
“Hahahahahaha ….” Ning dan Dino begitu nikmatnya menertawakan Athar. Apalagi Ning, seperti ada rasa lega pada dirinya yang sejak pagi sudah kesal pada Athar.
“Dino … ayok kita pulang ….” ajak Rosmala dari gawang pintu kamar. Dino dan Ning pun menghentikan tawa mereka.
“Baiklah, Ning … aku pulang … Terimakasih sudah memaafkan ku ….” ucap Dino yang kemudian beranjak pergi.
“Hei … siapa bilang aku sudah memaafkan mu?”
Dino menoleh dan hanya tersenyum. Ia lalu pergi bersama Rosmala. Ning pun memberinya senyuman hingga Dino dan Rosmala tak terlihat lagi.
Saat matanya tanpa sengaja melihat ke arah Athar yang ternyata tersenyum juga padanya, raut wajahnya langsung berubah kesal. Seketika senyuman di bibir Ning pun sirna.
“Apa senyum- senyum?” ucap Ning dengan ketus.
“Eh, kau yang senyum duluan … aku hanya membalas senyuman mu.” Athar berdalih.
“Ge- er ….” cicitnya kesal, ia kembali berbaring dan menyamping ke kiri, sehingga membelakangi Athar.
“Kau itu kenapa? Pada ku marah- marah sedangkan pada Dino berbeda?” protes Athar.
“Au ah … ngantuk ….” Ning kembali menyelimuti dirinya.
“Apa?” Athar semakin kesal.
“Aku ngantuk dan mau istrirahat ….” ucapnya lalu memejamkan mata.
“Dasar aneh … tidak tahu apa kalau aku meninggalkan pekerjaan penting ku hanya untuk menjaganya di sini ….” Athar mengerutu dalam hatinya. Ia pun beranjak pergi, karena tak mu menggangu istirahat Ning.
“Fiuh … akhirnya si mesum pergi juga ….” ucap Ning bernafas lagi, ia lalu tidur.
Sementara Athar yang kini berada di ruang tamu duduk seorang diri. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi asisten pribadinya.
“Halo, selamat pagi Pak ….” Sapa sang asisten.
“Ini sudah jam sembilan, Bapak mau ke kantor jam berapa?”
“Urus semua pekerjaan, batalkan semua meeting hari ini … Aku ingin istirahat.”
“Tapi, Pak_____”
“Jangan lupa barang yang ku pesan semalam!!”
Tut tut tut …
Athar langsung memutuskan panggilan teleponnya. Ia meletakan ponselnya di atas meja. Lalu ia membaringkan tubuhnya di atas kursi panjang yang didudukinya. Ia pun memejamkan matanya untuk tidur.
Selang beberapa saat, Kinanti pun pulang. Setelah memasuki rumahnya, ia hanya tersenyum dengan menggelengkan kepala saat melihat Athar yang tidur pulas di atas kursi tamu, hingga tak menyadari kedatangannya.
Ia langsung masuk ke kamarnya untuk melihat kondisi Ning, yang sama- sama tertidur pulas seperti Athar.
Ia melihat cairan infusannya sudah hampir habis, kemudian ia melepaskan infusan dari tangan Ning setelah memeriksa keadaannya sudah membaik dengan peralatan medisnya.
“Ternyata benar- benar kebo kakak peri- nya Nana ini … Dicabut jarum infusan pun tak membuat tidurnya terusik,” ucap Kinanti menggeleng- gelengkan kepalanya sembari tersenyum.
Baru saja ia membereskan perlatan medisnya, Ning meggerakan tubuhnya. Ternyata bukannya bangun, ia hanya mengganti posisi tidurnya miring ke kiri hingga membelakangi Kinanti yang duduk di sisi ranjang kanan Ning.
Duuuut ….
Terdegar bunyi gemuruh dari bokong Ning yang masih tertidur lelap.
Sontak Kinanti langsung berdiri dengan menutup hidungnya. Dengan segera ia beranjak pergi dari kamarnya itu.
“Ya ampun … selain kebo, dia ternyata jorok … Kentut sembarangan … gak tahu apa kalau aku sedang duduk di dekat bokongnya …. Hufh,” ucapnya menggerutu kesal sambil berjalan ke arah dapur. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang tengah makan di ruang mkan. Ia pun menghampirinya.
“Kakak sudah bangun ….” sapanya pada sang kakak.
“Hmmm ….”
“Sudah ketemu sama ibu?”
