
“Maaf dengan siapa ya?” tanya Ning pada seorang pria yang duduk di kursi teras. Pria itu pun langsung berdiri dan menyapa Ning.
“Selamat siang, Ibu Ningrat… Saya Hadi, kurir yang diutus untuk mengantarkan ini pada Anda….” Ucapnya memperkenalkan diri dan memberikan sebuah amplop coklat.
“Apa ini?” tanya Ning terheran- heran setelah menerima amplop tersebut.
“Saya tidak tahu isinya apa, karena saya hanya bertugas menyerahkan amplop ini kepada Ibu Ningrat… saya permisi, Bu…” ucapnya lalu pamit undur diri.
Ning terdiam sejenak menatap amplop yang sudah berada di tangannya itu, dengan tatapan heran dan penuh tanda tanya.
“Eh, tunggu… Ini dari siapa?” tanya Ning setengah berteriak, karena orang yang mengaku kurir tersebut bergegas pergi mengendarai sepeda motor nya. Ia pun tak bisa mengejar orang itu.
“Dasar aneh!!” gerutu Ning kesal. “ini apa ya? Arrhhh, gak mungkin deh kalau bom, masa tipis begini….” gumamnya heran.
Baru saja ia memutar tali yang melingkar pada pengunci amplop tersebut untuk membukanya, tiba- tiba terdengar suara derap langkah seseorang dengan aroma parfum yang sangat Ning kenal.
“Ning….” terdengar suara orang tersebut memanggil. Tatapan Ning yang sebelumnya terfokus pada amplop di tangannya, seketika menoleh pada asal suara yang dikenalnya.
“Mas Igih?” ucap Ning menebak, karena wajah pria tersebut terhalang oleh buket bunga yang berukuran cukup besar dipeganginya.
“Ini untuk kamu….” ucapnya memberikan buket bunga tersebut sembari tersenyum lembar.
Ning yang masih terkejut dengan kedatangan Singgih yang tiba- tiba, hanya diam melongo saja.
“Ning….”
“Iy iya… kenapa Mas?” jawab Ning terbata-bata.
“Ini untuk kamu….” ucapnya menyodorkan buket bunga tersebut.
“Oh, iy iya … terimakasih, Mas….” Ning menerima buket bunga tersebut, meski dirinya merasa bingung bercampur canggung.
“Kamu lagi sibuk gak?”
“Eng… enggak kok Mas….”
“Bisa kita bicara?”
“Eng… gimana kalau di rumah aja ngobrolnya? Gak enak kalau di sini….” Ning nampaknya tak ingin masal pribadi nya didengar oleh pegawainya.
“Oke….” angguk Singgih setuju.
“Sebentar ya, aku ambil tas dulu….” Ucapnya lalu bergegas masuk ke dalam. Ia menaruh amplop yang dari kurir tadi di atas meja kerjanya, lalu mengambil tas dan kembali lagi keluar untuk menemui Singgih.
Awalnya Ning mengajak Singgih untuk berjalan kaki saja ke rumah Ning, namun Singgih mengajaknya naik mobil saja agar sekalian parkir di sana.
Keduanya pun menaiki mobil Singgih untuk pergi ke rumah Ning, walau sebenarnya jarak dari tempat kerja ke rumah Ning terbilang sangat dekat dan hanya terhalang oleh beberapa rumah saja.
“Mari masuk, Mas….” Ning mengajak Singgih masuk ke dalam rumahnya, dengan pintu yang dibiarkan terbuka lebar. Singgih pun masuk dan duduk di kursi tamu.
Ning meletakan tas dan buket bunga di atas kursi, lalu pergi ke belakang dan kembali dengan membawa kan dua gelas orange jus, untuknya dan untuk Singgih. Diletakanlah kedua gelas itu di atas meja yang menjadi pembatas kursi tempat duduk mereka.
“Silahkan diminum, Mas….” ucap Ning yang duduk di sebelah tas dan buket bunga.
“Terimakasih, Ning….” Singgih mengambil orange jus tersebut, kemudian meneguknya, karena memang cuaca di luar sangat panas dan akan terasa segar setelah meminum yang dingin- dingin. Mungkin setelah minum, Singgih yang terlihat gugup dan canggung akan merasa lebih tenang berhadapan dengan Ning.
