiri Ning pun mengurungkan niatnya. Nampaknya ia tak mau mengganggu Ning yang terlihat asyik bermain bersama Nana. Setidaknya sahabatnya itu sudah tak terlihat sedih lagi, walau sebenarnya banyak sekali hal yang ingin ia tanyakan pada Ning. Ia lalu pergi ke dapur.


“Siti, ada yang bisa gue bantu?” tanya Ocha yang menghampiri Siti yang sedang memasak.


“Enggak, Mbak… sudah hampir selesai kok masak nya….”


“Oh… Lo pinter masak ternyata ya… Dan bisa masak makanan sehat buat Ning juga….”puji Ocha.


“Ahh, enggak kok Mbak Ocha.. Saya masih belajar….”


“Masih belajar kok masakannya enak- enak….”Ocha lalu duduk di kursi meja makan.


“Mbak, Ocha… Nona sama Nana itu udah seperti ibu dan anak aja ya… Kayaknya, nona itu sayang sama Nana… Kalau ada Nana pasti nona terlihat ceria….” ucap Siti saat meletakan sayur sop di atas meja makan.


“Iya … berbakat juga itu si Ning jadi calon ibu tiri yang baik….” Ocha terkekeh.


“Oh, memangnya Pa Dokter itu duda ya?” Siti nampaknya belum tahu status Singgih.


“Hello, lo kemana aja? Kalau dia masih punya bini, mana mungkin di bisa bolak balik kemari… Bisa dilabrak Si Ning sama bini nya Pak Dokter itu….”


“Seriusan … saya baru tahu, hehehe ….” ucapnya cengengesan. “Kalau gitu, mungkin gak sih Pak Dokter suka sama nona? Saya perhatikan semenjak nona pulang ke rumah, Pak Dokter itu sering sekali ke sini….” Siti makin kepo.

__ADS_1


“Bisa jadi sih… Ya, seenggaknya dia bisa suka beneran gitu, gak pura- pura pacaran kayak sama si siapa tuh namanya?” Ocha mengingat- ingat nama pacar pura- pura Ning.


“Siapa?” Siti yang terlihat bingung malah balik bertanya.


“Eng itu maksud gue, hsss pacar nya si Ning nong….” Ocha baru ingat kalau Siti belum tahu tentang hubungan Ning dan Athar yang sebenarnya. Karena baru dia yang membaca isi surat dan surat perjanjian Ning.


“Oh… Pak Daniel….” ucap Siti.


“Iya iya, itu si kudaniel….” Ocha memang punya kebiasaan suka memplesetkan nama orang.


“Hahaahaha….” Siti tertawa dengan renyahnya.


“Kenapa lo ketawa?” tanya Ocha heran dan bingung.


“Nona juga ngasih nama di hape nya kudaniel mesum, hahaha….” Nampaknya hal itu yang membuat Siti ketawa.


“Hah? Kudaniel mesum?” Ocha nampak terkejut mendengar nama itu.


“Iya… saya waktu itu gak sengaja lihat pas ada telpon masuk, dan ternyata itu dari Pak Daniel… Saya juga heran, kok nona ngasih nama pacarnya pakai kudaniel mesum di kontak hapenya, hihihihi….” Siti masih menertawakan.


“Kudaniel mesum??” gumam Ocha dalam hatinya. “Oh, astaga naga … Pantes aja si Ning nong sampai nangis bombay kayak tadi setelah baca surat itu… Jangan- jangan dia sudah diapa-apain lagi sama si kudanile itu….” gumam Ocha dalam hati menduga- duga.


*


Sementara di dalam kamar, Ning masih menemani Nana yang masih mengoceh sambil bermain boneka.


Sesekali ia tersenyum gemas melihat Nana bicara sendiri. Saat ia melihat boneka yang sedang dimainkan Nana, ia kembali bersedih. Ia baru teringat, jika boneka itu adalah boneka pemberian Athar saat dia baru pulang dari luar kota.


“Oh ya ampun… kenapa aku baru keingetan sekarang… Kenapa gak dari kemarin—kemarin aku menanyakan tentang tuan om ke Nana, dia pasti tahu….” Gumam Ning dalam hati.


“Emm, peri kecil….” Ning memulai aksi penyelidikan nya.


“Iya….” sahut Nana.


“Itu boneka dari siapa ya?” tanya Ning pura- pura tidak tahu.


“Ini boneka dari Dady….”


“Oh iya, kakak baru ingat… Emm, Peri kecil suka ketemu sama Dady?” tanya Ning langsung ke intinya.


Nana menggelengkan kepala. Raut wajahnya pun berubah sedih. Ia lalu menundukkan kepala nya.


“Eh, Peri kecil kok jadi sedih gitu?” Ning nampak merasa bersalah menanyakan Athar pada Nana.


“Dady gak sayang Nana lagi… Dady jahat….” ucap Nana sembari menunduk.


“Masa sih… Dady kan sayang banget sama peri kecil … Waktu Dady di luar kota juga tiap hari suka nelpon peri kecil, kan?”


“Tapi Dady gak ada lagi….” Nana nampak semakin sedih.


“Gak ada lagi? Maksudnya?” Ning belum paham.


“Dady nya sudah pergi….”


“Pergi kemana?” tanya Ning.


“Pergi jauh jauh….”


“Pergi jauhnya kemana?” tanya Ning semakin penasaran.


“Nana gak tahu… Dady bilang tugasnya jagain Nana sudah selesai, jadi Nana sekarang dijaga Papa… Jadi Dady pergi….” Nana nampak semakin sedih membahas Athar.


“Apa Dady pernah menelpon peri kecil?”


Nana kembali menggelengkan kepalanya.


“Dady jahat… Dady jahat… Dady gak sayang Nana lagi, huaaaaa....” Nana yang terlihat begitu sedih, tiba- tiba menangis. Ning pun segera merangkul dan memeluk anak itu.


“Jadi dia benar- benar pergi… Dia juga meninggalkan Nana yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri… Dia benar- benar pergi… Dia benar- benar pergi….” batin Ning yang ikut menitikan air mata.


Bukannya ia menenangkan Nana, justru ia malah ikut menangis menemani Nana.


-


-


--------------- TBC------------


**********************


-


-


Happy Reading ….😉🤩


-


-


Monmaaf baru up lagi… Dari hari jumat Eceu-nya sakit ampe ke tulang2, cuma bisa tiduran gak sanggup ngetik dan ngehalu.. Etdah kemarin di antigen serta PCR ternyata eceu positif kena virus si corongna… Ampun dah berani banget tuh virus nyamperin emaknya si Ratu kentut….#curhat.com🙏🙏🤭


Terimakasih selalu setia menunggu kisah Ning Nong…😉😘


Masih part sedih monmaaf… hehe🙏🙏


Aylapyu all…😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2