“Sudah .…”
“Nana___” Kinanti belum melanjutkan perkataannya sudah dipotong.
“Bagaimana keadaan pasien mu?” tanya Kakak ya.
“Sudah membaik ... baru saja aku melepas infusan nya.”
“Lain kali jangan membawa orang asing sembarangan ke rumah ini ….”
“Dia itu pengasuh anaknya Kak Rosmala yang kenal juga sama Nana … Bahkan Nana memanggilnya kakak peri, karena dia pernah menemaninya di sekolah saat tidak ada yang menjemput Nana. Dia juga pernah membawa Nana ke rumah Kak Ros.”
“Apa?” tanyanya terkejut.
“Iya … Tapi Kak Ros berhasil menyembunyikannya dari Nyonya besar.”
Ia menghela nafas kasar, lalu bengkit dari duduknya.
“Sebentar lagi Nana pulang sekolah … Tolong kakak jemput ya … Aku capek banget baru pulang dinas malam.”
“Aku juga masih capek ….” ucapnya lalu beranjak pergi.
“Ih … dasar menyebalkan … Kalau bukan kakak ku sudah ku masukan dia ke dalam lubang buaya PKI terdalam….” Kinanti menggerutu kesal sembari mengepalkan tangan dan menggertakan giginya.
“Eh, Non Kinanti sudah pulang … Mau makan sekarang, Non?” sapa Bi Sumi.
“Enggak Bi, tadi udah makan kok di kantin rumah sakit … Ibu dimana?”
“Ibu sedang menjemput Nana diantar sopir Pak Daniel … Katanya nanti mau ke toko buku membeli peralatan sekolah Nana yang sudah habis.”
“Oh, iya kalau gitu … Aku mau istirahat aja di kamar Ibu ….” Kinanti pun beranjak pergi meninggalkan ruang makan.
**
Hari sudah siang, jrum jam pun menunjukan pukul dua belas lebih dua puluh menit. Ning yang sudah cukup lama tidur, akhirnya terbangun juga.
“Loh, kok infusan nya sudah tidak ada?” tanyanya terkejut.
“Aduh jangan- jangan Pak dokter Daniel itu yang sudah melepaskan infusan ku ….” ucapnya menebak- nebak.
“Arhhhhh … kenapa aku tidurnya kebo banget sih .. jadi kan gak bisa bertemu sama Pak Daniel ….” gumamnya menggerutuki dirinya sendiri.
Ning pun bangkit dari tempat tidur dan membereskannya. Ia lalu mengambil baju dan handuk dari tas pakaiannya. Ia nampak heran saat melihat isi tas nya, kemudian ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian tidur.
Setelah mandi dan berganti pakaian, ia terlihat mencari sesuatu, namun tak menemukannya.
“Ah, sebaiknya aku tanya langsung deh sama pemilik kamarnya … Gak enak kan kalau ngobrak- ngabrik kamar orang ….” ucapnya lalu beranjak pergi keluar dari kamarnya.
Ning yang nampak bingung dengan rumah yang masih sangat asing baginya. Ia melangkah masuk ke dalam sembari melihat kesana – kemari untuk mencari keberadaan seseorang.
“Cari siapa?” tanya Athar.
Ning terperanjat mendengar suara orang dari arah belakangnya. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Kamu mencari siapa?” tanya Athar yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
“Em … mencari Mbak Kinanti.”
“Dia lagi istirahat di kamar Bu Asri.”
“Kalau Bu Asri kemana?”
“Bu Asri menjemput Nana.”
“Oh ….”
“Sudah, kau duduk saja di sini ….” ajak Athar.
“Untuk apa?”
“Untuk menunggu mereka sambil menemani ku minum kopi ….” ucapnya lalu meneguk kopi dingin kesukaannya.
“Mending nunggu di kamar ….”
“Kamar siapa? Kasihan yang punya kamar malah tidur di kamar lain, karena kamu ambil alih kamarnya.”
“Tapi aku_____”
“Ning, kamu sudah bangun….” Sapa Kinanti yang baru datang dari arah dalam.
“Iy … iya Mbak Kinanti … Maaf tadi saya numpang mandi tapi gak bilang dulu ….”
“Oh iya gak apa- apa … Gimana kondisi mu sekarang?”
“Alhamduliallah sudah membaik … Terimakasih banyak Mbak Kinanti ….”
“Kalau masih mau istirahat pakai saja kamar ku ….”
__ADS_1
“Enggak, Mbak … terimakasih … saya di sini saja … Saya sudah bereskan kamarnya, kok ….”