“Eng, Ning… Aku minta maaf, karena sebelumnya sudah berkata kasar dan menuduh mu yang bukan- bukan… Nana sudah cerita semuanya….” Singgih langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
Ning hanya terdiam, menyimak perkataan Singgih.
“Aku juga minta maaf soal kemarin malam… Aku tidak bermaksud mengacuhkan mu … Saat itu Richard meminta bantuan ku, karena jarum infusan ibunya terlepas dan darah mengalir dari tangannya….” ucapnya nampak dengan raut wajah penyesalan.
“Ibunya Richard?” tanya Ning mengerutkan dahi.
“Iya… Ibunya Ricard merupakan salah satu pasien ku… Beliau masih harus dirawat pasca operasi, tapi kekeuh ingin menghadiri pesta pertunangan putra semata wayangnya yang kebetulan merupakan teman sekolah ku dulu… Makanya aku menghadiri pesta itu, selain menerima undangan Richard, juga untuk berjaga- jaga akan kondisi kesehatan ibunya Richard....” ucapnya menghela nafas sejenak.
__ADS_1
“Aku benar- benar minta maaf Ning…Saat itu, aku ingin sekali menghampiri mu… Tapi sebagai seorang dokter, mengutamakan keselamatan pasien sudah menjadi tugas dan kewajiban ku….”
Ning hanya diam mematung, ia baru tahu alasan Singgih yang mengacuhkannya saat itu. Mau menyalahkannya pun tak ada gunanya, toh itu memang bukan kesalahan Singgih. Hanya saja, saat itu ia kecewa karena sudah menaruh harapan besar pada pria yang berstatus sebagai calon suaminya yang malah membiarkannya saat dipermalukan depan umum.
Ning menghela nafas panjang. “Mas tidak perlu minta maaf, lagi pula itu bukan kesalahan Mas Igih… Aku juga gak tahu kalau Mas Igih ada di pesta itu….” ucapnya tersenyum kaku.
“Jadi kamu memaafkan ku, Ning?” tanyanya penuh harap.
“Iya….” ucapnya mengangguk.
Singgih nampak merasa lega, karena akhirnya Ning bisa memaafkannya.”Terimakasih, Ning….” ucapnya tersenyum sumringah.
Ning hanya mengangguk tanpa mengucapkan apa pun. Namun senyuman Singgih luntur seketika, saat ia tak mendapati cincin yang sudah beberapa hari ini melingkar di jari tengah tangan kiri Ning.
“Ning… cincin mu kemana?” tanyanya dengan hati- hati, nampaknya ada rasa takut jika pertanyaanya kembali menyinggung Ning.
“Oh, iya…. Cincin nya ada di dalam tas….” Ning mengambil tas nya dan mengambil cincin yang kemarin ia simpan sesuai perintah Athar. “ Ini cincin nya….” ucapnya meletakan cincin itu di atas meja.
“Loh, kenapa tidak dipakai kembali?” tanya Singgih terheran- heran. “Oh, apakah kamu ingin aku yang memakaikannya?” ucapnya menebak dengan tersenyum.
“Eng… enggak, Mas… Sebaiknya cincin itu Mas bawa pulang saja….” Ning yang merasa bingung harus memulai dari mana untuk mengakhiri hubungan mereka, tiba tiba terbesit mengembalikan cincin lamaran itu.
“Apa? Maksudnya?” tanya Singgih heran.
Ning menghela nafas panjang. Ia memberanikan diri menatap mata Singgih. “Maaf, Mas… aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita….” ucapan itu pun lolos dari mulut Ning.
“Apa? Maksud mu kita putus? Tapi kenapa? Bukankah aku sudah meminta maaf dan kamu pun sudah memaafkan ku?” Singgih yang terkejut, tak bisa menerima begitu saja.
“Aku memang sudah memaafkan mu, Mas… Tapi, bukan berarti kita bisa melanjutkan hubungan yang tidak jelas dasarnya apa….”
“Maksud mu apa Ning? Bukankah kita sudah cukup lama saling mengenal… Bahkan kamu sudah dekat dengan ibu dan juga putri ku….”
“Apa Mas mencintai ku?” Ning memberanikan diri menanyakan hal yang selama ini membuatnya penasaran, dengan memberi Singgih tatapan tajam.
Deg
“Kenapa diam, Mas?” Ning menunggu jawaban langsung dari mulut Singgih.
“A aku… Eng, bukankah diantara kita sudah terjalin ikatan, kenapa kamu harus menanyakan hal itu?” Bukanya menjawab, Singgih malah bertele- tele.
