NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Lo Bunting???


__ADS_3

Pagi ini terasa berbeda dari hari- hari sebelumnya bagi Ning. Rasa merana gundah gulana pun kini mulai sirna karena akan segera terobati.


Ning yang baru selesai mandi, langsung membuka tas pakaiannya. Karena ia memang tidak memiliki kamar tetap di rumah itu, sehingga setelah pakaiannya dicuci dan disetrika akan dimasukan kembali ke dalam tas pakaian miliknya.


Ia memilih beberapa pakaian yang pernah dibelikan oleh Athar, bahkan dicobanya satu persatu sembari bercermin. Ia dibuat bingung sendiri, padahal baju yang ia pilih hanya sedikit. Akhirnya dress putih motif bunga dengan lengan pendek dan panjangnya dibawah lutut menjadi pilihannya.


Bukan hanya itu, Ning yang sehari- harinya hanya menggunakan pelembab, bedak serta lipbalm. Kini ia berniat merias wajahnya, karena baginya ini adalah momen spesial.


Ning duduk di kursi depan meja twalet. Ia menyadari bahwa alat makeup yang ia miliki hanya sedikit. Entah apa yang merasukinya, saat melihat alat makeup berjejer di atas meja twalet Kinanti, terlintas di benaknya untuk menggunakan alat makeup itu.


“Minta makeup-nya dikit ya, Mak Kinanti …. Hehehe,” ucapnya pelan meminta izin, namun bukan pada orangnya langsung melainkan pada alat makeup yang berjejer di atas meja twalet itu.


Ia merias wajahnya berdasarkan tutorial makeup dari youtobe yang ditontonnya. Tak hanya itu, ia pun merapikan rambut dan bagian bawahnya dikeriting masih menggunakan peralatan milik Kinanti.


Baru kali ini ia memperhatikan penampilan saat akan bertemu dengan Athar. Sepertinya ia benar- benar jatuh cinta pada pacar pura- puranya itu.


“Wow, Ningrat Atisaya … Ternyata kamu itu kalau dipoles begini jadi cantik dan anggun ya,” ucapnya memuji diri sendiri saat melihat wajahnya pada pantulan cermin.


“Ya ya ya, cantik itu memang perlu modal, hihihi ….” ucapnya berdialog sendiri sembari cekikikan.


“Hsssss … aduh … Kok badan ku rasanya pegal semua … Ditambah tadi jatuh dari ranjang ….”


“Enggak enggak enggak … Aku sehat, aku gak apa- apa, aku gak sakit kok … Aku harus semangat untuk bertemu dengan si kudaniel mesum itu … hehheehe ….”


Baru saja ia berdiri, ponselnya berdering yang menandakan ada panggilan masuk. Dengan segera ia melangkah mendekati ranjang tempat ia menaruh ponselnya. Ia terlihat bersemangat sekali. Namun saat melihat nama si pemanggil, ia nampak kecewa. Ia pun menerima panggilan itu.


“Iya, hallo … Ada apa, Ocha?”sapa nya.


“Ihhh, lo kemana aja sih? Dari subuh gue nge-chat lo, gak ada satu pun yang dibaca … Tadi ditelpon gak diangkat- angkat ….”cerocos Ocha.


“Sorry Cha, gue gak tahu .. Emang ada apaan sih?”


“Itu si rentenir yang sekarang tinggal di rumah lo, subuh- subuh datang ke rumah gue … Katanya dia pengen ketemu sama lo ….”


“Hah? Mau ngapain dia ketemu sama gue? Apa Mang Asep masih punya hutang sama dia?” tanya Ni g heran.


“Katanya sih mau bicarain soal rumah lo … Tapi dia pengen ngomong langsung sama lo, gak mau diwakilkan ke gue ….”


“Jangan- jangan dia pengen gue nebus rumah bapak ….” tebak Ning.


“Wah, bagus dong kalau gitu….”


