NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Duda Beda Dari Yang Lain


__ADS_3

Ternyata dia sudah punya anak ….” gumam Ning dengan ekspresi wajah terkejut dan membekap mulutnya yang ternganga.


“Jadi itu sebabnya dia tidak tinggal di rumah nyonya besar ….”


“Berarti kalau dia sudah punya anak … dia juga sudah punya istri ….”


“Astoge … bego banget sih lo Ningrat … Emangnya yang ngeberanakin anaknya dia siapa kalau bukan istrinya … bego bego bego ….” Ning menggerutuki dirinya sendiri dengan menjitak kepalanya.


Pikiran Ning dipenuhi dengan berbagai anggapan terhadap si om tamvan yang terlihat sedang menggendong anak yang memanggilnya Dady itu. Matanya terus tertuju pada kedua orang tersebut, masih dengan ekspresi wajah terkejut.


Saat Athar secara reflex melihat ke arah Ning yang berdiri di atas trotoar depan pagar halaman sekolah itu, Ning dengan segera membalikan tubuhnya karena tak ingin Athar melihat dirinya.


Ia kembali duduk di kursi panjang yang menghadap ke arah jalan dengan perasaan panik karena takut ketahuan.


“Aduh … gimana ini .. semoga si om tamvan tidak melihat wajah ku … bisa disangka paparazi kalau ketahuan ….” Ning malah kalang kabut dan panik sendiri.


Dut … Durut dut …


“Alamak …. Ini kenapa si kentut tiba- tiba keluar dari goa nya sih … bisa bikin huru hara di tempat jajanan makanan gini …“ Ning menggerutu kesal dengan suara pelan.


“Ihh .. bau banget sih … Mbak cantik- cantik kok kentut sembarangan … Nanti susah dapat jodoh loh …” protes si ibu penjual jus dengan jari tangan yang menutup hidungnya.


“Iya ih, si Neng jorok banget ….” Tukang siomay pun ikut berkomentar sembari menutup hidungnya. Karena Ning duduk diantara kedua penjual itu.


"Pergi pergi !!! dagangan kami bisa tercemar ini ..." pedagang kue balok langsung mengusir Ning.


“Maaf maaf Bu, Pak … tiba- tiba saya sakit perut … permisi ….” Ning pun bangkit sembari memegang perutnya, lalu ia menyebrangi jalan untuk kembali ke sekolahan Sheryl dengan terus memikirkan si om tamvan.


**


Berbeda dengan saat berangkat, Ning memikirkan si om tamvan dengan hati berbunga- bunga. Justru kini saat pulang, ia memikirkan si om tamvan dengan penuh tanda tanya dan juga disertai rasa kecewa. Mungkin karena si om tamvan yang membuatnya kesemsem itu sudah memiliki istri dan anak.


“Pupus sudah harapan ku ….” gumam Ning dalam hati, ia menghela nafas berat. Ia terlihat melamun.


Ning mengerjapkan matanya saat mendengar suara sirene ambulan. Membuatnya tersadar dari lamunannya.


“Ya ampun ... Sadar Ning sadar ,,, lo itu cuma pelayan … kenapa berani banget memikirkan anak majikan lo sampai lo berharap sama dia ….” Ning menggerutuki dirinya sendiri dalam hati.


Sesampainya di rumah, Ning menemani Sheryl bermain masak- masakan di ruangan khusus tempat bermain untuk Sheryl.


Di sana ada beberapa wahana permainan juga segala jenis mainan dan tak lupa berbagai jenis boneka.


“Mbak Ning Nong, sini duduk di kursi!!” ajak Sheryl pada Ning yang sedari tadi berdiri bak patung pancoran.


“Baik, Non …” Ning pun duduk di kursi anak- anak yang di tengahnya terdapat sebuah meja.


“ini aku udah masakin nasi goreng telur mata sapi.” Sheryl menyodorkan piring mainan berisi miniature makanan lengkap dengan garpu dan sendok plastik.


“Hah, mana nasi goreng nya? Kok cuman ada telur ceplok nya aja, Non?” tanya Ning heran.


“Iiih, ini telur mata sapi bukan telur ceplok!!” Sheryl meralat ucapan Ning.


“Sama aja, Non ….”


“Beda !!” ucap Sheryl kekeuh.


“Sama ….” Ning pun tak mau mengalah.


“Beda Iiiihhh ….” Bentak Sheryl melotot sembari menghentakkan kakinya.


“Iya iya beda, beda namanya aja kalau bentukannya sama … Terus mana ini nasi gorengnya?” Ning mengalihkan pembicaraan, karena jika berdebat dengan anak kecil itu, tak akan ada habisnya. Ujung- ujungnya kalau gak kalah, ya anaknya menangis.