“Mas tinggal jawab iya atau tidak saja kan, apa susahnya?” ucap Ning penuh ketegasan.
“Ning… aku… aku_____”
“Mas tidak mencintai ku… itu kan yang akan Mas Igih katakan?” ucapnya dengan terus menghujani Singgih dengan tatapan tajam, namun pria itu masih tak berani menatap Ning. Ia malah menundukan pandangannya.
“Aku memang bodoh… seharusnya aku menanyakan hal ini saat Mas Igih melamar ku….” ucapnya tersenyum getir. “ Sebaiknya memang kita akhiri saja hubungan kita yang tanpa didasari rasa cinta ini… Daripada ke depannya hanya akan menimbulkan luka….” ucap Ning lirih.
Singgih yang mendengar hal itu, mendongak menatap Ning dengan perasaan tak terima atas keputusan Ning.
“Kenapa? Apa karena Daniel?” tanyanya nampak mulai curiga.
Kini Ning yang membelakkan matanya karena terkejut dengan ucapan Singgih yang memang ada benarnya.
“Iya, memang benar… Karena aku mencintai Daniel, bahkan kami saling mencintai,” ingin rasanya Ning mengucapkan hal itu dengan lantang, namun sayang ia hanya bisa berteriak dalam hati.
“Karena aku tidak akan sanggup menjalani hidup berumah tangga dengan bayang- bayang wanita lain….” ucap Ning dengan intonasi penuh keyakinan. Ya, memang itu yang merupakan salah satu alasannya selain Daniel.
“Maksud kamu?”
“Sudah jelas- jelas Mas tidak mencintaiku, karena yang Mas cintai hanyalah Diandra seorang… Bahkan Mas menganggapnya seolah- olah Diandra itu masih hidup….” ucapannya terjeda.
“Apa Mas tahu apa yang ku sukai atau tidak? Bahkan Mas membawakan aku bunga mawar kuning ini, yang jelas- jelas adalah bunga kesukaan Diandra… Dan aku yakin setiap tahun Mas masih merayakan ulang tahun pernikahan kalian, iya kan?” cerocos Ning.
“Kamu… jadi kamu yang kemarin datang ke rumah ku, merusak pintu kamar ku, masuk ke ruang pribadi tanpa seizin ku, dan menulis di memo kalau Dayana sakit?” tanya Singgih yang kembali terkejut.
__ADS_1
“Iya… Aku dan Pak Daniel datang ke sana untuk mencari Mas Igih… Dan aku merasa sangat beruntung, aku mengetahui hal ini sesegera mungkin sebelum aku menikah dengan Mas… Dan cincin itu, sama persis dengan cincin milik Diandra….” Ning menunjuk cincin yang diletakan di atas meja. Ucapannya terjeda, untuk menetralkan emosinya.
“Pasti Mas Igih membeli cincin yang sama dengan ukuran yang sama dengan cincin Diandra… Makanya cincin itu kelonggaran di jari manis ku, iya kan… Aku ini Ning, bukan Dindra, Mas….”
“It itu____”
“Aku melihat jelas kosmetik di sana masih tersegel, itu artinya baru dibeli dan belum dipakai… Bahkan tanggal kadaluarsanya pun tiga tahun lagi… Pakaian wanita di dalam lemari mu tercium harum pewangi pakaian seperti baru dicuci dan disetrika… Sedangkan Diandra meninggal enam tahun yang lalu, seharusnya pakaian nya itu bau lemari, bukan?”
“Aku tidak bisa menikah dengan pria yang masih menganggap mendiang istrinya masih hidup… Aku juga butuh dicintai, dihargai, dan diperlakukan layaknya sebagai seorang istri yang disayangi suaminya… Bukan hidup dalam bayang- bayang wanita lain, Mas….”
“Kamu dan Daniel? Kalian pergi bersama ke rumah ku? Sebenarnya sejauh apa hubungan kamu dan Daniel?” Singgih malah menanyakan hal lain.
“Kami hanya pergi mencari Mas yang sulit dihubungi, sementara Bu Asri sangat mengkhawatirkan mu dan Nana juga sakit….” Ning mencari alasan untuk menutupi hubungannya dengan Athar. Ia berusaha menutupi kegugupannya melihat sorot mata Singgih yang nampak sudah mencuriagainya.