“Bagus apanya, Borcha!? Gue punya duit dari mana buat nebus rumah itu ….”


“Kalau gitu mending lo temuin langsung aja deh si rentenir itu ….”


“Kapan, Cha?” tanya Ning.


“Katanya hari ini … Kalau bisa pagi ini, soalnya nanti siang dia mau pergi ke luar kota katanya … Tapi tadi tuh dia aneh banget, kayak orang ketakutan gitu ….”


“Ketakutan gimana maksud lo?” tanya Ni kurang paham.


“Kayak abis dikejar- kejar setan gitu … Udah lah mending lo cepetan aja ke sini … Udah dulu ya, gue mau nyuci, bye ….”


Ocha mengakhiri sambungan telponnya.


“Ada apa ya orang itu ingin bertemu dengan ku? Kalau dia meminta ku menebus rumah bapak gimana? Uang di rekening ku gak akan cukup untuk bayar hutang ke rentenir yang pasti bunganya aja udah bejibun ….” gumam ya berdialog sendiri.


“Eng, apa aku minta honor ku dulu dari si kudanil?”


“Arhhh … enggak enggak enggak … Gila aja, baru ketemu lagi masa aku langsung minta duit ….”


“Oh, ya ampun … aku kan tadi belum balas pesan dari si kudanil ….”


Ning segera membuka WhatsApp dan benar saja, nomor yang sama sudah mengiriminya beberapa pesan


080333111999


“Hei, kenapa pesan ku hanya dibaca saja dan tidak dibalas?”


“Hei”


“Ning!!”


“Hallo!!”


“P”


“P”


“Ping!!!”


“Tuh kan, kebiasaan … kalau telat balas dia suka spam … Hello, selama seminggu ini kemana aja lo, susah dihubungin, di chat gak pernah balas, ditelpon gak pernah aktif ….”


Ning menggerutu pada layar ponselnya. Ingin sekali ia mengetik apa yang baru saja diucapkannya, namun sayang nampaknya ia tak ingin bertengkar karena ini kali pertama ia bertemu kembali dengan Athar setelah dua minggu Athar di luar kota.


Ia pun membalas chat dari Athar dengan singkat, bahkan sangat singkat sekali.


Ning


“Ya”


Ia memasukan ponsel ke dalam tas nya dan bergegas keluar dari kamar Kinanti. Ia pergi ke belakang untuk mengambil sepatu yang ditaruhnya di tempat rak sepatu.


“Aduh, pakai yang mana ya? kok tiga sepatu yang dibelikan tuan om gak ada yang muat sih di kaki ku? Eh, tapi sepatu ku yang lain juga jadi gak muat, ada apa dengan kaki ku ini….” tanah Ning terheran-heran.


“Arhh, ini pasti gara- gara keseringan pakai sandal jadi kaki ku melebar gini ….”


Ning memasukan kembali sepatu yang sudah dicobanya satu persatu ke dalam dus nya. Akhirnya ia memilih menggunakan sandal telincang. Ia membawanya untuk dikenakan saat keluar nanti.


“Bi Sumi, rumah kok sepi ya? Pada kemana?” tanya Ning yang berada di dapur kemudian menuangkan air ke dalam gelas, lalu meminumnya.


“Bu Asri sama non Nana nganterin Pak Singgih ke bandara … Mereka berangkat setengah enam pagi tadi …. Kalau non Kinanti belum pulang."


“Oh gitu … Bi Sumi, saya titip pesan ya … Nanti tolong bilangin ke Bu Asri, kalau saya pergi keluar sebentar karena ada keperluan … Sebelum dzuhur saya udah pulang kok ….”


“Baik ….”


“Terimakasih, Bi Sumi ….”ucap Ning.


“Sama- sama … loh gak sarapan dulu? Ini sudah jam setengah delapan, kamu kan belum sarapan ….”


“Enggak, nanti aja sama temen saya … Saya pergi dulu ya Bi Sumi.” Ning pamit.


