
"Aku… Aku sudah tak punya apa-apa lagi… Aku sudah dicoret dari daftar pewaris, dikeluarkan dari perusahaan… Bahkan semua aset, termasuk rekening pribadi ku sudah dibekukan…” ucapnya terhenti sejenak.
“Apalagi dokter bilang, kaki kanan-ku cedera parah akibat benturan keras saat kecelakaan itu… Jadi sekarang kaki ku________” Athar nampak tak sanggup melanjutkan ucapannya.
“Ka kaki mu kenapa?” Ning terlihat tegang melihat raut wajah Athar.
“Aku… aku tidak akan bisa berjalan seperti dulu lagi, Ning… Aku sudah tak layak untuk mu…” ucapnya lirih, lalu menundukkan kepala.
“Apa?” Ning terkejut luar biasa mendengar ucapan Athar.”Ka kaki mu_____” Ia tak kuasa melanjutkan ucapannya dengan mata tertuju pada kaki kanan Athar yang di gif.
“Ya… Aku cacat… Aku tak pantas untuk mu, Ning….” lirih Athar dengan perasaan menyesakkan dada. Malu dan sedih bercampur menjadi satu.
Tak pernah ia merasa rendah diri seperti sekarang ini. Meski ia sebelumnya pernah menderita penyakit aneh, alergi bau kentut. Namun hal itu hanya diketahui oleh keluarga intinya saja, dan beberapa orang kepercayaan keluarganya. Lain hal nya dengan yang ia alami sekarang, semua orang pasti bisa melihat dirinya yang menjadi pria cacat.
“Enggak… “ Ning menggelengkan kepala.
“Pergilah… aku ingin istirahat….” Ucapnya lalu memalingkan wajahnya menghindari tatapan Ning.
“Enggak… aku gak akan pergi… Aku akan tetap disini… Aku akan merawat mu sampai kau sembuh….” Ucapnya dengan yakin.
“Tidak usah!! Di sini banyak dokter juga perawat… Pergilah, Ning… Aku tidak ingin menjadi beban untuk mu….” Athar masih tak berani melihat ke arah Ning. Dadanya terasa sesak, hatinya hancur berkeping- keping.
Bagaimana tidak, dengan kondisinya yang sekarang, ia yang sebelumnya bersikeras memperjuangkan hubungan mereka, kini dengan berat hati harus melepaskan gadis yang sangat dicintainya. Air mata pun menetes begitu saja. Namun ia tak ingin Ning melihat hal itu, dengan segera ia menghapus jejak air matanya.
“Enggak… aku gak akan pergi… Aku gak akan pernah ninggalin kamu….” Ning tetap bersikeras menolak pengusiran Athar.
“Pergilah, Ning… Hubungan kita sudah berakhir….” Ucapnya tanpa menoleh sedikit pun.
“Enggak… Pokoknya aku gak akan pergi ninggalin kamu… Apalagi dalam keadaan seperti ini….” Tegas Ning.
“Pergilah… Sebelum aku memanggil keamanan untuk membawa mu keluar….”
“Aku gak peduli, mau dibawa keamanan, mau dibawa polisi, bahkan mau dibawa algojo pun, aku akan tetap di sini!!” Ning sedikit menaikan nada bicaranya.
“Aku sudah tak pantas untuk mu, Ning… pergilah….” Ucapnya lirih, dengan sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tak jatuh kembali.
“Enggak… Kau tetap lelaki yang sangat aku cintai… Mau bagaimana pun keadaan mu, tak akan merubah perasaanku pada mu….” Ning berusaha meyakinkan Athar.
“Aku sudah tak punya apa-apa Ning… “
“Aku gak peduli!!”
“Aku cacat… Untuk berjalan saja aku harus mengunakan kursi roda….”
“Aku gak peduli… Kamu saja mau menerima ku apa adanya… Kenapa aku tidak? Bahkan kalau perlu aku akan menjadi kaki untuk mu… Aku akan menghabiskan sisa hidup ku bersama mu….”
Athar menolehkan wajahnya kembali menatap Ning. Ia tersenyum miris.
“Hehehe… benarkah?”