“Yasudah kalau gitu saya mau mandi dulu … permisi ….”
“Iy iya Mbak ….” Angguk Ning, Kinanti pun masuk ke dalam kamarnya yang dekat ruang tamu itu.
“Gak jadi ke kamarnya?” sindir Athar dengan santianya.
“Menurut ngana?” Ning menatap kesal.
“Apa?” Athar tak paham dengan apa yang diucapkan Ning.
“Enggak ….”
“Mau dibikinin kopi?” Athar menawarkan.
“Gak usah repot- repot," tolak Ning dengan ketus.
“Gak apa- apa kali, Mbak Sumi gak akan kerepotan kalau nyeduh kopi doang.”
Ning mendelik tajam pada Athar.
“Kenapa? Atau mau aku yang membuatkannya?”
“Gak usah!!!” Ning tetap menolak tawaran Athar. ia lalu melangkahkan kakinya.
“Mau kemana?” tanya Athar.
“Keluar cari udara segar ….” ucap Ning terus berjalan.
“Ini tengah hari, di luar cuacanya panas sekali…. Segar dari mana?”
“Seenggaknya di luar tidak ada anda.” Ning melengos begitu saja pergi keluar rumah. Ia duduk di kursi rotan yang ada di teras rumah itu.
“Ternyata cuacanya benar- benar panas ….” gumam Ning sembari mengipas- ngipaskan tangannya.
Ia hanya tahan sepuluh menit duduk di luar. Dengan terpaksa ia pun kembali masuk ke dalam rumah.
“Panas kan di luar ….” ucap Athar seolah mengejek Ning yang tak percaya pada ucapannya tadi. “Sudahlah, duduk saja di sini, adem ….”
Ning mendengus kesal, lalu ia pun duduk di kursi tamu yang berhadapan dengan Athar dan hanya terhalang oleh meja saja.
“Mau kopi?” Athar kembali menawarkan.
“Es Kopi maksudnya?” Ning melihat es kopi yang diminum Athar.
Athar tersenyum. “Terserah kamu pesannya mau ice coffee or hot coffee or hot others.”
“Aneh … biasanya laki- laki itu suka nyeruput kopi panas," sindir Ning.
“Ayolah … diluar cuaca panas masa iya aku harus minum kopi panas ….”
Ning mencebikkan bibirnya. Ia lalu melihat kesana –kemari nampak mencari seseorang.
“Cari siapa lagi?”
“Cari Pak Daniel ….”
“Siapa?” tanya Athar terkejut.
“PAK-DA-NIEL ….” Ning mengulang perkataannya.
“Untuk apa kau mencarinya?” tanya Athar penasaran.
“Bukan urusan mu!!”
“Oh ya … Memangnya kau tidak tahu siapa Pak Daniel itu?”
“Tahu ….” Ucap Ning dengan yakin.
“Masa?”
“Iya.”
“Siapa emang?” tanya Athar seolah sedang menguji.
“Anaknya Bu Asri yang merawat ku semalaman ….”
“Oh ya … Jadi itu yang kau ketahui?” tanya Athar dengan menahan tawa nya.
“Ya”
“Tentu saja berterimakasih padanya?”
“Hanya itu?”
“Apa maksud mu?” Ning mulai kesal.
“Eng … Tadi kau bilang si Pak Daniel itu merawat mu semalaman … Apa kau hanya akan mengucapkan terimakasih saja padanya?”
“Ten tentu saja … memangnya apa lagi?” ucap Ning gelagapan.
“Memeluknya atuu mencium nya gitu ….” ucap Athar dengan santainya.
“Kau … Jadi kau benar- benar menganggap ku wanita seperti itu,hah?” Ning kini benar-benar kesal.
“Ap apa maksud mu?” tanya Athar heran.
“Kau menganggap ku wanita murahan yang rela melakukan apa pun demi uang … Itu kan yang kau katakan malam itu?” Ning mengingatkan Athar akan tuduhan yang pernah dilontarkan padanya.
“Ning … bukan itu maksud ku … Aku kan sudah meminta maaf soal itu tadi pagi pada mu … Kenapa kau membahasnya lagi.” Athar nampak merasa bersalah.
“Siapa yang menerima permintaan maaf mu, hah?” sanggah Ning tak merasa.
“Apa? Jadi kau belum memaafkan ku? Lalu kenapa Dino sudah kau maafkan? Kau benar- benar tidak adil….” protesnya kesal.
“Apa? Tidak adil?”