“Iya Ning, hati- hati ….”


Ning beranjak pergi dengan membawa sandal di tangannya. Ia membuka aplikasi di ponselnya untuk memesan ojek online.


Baru saja ia menutup pintu, Bu Asri dan Nana datang. Keduanya baru turun dari mobil dan berjalan menghampiri Ning.


“Ning, kamu mau kemana udah cantik gitu?” tanya Bu Asri.


“Eh, Ibu … Saya mau ada keperluan sebentar, mau izin keluar boleh?”


“Bolehlah, kasihan kan udah siap gitu masa gak saya izinkan … Nana biar saya dan Bi Sumi yang jaga ….”


“Hehehe… Terimakasih, Bu … Nanti sebelum dzuhur juga saya udah kembali ….”


“Kakak peri mau kemana?” tanya Nana sembari memeluk boneka barbie.

__ADS_1


“Kakak mau ketemu sama teman dulu sebentar … Wah, nana punya boneka baru ya … Cantik sekali … pasti dibeliin papa….”


“Enggak, ini dikasih sama Dady….” ucap Nana.


“Dady? Mana Dady nya?” Ning mengedarkan pandangan nya.


“Kan tadi Nana ke rumah Mama peri, terus ketemu Dady terus dikasih boneka ini ….”


“Hah? Ke rumah Mama peri?” tanya Ning heran.


“Iya, Ning … Semalam ibu mimpiin Diandra. Makanya tadi setelah mengantar Singgih ke bandara, ibu mampir ke makam Diandra … Dan disana kami bertemu Daniel ….”


“Jadi si kudaniel benar- benar sudah pulang,” gumam Ning dalam hati sembari tersenyum sumringah.


“Ning … Ning ….” Bu Asri menepuk pundak Ning.


“Iy iya, Bu kenapa?”


“Kamu mau pergi kemana? Biar diantar sopir ….”


“Enggak usah, Bu … saya mau pesan ojek online kok, hehehe ….”


“Masa sudah cantik begini dan pakai dress, kamu mau naik ojek? Udah diantar sama sopir aja ya …” Bu Asri memaksa.


“Tapi, Bu___”


“Sudah sana diantar sopir, jadi ibu juga akan tenang karena kamu gak pergi sendirian … Ibu sama Nana masuk dulu ….”


“Iya, Bu terimakasih … Eh, Bu … Pak Daniel beneran udah pulang dari luar kota?” tanya Ning memastikan.


“Iya, kan tadi saya bilang kami bertemu sama Daniel, dan dia habis nyekar dari makam mendiang papinya … Tapi kami gak sempat ngobrol, karena dia mau pergi katanya ….”


“Yess." Ning terlihat girang.


“Hah? Maksudnya?” Bu Asri nampak terkejut melihat ekspresi Ning.


“Eng enggak, Bu … Ini lagi lihat pesan di hape saya, hehehe … Saya pamit dulu ya, Bu … Assalamualaikum,” ucapnya lalu berpamitan sebelum ia keceplosan lagi.


“Wa’alaikumsalam … Hati- hati, Ning ….”


“Iya, Bu.” Ning menaiki mobil yang sebelumnya disediakan Athar untuk mengantar jemput Nana. Sang sopir pun melajukan mobilnya.


**


“Pak Sopir, berhenti di gang depan ya, soalnya kalau ke jalan utama bisa makin macet,” ucap Ning pada sang sopir.


“Siap non … Nanti saya parkir dimana?” tanya sopir.


“Gak usah, Pak sopir langsung pulang saja … Nanti saya pulang naik taksi, soalnya gak tahu urusan saya kelarnya kapan.”


“Baik, non …”


“Eng, kalau lagi gak ada Pak Daniel, panggil saya Ning aja gak usah pakai embel- embel Non segala,” pintanya.


