NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Menyerah Dan Tak Sanggup Lagi ...


__ADS_3

“Emh ….” Athar dengan segera menutup hidungnya untuk menghindari agar tak menghirup gas beracun yang membahayakan dirinya.


Ia segera bangkit dan bergegas mencari sesuatu dari dalam laci di sebelah tempat tidurnya.


Srottttttttt … Srottttttt ….


Athar pun menyemprotkan pengharum ruangan pada kamarnya, terutama pada dekat tempat tidurnya.


Karena ia tak sanggup menahan nafas lagi, ia pun segera berlari dan masuk ke kamar mandi.


Athar yang tadinya sudah sangat mengantuk karena lelah setelah seharian bekerja dan ingin segera tidur, akhirnya memutuskan untuk mandi sekalian menunggu gas beracun nya hilang terganti dengan pengharum ruangan yang sudah ia sebarkan.


Ning yang sebelumnya sudah tidur lelap pun kini menjadi segar bugar. Rasa kantuknya hilang terganti dengan rasa kesal yang luar biasa. Karena ini kali pertamanya ada seorang pria yang tidur di sampingnya dan sudah berani meraba- raba dirinya.


“Brengsek … sialan … kurang ajar … Dasar mesum … dasar mesum!!!” Ning tak hentinya mendumel mengutuk om tamvan yang selama ini di kagumi nya.


“Aku pikir si tuan om itu berbeda dengan orang- orang yang ada di rumah ini … Ternyata sama saja… Malahan dia lebih gila … Mentang- mentang sudah lama menduda, dia pikir bisa macam- macam pada ku dengan seenak jidatnya apa ….”


Ceklek …


Terdengar suara pintu terbuka. Dan ternyata si tuan om sudah selesai membersihkan dirinya. ia keluar dengan menggunakan handuk kimono ti tubuhnya.


Ning yang melihat kedatangannya segera bangkit dan berdiri di sebelah tempat tidur.


Athar berjalan menghampiri dengan tatapan hanya tertuju pada Ning.


“Bagus … akhirnya kau keluar juga ,,, ingin sekali aku menghajar mu yang dan mematahkan tangan mu yang kegatelan itu,” gerutu Ning dalam hati dengan menatap kesal pada Athar.


“Berani sekali kau tidur di kamar ku!!” seru Athar dengan nada ketus.


“Apa? Sa saya_____” Ning terkejut melihat Athar yang malah marah pada dirinya.


“Ya ampun … kenapa aku bisa lupa kalau ini adalah kamar tuan om … Berarti, di sini aku yang akan di salahkan ….” gumam Ning dalam hati. Ia baru teringat tempat kini ia berdiri dimana.


“Selama ini aku pikir kau ini wanita baik- baik … Tapi ternyata____”


“Maksud Tuan apa bicara seperti itu?” Ning langsung memotong ucapan Athar.


“Maksud ku apa? Aku yang harusnya bertanya pada mu … Apa maksud mu tidur di kamar ku, hah? Apa kau ingin menggoda ku?” Athar mulai berprasangka buruk pada Ning.


“Apa? Sa saya tidak____”


“Tidak apa, hah?” Athar kini yang memotong ucapan Ning.


“Sebelumnya aku pernah meminta mu menjadi pacar pura- pura ku, bukan berarti karena aku menyukai mu … Jadi kau tidak usah terlalu percaya diri dengan beraninya menggoda ku di kamar ku sendiri!!” cerca Athar semakin marah.


“Saya tidak____”


“Sekarang aku tahu, dulu kau bersedia menjadi pacar pura- pura ku saat aku tawarkan padamu bayaran seratus juta … Tiba- tiba kau menolaknya, ternyata kau ingin lebih dari itu. Kau ingin menjebak ku di kamar ku sendiri agar aku menjadi milik mu begitu, hah??”


Ning membelakan matanya mendengar perkataan Athar. Ia tak percaya Athar berpikiran seperti itu tentang dirinya. Namun ia hanya bisa diam mematung mendengarkan segala makian dan tuduhan yang Athar lontarkan pada dirinya, karena Athar tak memberinya kesempatan untuk memberi penjelasan.


Bibirnya tiba- tiba kelu tak bisa berucap apa pun. Hatinya serasa tercabik- cabik hingga membuat matanya berkaca- kaca. Namun dengan sekuat tenaga ia menahan dirinya agar tak menangis di hadapan Athar yang terlihat begitu murka pada dirinya.