“Ya.”
“Dino itu sudah meminta maaf dengan sungguh- sungguh. Bahkan ia sampai pergi keluar dari rumah yang selama ini tak pernah diperbolehkan oleh Nyonya besar atau pun orang tuanya ….”
“Memangnya kau pikir aku tidak bersungguh- sungguh apa?” tanya Athar makin kesal.
“Sungguh- sungguh apa nya sampai berbaring di tempat tidur yang sama dengan ku, pakai meluk- meluk segala lagi … Itu sama saja pelecehan, dasar mesum!!” bentak Ning kesal.
“Ning … It itu … aku tidak bermaksud____”
Ceklek …
Terdengar suara pintu terbuka. Ning dan Athar pun menghentikan perdebatannya. Keduanya menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar.
“Kakak peri ….” Nana langsung berlari menghampiri Ning saat ia melihatnya duduk di kursi. Ning pun menyambutnya dan memeluk gadis kecil yang cantik nan imut itu.
“Peri kecil sudah pulang ….” ucapnya pada anak yang sedang di peluknya itu.
Perlahan Nana melepaskan pelukannya, ia menyentuh dahi Ning degan telapak tangannya. “Kakak peri sudah sembuh?”
“Sudah dong peri kecil ….” ucapnya tersenyum.
“Hore … hore .. Kakak peri sudah sembuh ….” Nana bersorak kegirangan.
“Hmmm … Mentang- mentang ada kakak peri, jadi lupa sama Dady ….” Athar nampaknya merasa cemburu.
Nana menolehkan wajahnya pada Athar yang duduk di kursi seberang.
“Eh, Ada Dady ….” Ia pun menghampiri Athar dan langsung memeluknya.
“Muahhh ….” Athar mengecup pipi kanan Nana, ia lalu mendudukan Nana di pangkuannya.
“Terimakasih Dady sudah jaga Kakak Peri ….” Nana bergelayut manja di pelukan Athar.
“Sama- sama peri kecil ku ….”
“Eh, Nana sudah pulang … Nenek nya mana?” tanya Kinanti yang baru keluar.
“Nenek lagi beresin buku sama boneka sama mainan Nana di mobil,” ucap Nana.
“Bu Asri nyetir sendiri?” tanya Ning heran.
“Enggaklah, Ning … Ibu sudah tua, mana bisa menyetir sendiri. Ibu diantar sopirnya Kak Daniel ….”
“Hah, sopir Pak Daniel?”
“Iya ….” angguk Kinanti yang ke.udian duduk di kursi ketiga yang paling kecil.
“Pak Daniel nya mana?” tanya Ning yang kekeuh ingin bertemu dengan pria itu.
__ADS_1
“Apa?” tanya Kinanti terheran- heran. Ia mengarahkan pandangannya pada Athar yang nampak menahan tawa. Sepertinya ia paham jika akan sesuatu.
“Nana, kamu itu kok ninggalin Nenek sih?” Bu Asri baru saja masuk dengan barag bawaan di tangannya. “Oh, sedang pada ngumpul di sini toh?”
Ning mengarahkan pandangannya pada pintu masuk, nampak mencari seseorang seolah berharap ada orang lain di belakang Bu Asri.
“Cari siapa Ning?” tanya Bu Arsi heran, yang kemudian duduk di kursi panjang sebelah Athar.
“Itu Bu … Ning sedang mencari orang yang bernama Daniel katanya,” ucap Athar.
“Hah? Daniel?” tanyanya heran, ia lalu melihat ke arah Athar yang tersenyum simpul.
“Iya, Bu … Katanya mau berterimakasih karena sudah merawatnya semalaman dan membuatkan sarapan untuknya….” Malah Athar yang kembali menjawab.
“Oh, ya … kalau gitu kamu tinggal bilang saja, Ning … Kasihan loh Daniel sampai gak tidur semalaman untuk menjaga kamu, Ning ….” Bu Asri pun nampaknya mulai paham dengan gelagat Athar.
“Dia lagi mikir, Bu … selain berterimakasih mau ngapain lagi ….” Athar tak hentinya berkicau tanpa mengalihkan pandangannya dari Ning yang terlihat malu pada Bu Asri.
“Memangnya mau ngapain?” anya Bu Arsi penasaran.
Ning menatap kesal pada Athar yang seolah mengolok- olok dirinya.
“Kalau aku bertemu dengan Pak Daniel, aku akan mencium tangannya, memasakn makanan untuknya bahkan aku akan memijatnya. Badannya pasti pegal- pegal dan kelelahan setelah menjaga ku semalaman ….” ucap Ning dengan yakin.