“Takut keceplosan lagi, hehehe … Oh iya, kayaknya Bu Asri dan keluarganya gak tahu kalau Non ini pacarnya Pak Daniel, ya?” tanya sopir.


“Iya, kayaknya .. Biarin aja kayak gitu … Soalnya kalau mereka tahu, nanti malah ngerasa canggung, karena gak enak nyuruh- nyuruh saya ….”


“Oh, iya iya.” angguk sang sopir. “Di gang yang ini kan?” tanyanya memastikan sembari menepikan mobilnya ke pinggir.


“Iya, tuh ada teman saya udah nungguin … terimakasih ya,” ucapnya lalu turun.


“Akhirnya lo datang juga … Gue udah pegel tahu nungguin lo di sini,” sapa Ocha yang sudah menunggu kedatangan Ning.


“Sory tadi agak macet, biasa lah jalanan ibu kota ….”


“Busyet dah, lo mau ketemu si rentenir gendut burik aja sampai dandan cantik kayak begini ….”


“Hahaha, ciee udah punya gebetan nih yee … siapa siapa orangnya?” tanya Ocha kepo.


“Ntar deh gue kasih tau,” ucap Ning sembari menggeliat dan mengusap- usap tengkuk lehernya.


“Lo kenapa Ning, kayak agak pucat gitu?”


“Enggak apa- apa, cuman badan gue agak pegal- pegal aja.”


“Kalau lo sakit, mendingan lo periksa ke dokter … Lain kali aja nemuin si gendut kampret itu …”


“Gue gak apa- apa kok .. Udah yuk ah kita temuin si rentenir itu, gue gak punya banyak waktu nih ….”


“Yaudah kalau gitu, kita temuin si gendut kampret itu sekarang ….”


“Hahaha, lo paling bisa ya manggil nama orang….” ejek Ning.


Ning bersama Ocha berjalan menyusuri gang kecil menuju rumah bapaknya Ning. Karena dengan memotong jalan melewati gang itu, akan lebih cepat sampai.


Saat hampir sampai, terlihat ada dua mobil yang terparkir di depan halaman rumah Ning dan tetangga sebelahnya. Yang satu mobil CRV, dan yang satu lagi mobil Alphard yang mesinnya terdengar menyala. Sepertinya ada orang di dalam mobil Alphard tersebut. Ning dan Ocha berjalan melewati kedua mobil itu.


Langkah Ning terhenti saat ia menginjak halaman depan rumahnya. Hati siapa tak akan sedih, saat melihat rumah kedua orang tuanya yang kini berpindah tangan pada orang lain tanpa sepengetahuannya.


Meski semenjak kepergian orang tuanya rumah itu sudah tak memberinya kebahagiaan, namun tempat itu menyimpan begitu banyak kenangan bersama bapak dan ibu sambung yang begitu menyayanginya.


“Rumah ini terlihat seperti rumah baru setelah dicat dan di renovasi,” gumamnya dalam hati saat melihat bagian depan rumah.


“Maafin Ning, Bapak … Ning gak bisa menjaga peninggalan Bapak,” lirihnya sedih dalam hati.


“Ning, kok berhenti? Ini pasti berat buat lo ya? Kalau gitu kita balik aja yuk,” ucap Ocha yang melihat raut sedih di wajah sahabatnya itu.


“Gak usah Cha, siapa tahu orang itu berniat mengembalikan rumah ini … Mudah- mudahan aja bisa di cicil ….” ucapnya berharap. Ia mengambil ponsel dari dalam tas nya, lalu mengotak- ngatiknya, kemudian memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.


“Ning___”


“Udah yuk kita masuk … Nanti orangnya keburu pergi.” Ning kembali melanjutkan langkahnya menuju teras rumah.


“Loh, kok pintunya dibiarkan terbuka seperti ini?” tanya Ocha heran.


“Assalamu’alaikum ….” Ning memberi salam, kemudian munculah seorang wanita dari dalam rumah.