“Kamu yakin hanya itu?” tanyanya dengan tatapan menyelidik.
Deg
Ning mulai gelisah bercampur takut. Walau bagaimana pun, tak bisa dipungkiri sejak kemarin ia memang berselingkuh dengan Daniel. Namun ia tak ingin Singgih mengetahui hal itu, sebelum hubungan mereka benar- benar berakhir.
“Tidak perlu mengalihkan topik, kita sedang membicarakan urusan kita, Mas….” sergah Ning.
“Aku tidak mengalihkan pembicaraan, karena jelas ini ada hubungannya dengan Daniel….”
“Maksud Mas?” tanya Ning heran bercampur takut.
“Malam itu, setelah ibunya Richard membaik, aku meninggalkan beliau bersama seorang perawat dan aku pergi mencari mu… Aku bertanya pada beberapa orang, ada melihat mu pergi keluar… Aku mencari mu, dan saat tidak jauh dari halte bis, aku melihat mu sedang berpelukan dengan seorang lelaki… Meski aku hanya bisa melihat dari belakang tubuhnya, aku yakin itu adalah Daniel….”
Deg
Ning terkejut luar biasa mendengar pengakuan Singgih. Kini ia sudah tak bisa menyangkalnya lagi. Ternyata Singgih sudah mengendus perselingkuhan mereka.
“Bahkan aku melihat Ocha tak jauh dari sana sedang memperhatikan mu… Dia malah diam dan membiarkan kalian berdua …” ucapnya menghela nafas sejenak.
“Dan saat kalian berada di kamar Nana, kalian begitu akrab layaknya dua sejoli yang sedang menidurkan anak kalian… Pasti keputusan mu ini ada hubungannya dengan Daniel kan?”
“Apa Mas mengerti perasaan ku malam itu? Aku dipermalukan di depan semua orang karena membuat kekacauan dengan pakaian ku yang basah, tapi kamu yang merupakan calon suami ku malah mengacuhkan ku….” ucapnya dengan sekuat tenaga menahan gemuruh di dada yang menyesakkan mengingat kejadian itu.
“Aku memang pergi dari pesta itu, tapi aku sama sekali tidak tahu jika Pak Daniel ada di sana dan melihat aku dipermalukan… Bahkan aku juga tidak tahu, kalau ternyata pak Daniel lah orang yang mengenakan jas nya pada ku karena gaun ku basah… Dan Mas tahu, saat itu aku berharap Mas yang datang… tapi ternyata malah orang lain…. Secara reflex aku menumpahkan air mata ku di pelukan Pak Daniel….” ucapnya mulai terisak, tba- tiba air mata lolos begitu saja.
“Aku semakin yakin untuk mengakhiri hubungan kita, Mas… Bukan hanya tidak ada cinta diantara kita, tapi juga tidak ada kepercayaan… Sejak Mas menuduh ku wanita tidak benar, aku sudah mulai ragu untuk menikah dengan Mas… Padahal baru beberapa menit yang lalu Mas minta maaf, tapi sekarang____”
“Aku minta maaf, Ning… aku hanya tidak suka wanita ku di ganggu oleh pria lain….” Ucapnya terus terang. Sepertinya ia sedang cemburu, tapi bingung untuk mengatakannya secara gamblang. Tapi caranya menghindari Ning, hanya membuatnya terlihat seperti anak kecil.
Ning menghela nafas berat hingga beberapa kali, dengan tangan yang menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya.
Singgih yang melihat hal itu, bangkit dan menghampiri Ning. Ia menggeserkan meja, kemudian berlutut di hadapan Ning. Digenggamnya kedua tangan Ning.
“Ning, tolong maafkan aku… Tolong beri aku kesempatan untuk berubah… Kita mulai lagi lembaran baru, aku akan membuang jauh- jauh rasa cinta ku pada Diandra dan akan mulai mencintai mu….” ucapnya memohon.
Ning tertegun mendengar permohonan Singgih. Ia nampak tak tega melihat wajah memelas Singgih. Penyesalan pun terlihat jelas pada raut wajah tampannya itu.
“Tolong beri aku kesempatan, Ning….” Singgih kembali memohon dengan tulus dan penuh harap.
“Aku_______” Ning yang terlihat bimbang, membuatnya tak bisa berkata- kata.
-
----------------- TBC ---------------
****************************
-
-
__ADS_1
Happy Reading….