“Ternyata, kau wanita macam itu … Wanita murahan yang rela melakukan apa pun demi uang … Jangan bermimpi aku akan jatuh pada perangkap mu!!” bentak Athar dengan menunjuk wajah Ning dengan tatapan tajam.


Tubuh Ning tiba- tiba terasa lemas, kakinya seolah tak sanggup menopang tubuhnya. Ia menjatuhkan diri hingga duduk di sisi tempat tidur yang berada di belakangnya.


“Papa … Papa … Nana sayang Papa …” tiba- tiba Nana yang sejak tadi tertidur pulas memanggil- manggil papa-nya.


Betapa terkejutnya Athar mendengar suara anak itu. Karena sejak tadi ia hanya fokus pada Ning dan tak menyadari keberadaan Nana di dalam kamar nya. Ia mengarahkan pandangannya pada Nana.


“Nana ….” ucapnya masih dengan raut wajah terkejut. Ia lalu kembali menatap Ning yang baru saja bangkit dan berdiri.


“Bagaimana bisa Nana ada di sini???” tanyanya dengan tatapan tajam.


“Tuan tanyakan saja pada Nyonya Rosmala … Saya permisi ….”


Ning bergegas pergi meninggalkan kamar tersebut tanpa menoleh sedikit pun pada Nana atau pun Athar. Rasa sakit dalam hatinya membuatnya tidak tahan berlama- lama di tempat itu. Ia pun keluar dengan bercucuran air mata yang sudah tak terbendung lagi.


Ia terus melangkahkan kakinya dengan menundukkan kepala. Telapak tangannya tak henti menghapus jejak air matanya yang mengalir deras. Hingga tak terasa ia pun sampai di depan pintu kamarnya lalu masuk sesegera mungkin. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya.


Ceklek


Blamm ….


Ning menempelkan punggungnya pada pintu yang sudah dikuncinya. Ia memerosotkan tubunya hingga duduk di lantai dan bersandar pada pintu dengan air mata yang mengalir deras tiada henti.


Tak disangka, ia akan mendapatkan penghinaan yang begitu menyakitkan dari orang yang selama ini ia anggap baik dan dikagumi nya. Ia pun terus menangis hingga tertidur di lantai dengan membawa luka dan kesedihan yang amat dalam.


**


Keesokan harinya, setelah shalat subuh dan membersihkan diri, Ning bersiap untuk kembali ke rutinitasnya menjadi pengasuh Sheryl.

__ADS_1


Meski berat baginya untuk pergi ke kamar Sheryl yang berdekatan dengan kamar Athar. Karena rasa sakitnya masih begitu membekas dalam hatinya. Ucapan Athar masih terngiang- ngiang di telinganya.


Ning diam termenung menatap dirinya pada pantulan cermin. Air matanya tiba- tiba menetes begitu saja.


“Kau harus kuat Ning … Kau harus kuat …” ucapnya menguatkan dirinya sendiri sembari menghapus jejak air matanya.


Ting ting


Terdengar suara dari ponsel Ning. Ia pun mengambil kemudian membuka pesan yang masuk.


Nyonya Lampir


“Mulai hari ini kau kembali jadi pelayan pribadi Dino”


“Susi, pengasuh Sheryl sudah kembali semalam.”


Ning


“Tapi kata Nyonya Besar saya tidak boleh jadi pelayan Tuan Muda lagi.”


Nyonya Lampir


“Saya sudah bicara dengan Mami, dan beliau menyetujuinya.”


“Pagi ini Dino akan kembali belajar … Awasi dia.”


Ning


“Baik, Nyonya.”


Ning akhirnya bisa bernafas lega, karena ia tak perlu ke kamar Sheryl yang sedari tadi ingin dihindarinya. Ia pun kembali merapikan diri dan bergegas keluar menuju kamar Dino.


Nampak ada rasa bahagia tersirat di wajahnya. Sepertinya ia memang lebih suka menjadi pengasuh Dino, walaupun mereka sering ribut dan tidak akur.


Tok tok tok ….


“Siapa!?” seru Dino dari dalam kamar.


Ning tak mengeluarkan suaranya. Nampaknya ia berniat memberi kejutan pada dinosaurus nya itu.


Tok tok tok ...


Ning kembali mengetuk pintu.


“Sudah ku bilang jangan bangunkan ak____” Dino terkejut melihat keberadaan Ning di hadapannya. “Kau ??”


“He em ….” Ning menganguk sembari tersenyum.