“Haha … Kau dengar itu Daniel ….” Bu Asri sudah tak mampu menahan tawa.
“Iya, aku dengar Bu ….” sahut Athar yang kemudian tersenyum penuh kemenangan.
“Apa?” Ning terkejut bukan main. “Mana Pak Daniel nya?”Ning melihat kesana kemari mencari keberadaan Daniel.
“Memangnya kamu pikir yang duduk di hadapan mu ini siapa, Ning?” tanya Bu Asri yang kembali tertawa.
“Tuan Om, eh Tuan Athar ….” jawab Ning dengan polosnya.
“Kak Daniel dan kak Athar itu orang yang sama, Ning ….” Kinanti pun ikut berkomentar sembari tertawa.
“Apa? Tapi … bukannya Pak Daniel itu dokter yang memeriksa ku tadi subuh ….” Ning tak percaya dengan apa yang anak dan ibu itu katakan.
“Kalau itu Singgih, anaknya Ibu,” ucap Bu Asri.
“Hah? Jadi Pak Daniel itu Tuan Athar ….” ucap Ning yang masih terkejut sekaligus bingung.
“Jadi dia yang semalaman menjaga ku … Jadi yang semalam aku dengar benar- benar suara si mesum itu?” gumam Ning dalam hati.
“Hahahahaha ….” Athar, Bu Asri dan Kinanti tak sanggup menahan tawa melihat wajh bingung Ning.
Tok tok tok ….
Suara ketukan pintu yang masih terbuka itu mampu menghentikan tawa ketiganya.
“Masuk ….” ucap Bu Asri dan masuklah seseorang yang berpakaian rapi yang memperlihatkan ia pegawai kantoran dengan membawa godie bag di tangannya.
“Ada apa Riko?” tanya Athar dengan nada ketus.
“Maaf saya menggangu … Maaf, Pak Daniel … meeting siang ini tidak bisa di cancel atau pun diwakilkan … Pak Dhirgam sudah memperingatkan saya.”
Athar mendengus kesal, ia lalu mengusap lembut kepala Nana.
“Peri kecil … Maaf ya, Dady harus pergi dulu, ada pekerjaan penting ….” ucapnya pada Nana. Ia megecup pipi kiri Nana kemudian menurunkannya perlahan dari pangkuannya dan mendudukan Nana di atas kursi.
Ia berdiri dan menatap Ning yang masih terlihat shock dan kebingungan.
“Ning, apa kau ingin mengatakan sesuatu pada ku?” tanya Athar seolah menagih ucapan Ning.
“Ap apa?” ucap Ning gelagapan.
“Iya Ning, bukankah kamu ingin mengatakan sesuatu pada Daniel ….” Bu Asri pun turut menagih.
Ning menghela nafas panjang sejenak untuk menenangkan dirinya dari perasaan terkejut sekaligus malu.
“Terimakasih ….” ucap Ning sembari menundukkan kepalanya.
“Untuk apa?” tanya Athar dengan sengaja memancing.
“Terimakasih karena sudah merawat dan menjaga ku semalaman saat aku sakit, juga sudah membuatkan sarapan untuk ku tadi pagi ….” ucap Ning dengan lengkap.
“Baiklah, aku terima ucapan terimakasih mu … Apa ada lagi?” Athar nampaknya belum puas.
Ning menegakkan kepalanya, dan tak disangka ternyata Athar sudah mengulurkan tangan ke arah wajah Ning.
“Ap apa?” tanya Ning bingung.
“Jangan pura- pura!! Ada banyak saksi di sini ….” ucap Athar.
Ning mendengus kesal, ia pun dengan terpaksa menerima uluran tangan Athar dan bersalaman dengannya.
“Kok cuma salaman? Katanya mau mencium tangan ku?” Athar kembali menagih.
“Dasar licik, brengsek, kurang ajar … Jadi sejak tadi dia memang berniat mengerjaiku … Awas saja kau, om setan mesum!!” gerutu Ning dalam hati.
“Nana sayang, ayok kita simpan buku, mainan dan boneka mu ini ke kamar mu …Katanya Nana ingin menggambar,” ajak Bu Asri yang paham akan situasi.
“Tapi mau gambarnya sama Kakak peri ….” Nana menolak pergi.
“Nanti Kakak peri nyusul ke kamar Nana … Sekarang Kakak peri nya mau bicara dulu sama Dady,” bujuknya.