“Kan nasi gorengnya ketutup telur mata sapi … Udah makan aja sih jangan banyak protes melulu … Aku juga kalau dibawain makanan sama Mbak Ning Nong suka dimakan, wle ….” cerocos Sheryl, lalu ia berlari ke arah belakang Ning.


Ning mendengus kesal.


“Iya iya iya …. Gini deh kalau main sama anak kecil … Banyakan halu nya … Mending main sama si dinosaurus … Berantem berantem sekalian, anak ini mah gak bisa dilawan, musti ngalah mulu …”


“Jadi kau ingin bermain bersama ku? Ternyata diam- diam kau merindukan ku ya, Cung.” terdengar suara seseorang yang dirindukan Ning.


“Aduh … Ada apa dengan kepala ku ini?? Kenapa tiba- tiba aku mendengar suara si dinosaurus menyebalkan itu … hufhh”


“Apa jangan- jangan karena aku kelamaan tinggal di rumah sakit jiwa mevah ini dan bergaul dengan orang- orang gila di sini … Aaaaaarrhh … pergi sana .. Jangan mengotori pikiran ku yang masih suci ini ... !!!” Ning menggerutu kesal.


“Kurang ajar kau!! Berani sekali mengatakan kalau rumah ini rumah sakit jiwa dan semua orang di rumah ini gila!!” bentak Dino kesal.


Perlahan ia menoleh ke belakang, lalu secepat kilat ia menghadap ke depan lagi setelah melihat Dino benar- benar ada dan berdiri di belakangnya.


“Alamak … si dinosaurus benar- benar ada di sini ternyata ….” jerit Ning dalam hati.


“Ahahahahahaha … Mbak Ning Nong takut sama kakak Dinosour … Katanya kak Dinosour suka kalah kalau bermain apa pun sama mbak Ning nong” Sheryl menertawakan Ning dengan renyahnya.


“Kurang ajar … bocah sundel itu ternyata sengaja tidak memberi tahu ku kalau ada si dinosaurus di belakang ku … pakai ngadu segala lagi … Dasar kutu kuprettt ….” Ning menggerutu kesal dalam hati.


Dino menghampiri Ning yang menundukkan kepalanya. Ia lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Ning dan hanya terhalang oleh meja. Sedangkan Sheryl pergi ke meja lain dan kembali memasak untuk kakaknya.


“Katanya ingin bermain dengan ku yang menyebalkan dan selalu kalah dalam hal apa pun? Kenapa setelah aku di sini kau malah diam?” tanya Dino lalu tersenyum menyeringai melihat Ning yang kikuk.


“Si siapa juga yang ingin bermain dengan mu?” Ning mengambil mainan bentuk telur ceplok dari atas piring yang disajikan oleh Sheryl lalu menggigitnya.


"Apaan sih nih keras banget!!”


“Hahahaha, kau itu benar- benar bego ya … Mainan kok dimakan!” ejek Dino.

__ADS_1


Ning membelakan matanya dan baru menyadari kebodohannya. Sementara Dino tak hentinya menertawakan Ning.


“Tertawa saja tertawa … hobi mu memang menertawakan kesalahan orang lain … Sementara saat kau melakukan kesalahan, malah orang lain yang kena imbasnya.” Gerutu Ning kemudian mendengus kesal.


Dino seketika menghentikan tawanya. Ia pun terdiam dan menatap Ning. Wajahnya tiba- tiba menampakan raut bersalah. Sepertinya Dino sudah mengetahui insiden penamparan nyonya besar pada Ning. Ia menghela nafas panjang sejenak.


“Maaf ….” ucapnya singkat.


Ning menegakkan kepalanya dan menatap Dino dengan raut wajah terkejut.


“Apa?”


“Aku minta maaf.” Dio mengulang perkataannya dengan ekspresi datar.


“Hah? Apa aku tidak salah dengar?” Ning kembali bertanya.


“Tentu saja tidak … itu pun jika kau tidak tuli!” Kini Dino yang merasa kesal, karena permintaan maafnya tak kunjung di respon.


“Tuan muda Dino seorang yang egois dan keras kepala serta selalu ingin menang sendiri, meminta maaf pada seorang kacung seperti ku … Apa kepala mu geger otak setelah dirawat kemarin?” Ning balik mengejek Dino.


Dino mendengus kesal, lalu memalingkan wajahnya.


“Idih … Gitu aja ngambek ….” Ning mencebikan bibirnya.


“Terserah ….” Dino bangkit, ia lalu beranjak pergi meninggalkan tempat bermain Sheryl itu.