“Mau apa kau ke sini? Sana urus saja adik ku!” ucap Dino hendak menutup pintu, Namun Ning menahannya.


“Tidak mau ... karena Nyonya Ros menyuruh ku jadi pengasuh Tuan Muda lagi.”


Dino mendengus kesal. “Aku ini bukan bayi … Tidak perlu pengasuh ….”


“Ya mau bagaimana lagi … ini sudah perintah Nyonya Ros … Mana bisa aku menolaknya.”


“Heh … Rupanya kau itu lebih senang mengasuh pria dewasa ya, ketimbang anak kecil….” Dino mencebikkan bibirnya.


“Ya … Tentu saja, jadi aku tidak perlu banyak mengalah kalau berdebat dengan mu… Itu jauh lebih menyenangkan,” ucap Ning dengan santainya.


“Terserah ….” Dino melengos begitu saja.


“Hei, kau jangan tidur lagi … Cepat sana mandi … Nanti Guru pengajar mu akan datang pagi ini.” Ning masuk dan langsung mengeluarkan perintah.


“Kau saja sana yang belajar … Aku tak perduli.” Dino tak menghiraukannya dan kembali berbaring di atas tempat tidur.


“Ya ya ya, baiklah … aku akan menyebarkan video konyol mu ke youtube sekarang juga?” Ning mulai memberi ancaman pada anak asuh bandelnya itu. Seketika Dino pun bangkit dan berdiri.


“Kau!!” ucapnya menunjuk wajah Ning dengan tatapan kesal.


“Sudah sana mandi !!” Ning tak menghiraukan Dino yang sudah terpancing kemarahannya.


“Dasar si tukang ngancam!” Dino menggerutu kesal. Namun akhirnya ia pun dengan terpakasa pergi ke kamar mandi, walau sebenarnya ia masih merasa ngantuk. Sementara Ning menunggu di luar di depan pintu kamar Dino.


Setelah beberapa saat Dino pun keluar dari kamarnya. Ia pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya, sementara Ning ke tempat makan para pelayan.


Tak seperti biasanya, Ning yang selalu lahap makan, kini hanya makan sedikit dan malah menatap kosong pada makanan di atas piringnya. Nampaknya ia masih memikirkan perkataan Athar semalam sehingga membuatnya tak berselera makan.


“Ning, kenapa masih di sini? semua orang sudah pada pergi,” Utari menepuk pundak Ning yang terlihat melamun.


“Hah? Apa?” Ning terperanjat membuyarkan lamunannya.


“Semua orang sudah pergi untuk bekerja. Ayok kita pergi,” ajaknya.

__ADS_1


“Iy iya ….” Ning pun bangkit dan pergi setelah membersihkan bekas makannya.


Saat melewati ruang makan, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Athar yang baru masuk ke ruang makan. Namun Athar segera membuang muka saat keduanya tanpa sengaja saling bertatapan. Ning pun melanjutkan langkahnya dengan menundukan kepalanya, hingga ia sampai di depan pintu ruang belajar Dino.


“Sedang apa kau bengong di depan pintu? Ayok masuk … Guru nya sudah ada di dalam.” Cerocos Dino.


“Iya.” Ning mengikuti Dino masuk ke dalam dengan langkah gontai dan wajah lesu. Ia menemani Dino belajar hingga selesai.


“Tumben dia tidak melarang ku bermain ponsel? Biasanya selalu galak dan melarang ku ini itu saat aku belajar dan guru ku masih ada di sini….” gumam Dino dalam hati yang melihat perubahan sikap Ning yang tiba- tiba.


“Sepertinya memang karena semalam,” gumamnya lagi lalu tersenyum sinis.


Tak hanya sampai di situ, Ning mendadak menjadi pengasuh patuh yang melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Dino tanpa protes seperti biasanya. Padahal tadi pagi ia masih bisa berdebat dengan Dino.


**


Malamnya saat makan malam, Dino minta Ning menemaninya. Karena Nyonya besar bersama yang lainnya sedang ada acara makan di luar. Dengan terpaksa Ning pun menemaninya di meja makan,karena Dino mengancam tak mau makan jika Ning tak menemaninya.


“Heh, kau itu kenapa sih?” tanya Dino heran saat keduanya tiba di kamar Dino.


“Gak apa- apa ….” ucap Ning, lalu membalikan tubuhnya dan hendak beranjak keluar dari kamar Dino.


“Mau kemana kau?” Dino menghalangi Ning di depan pintu.