“Wa’alaikumsalam … Ocha ya, mari masuk … Suami saya sudah menunggu,” ucapnya mempersilahkan masuk.


Ning dan Ocha masuk ke dalam rumah mengikuti wanita itu. Keduanya dipersilahkan duduk, sedangkan wanita tadi masuk ke kamar.


Ning melihat sekeliling ruangan rumah yang sudah berubah. Cat nya diperbaharui, furniturnya pun terlihat lengkap dan serba baru hingga membuat rumah itu terlihat sempit. Kursi yang didudukinya begitu empuk.


Wanita yang tadi, muncul kembali bersama pria gendut yang dikatakan Ocha adalah seorang rentenir. Keduanya pun duduk di kursi yang terhalang oleh meja dari yang diduduki Ning dan Ocha.


“Apa mbak ini yang namanya Ningrat?” tanyanya tersenyum kaku.


“Iya … Kenapa? Lucu ya nama saya? sampai bapak tersenyum ngeledek gitu," sahut Ning ketus.


“Hehehe ….”


Ning mencebikkan bibirnya. Nampaknya ia tak ingin beramah tamah pada orang yang sudah merampas rumahnya.


“Bapak ada perlu apa dengan saya?” tanya Ning to the poin.


“Begini … seperti yang anda ketahui, jika Asep meminjam uang kepada saya sebesar 50 juta dan menjadikan rumah ini sebagai jaminannya … Sebenarnya saya tergolong nekad memberi pinjaman sebesar itu, karena Asep tak menyertakan sertifikat rumah ini … Dan dia malah kabur sehingga tak membayar hutang beserta bunganya, jadi saya ambil rumah ini,” ucapnya menjelaskan duduk perkaranya.


“Saya sudah tahu tentang hal itu? Apa bapak menyuruh saya datang hanya untuk mengatakan ini?” tanya Ning ketus.

__ADS_1


“Bukan … Justru saya ingin mengembalikan rumah ini pada saudari Ningrat,” ucap si rentenir.


“Apa? Maksud bapak, saya yang harus membayar hutang Mang Asep?” tanya Ning terkejut.


“Oh, bukan seperti itu … Eng, sebenarnya setelah beberapa hari saya menempati rumah ini, sering terjadi hal- hal aneh juga saya sering mimpi buruk didatangi seseorang. Sepertinya rumah ini angker, dan saya tidak mau lagi tinggal di sini…. Maka dari itu saya ingin mengembalikan rumah ini pada pemiliknya, yang katanya bernama Ningrat ….”


“Lalu saya harus membayar berapa? Apa bisa dicicil? Untuk sekarang saya belum punya uang sebanyak itu,” ucap Ning.


“Saudari Ningrat tidak perlu mengembalikan uang saya,” ucap sang rentenir.


“Jangan bilang Bapak berniat memaksa sahabat saya ini menikah dengan bapak?” tanya Ocha curiga.


“Oh tentu saja tidak … saya sudah berjanji pada istri saya akan sehidup semati bersamanya,” ucapnya menepis tuduhan Ocha.


“Lantas, kenapa Bapak bisa mengembalikan rumah ini begitu saja? Belum lagi rumah ini sudah direnovasi, pasti kan udah keluar biaya yang tidak sedikit,” tanya Ning yang tak yakin dengan ucapan rentenir itu.


“Apa anda mendengar juga tentang perampokan yang terjadi setelah dua hari Asep meminjam uang dari saya?” si rentenir malah balik bertanya.


“Ya, saya dengar kabar itu,” angguk Ning mengiyakan.


Pria itu menghela nafas sejenak. “Sebenarnya itu ulah anak buah saya.”


“Apa?” Ning dan Ocha terkejut.


“Iya, saya yang menyuruh anak buah saya untuk merampok uang yang dipinjam Asep,” si rentenir membuat pengakuan yang mengejutkan Ning dan Ocha.


“Apa? Maksud anda apa berbuat seperti itu? sama saja anda sudah menipu paman saya!!” Ning mulai emosi.