“Iiiiihh, Mbak Ning Nong nakal … Kak Dinosour kan jadi pergi, aku kan udah bikinin pizza …”


“Uluh uluh … Non ini tidak adil sekali … Masa Mbak Ning dikasih nasi goreng telur ceplok, sedangkan Dinosaurus dikasih pizza … Harusnya dinosaurus itu dikasih lalapan,” ucap Ning memberikan


saran.


“Hah, lalapan itu apa?” tanya Sheryl bingung.


“Itu semacam daun singkong, daun papaya, selada, yang hijau- hijau gitu Non.”


“Seperti rumput maksudnya? Kak Dinosour itu kan kakak aku, bukan kambing ….”


“Eh, iya lupa … sini Mbak Ning aja yang makan pizza nya.”


“Gak boleh!! Ini makanan orang kaya ….”


“Etdah … makanan mainan pun ada kasta kasta nya … Bener- bener nih anak udah terkontaminasi kewarasannya ….” gumam Ning dalam hati sembari menggelengkan kepalanya.


Ning tiba- tiba teringat dengan hal yang ingin ia tanyakan tentang Athar.


“Eh Non, si om tamvan itu sudah menikah ya?” tanya Ning tanpa basa- basi.


“Hah? Menikah ?” Sheryl nampak bingung.


“Menikah itu apa?”


“Haduh … bego banget sih gue … dia ini kan anak TK mana tahu soal begituan ….”


“Eh, enggak kok … Mbak Ning salah bicara … ayok kita main lagi.” ajak nya.


Ning pun kembali menemani Sheryl bermain. Nampaknya rasa penasarannya sudah sampai di ubun- ubun. Entah mengapa rasa kepo nya semakin meningkat yang membuatnya berencana untuk menanyakan hal tersebut pada pelayan lain, karena ia tak mendapatkan informasi yang ia cari dari Sheryl.


Usai bermain, Sheryl merasa ngantuk dan Ning pun mengantarkannya ke kamar. Setelah Sheryl tertidur, Ning menyelimutinya kemudian beranjak keluar dari kamar.


Baru saja menutup pintu, ia bertemu dengan Utari yang baru keluar dari kamar Athar yang berada tepat di sebelah kamar Sheryl.


“Utari … kamu sedang apa di kamar Tuan Athar?” tanya Ning heran.


“Baru selesai membersihkannya ….”


“Apa Tuan Athar akan menginap di sini?” Ning seolah mengharapkan hal itu.


“Enggak … Beliau tidak suka kalau kamarnya kotor, jadi setiap hari selalu dibersihkan walau jarang ditempati … Tadi aja pagi- pagi sekali datang hanya untuk menjenguk tuan muda dan nyonya besar. Setelah itu pergi lagi, bahkan tanpa ikut sarapan dulu bersama yang lain.”


“Oh, gitu ya … Eng_____” Ning nampaknya igin menanyakan hal lain tentang Athar. Namun Utari menggandeng tangan Ning dan membuatnya mengurungkan niat untuk bicara.


“Ayok kita ke bescame, sudah waktunya makan siang … Bisa bahaya kalau terlambat, nanti gak boleh makan sendiri.”


Ning pun pergi bersama Utari ke tempat makan para pelayan yang waktunya sudah terjadwal. Nampaknya ada merasa trauma takut kelaparan seperti saat ia baru bekerja di rumah itu, sehingga ia tak mau terlambat lagi.


“Utari … ada yang ingin aku tanyakan pada mu ….” bisik Ning yang baru selesai mencuci bekas makan siangnya. Ia sengaja mengekori Utari sejak makan siang tadi. Ia yang biasanya makan dengan cepat pun, menjadi lambat mengikuti Utari.


“Bicara saja … apa susahnya?”


“Tapi jangan di sini.” ucap Ning.


“Yasudah, ayok kita keluar … sekalian aku juga mau ke kamar belum shalat.” ajak Utari.


“Iya aku juga sama ….”


Keduanya pun berjalan menuju kamar mereka yang berdekatakan. Ning melihat kesana kemari seolah ingin memastikan tak ada yang mendengar percakapan mereka.


“Ada apa sih? Kamu mau tanya apa?” Utari nampaknya ingin segera menjawab.


“Em, gimana kalau kita shalat dulu aja …” Ning sepertinya merasa takut dengan apa yang akan ia tanyakan.


“Baiklah, aku ke kamar ku dulu.” Utari pamit undur diri

__ADS_1


“Oke ….” Ning pun masuk ke kamar nya. “Kenapa jadi deg- degan gini mau nanyain soal status si om tamvan doang … Ya aampun … ada apa dengan ku ini??”