“Tentu saja… kau pikir aku sedang bergurau?” Ning nampak kesal dengan pertanyaan Athar.
“Bukan kah barusan kita sudah putus?”
“Aku tarik lagi kata- kata ku… Aku gak mau putus sama kamu….” Ning meralat kembali ucapan yang sebelumnya.
“Jadi setelah dibuang, aku dipungut lagi?” Athar kembali tersenyum miris. “Pergilah, Ning…” ucapnya kembali memalingkan wajah. Namun Ning tetap pada pendiriannya. Ia sama sekali tak beranjak dari sana, meski Athar sudah mengusirnya berkali- kali.
“Aku akan tetap di sini… Aku akan selalu di sisi mu bagaimana pun keadaan mu....” ucapnya membuka suara setelah beberapa saat mereka hanya terdiam membisu. Ia menatap Athar dengan penuh keyakinan. Sementara orangnya masih tetap memalingkan wajahnya.
“Aku ingin istirahat…. “
Tok tok tok
Ceklek
Terdengar suara ketukan pintu, yang dilanjutkan bunyi pintu dibuka. Dan masuklah seorang dokter diikuti dua orang perawat yang berjalan di belakangnya. Rosmala dan Riko pun kembali memasuki ruangan tersebut.
Ning bangkit dari duduknya. Ia beranjak dan menggeser kursi agar tak menghalangi Dokter serta perawat yang akan memeriksa Athar.
“Selamat pagi… Bagaimana sekarang Pak Daniel… Apa sudah merasa baikan?” tanya seorang dokter yang kemudian memeriksa keadaan Athar setelah membaca laporan kondisi terbaru dari perawat.
Athar hanya tersenyum simpul, tak menjawab pertanyaan dokter.
Rosmala memberi kode pada Ning agar ia keluar dulu dari ruangan tersebut. Ia pun paham dan bergegas keluar yang diikuti oleh Riko.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Pak Riko?” tanya Ning penasaran dengan apa yang telah menimpa Athar.
“Saya kurang tahu, Nona… setelah tempo hari saya mengantarkan mobil ke rumah anda, malam nya saya kembali ke London dan baru kembali semalam karena mendapat kabar jika Pak Daniel mengalami kecelakaan….”
Ning menghela nafas panjang. Ia lalu duduk di kursi tunggu yang ada di dekat meja tempat perawat yang tak jauh dari ruang rawat Athar.
Selang beberapa saat, dokter dan perawat terlihat keluar. Dan tak lama Rosmala pun keluar. Wanita itu menghampiri Ning.
“Bisakah kau ikut dengan ku? Ada yang ingin aku bicarakan….” Ucapnya pada Ning yang baru saja berdiri.
“Baik, Nyo____”
“Kak Ros… sudah ku bilang panggil aku Kak Ros saja….” sambarnya mengoreksi.
“Iy iya, Kak___ Ros….” Ning merasa kaku dan canggung memanggil mantan majikannya dengan sebutan itu.
“Riko… titip Athar sebentar… Aku akan pergi ke cafetaria di bawah….” Ucap Rosmala.
“Baik, Nyonya….” Angguk Riko.
“Ayok, Ning….” ajaknya yang kemudian beranjak pergi menuju lift dan diikuti oleh Ning.
___________
“Ada yang ingin kau tanyakan pada ku, Ning?” tanya Rosmala setelah keduanya hanya duduk terdiam di kafe rumah sakit.
“Eng…” Ning yang merasa bingung sekaligus heran, nampak berpikir untuk mengatakan apa.
Jujur di benaknya banyak yang ingin ia tanyakan. Namun mengingat tujuan Rosmala mengajaknya ke tempat itu, membuatnya bingung sendiri. Rosmala yang ingin membicarakan sesuatu, justru malah melemparkan pertanyaan padanya.
Rosmala menghela nafas panjang. “Jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi pada Athar….”
“Tapi____ Dia bertengkar dengan Nyonya Andini, pastinya karena aku….” ucapnya lirih dengan perasaan bersalah.
“Bukan….” Rosmala menggeleng.
__ADS_1
“Lalu apa yang mereka permasalahkan, jika bukan tentang hubungan ku dengannya?”