“Sebelumnya saya minta maaf … Saya hanya ingin memberi Asep pelajaran karena berusaha menipu saya … Tapi saya tidak tahu kalau rumah ini bukan miliknya, bahkan rumah ini angker … Jadi saya akan kembalikan rumah ini, karena uang yang dipinjam Asep pun sudah berada di tangan saya lagi ….”


“Anda benar- benar keterlaluan … Apa anda tahu bagaimana terpukulnya saya saat mengetahui rumah ini sudah disita bahkan tanpa sepengetahuan saya? Saya akan laporkan bapak ke kantor polisi atas tuduhan penipuan!! Dan saya sudah merekam percakapan kita ini,” ucap Ning mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan menunjukkannya pada rentenir itu.


“Jangan … jangan … Sekali lagi saya minta maaf … tolong jangan laporkan saya ke kantor polisi … Saya benar- benar minta maaf … Saya janji setelah mengembalikan rumah ini, kedepannya saya tidak akan mengusik rumah ini atau mengganggu saudari Ningrat dan keluarga,” ucapnya nampak takut melihat Ning memiliki bukti pengakuannya.


“Jadi anda benar- benar akan mengembalikan rumah ini tanpa Ning harus membayar apa pun?” tanya Ocha memastikan.


“Iya .” ucapnya dengan yakin.


“Lalu, bagaimana dengan biaya renovasi dan furniture yang ada di sini?” Ocha kembali bertanya.


“Eng, anggap saja itu sebagai kompensasi dari saya untuk menebus kesalahan saya … Jadi tolong jangan laporkan saya ke polisi,” ucapnya memberi penawaran.


“Tapi tetap saja Bapak harus bertanggung jawab. Jadi kami akan tetap melapor____” ucapan Ning dipotong oleh Ocha yang berbisik di telinga Ning.


“Ning, udahlah lo mending ikutin aja maunya dia … Bisa runyam urusannya kalau sampai ke kantor polisi … Lo juga kali yang untung … Lo gak usah bayar sepeser pun, tapi rumah lo udah bisa balik lagi beserta perabotan bagus ini,” ucapnya bisik- bisik tetangga.


“Saya mohon jangan laporkan kami ke polisi,” wanita yang bersama pria itu pun ikut memohon.


“Baiklah, saya tidak akan lapor polisi.” Ning akhirnya mengalah.


“Terimakasih saudari Ningrat,” ucap pria itu yang kemudian menyerahkan surat perjanjian hutang piutang dengan Asep pada Ning. “Ini surat perjanjian saya dengan Asep, saya kembalikan pada saudari Ningrat … Kalau begitu saya permisi, karena harus segera pergi ke luar kota,” ucapnya lalu berdiri bersama wanita itu.


“Ayok, beib kita pergi,” ajaknya menggandeng wanita itu.


“Kami permisi, Mbak….” keduanya pun bergegas pergi dengan terburu- buru. Sepertinya mereka takut jika Ning akan berubah pikiran.


“Ocha … gue lagi gak mimpi, kan?” Ning masih tak percaya jika rumahnya sudah kembali.


Pletak


“Awww …. Sakit, Cha.” Ning mengusap kepalayang dijitak Ocha.


“Nah itu artinya lo lagi gak mimpi ….”


“Aaaaahhhhhh …. Akhirnya rumah ini bisa balik lagi sama gue, Cha … tangan gue gemeteran gini, Cha….”


“Iya, gue ikut seneng, Ning … Ayo bangun, kita lihat- lihat seluruh isi rumah ini,” ajaknya menggandeng tangan Ning.


Keduanya melihat seluruh isi rumah sederhana itu. Mulai dari kamar yang dulu ditempati oleh Ning, kamar orang tuanya, dapur serta kamar mandi.