“Sudahlah mending shalat dulu,” ucapnya lalu masuk ke kamar mandi.


Tok tok tok …


“Ning … udah belum shalat nya?” ucap Utari dari balik pintu.


“Iya ….” Sahut Ning yang baru menyimpan alat shalat yang sudah di lipatnya ke dalam lemari pakaian miliknya. Ning pun membukakan pintu yang tadi sempat dikuncinya.


Ceklek …


“Jadi mau tanya apa?” ucap Utarai pada Ning yang baru saja membuka pintu.


“Ayok masuk dulu ….” ajak Ning sembari melihat ke sana -ke mari.


“Jangan bilang mau pinjam duit?!” Utari menaruh curiga saat melangkah masuk ke dalam kamar Ning.


“Enggak lah … Duit ku masih cukup kok.”


“Terus ada apa dong?” Utari jadi penasaran dibuatnya..


“Eng … Tapi jangan menertawakan ku, ya? Aku hanya penasaran dengan apa yang kulihat tadi pagi. Aku ingin menanyakan sesuatu pada mu.”


“Iya tanya apa? Astaga … dari tadi susah amat ngomongnya?" Utari mulai kesal.


“Emm … Kamu kan sudah lama kerja di sini. Pastinya kamu tahu sesuatu," ucap Ning masih bertele-tele.


“Banyak yang ku tahu … Tapi tahu apa dulu ini? Gak jelas banget sih nanya nya … cepetan nih … aku kebelet.” gerutu Utari kesal.


“Kebelet pengen pipis?” tanya Ning.


“Kebelet pengen jawab … gretet banget dari tadi gak jadi- jadi nanya nya.” ucapnya kesal.


“Hehehehe … Emm, gini Utari … Em, apa Tuan Athar itu sudah menikah?” Ning akhirnya berani menanyakan hal itu.


“Apa? Hahahahhaha.” Utari tertawa dengan renyahnya.


“Kenapa kau malah tertawa?” tanya Ning heran.


“Astaga Ning … kirain mau nanya apaan, dari tadi kayaknya raut wajah mu serius banget …” Utari masih terus tertawa.


“Bukannya jawab, malah tertawa … Tadi katanya kebelet pengen jawab ….” Ning kini yang merasa kesal.


“Hahahahaha … iya iya iya … Tuan Athar itu sudah menikah beberapa tahun silam.”


“Apa??" Ning terkejut mendengarnya.


“Iya.” Utari mengangguk.


“Tapi, selama satu bulan lebih aku bekerja di sini, rasanya tak pernah melihat istrinya … Malahan dia waktu itu meminta ku untuk jadi_____” Ning segera tersadar dan tak melanjutkan ucapannya.


“Jadi apa? Pacar pura- pura nya saat di hadapan Non Falesha dulu?” ejek Utari.


“Hehehehehe ….” Ning merasa malu dibuatnya.


“Sial … dari mana Utari bisa tahu akan hal itu?” gumam Ning dalam hati.


“Tuan Athar itu memang sudah menikah … Tapi istrinya sudah meninggal ….” Utari melanjutkan info yang di berikannya.


“Apa? Iyyes … “ Ning nampak senang.


Utari tercengang melihat Ning bertingkah seperti itu.


“Eh, Innalilahi wainailahi rajiuun ….” Ning yang keseplosan bersorak kegirangan, meralat mengucap innalilahi.


“Berarti tuan om … eh tuan Athar itu Duda dong?” tanya Ning menyimpulkan.


“Iya … Tapi Duda beda dari yang lain ….” ucap Utari.


“Hah? Beda dari yang lain gimana maksudnya?” tanya Ning heran.


“Jadi, Tuan Athar itu duda tapi ______” belum selesai Utari berbicara, tiba- tiba ada yang memotong obrolan mereka berdua.


“Ning … Nona Sheryl berteriak- teriak memanggil mu tuh ….” Ucap Tini yang datang tanpa permisi juga tak mengetuk pintu, karena pintunya memang terbuka.


“Iya, saya segera ke sana … Terimakasih Tini ….”


“Hmmmm …” Tini melengos begitu saja.


“Utari, aku pergi dulu ya ….” ucap Ning.


“Aku juga akan kembali bekerja.”


Keduanya pun beranjak pergi meninggalkan kamar menuju tempat yang berbeda, karena tugas keduanya pun bereda.


---------------------- TBC -----------------


********************************


Happy Reading ….😉


Jangan luva tingal kan jejak mu, para reader yang kece badai ….😍🥰🤩

__ADS_1


Tilimikicih …. 🥰🥰


Alapyu All …. 🥰🥰🥰


__ADS_2