“Iya, Nenek ….” Nana pun mengangguk dan ia turun dari kursi, kemudian beranjak pergi bersama sang nenek.
“Ayok, onty temani juga ya ….” Kinanti pun turut serta dan meninggalkan Ning bersama Athar.
"Sial sial sial...kenapa sih bukan dokter ganteng itu yang merawat ku semalam.... malah si mesum menyebalkan ini ...." Ning tak hentinya menggerutu dalam hati.
“Mau sampai berapa lama bersalaman dengan ku? Sekarang sudah tidak ada siapa- siapa di sini .…” ucap Athar tersenyum sembari menggoyangan tangan mereka yang masih bersalaman.
Ning terperanjat mendengar ucapan Athar. Ia yang baru tersadar dari lamunannya, baru menyadari jika Bu Asri, Nana dan Kinanti sudah tidak ada di sana.
“Ya ampun, lalu aku diangap apa?” gumam Riko dalam hati.
“Cepatlah … aku harus segera ke kantor ….”
“Ihhh, dasar menyebalkan ….” Ning menggerutu kesal dalam hati. Dengan terpaksa ia pun mencium punggung tangan Athar secepat kilat.
“Awww ….” Ning melepskan tangannya lalu mengusap bibirnya yang terasa sakit, karena bibirnya beradu dengan tulang jari pada punggung tangan Athar.
“Ya ampun, pada tangan ku saja kau begitu bernafsu menciumnya … Apalagi pada yang lain ….” ucap Athar mengejek.
Ning semakin kesal dibuatnya dan menatap tajam pada Athar.
“Jangan menatap ku seperti itu … Kau sepertinya ingin memakan ku ….” goda Athar.
“Bukan hanya memakan mu, tapi ingin mencekik mu lalu mencincang tubuh mu dan melempar setiap bagian tubuh mu ke mulut buaya yang kelaparan !!”
“Uhh, menyeramkan sekali ….” ucap Athar dengan nada manja, sementara Ning mencebikkan bibirnya dan membuang muka.
“Riko, mana barang yang ku pesan ….” Tangan Athar tertuju pada Riko sedangkan matanya tak hentinya menatap Ning yang nampak begitu kesal padanya.
“Ini Pak ....” Riko pun memberikan godie bag yang dibawanya.”
“Gunakan ini … aku pergi dulu ….” Athar menaruh godie bag itu di atas meja tepat di depan Ning duduk, ia lalu mengambil dompet dari dalam saku celananya dan mengeluarkan sesuatu. Ning pun kembali menoleh ke arahnya.
“Ini katu nama ku dan disitu tertera nama lengkap ku … Oh ya, jangan lupa dengan upah ku yang dua lagi ….” ucapnya berbisik lalu mengedipkan sebelah matanya ala om- om genit.
“Dasar mesum menjijikan ….” gerutu Ning mulai emosi lalu kembali membuang muka.
Athar tersenyum mendengar umpatan Ning terhadapnya.
“Ayok Riko kita pergi … Sepertinya aku akan menjalani meeting dengan semangat, karena saat pulang nanti ada yang memaskan makan malam dan memjijat ku ….” ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan Ning seorang diri di ruang tamu, diikuti oleh sang asisten dari belakangnya.
“Iiiihhh … dasar om setan mesum menyebalkan ….” Ning menggerutu kesal hingga ia melempar bantal kursi ke arah pintu yang sudah ditutup oleh Riko dengan deru nagfas kasar, yang sejak tadi menahan amarah.
“Awas saja kau!!!” Ning mengepalkan kedua tangannya lalu menghentakkan kaki.
Matanya menoleh pada kartu nama yang ditinggalkan Athar di atas meja. Ia yang masih marah dan kesal pun mengambil kartu nama itu, karena merasa penasaran.
Dan benar saja di sana tertulis nama Daniel Athar Sahulekha lengkap beserta nomor kontak dan jabatan pekerjaanya. Hal itu membuat Ning semakin marah dan kesal serta ada rasa malu pula dirasakannya.
“Dasar Kudanil menyebalkan!!!!!” teriak Ning kesal, lalu melempar kartu nama itu.
---------- TBC--------------------
***********************
Happy Reading ….
Monmaaf jari eceu kesurupan jadi ngetiknya kebanyakan....,,🙏
Aylapyu all....😘😘
__ADS_1
Jangan luva tinggalkan jejak mu para reader yang keceh badai,baik hati dan tidak somseu...🤩😍😘