“Ini kan sudah malam … saya mau kembali ke kamar saya.”


“Siapa yang mengizinkan mu pergi?” tanyanya ketus.


“Jam kerja saya sudah habis … Lagi pula Tuan muda juga sudah menyelesaikan tugas sekolah dan sudah makan malam, jadi tugas saya sudah selesai.”


“Aku tidak mengizinkan mu pergi!” cegah Dino dengan tegas.


“Sudahlah, jangan mengajak saya berdebat, saya sudah sangat lelah hari ini,” ucap Ning dengan raut wajah lelah, namun Dino malah sengaja menutup pintu dan menguncinya.


“Apa- apaan kau ini? Kenapa pintunya di tutup dan di kunci? Minggir saya mau keluar!” Ning merasa kesal dengan kelakuan Dino.


“Aku sudah bilang tidak mengizinkan mu pergi ...." Dino menempelkan pungungnya ke pintu untuk menghalangi Ning.


“Tuan muda, ini sudah malam … Saya juga ingin istirahat.” Ning berusaha mencapai pegangan pintu, namun Athar terus menghalanginya.


“Oh, jadi menemani anak asuh mu tidak bisa sedangkan menemani Om Athar bisa? Sampai tengah malam lagi….” arah bicara Dino mulai menjurus ke hal lain.


“Apa?” Ning terkejut mendegarnya.


“Heh, sudahlah … tidak usah berpura- pura … Aku ini sudah tahu wanita macam apa kau ini….”


“Maksud mu apa?” ucapya dengan menatap tajam.


“Maksud ku apa? Kau pikir aku tidak tahu? Dulu kau dengan senang hati bersedia menjadi pacar pura- pura om Athar karena dibayar 100 juta … Lalu semalam kau dibayar berapa untuk menemaninya tidur?”


Plak …


Satu tamparan keras mendaat di pipi kanan Dino.


“Berani sekali kau menampar ku!” bentak Dino dengan tangan kanan mengusap pipinya.


“Bukan hanya tamparan, tapi aku juga ingin merobek mulut jahat mu yang seenakna memfitnah orang!!” Ning balik membentak Dino.


“Yang ku katakan itu fakta! Aku mendengar dengan jelas saat Om Athar menawarkan uang pada mu dulu untuk menjadi pacar pura- pura nya dan kau langsung menerimanya. Bahkan kau membiarkan Om Athar memeluk mu dan mencium tangan mu …”


Ning membelakan matanya mendengar ucapan Dino yang ternyata mengetahui tentang hal itu.


“Bukan hanya itu, tengah malam tadi aku pun melihat dengan mata kepala ku sendiri, kau keluar dari kamar Om Athar dengan wajah kusut … Apa coba yang sudah kalian lakukan di dalam kamar berduaan sampai tengah malam, hah?”


Ning terdiam mematung dengan mata terbelak. Ia tak menyangka jika akan mendapat penghinaan yang sama dari anak asuhnya. Luka yang semalam saja belum kering, kini ditambah dengan luka baru.


“Kenapa kau diam? Apa ucapan ku salah? Apa setelah melayani Om ku kau enggan melayani ku, Hah?” Dino tak hentinya mencerca Ning dengan ucapan yang tidak pantas.


“Atau berapa yang harus ku bayar agar kau bisa menemani ku sampai pagi?” tambahnya.


Ning mendorong Dino sekuat yang ia bisa hingga Dino terjatuh ke lantai. Dengan segera ia membuka kunci pintu kamar dan bergegas keluar dari kamar tersebut. Ia berlari dengan membawa rasa sakit yang sama, bahkan lebih sakit dari sebelumnya.


Ia masuk ke kamarnya dan menangis sejadi- jadinya. Kini bukan hanya Athar yang memberinya tuduhan keji seperti itu, namun Dino pun beranggapan demikian. Hal itu tentu sangat menginjak- injak harga dirinya sebagai wanita.


Ia hanya bisa menangis dan memendam rasa sakitnya seorang diri. Ia tak menyangka, niatnya menolong seorang anak kecil, membuatnya mendapat tuduhan menyakitkan seperti itu.


“Ning minta maaf, Bapak … Ning menyerah … Ning sudah tidak sanggup … Ning sudah tidak sanggup lagi, huhuhuhuhu … hiks hiks ….” lirih Ning di sela tangsannya.


---------------- TBC --------------


*************************


Happy Reading ….

__ADS_1


__ADS_2