“Wah, rumah lo bener- bener berubah Ning … Bagus- bagus perabotannya juga… Pakai AC, kasurnya spring bed semua, dapurnya pakai kitchen set mini, kamar mandinya juga keren pakai shower yang ada air panasnya, dan itu juga pakai kloset duduk.” Ocha mengabsen semua pengisi rumah Ning.


“Lo ngerasa aneh gak sih? Kok si rentenir itu bisa balikin rumah ini begitu saja?” ucap Ning terheran- heran.


“Jujur gue juga ngerasa aneh … Tapi saat subuh tadi dia ke rumah gue kelihatan ketakutan banget, kayak abis dikejar setan, mungkin yang dia bilang bener … Kayaknya di dihantui sama almarhum bapak lo deh Ning." Ocha mengira- ngira.


“Ngasal aja lo kalau ngomong ….”


“Kalau lo takut, gue bisa nemenin lo tingal di sini … Terus biar aman, lo ganti aja kunci rumah ini, siapa tahu kan si gendut kampret punya duplikat kunci rumah ini …Lagian ya, jendela di rumah ini udah pada pakai tralis, jadi aman anti maling ….”


“Iya sih, lo bener … hk hk hk.” Ning tiba- tiba merasa mual, ia langsung berlari ke kamar mandi.


“Hek hoek hoek,” Ning memuntahkan isi perutnya.


“Ning lo kenapa?” tanya Ocha khawatir.


“Gue juga gak tahu … mual banget .. hoek hoek ….” Ning kembali muntah.


“O em ji, muka lo pucat terus mual muntah ….” Ocha membekap mulutnya sendiri yang ternganga.


“Ningrat!! Lo bunting??” pekiknya berkacak pinggang sembari melotot pada Ning.


“Sembarangan lo!! Gue belum nikah, mana bisa gue hamil?” hardik Ning kesal.


“Ya siapa tahu selama kemarin ngilang, lo udah tidur sama siapa gitu?” ucap Ocha.


“Sialan lo ... sahabat terkutuk!! Lo kan tahu banget gue kayak gimana? Lebih baik gue mati kelaparan daripada harus jual diri….” Ning menepis tuduhan Ocha.


“Terus kenapa dari tadi wajah lo kelihatan pucat, bilang gak enak badan, dan sekarang muntah- muntah... Itu tuh tanda-tanda kehamilan." Ocha memperjelas alasan tuduhannya.


Ning yang terlihat lemas baru menyadari hal aneh yang beberapa hari ini dirasakannya. Mulai dari gatal- gatal tapi gak ada beruntusan atau bekas gigitan nyamuk, sering merasa lelah, badannya pegal- pegal serta pusing, ditambah sekarang ia mual muntah.


Tiba- tiba wajahnya terlihat shock saat teringat ucapan Athar terakhir kali bicara di telpon dengannya.


“Aku tau loh kalau di dekat pusar mu ada tanda lahir, apa itu bentuknya aneh dan jelek.” ucapan itu terngiang jelas di telinganya.


“Hah? Enggak … enggak mungkin….” ucapnya masih dengan raut wajah shock dengan menggelengkan kepalannya berulang- ulang.


Dut dut dut dut rut….


Gas beracunnya pun tiba- tiba keluar begitu saja mencemari ruangan kecil itu. Ia lalu beranjak pergi dengan penuh amarah juga raut wajah takut, tanpa menghiraukan Ocha yang sepertinya keleyengan karena menghirup gas beracun mahakaryanya.


“Hoek … uhuk uhuk … Sahabat terkutuk lo!!” bentaknya kemudian bergegas pergi sebelum ia pingsan karna keracunan kentut beliung sahabatnya.


_


_


------------- TBC------------


********************


Happy Reading ….😉


-


monmaaf ngetiknya kepanjangan.... mau bersambung bingung dibagian mananya...🙏🙏


tilimikicih selalu menantikan kisah Ning Nong Neng jring...😉

__ADS_1


alapyualll😘😘


__ADS_2