“Nadira hamil,” ucap Rosmala singkat.
“Apa? Na… Nadira hamil?” Ning terkejut luar biasa. “Dia hamil … anak_____”
Rosmala kembali menggeleng. “Bukan … Itu menurut pengakuan Athar….”
“Ma maksudnya?” Ning yang masih dalam keterkejutannya mulai merasa bingung.
“Nadira sendiri tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya….”
“Ta tapi, bagaimana bisa?” Ning semakin bingung dibuatnya.
“Kau masih ingat saat ke Athar membawa mu ke rumah Mami enam hari yang lalu saat mami sakit dan susah makan?”
“Ya….” angguk Ning.
“Nadira tak diperbolehkan pulang oleh Mami… Ia menginap di rumah kami, dan keesokan harinya saat sarapan pagi dia muntah- muntah, lalu pingsan… Mami bersikeras membawanya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan… Dan ternyata, ia dinyatakan hamil tujuh minggu….”
“Apa?” Ning kembali terkejut.
“Ya… Dan Mami meminta Athar bertanggung jawab agar segera menikahinya… Tapi, Athar menolak keras, karena ia bilang tak pernah sekalipun menyentuh Nadira… Sedangkan Nadira sendiri tak tau ia hamil oleh siapa….”
“Bu bukannya, Nadira punya pacar?” tanya Ning dengan hati- hati, mengingat ia pernah mendengar cerita dari Athar.
“Itulah masalahnya… Menurut pengakuan Nadira, mereka sudah putus tiga bulan yang lalu dan pacarnya itu hilang bak ditelan bumi … Sedangkan ia baru hamil tujuh minggu… Jadi tidak mungkin pacarnya Nadira yang menghamilinya….”
“Lalu… kenapa Daniel yang diminta menikahi Nadira?” Ning merasa heran dan aneh.
“Itulah makanya Athar menolak keras… Tapi Mami tak mau tahu dan tetap memerintahkan Athar untuk menikahi Nadira… Karena menurut pengakuan Nadira, ia pernah menginap di apartment Athar setelah ia dibawa dari club malam karena mabuk berat….”
Rosmala menghela nafas dalam- dalam.
“Dan kejadian itu tepat tujuh minggu yang lalu…”
“Apa?” Ning membekap mulutnya sendiri. Ia menggeleng kepala karena tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia teringat pengakuan Athar jika Nadira pernah menginap di apartment nya karena mabuk berat.
“Ning… Ning….” panggil Rosmala menepuk lengan Ning.
“Iy iya, Nyonya… Eh, Kak Ros….” Ning tersadar dari lamunannya.
“Kamu percaya pada Athar ‘kan?” taya
Ning mengangguk pelan. Nampak ada keraguan dalam hatinya. Mungkin karena selama ini di matanya Athar adalah pria mesum, makanya tersirat di benaknya bisa saja Athar melakukan hal itu dengan Nadira. Mengingat di London melakukan hubungan badan sebelum pernikahan bukanlah hal tabu.
Rosmala nampak merasa lega, jika Ning masih percaya pada adik iparnya. Ternyata ia sangat mendukung hubungan mereka berdua, meski mertuanya menentang keras.
“Jadi mereka bertengkar karena itu?” ucap Ning menarik kesimpulan.
“Mami mengancam akan mengambil semua fasilitas Athar… Dan itu benar- benar dilakukan oleh Mami… Beliau mengeluarkan surat pemecatan, penghapusan hak waris, bahkan semua rekening pribadi Athar dibekukan…..”
Rosmala kembali menghela nafas berat.
“Sore itu Athar mendatangi Mami untuk meminta penjelasan… Aku tidak tahu apa saja yang mereka bicarakan, karena saat itu aku dan suamiku masih dalam perjalanan pulang… Pelayan bilang mereka bertengkar….”
“Saat aku tiba, Athar baru keluar dari kamar Mami dengan raut wajah sedih dan nampak frustasi… Ia pergi begitu saja, tanpa bertegur sapa dengan kami… Dan tengah malam kami mendapat kabar jika Athar mengalami kecelakaan….” Lanjutnya menjelaskan kronologi malam itu.
“Dia pasti sangat sedih, hiks hiks….” Lirih Ning terisak. Ia bisa merasakan apa yang Athar rasakan. Ia teringat Athar yang menceritakan bagaimana sikap ibunya yang berusaha memisahkan mereka dengan mengancam dan menekan Athar.
Rosmala menyentuh punggung tangan Ning.
“Ning….” ucapnya lirih. “Apa kau masih akan tetap menerima Athar dengan keadaannya yang sekarang?”
Ning menghapus jejak air matanya. Ia mengangguk cepat.
“Ya… Aku akan tetap berada di sisi nya dalam keadaan apa pun….” Ucapnya dengan yakin.
“Meski ia harus kehilangan salah satu kakinya?”
“Ya… Meski pun seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan lagi, selagi dia masih bernafas aku akan tetap di sampingnya….”
Rosmala menghela nafas lega.
“Syukurlah… Aku yakin kamu bisa menjadi penyemangat hidup baginya… Athar begitu terpuruk dengan keadaannya yang sekarang… Dokter bilang akan melakukan beberapa pemeriksaan lagi… Jika cidera yang dialami kakinya parah, maka kakinya harus diamputasi….”
“Kita hanya bisa berdoa, semoga cedera kakinya tak parah dan masih bisa sembuh dengan operasi dan terapi.
Ning membekap mulutnya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Athar jika harus kehilangan salah satu kakinya. Air matanya kembali jatuh membasahi pipinya.
“Engak … engak … Aku gak boleh lemah… Aku harus kuat untuk bisa menguatkan nya… Jika aku terlihat lemah, dia akan semakin sedih…” batinnya dalam hati meyakinkan dirinya sendiri. Ia kembali menghapus jejak air matanya.
“Dia pernah frustasi saat kehilangan Alexa dalam kecelakaan yang mereka alami… Karena ia tak bisa menyelamatkan wanita yang sangat dicintainya… Dan sekarang, jika ia kehilangan kakinya, dia pasti takut kau meninggalkannya, Ning….”
“Enggak… aku gak akan pernah meninggalkannya, meski dia sendiri yang meminta atau pun memaksa ku….”
Ning menggenggam kedua tangan Rosmala. “Kak, aku janji akan selalu menemaninya dan merawatnya samapi ia sembuh… Aku janji….”
“Terimakasih, Ning… Athar memang tidak salah memilih mu… Ternyata putra ku benar, kau gadis yang sangat baik dan tulus, meski kadang bar- bar… hehhee”
“Hehehhee….”
Keduanya tertawa, meski mata mereka meneteskan air mata.
_______
Ning benar- benar membuktikan ucapannya, untuk memenuhi janjinya pada Rosmala. Setiap pagi ia datang untuk menjenguk Athar, dan kembali pulang saat menjelang sore. Meski Athar selalu mengacuhkannya dan beberapa kali mengusirnya, ia tetap berada di sana.
Athar keadaanya yang mulai berangsur membaik, kini berubah menjadi seorang yang pendiam dan terlihat murung. Bahkan ia hanya makan sedikit setiap dihidangkan makanan, baik itu makanan dari rumah atau yang disediakan pihak rumah sakit. Itu pun setelah mendapat paksaan dan ancaman dari Ning.
Seperti halnya pagi ini, merupakan hari ketiga ia mendatangi kamar rawat inap tempat Athar berada. Biasanya ia datang setelah sarapan pagi, namun kali ini ia datang lebih pagi dengan membawa rantang makanan yang ia masak sendiri.
“Pagi, Daniel- ku….” Sapa Ning yang kemudian mengambil dua buah piring beserta sendok dari dalam lemari kecil yang ada di sana.
Athar memalingkan wajah dan tak menyahut sapaan Ning. Gadis itu meletakan rantang susun yang ia bawa di atas meja khusus untuk makanan yang berada di dekat brankar tempat Athar berbaring.
“Santai aja, Mas… Hari ini hasil pemeriksaannya akan keluar… Em, gimana kalau kita makan… Tadi subuh aku udah masak loh buat kamu….” Ucapnya lalu mendorong meja dimana diatasnya sudah tertata rapi empat rantang makanan yang ia sajikan beserta dua buah piring dan sendok, lalu meletakan meja itu di samping brankar. Namun Athar masih tak bergeming dan mengacuhkan Ning.
Kruukkk… Krukkk…
20 menit berlalu, hingga terdengar bunyi keroncongan. Ning mengelus perutnya sendiri.
__ADS_1
“Sabar ya cacing… Kita tunggu om mesum itu mau makan, baru aku bisa mengisi perut ku… Padahal aku harus segera minum obat….” Ucapnya berbicara pada perutnya sendiri. Ia sengaja melakukan hal itu.
Athar yang mendengar ucapan Ning, langsung berbalik dan menatap kekasih hatinya itu. Ia bangkit dan berusaha duduk. Ning yang sebenarnya ingin membantunya, menahan diri. Ia membiarkan Athar melakukannya sendiri. Karena jika ia membantunya, Athar akan semakin merasa dirinya tak berguna dan hanya menyusahkan orang.
Setelah berhasil duduk, Athar menggeser meja tersebut, hingga meja itu berada di depan dadanya. Ia mengambil nasi dan lauk dari beberapa rantang dengan satu tangannya, karena tangan yang satunya lagi terpasang infusan. Meski begitu, kini kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya.
Ia lalu memakan makanan itu tanpa berbicara sepatah kata pun. Seperti biasa, ia selalu bersikap tak menganggap keberadaan Ning, agar gadis itu jengah dengan sikapnya dan segera meninggalkannya.
Namun sayang, usaha Athar itu sangatlah sia- sia. Ning memperhatikan sang kekasih dengan senyum lebar di bibirnya. Ia tahu jika Athar tak akan tega membiarkannya kelaparan, apalagi sampai tak meminum obat rutinnya.
“Dasar bodoh... Kenapa aku tak melakukan ini dari kemarin- kemarin agar ia tak susah makan….” batin Ning dalam hati menggerutuki dirinya sendiri.
Klenting
Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring, membuat Ning membuyarkan lamunannya.
Athar nampak sudah selesai makan dan kembali berbaring menyamping membelakangi Ning.
“Alhamdulillah… anak pintar makannya lahap ya….” sindir Ning yang kemudian membereskan bekas makan Athar. Ia kembali menyusun rantang itu, kemudian meletakan kembali meja tersebut ke tempat semula.
Athar yang menyadari hal tersebut, mengubah posisi lalu melihat ke arah Ning.
“Makan.” ucapnya singkat.
“Hmmm… Apa?” sahut Ning yang masih berdiri di depan kaki Athar.
“Makanlah….” Titah Athar.
“Lihat kamu makan aja, udah kenyang….” sahut Ning yang malah mengeluarkan gombalan.
“Makan, lalu minum obat mu!” Athar memperjelas ucapannya.
“Kalau gitu suapi aku….” ucap Ning dengan nada manja.
“Pergilah!!” ucapnya memalingkan wajah. Nampaknya ia tak berselera meladeni ucapan Ning yang ingin menggodanya.
“Aku gak mau pergi… Aku mau tetap di sini, sampai kamu mau nyuapain aku makan….” Ucapnya lalu duduk di kursi samping brankar.
“Jangan menyiksa dirimu sendiri hanya untuk pria cacat dan tidak berguna seperti ku….” Athar masih memalingkan wajahnya.
Ning yang tadinya berniat menggoda Athar, raut wajahnya berubah seketika. Beberapa kali ia menghela nafas dalam- dalam, agar bisa tetap terlihat tenang dan menahan diri agar tak menangis.
“Aku mencintai mu bukan karena kau orang kaya yang punya segalanya… Aku mencintai mu bukan karena fisik mu yang sempurna… Tapi, aku mencintai mu karena ketulusan hati mu, karena kebaikan mu, karena semua cinta dan pengorbanan yang kau berikan padaku….” Ning kembali menghela nafas berat.
“Kamu satu- satunya lelaki yang mencintaiku dan menerima semua kekuranganku… Meski sudah seringkali aku menyusahkan mu, bahkan membahayakan nyawa mu… Tapi itu tak membuat mu menjauh dari ku… Bahkan sampai kamu melawan ibumu yang menentang hubungan kita… Kamu sampai rela menderita saat harus menjauh dariku, demi melindungi ku….”
“Pantaskah aku menyia- nyiakan pria luar bisa baik seperti mu, hanya karena kau tak punya apa- apa dan kaki mu cacat?”
Ning menggeleng disertai bulir bening yang sudah tak terbendung lagi.
“Tidak… Aku bukan wanita seperti itu… Aku sudah jatuh cinta pada mu sedalam- dalam nya… Aku tak akan meninggalkan mu meskipun kau memaksa… Meski kau tak menganggap keberadaan ku pun, tak akan membuat ku meninggalkan mu….”
“Ning____” lirih Athar yang memberanikan diri menatap wajah Ning yang sudah berlinangan air mata. Membuat kedua manik mereka saling bertatapan.
“Jangankan hanya satu kaki mu yang cacat, meski pun seluruh tubuhmu tak bisa digerakan pun, aku akan tetap bersama mu, aku akan tetap di sisi mu… Bahkan jika kau tak selamat dari kecelakaan itu, aku akan mengakhiri hidup ku agar bisa tetap bersama mu….”
“Cukup, Ning… hentikan!!” Athar kembali memalingkan wajahnya. Ia tak tahan mendengar semua ucapan Ning dan tangisannya.
“Jangan menyuruh ku berhenti mencintai mu, hiks hiks….”
“Pergilah, Ning….”
“Jika kau merasa tak pantas untukku hanya karena kakimu… Aku akan mematahkan satu kaki ku agar kita sebanding….” Ning yang sudah merasa geram dengan Athar yang terus meminta meninggalkannya, akhirnya mengucapkan hal diluar dugaan.
“Cukup!! Pergilah….” Bentak Athar menatap geram pada Ning.
Ning bangkit dari duduknya. Dihapusnya jejak air mata yang tak hentinya membasahi pipi. “Baiklah, jika kau tetap menyuruhku pergi….” Ucapnya lalu melangkahkan kakinya. Athar kembali memalingkan wajahnya.
Namun bukannya menuju pintu keluar, Ning malah berjalan mendekati jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan di luar sana dengan jelas. Dimana saat itu Athar tengah menghadapkan pandangan ke jendela tersebut.
Ning menarik selot pengunci jendela tersebut. Ia lalu mendorong jendela itu hingga terbuka.
“Ning… apa yang kau_____”
Belum selesai Athar bicara, Ning sudah menaikan sebelah kakinya pada jendela tersebut.
“Ning!! Apa yang akan kau lakukan!!” Athar yang terkejut luar biasa. Ia hendak bangkit meski sedikit kesulitan, karena salah satu kakinya tak bisa digerakkan.
“Kau yang menyuruhku pergi … Kau menyuruhku meninggalkan mu… Aku akan melakukan apa yang kau minta….” Ucapnya menoleh, kemudian tatapnya kembali ke arah luar.
“Jangan, Ning… Jangan gila!! Riko… Kak Ros… Riko… Kak Ros….” Athar berteriak meminta bantuan orang di luar. Ingin sekali ia berlari menghampiri Ning untuk menariknya agar menjauh dari jendela itu, namun apalah daya ia tak mampu melakukannya. Untuk bangun duduk saja ia kesulitan, apalagi turun dari tempat tidur.
Tak bisa dibayangkan bagaimana jika Ning nekat melompat dari jendela itu, yang merupakan bagian gedung lantai lima.
“Riko!!!!” Athar berteriak sekeras- kerasnya saat melihat Ning tengah duduk di jendela terbuka dengan kedua kaki yang menjuntai keluar.
“Aaaaakkk….”
“Ning!!!!”
-
-
------------------ TBC-----------------
**************************
-
-
Happy Reading….
-
Monmaaf baru up lagi setelah sekian purnama.... ,🙏🙏🙏🙏 episode nya kpnjangan jdi dibagi dua... semoga terkejar up selanjutnya….
-
alapyou all….😘😘😘😘😘
__ADS_1